Jumat, September 05, 2008

Oolong Tea

"Naga Hitam" atau "Ular Hitam". Begitulah masyarakat China menyebut teh oolong (oolong tea), karena daun-daunnya terlihat seperti naga yang bangun ketika kita menuangkan air panas ke daun teh. Ada pula legenda yang menyebutkan bahwa nama oolong tea berasal dari nama seorang pria, Wu Liang atau Wu Long, penemu teh oolong. Teh oolong terbaik di dunia memang kebanyakan diproduksi secara eksklusif di China, India, dan Taiwan.


Meski tak sepopuler teh hijau, tea oolong juga memiliki penggemar sendiri. Proses produksi untuk menghasilkan teh oolong tergolong agak rumit, dengan menjaga agar daun tehnya tetap utuh. Setelah dipetik, daun dijemur di bawah sinar matahari untuk pelayuan. Tujuannya untuk menurunkan kadar air dan menjadikannya lebih lembut.


Daun-daun itu kemudian diletakkan dalam keranjang bambu dan dikocok-kocok dengan cepat untuk merusak pinggiran daun. Pada tahap berikutnya, daun-daun itu ditebar dalam suatu tempat untuk dikeringkan. Proses pengocokan dan penebaran daun-daun tersebut diulang beberapa kali. Tepi daun yang rusak akan berubah merah akibat proses fermentasi sementara bagian tengahnya masih hijau.


Teh oolong agak menyerupai teh hitam dan teh hijau, yaitu teh yang setengah difermentasi atau proses fermentasinya dihentikan sebelumnya berlangsung sempurna. Teh tersebut berwarna coklat kehijauan dengan cita rasa yang lebih khas dari teh hijau, dan lebih lembut dari teh hitam. Teh oolong yang diseduh dengan baik memiliki rasa yang pahit, namun meninggalkan rasa sedikit manis setelah diminum.


Sebagaimana khasiat teh lainnya, Oolong tea diyakini sebagai sumber kesehatan bagi para penikmatnya. Begitu juga dengan manfaat lain dari teh oolong. Riset sebelumnya pernah menunjukkan bahwa senyawa yang terkandung dalam teh dapat berperan untuk melindungi saraf dan membantu memperbaiki penyakit-penyakit kemunduran saraf. Jadi, sambil ngeteh, Anda secara tidak langsung telah berinvestasi bagi kesehatan Anda.

Tidak ada komentar: