Sabtu, September 06, 2008

Dari Chang Jiang ke Pentas Dunia

Tidak ada yang meragukan kedahsyatan kemajuan sektor pertanian yang dimiliki Cina. Karena itu, berbagai penelitian berikut temuan teknologi baru secara rutin diluncurkan. Hal ini ditunjang oleh komitmen kuat pemerintah setempat dalam meningkatkan sektor ini. Tidak mengherankan jika Cina tetap diperhitungkan sebagai penghasil beras terbesar di dunia.


“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” begitu kata pepatah lawas. Berbagai kemajuan pembangunan di berbagai sektor yang dimiliki Cina memberikan konfirmasi bahwa pepatah ini tetap benar adanya. Di Cina, kemajuan berbagai pengetahuan maupun bidang kehidupan begitu nyata hasilnya. Hal ini mengantarkan negeri Tirai Bambu ini sebagai negara maju dan kuat di mata dunia.



Di sektor pertanian, Cina tidak ada bandingannya sebagai penghasil beras nomor satu di dunia. Saat ini saja 35 persen beras dunia dihasilkan oleh negeri dengan penduduk lebih dari satu miliar itu. Belum lagi kalau tiga dam besar di Sungai Yangtze, yang dibangun sejak tahun 1994 akan selesai pada tahun 2009. Bukan saja irigrasi teknis yang krusial, tiga dam besar ini meningkatkan produktivitas pertanian, kapasitas transportasi dan menyediakan listrik setara dengan 18 pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Masyarakat sekitar menyebutnya Chang Jiang yang berarti sungai panjang. Seperti julukannya, Sungai Yangtze merupakan sungai terpanjang di Cina, dan sungai nomor tiga terpanjang di dunia setelah Sungai Amazon di Amerika Selatan, dan Sungai Nil di Afrika. Panjangnya sekitar 6.380 kilometer, atau setara dengan enam kali panjang Pulau Jawa. Di samping sebagai irigrasi, setiap tahun sungai ini membawa berkah endapan tanah lumpur subur yang bermanfaat bagi pertanian.


Sebagai sentra produksi beras, pemerintah Cina menggenjot produksi beras setiap tahunnya. Belum lagi upaya intensif dari pemerintah meningkatkan teknologi, termasuk di bidang pertanian. Sekarang saja, Cina sudah sedemikian digdaya dalam sektor pertanian, khususnya perberasan. Tak pelak, Cina dijadikan rujukan banyak negara untuk mengembangkan sektor pertanian.


Kendati dikenal sebagai penghasil besar terkemuka, Cina berhasil menerapkan program diversifikasi pangan. Mereka tidak malu menyuguhkan ubi atau talas pada setiap tamu yang berkunjung, bahkan kepada tamu kenegaraan sekalipun. Hasilnya, setiap penduduk Cina hanya mengonsumsi beras 92 kilogram per tahunnya. Bandingkan dengan penduduk Indonesia, yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap beras dengan 135 kilogram per orang tiap tahunnya.


Di samping soal program kerja efektif, penerapan teknologi, maupun diversifikasi pangan, hal lain yang turut menunjang keberhasilan Cina sebagai negara maju adalah

etos kerja yang dimiliki penduduknya, terutama di sektor pertanian ini. Salah satu contoh, di kala bekerja, mereka bekerja tanpa lelah. Sebaliknya, kalau istirahat, mereka menggunakan waktu yang ada betul-betul untuk beristirahat.

FOKUS PADA KUALITAS: Sejak tahun 2005, Cina memproklamirkan sebuah pusat penelitian baru untuk meningkatkan kualitas varietas padinya dan meningkatkan kandungan nutrisinya. Pusat Kualitas dan Nutrisi Beras (Rice Quality and Nutrition Center), namanya. Lembaga ini berada di bawah naungan Institut Penelitian Beras Nasional Cina (CNRRI) di Hangzhou.

“Kualitas dan nutrisi adalah dua bidang penelitian beras yang paling menantang,” kata Robert S Zeigle, Direktur Jenderal International Rice Research Institute (IRRI), dalam acara peresmian pusat penelitian baru itu, “Bukan hanya memiliki piranti dan pengetahuan sains saja untuk mendapatkan beras varietas baru berkualitas tinggi, tetapi kami juga sekarang berupaya meningkatkan nilai nutrisi dari varitas-varitas ini dengan menambahkan nutrisi seperti besi, seng, dan vitamin A.”

Dr Zeigler mengatakan, ia senantiasa memfokuskan penelitian untuk meningkatkan produktivitas beras untuk mengejar pertumbuhan penduduk. Dengan demikian, penduduk Cina semakin meningkat kemakmurannya, karena kualitas dan nutrisi makanan telah menjadi prioritas utama. Ia menekankan bahwa meningkatkan kualitas biji-bijian juga akan mendorong harga beras di pasar dan berarti membantu petani Cina meningkatkan pendapatan mereka.

Dalam pertemuan yang digelar IRRI-Cina dan dan Forum Ilmu Perberasan di Hangzhou, Oktober 2005 lalu, ditetapkan empat persoalan prioritas yang dihadapi produksi beras Cina dalam jangka waktu lima tahun ke depan, yaitu: pemuliaan dan pengembangkan padi generasi baru yang disebut padi “super” atau varitas padi berproduksi tinggi, berkualitas tinggi; asupan terutama pupuk yang lebih efisien; kualitas dan nutrisi beras menggunakan bioteknologi; dan pengembangan teknologi padi yang lebih efisien dalam menggunakan air.

Jumlah populasi negeri ini mencapai 1,3 miliar orang, sehingga kemanan makanan merupakan isu yang penting bagi pemerintah Cina. Dalam memproduksi beras, tidak dipungkiri, Cina menghadapi sejumlah tantangan, khususnya bagaimana menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ketersediaan sumber daya dan kebutuhan terus meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan. Atas dasar itulah, pemerintah setempat senantiasa menggalakkan lahirnya pusat-pusat penelitian maupun inovasi baru di bidang pemuliaan padi.

Simak saja, Cina bisa jadi merupakan negara pertama yang menghasilkan beras dalam jumlah yang sangat banyak, yang diproduksi dari beras hasil modifikasi secara genetik. Terobosan baru ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas panen.


Memang ada kekhawatiran, teknologi modern dapat menggantikan tanaman alami. Namun, menurut para pendukung teknologi ini, benih tersebut bisa mengurangi penggunaan pesitisida dan meningkatkan produktivitas. Kini, Cina berhasil memasarkan beras hasil modifikasi ini ke berbagai negara di dunia.


Begitu juga dengan temuan seorang ilmuwan Cina tentang padi hibrida pada tahun 1974 lalu. Dalam pembudidayaan tanaman, penggunaan vigor hibrida pada benih generasi pertama (F1) sudah dikenal dengan baik. Padi ini berawal dari transfer gen jantan mandul dari padi liar untuk menghasilkan galur mandul jantan (GMJ) atau galur A atau cytoplasmic genetic male-sterile (CMS) line dan kombinasi hibrida. Generasi pertama varietas padi hibrida terdiri dari tiga galur dan produksi panennya mencapai 15-20 persen lebih tinggi daripada produksi tertinggi dari varietas inbrida (konvensional) pada masa pertumbuhan yang sama.


Di Cina, kini terdapat sekitar 15 juta hektar areal tanaman padi hibrida dan jumlah tersebut lebih dari 50 persen dari total area tanaman padi yang ada di negara tersebut. Tidak hanya itu, sukses komersial produksi padi hibrida telah memungkinan Cina melakukan diversifikasi produksi pertanian pada jutaan hektar lahan mereka. Meski lahan pertanian Cina mengalami penurunan luas dari 36,5 juta hektar pada tahun 1975 menjadi 30,5 juta hea.Tentu saja, salah satunya harus berterima kasih kepada program padi hibrida yang mampu menaikkan hasil rata-rata hasil panen dari 3,5 ton/hektar menjadi 6,2 ton/hektar.

AKHIRI BOIKOT: Kabar terbaru yang beredar, Cina telah mengakhiri boikotnya terhadap Komisi Beras Internasional (IRC-International Rice Commission) dengan berharap untuk mempengaruhi berbagai masalah global menyangkut produk makanan utama. Terbukti, Kementrian Pertanian China menyampaikan aplikasi kepada Organisasi Pertanian dan Pangan PBB (FAO) pada Juli tahun lalu, di mana disambut baik oleh anggota IRC dan secara resmi disetujui oleh FAO, dua bulan selanjutnya.

Didirikan pada 1949, IRC merupakan komisi profesional di bawah FAO, dengan lebih dari 60 negara dan kawasan menjadi anggotanya sampai saat ini. Organisasi itu menyerahkan untuk meningkatkan kerjasama di antara negara-negara anggota dalam produksi beras, distribusi, dan konsumsi. Meskipun demikian, kewenangan IRC tidak sampai mengurusi perdagangan internasional.


IRC juga mendiskusikan teknologi dan ilmu pengetahuan yang terkait dengan beras serta berbagai masalah ekonomi, mendorong kordinasi terkait dengan kerjasama riset, memainkan peranan penting dalam aplikasi teknologi beras, pelaksanaan proyek-proyek kooperatif, dan komunikasi informasi.


Ihwal menjauhnya Cina dengan IRC untuk beberapa tahun, menurut Kantor Berita Xinhua, karena alasan historis. Namun, tidak disebutkan keterangan lebih rinci mengenai alasan tersebut.


Pada tahun 2002, Direktur Institut Beras Cina (CRI-China Rice Institute), Dr.Cheng Shinhua, menghadiri kongres ke-20 IRC sebagai peninjau. Selama itu, ia dan para pejabat IRC mendiskusikan berbagai masalah antara lain keanggotaan Cina. Akhirnya, Kementrian Pertanian meratifikasi usulan CRI untuk bergabung dengan IRC dan menyatakan institusi tersebut menjadi unit penghubung setelah Cina bergabung ke dalam IRC.

Pesatnya perkembangan perekonomian Cina ternyata sempat mengganggu produksi beras negara ini. Dalam beberapa tahun terakhir, jutaan petani Cina pindah ke kota-kota besar dengan meninggalkan lahan pertanian untuk mencari pekerjaan lain. Sementara kota-kota sendiri juga berkembang dengan banyaknya pembangunan fisik, yang di antaranya dibangun di atas areal persawahan.


Profesor Cai Dianxiong dari Akademi Pertanian Cina, mengatakan, kekurangan air di Cina merupakan ancaman terbesar bagi persediaan pangan di negara itu. 90 persen air minum di Cina digunakan untuk pertanian dan sebagian besar air pertanian digunakan untuk irigasi sawah. “Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah meningkatkan teknologi efisiensi air, untuk mendorong petani menggunakan air dengan hemat namun dapat mendorong panen," katanya.


Tahun 2004 lalu pemerintah Cina sempat menawarkan 10 miliar Yuan untuk subsidi bagi petani yang bersawah dan tanaman biji-bijian lain. Subsidi itu memberikan insentif besar, dan tentu saja bantuan uang bagi para petani untuk menerapkan teknologi hemat air.

Sampai sekarang, Cina menguasai teknologi yang dapat meningkatkan produksi beras. Tidak hanya itu, Cina juga telah menguasai teknologi irigasi, pembenihan hibrida, bahkan sampai teknologi penyimpanan beras pasca panen. Berbagai temuan teknologi ini kini sudah diterapkan negara-negara topis, seperti Vietnam, Filipina, dan rencananya juga Indonesia.

Tidak ada komentar: