Selasa, November 25, 2008

Sukabumi, Sentra Agribisnis Produktif

Gunung, rimba, laut, dan pantai. Empat simbol kekayaan alam yang identik dengan Kabupaten Sukabumi. Kekayaan ini ditunjang pasar dan regulasi yang focus dan terarah. Alhasil, kabupaten terluas se-Jawa dan Bali ini mantap memegang agribisnis sebagai sektor unggulan.

Suka-Bumen, begitu nama asal daerah ini. Udaranya yang sejuk dan nyaman, membuat mereka yang datang ke daerah ini tidak ingin untuk pindah lagi karena suka atau senang bumen-bumen atau bertempat tinggal di daerah ini. Sukabumi yang beribukota di Pelabuhan Ratu ini memang dikenal dengan pesona maupun kekayaan alam yang melimpah.

Wilayah Sukabumi yang terletak sekitar 160 km dari arah Jakarta, meliputi areal seluas 420.000 hektar yang terbentang mulai dari ketinggian 0 - 2.958 meter di atas permukaan laut. Pegunungan dan dataran tinggi mendominasi hampir seluruh kabupaten ini. Dataran rendah ada di pesisir selatan, mulai dari Teluk Ciletuh sampai muara sungai Cikaso dan Cimandiri. Gunung Salak dan Gunung Gede menjadi batas alam dengan Kabupaten Sukabumi.

Melimpahnya kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Sukabumi merupakan fakta yang tak terbantahkan. Dengan luas wilayah 416.404 hektare, yang terdiri dari 47 kecamatan, 349 desa dan tiga kelurahan, kabupaten di pesisir utara Pulau Jawa ini menjadi merupakan kabupaten terluas di Pulau jawa dan Bali, dengan menguasai 3,01 persen dari total luas pulau Jawa.

Lokasinya pun cukup strategis. Kedekatannya dengan pusat ibukota negara menjadi nilai tambah bagi perkembangan ekonomi khususnya tingkat investasi. Hasil-hasil produksi baik pertanian, pertambangan, maupun jasa pariwisata meningkat setiap tahunnya. Potensi kekayaan alam yang melimpah dan luasnya wilayah itu menjadi peluang bagi daerah ini untuk meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.

Potensi SDA yang dimiliki Sukabumi dapat dikategorikan menjadi tiga sektor. Ketiganya adalah potensi pertanian (agribisnis), potensi pertambangan, serta potensi sumberdaya pesisir dan kelautan. Sampai saat ini, Sukabumi memfokuskan pembangunan investasi pada tiga bidang ini. Namun, rari ketiga bidang tersebut, sektor pertambangan tampaknya mendapat perhatian khusus mengingat selama ini masih banyak potensi yang belum tergali secara maksimal.

Sejak dulu, sektor pertanian sudah memegang peranan penting dalam perkembangan ekonomi daerah. Kontribusi sektor ini pada pendapatan asli daerah (PAD) selalu tertinggi jika dibandingkan dengan bidang lainnya. Potensi pertanian yang menjadi andalan antara lain padi, jagung, sayur mayor, dan hasil perkebunan berupa karet dan lain sebagainya. Dari seluruh potensi yang ada, arah pengembangan investasi ditujukan pada pertambangan dan agribisnis dalam arti luas. Khusus di bidang agribisnis, akan dikembangkan pada industri besar dalam hal pengolahan bahan mentah menjadi bahan olahan yang mempunyai nilai tambah tinggi.

Sebenarnya, Sukabumi sudah terkenal sejak lama sebagai kawasan potensial sekaligus cocok untuk berinvestasi. Di zaman kolonial, Belanda memanfaatkan kawasan Sukabumi sebagai salah satu sentra perkebunan teh. Di samping teh, kopi, kakao, sawit, dan karet merupakan komoditas yang diunggulkan hingga saat ini.

Begitu juga dengan peternakan. Tak hanya pertanian dalam arti tanaman, potensi ternak yang begitu besar tidak luput dari pengamatan pemerintah daerah Sukabumi untuk difokuskan sebagai obyek pengembangan. Alhasil, pada 2006, hampir semua komoditas ternak Sukabumi masuk dalam rangking 10 besar jumlah populasi tertinggi di tingkat Jawa Barat.

Jutaan unggas yang dibudidayakan di Sukabumi kebanyakan menganut sistem kemitraan, digandeng perusahaan pakan atau bibit. Dalam catatan Dinas Peternakan Sukabumi, lebih dari 50 perusahaan yang memiliki variasi garapan – farm, breeding, marketing – menjalankan bisnis usahanya di kabupaten yang punya batas alam Gunung Salak dan Gunung Gede ini. Sebagian di antaranya, perusahaan-perusahaan perunggasan papan atas negeri ini.

Alam, bisa dikatakan hanya salah satu faktor penunjang. Di luar itu, geografis Sukabumi yang terbilang dekat dengan Ibukota menjadikan kabupaten yang dipimpin Sukmawijaya ini sebagai daerah tumpu penyangga kebutuhan protein hewani Jakarta dan sekitarnya, Bogor, Tangerang, Depok, hingga Bekasi. Setidaknya 15 juta penduduk Jabodetabek membutuhkan konsumsi protein hewani setiap harinya. Kebutuhan yang begitu besar itu senantiasa dipenuhi oleh Sukabumi.

KOMODITAS LAHAN KERING: Di luar peternakan, Sukabumi pun menyimpan banyak potensi agribisnis tanaman pangan. Menurut Ir Dana Budiman, M.Si., Kepala Dinas Pertanian Sukabumi, di samping hortikultura, ada tiga komoditas yang akan didorong agar lebih berkembang, yaitu jagung, kacang tanah, dan singkong. “Saya akan mengubah lahan kering di Sukabumi menjadi surganya komoditas lahan kering,” tandasnya.

Dipilihnya jagung karena tanaman ini sudah menjadi komoditas strategis dan ekonomis. Salah satunya dibutuhkan sebagai bahan baku industri pakan dan pangan. Untuk menggairahkan petani lebih banyak memproduksi jagung pipil, pemerintah setempat menggulirkan program peningkatan produktivitas melalui bantuan benih jagung hibrida sebanyak 170 ton, selama tahun 2007 lalu. Jumlah itu untuk memenuhi 6.500 hektar kebun jagung hibrida (setara dengan 130 ton benih), dan 1.000 hektar kebun jagung komposit.

Menurut Budiman, di Sukabumi terdapat lima kecamatan yang berfungsi sebagai sentra penanaman jagung hibrida, yaitu di Kecamatan Jampang Tengah, Cikembar, Jampang Kulon, Ciambar, serta Kecamatan Cicurug. Selama tahun 2007 lalu, Sukabumi menargetkan menanam 11.263 hektar, dengan luas panen dan produksi masing-masing 8.448 hektar dan 38.023 ton.

Sementara untuk pengembangan singkong, sampai 2009 ditargetkan mencapai 60 ribu hektar. Pemda sudah melakukan kesepakatan kerja dengan PT Biofuel Energi sebagai penjamin pasar. “Saat ini kita sedang memacu pengembangan bibitnya dulu. Dari target 100 hektar baru tertanami 15 hektar,” urai Budiman. Kawasan yang bakal dijadikan sentra singkong adalah enam kecamatan: Jampang Kulon, Surade, Jampang Tengah, Waruja, Nagrak, dan Kecamatan Kembar.

Yang membanggakan, sejak Oktober tahun lalu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi telah mengembangkan program Pelayanan Sarana Agribisnis Terpadu (Pesat). Program tersebut diresmikan Menteri Pertanian, berbarengan dengan pencanangan musim tanam padi 2007/2008, di Karang Tengah, Cibadak. Rencananya Pesat akan dikembangkan sesuai dengan komoditasnya. Misalnya, Pesat padi, jagung, kacang tanah, dan Pesat tanaman hias. Satu kawasan Pesat, luasnya bisa ribuan hektar. Misalnya, Pesat singkong minimal 15 ribu hektar dan Pesat kacang tanah minimal 3.000 hektar.

Pesat, kata Budiman, merupakan pelayanan one stop services bagi petani atau pelaku usaha. Di setiap kawasan disediakan kebutuhan dari hulu sampai hilir. Misalnya di Jampang Kulon sedang dikembangkan Pesat untuk padi dan kacang tanah. Untuk keperluan budidaya disediakan sarana produksi, gudang, unit pengolahan, PPL, dan permodalam berupa kredit dari BRI. Sementara pasarnya bekerjasama dengan Bulog, RNI, dan Garuda Food.

POLA SRI: Menurut data yang ada, Pemkab Sukabumi mengalokasikan dana Rp 13 miliar untuk intensifikasi padi, dan Rp560 juta bagi pengembangan singkong. Selain itu, Pemkab juga memberi kemudahan dengan menawarkan kawasan yang cocok untuk komoditas tadi lengkap dengan kelompok tani maupun kelengkapan infrastrukturnya. Namun, Budiman mengakui masih ada kendala, seperti take over pada penguasaan lahan yg masih tumpang tindih.

Salah satu kebijakan startegis Pemkab Sukabumi pada tahun 2006 lalu adalah menciptakan keseimbangan pembangunan Utara-Selatan yang diarahkan kepada Baros, Cibereum, dan Lembursitu, termasuk di dalamnya Program Agropolitan Terdepan. Untuk itu, di Kecamatan Lembursitu telah dikembangkan pola System of Rice Intensitification (SRI) yang diprakarsai oleh Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda yang saat ini Dewan Penasehatnya adalah mantan Gubernur Jawa Barat, Solihin GP.

Ide tersebut merupakan implementasi dari hasil pembinaan yang diikuti oleh kelompok petani pola SRI yang dideklarasikan di Cipaganti. Tujuannya agar padi yang ditanam dengan pola tertentu menggunakan pupuk organik sebagai upaya menyelaraskan antara pertanian dengan peternakan karena pupuk yang digunakan adalah organik seperti halnya dedaunan yang dicampur dengan kotoran ternak serta sekam.

Di sela-sela kegiatan panen raya, Solihin GP mengungkapkan pengalamannya bahwa padi dengan pola SRI perlu didukung oleh semua instansi pemerintah termasuk DPRD agar diperkenankan untuk terus tumbuh dan berkembang di Jawa Barat. Pasalnya, dengan menggunakan pupuk organik dari satu biji padi, katanya, bisa tumbuh 30 batang dalam satu rumpunnya.

Di sisi lain, manfaat yang bisa diperoleh dari pola SRI di antaranya adalah terjadinya penghematan bibit, air, serta memerlukan insektisida. Bahkan, keasaman tanah masih bisa terjaga dengan baik. Manfaat lain secara alami dengan pola SRI diperoleh ekosistem dan ramah lingkungan. Sedangkan dengan menggunakan sistem anorganik menimbulkan hama baru, memerlukan air banyak, keasaman tanah terganggu, sehingga ekosistem secara keseluruhan ikut terganggu pula.

Pola SRI ini mendapat sambutan baik Bupati Sukabumi, H. Sukmawijaya. Dengan lahan pertanian yang terbatas, pola SRI yang hemat dari segi bibit, modal, lahan, serta air akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Walau demikian, target untuk mewujudkan kesejahteraan ini tentu tidak mudah. Oleh sebab itu, kerja sama yang sinergis dan harmonis dari berbagai pihak seperti pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat diperlukan untuk memujudkan Sukabumi sebagai sentra agribisnis. Kita tunggu hasilnya. QYH


Boks

Wawancara Bupati Sukabumi

Drs. H. Sukmawijaya, MM: “Potensi Agribisnis Kami Luar Biasa”

Berdasarkan Perda Nomor 14 tahun 2001, Kabupaten Sukabumi secara regional ditetapkan sebagai kawasan andalan agribisnis melalui penerapan sistem agribisnis yang memiliki daya saring, daya sanding, daya saing, dan daya juang yang tinggi. Di samping itu, kerja sama yang sinergis dan harmonis dari berbagai pihak seperti pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat diperlukan untuk memujudkan cita-cita luhur tersebut.

Sejak dulu, sektor pertanian menjadi tulang punggung yang memegang peranan penting dalam perkembangan ekonomi di Sukabumi. Wajar jika kontribusi sektor pertanian pada pendapatan asli daerah (PAD) selalu tertinggi jika dibandingkan dengan bidang lainnya. Sukabumi memang memiliki potensi pertanian andalan, seperti padi, jagung, sayur mayor, hasil perkebunan berupa karet, dan lain sebagainya. Potensi inilah yang terus dikembangkan oleh Bupati Sukabumi, H. Sukmawijaya, dalam memajukan dan mensejahterakan rakyatnya.

Program intensifikasi pun terus ia kembangkan. Dengan kepemilikan lahan yang sangat terbatas, kita mencoba menggenjot produktivitas hasil pertanian dengan pengelolaan lahan, penggunaan pupuk yang berimbang, serta benih berkualitas. Hal ini juga dilakukan pada tanaman padi. “Ya. agar mendapatkan input pertanian yang baik, sehingga berpengaruh terhadap produktivitas. Termasuk bagaimana mencegah loss production,” katanya kepada Qusyaini Hasan yang diutus PADI untuk mewawancarainya. Berikut petikan lengkapnya:

Apa permasalahan yang Anda temui seputar pembangunan pertanian di Sukabumi?

Kami menemui berbagai kendala, di antaranya tingkat pendapatan petani yang masih rendah disebabkan oleh rata-rata kepemilikian lahan garapan yang relatif sempit. Komoditas usaha tani juga belum dikembangkan yang selektif ekonomis dan berorientasi pasar. Pengadaan dan penyaluran benih unggul nasional maupun lokal belum tersedia untuk semua komoditas. Di samping itu, pola pemasaran masih bertumpu pada pedagang pengumpul.

Lalu, apa langkah yang Anda ambil untuk mengatasi masalah tersebut?

Kami melakukan pengembangan usaha tani terpadu pada berbagai jenis ekologi lahan. Pengembangan agribisnis terutama pada unit-unit usaha tani skala kecil. Kami juga memperluas kesempatan kerja di sektor pertanian. Tentu kami juga melakukan penataan dan penyempurnaan kelembagaan penyuluhan pertanian di tingkat kabupaten dengan menitikberatkan pada tuntutan kebutuhan lapangan dan karakteristik daerah.

Bagaimana kebijakan anda terkat dengan persoalan pangan di Sukabumi?

Kebijakan sektoral ini terkait dengan upaya mengurangi jumlah penduduk miskin. Kalau bicara mengenai hal ini, ada dua kebijakan umum terkait dengan kebijakan pangan maupun pertanian. Pertama adalah meningkatkan ketahanan pangan sampai tingkat rumah tangga. Tidak lagi di tataran makro di tingkat kabupaten, tapi juga di tingkat terkecil. Artinya bahwa setiap rumah tangga harus dijamin kesiapan bahan pangannya. Oleh karena itu, kami melakukan berbagai upaya dengan melibatkan kaum tani dengan mendorong peningkatan produksi. Kalau bicara peningkatan produksi, banyak sektor yang harus ditangani.

Berikutnya adalah program pengembangan agribisnis, dengan fokus pada komoditas yang memiliki prospek bagus, seperti karet, sawit, dan sebagainya. Di bidang tanaman pangan, yang menjadi incaran banyak orang sekarang adalah singkong. Ternyata singkong ini, yang dulu hanya dijadikan bahan penunjang pangan, menjadi komoditas yang sangat ekonomis, bahkan untuk industri. Ternyata singkong ini memiliki linked forward yang luar biasa. Inilah yang menjadi motor penggerak, agar ke depannya akan terbuka sektor-sektor lainnya.

Anda tampaknya gencar melakukan program intensifikasi. Untuk apa?

Dengan kepemilikan lahan yang sangat terbatas, kita mencoba melakukan intensifikasi terhadap lahan yang ada. Agar bagaimana kita mampu meningkatkan produktivitas pertanian dengan usaha-usaha yang normatif, misalnya dengan lahan yang baik, pupuk yang berimbang, serta benih berkualitas.

Apakah juga berhubungan dengan penyediaan benih?

Betul. Penyediaan ini sesuai dengan waktu dan kebutuhan yang ada. Tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat jenis, begitu prinsipnya. Ini sangat mengembirakan, karena dari hasil evaluasi kita produktivitas benih ini luar biasa. Dari berbagai panen yang diadakan, diperoleh kelebihan sampai 4,5 ton per hektar. Rata-rata peningkatannya mencapai 2,5 ton per hektar. Ini diharapkan akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani. Ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan ketahanan pangan.

Anda yakin pertanian Sukabumi masih berpotensi di masa mendatang?

Ya, karena potensi agribisnisnya luar biasa. Kami memiliki 400.000 hektar lahan kering yang belum optimal. Inilah yang menjadi sasaran kita, bukan sekadar wacana. Masyarakat sudah membudidayakan jenis singkong unggulan. Hasilnya sampai memecahkan rekor MURI dengan menghasilkan singkong sepanjang 1,5 meter. Itu bisa 40-50 kilogram per pohon. Kita mengembangkan dengan penyediaan bibit. Masyarakat sangat antusias. Saat kita menemukan bibit produktif, muncul juga usaha di sektor hilirnya. Tempo hari kita dapat kunjungan dari pemerintah Cina, jadi peluangnya sangat bagus. Sehingga Sukabumi menjadi pusat budidaya singkong ini.

Bagaimana dengan jagung?

Jagung juga memiliki potensi. Tanaman ini sudah familiar dengan para petani. Dan sangat dibutuhkan oleh dunia usaha di bagian hilirnya. Jagung menjadi kebutuhan industri pakan ternak. 60% kebutuhan daging unggas di Jakarta dipasok dari sukabumi. Jadi, kalau dikembangkan, tentu memiliki potensi yang luar biasa.

Program intensifikasi juga Anda terapkan pada tanaman padi.

Ya. agar mendapatkan input pertanian yang baik, sehingga berpengaruh terhadap produktivitas. Termasuk bagaimana mencegah loss production. Di padi, kami mencoba melakukan peningkatan masa tanamnya, seperti perbaikan irigasi. Kalau yang tadinya bisa menanam sekali, sekarang bisa dua kali. Begitu seterusnya. Ini untuk meningkatkan produksi. Tapi kalau untuk meningkatkan pendapatan, bisa dilakukan dengan diversifikasi.

Dibandingkan dengan tanaman pangan lain, bagaimana produktivitas padi di Sukabumi?

Padi punya nilai strategis sebagai cadangan pangan yang sampai saat ini berada pada ukuran yang menguntungkan. Padi memiliki nilai strategis di bidang keamanan pangan. Di Sukabumi bagian selatan ada anggapan, belum bertani kalau tidak menanam padi. Bagi mereka, padi tidak dijual, melainkan untuk menjaga ketersediaan pangan mereka. Kalau tidak, boleh jadi suatu saat mereka akan kekurangan pangan. Makanya, padi ini tidak terukur oleh nilai rupiah, karena keberadaannya begitu strategis.

Kalau punya padi, hidup setahun bisa tenang, begitu kata orang. Inilah kearifan lokal. Mereka menghitung stok yang ada dan pengeluaran. Kalau yang ditanami bukan padi, dan hasilnya bisa lebih besar daripada padi, ia bisa dijual, sehingga bisa habis pangan mereka. Memang kalau diukur dari marjin ekonomisnya, padi tidak seberapa.

Apa rencana Anda selanjutnya?

Sudah terbukti kemarin kita bisa menyiapkan bibit yang baik. Masyarakat juga mulai sadar pentingnya bibit berkualitas. Kami mulai menyiapkan sistem pembiayaan dengan melakukan penguatan lembaga ekonomi mikro pedesaan. Ini yang diharapkan nanti berperan untuk penangkaran, penyediaan pupuk, dan sebagainya.

Tidak ada komentar: