Tampilkan postingan dengan label Entrepreneur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Entrepreneur. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juli 13, 2011

Menggali Ide, Menambang Laba Lewat Industri Kreatif

Mengemas keahlian, talenta, maupun kreativitas ternyata tak hanya menyenangkan, tapi juga menguntungkan. Mendapatkan tempat seiring dengan kemajuan ekonomi kreatif. Benturan ide, ego, dan miskin ide menjadi kendala.

Untaian nada dari dawai gitar nan rancak langsung mengelus-elus indra pendengaran begitu pemutar peranti compact disc itu bekerja. Aliran progresi nada-nada bertema musik blues terasa begitu kental. Sesaat kemudian, hentakan drum yang tegas dan mantap mengiringi. Setelah mengambil beberapa ketukan, untaian lirik melintas dengan warna suara yang khas. Menyulam melodi, menyambung harmoni.

Pemaparan di atas adalah lagu pertama dari album grup musik asal Denpasar, Bali yang bernama Dialog Dini Hari (DDH), sebuah kelompok seniman yang digawangi musisi Dadang SH Pranoto. Grup yang dipeloporinya ini merupakan proyek kreativitas kolektif, dan belum genap setahun terbentuk. Namur, album Beranda Taman Hati yang digarap secara independen makin mendapat tempat di hati publik dan mereguk keuntungan ekonomi.

Kelompok seniman ini tak sendirian. Berbagai kelompok yang bergerak di bidang industri kreatif lainnya, seperti film, drama, tari, media, periklanan, arsitektur, fashion pariwisata, kerajinan, hingga pertunjukan jasa kreatif lainnya telah berkibar seiring dengan demam ekonomi kreatif yang melanda negeri. Dengan keahlian dan talenta yang dimiliki, mereka berperan besar dalam peningkatan kesejahteraan dan kemajuan ekonomi melalui penawaran kreasi intelektual yang mereka produksi.

Kreativitas, inovasi, dan entrepreneurship belakangan ini menjadi kawan segendang sepenarian. Ketiganya selalu melengkapi, bahkan menjadi prasyarat bagi lahirnya karya dan terobosan baru dalam industri kreatif. Tak hanya itu, ketiga aspek ini pun menjadi ajimat baru dalam menambang keuntungan dan prestasi.

Banyak orang maupun kelompok yang dapat kita sebut dengan mudah, betapa kreativitas telah menjadi ladang usaha sekaligus penggerak industri baru. Jagat hiburan, seni budaya, maupun inovasi-inovasi baru yang sarat kreativitas selalu memunculkan tokoh-tokoh ekonomi baru di tanah air.

Menurut catatan Direktorat Jenderal Industri Kreatif, Kementerian Perdagangan, terdapat beberapa faktor yang mendukung ekonomi kreatif menjadi masa depan ekonomi nasional. Pertama, adanya ide dasar atau stock of knowledge. Kedua, semangat kewirausahaan yang tinggi. Ketiga, pendanaan atau sistem pembiayaan yang bisa mengatasai masalah. Keempat, adalah apa yang disebut dengan the triple helix, yakni kerjasama strategis antara akademisi, pemerintah, dan bisnis.


Berdasarkan aspek-aspek di atas, Indonesia memiliki potensi untuk pengembangan industri kreatif. Berdasarkan data makro yang dimiliki, industri kreatif telah menyumbang PDB sebesar Rp 150 triliun serta dapat menyerap tenaga kerja lebih dari tujuh juta. Penyumbang terbesar dari industri kreatif adalah industri fashion sebesar 40 persen, diikuti industri kerajinan yang memberikan kontribusi sebesar 25 persen.


Inggris, yang pertama kali memperkenalkan istilah industri kreatif pada 1997, menerima pendapatan nasional sebesar 7,9 persen atau £ 76,6 milyar pada 2000. Mengingat perannya yang tak kecil, Pemerintah Inggris menggarap sektor ini secara serius dan menetapkan 13 sektor usaha yang tergolong sebagai industri kreatif. Sektor yang dimaksud antara lain periklanan, kesenian dan barang antik, kerajinan tangan, desain, tata busana, film dan video, perangkat lunak hiburan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan, jasa komputer, televisi, dan radio.


Layaknya orang yang kreatif, seorang entrepreneur dapat mengubah rongsokan menjadi emas. Entrepreneur dengan kemampuan pikiran dan tangan dinginnya mampu memanfaatkan peluang yang ada dengan sebaik-baiknya sehingga menghasilkan benefit berlimpah. Tak hanya itu, dengan latar belakang pendidikan yang baik dan berkualitas, orang yang bergerak di bidang industri kreatif mampu bersaing, berinovasi, dan kaya dengan ide-ide baru dalam perjalanan bisnisnya.


Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan gagasan yang baru, original, dan out of the box. Kreativitas menjadi inovasi ketika disambut oleh pasar. Dan, seorang entrepreneur tidak boleh berpuas diri terhadap produk yang dihasilkannya. Sebab, produk kreatif memiliki ciri yang khas, siklus hidup yang singkat, risiko tinggi, margin yang tinggi, keanekaragaman tinggi, persaingan tinggi, dan mudah ditiru.

Karena itu, pengembangan inovasi yang dilakukan secara kolektif menjadi resep baru agar mampu menggali ide secara terus menerus. Pasalnya, dalam industri kreatif, unsur kreativitas dan ketekunan dalam menemukan ide baru menjadi modal awal. Prinsipnya, siapa yang kreatif, ia akan eksis. Siapa yang kuat secara ide, dia yang bakal digdaya. Sebaliknya, berhenti dalam berkreativitas sama saja bunuh diri pelan-pelan.

Kreativitas yang dilakukan secara kolektif, bisa membuat pekerjaan menjadi lebih ringan dan efisien. Sebuah proses kreatif yang dilakukan secara bersama-sama bahkan bisa menghasilkan karya seni yang ‘kaya’. Namun, hal ini bukan tanpa kendala. Aktivitas seni yang dilakukan secara kolektif tentu mengundang sejumlah persoalan yang tidak bisa disebut sederhana. Mengelola kerjasama tim, menjembatani ego, hingga menyatukan ide dari banyak kepala, tentu bukan hal mudah.

Oleh karena itu, ada beberapa hal penting yang menjadi dasar terbangunnya proses kreativitas kolektif yang produktif. Komunitas komik yang sering menggarap produksi komik secara kolektif harus menyadari posisi dan tanggung jawab masing-masing dalam pengembangan kreativitas adalah hal terpenting. Selain itu, setiap individu yang tergabung dalam kreativitas kolektif harus menyadari bahwa keeksisannya adalah bagian dari mata rantai yang saling terkait.

Sementara itu, grup musik DDH memprioritaskan attitude sebagai hal penting di balik kerja kreatif secara kolektif. Menurut mereka, etika sederhana itu penting untuk meramu ego masing-masing personel. “Jika memiliki attitude yang baik dan positif, tentu akan tercipta suasana saling menghargai dan respect antar anggota,” ujar Dadang, vokalis DDH.

Memang mengelola individu-individu dalam proses kreatif yang dilakukan secara bersama-sama tidak mudah. Karena persoalan banyak muncul dari benturan ide dan ego yang merupakan hal yang kadang sulit diperdebatkan. Hanya toleransi, kesabaran, sampai kedewasaan dalam menyikapi perbedaan lah yang dapat menjembatani berhasilnya penciptaan sebuah karya yang dibangun oleh lebih dari satu kepala.

Jumat, Juli 18, 2008

Hermes Thamrin: Raja Ritel Indonesia

Seperti Bung Karno yang menjadi idolanya, gaya bicaranya pun meledak-ledak. Intonasi nadanya tinggi. Ritme bicaranya cepat serta menggebu-gebu. Gayanya yang berapi-api juga muncul ketika berpidato atau memberikan arahan pada bawahan. Setiap kata yang ia ucapkan selalu menularkan semangat dan optimisme yang tak pernah penat. Tipikal seorang pekerja keras begitu kuat memancar di wajahnya. Dalam berusaha dan menggapai mimpi, ia punya prinsip yang tak kalah menggebunya: sekali maju, maju terus, dan pantang mundur.

Begitulah Hermes Thamrin. Apa yang menjadi keyakinan pria kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, 30 Januari 1948 seringkali membuahkan hasil yang menakjubkan. Keuletan dan ketekunannya dalam usaha telah mengantarkannya sebagai “raja bisnis” ponsel Indonesia. Bisnis ritel spesialis telepon seluler (ponsel) yang dia geluti mampu membawanya menjadi pengusaha ponsel terbesar di Indonesia saat ini.

Ketika ia memulai bisnis secara spesialisasi di bidang ponsel pada tahun 1997 silam, di bawah bendera PT Bimasakti Usindo Persada, banyak orang yang menertawakannya. Maklum, krisis moneter yang mendera negeri sempat membuat nyali publik ciut, utamanya dalam melakoni dunia usaha. Bisnis spesialisasi penjualan ponsel pun dianggap tak mungkin menguntungkan. Tetapi dasar ‘orang Medan’ ia punya prinsip sekali maju, pantang bersurut langkah.

Maka, lihatlah usaha yang ditekuninya sekarang. Selain sukses mendirikan Graha Nokia dan outlet Nokia Profesional Center (NPC) pertama di Asia, ia juga membuka Global Teleshop. Dalam kurun waktu empat tahun, ia memiliki ratusan outlet (toko) penjualan handset dari berbagai merek ponsel yang tersebar di berbagai kota besar di seluruh Indonesia.

Kesuksesan yang diraih Hermes Thamrin dalam membangun jaringan bisnis ponsel di Indonesia melalui jalan panjang dan berliku. Naluri seorang pekerja keras dan entrepreneur mulai terlihat sejak kecil. Pada umur 7 tahun, ia telah membantu orang tuanya berdagang pisang goring, ketan, dan kelapa parut. Umur 12 tahun, anak ke-11 dari 12 bersaudara ini telah memiliki usaha pengepresan ampas kelapa untuk makanan ternak dengan 20 orang karyawan.

Tentang ide usaha ini, menurut Hermes, panggilan kecilnya, ia peroleh setelah melihat ampas kelapa sisa produksi yang jumlahnya cukup banyak, tetapi dibuang begitu saja. Di benaknya muncil ide, bagaimana kalau ampas yang dibuang itu dijadikan pakan ternak. Ternyata idenya membuahkan hasil. Pakan ternak buatan Hermes disukai banyak orang. Tetapi, usaha yang mulai tumbuh terpaksa ditinggalkan, karena harus sekolah ke Medan.

Lebih mengembangkan naluri bisnisnya yang memang kuat, kuliahnya pun terbengkalai. Dunia kerja ia masuki sebagai tenaga pemasaran pada perusahaan kosmetik merek Max Factor, selama dua tahun. Tahun 1973, ia bergabung dengan Welcome Foundation Ltd, sebuah perusahaan farmasi multinasional dari Inggris. Dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, Hermes diangkat jadi penyedia produk Welcome se-Sumatera.

Pada perusahaan tersebut, ia memelopori model pemasaran Hazeline Snow dengan sales promotion girl (SPG), tanpa sepengetahuan pimpinannya di Jakarta. Bukannya dimarahi, ia justru ditarik ke Jakarta dan menjadi Kepala Divisi Pemasaran Welcome ketika model pemasaran yang diterapkannya ini diketahui pimpinannya di Jakarta. ”Di perusahaan ini, terus terang saya mendapat banyak pengalaman tentang pemasaran, karena saya sering diberikan training, baik di dalam maupun luar negeri,” ungkapnya.

10 tahun menjadi manajer marketing, hidupnya sebagai orang kantoran sudah terjamin. Gaji besar, fasilitas lengkap seperti mobil dan rumah telah tersedia. Namun, bukan Hermes namanya jika hanya berpuas diri pada karier maupun fasilitas mapan. “Ingin kaya atau ingin sejahtera adalah kita yang tentukan, bukan takdir. Tapi kalau kita terlahir menjadi perempuan atau laki-laki itu memang takdir. Itu tidak bisa dilawan,” katanya.

Pada 1982 ia berhenti menjadi seorang profesional dan banting setir menjadi seorang entrepreneur. “Be my own boss,” katanya sambil tersenyum. Menjadi entrepreneur tidak hanya dalam pengertian pengusaha atau pemilik sebuah usaha, tapi juga orang yang berani menciptakan sesuatu yang baru dengan penuh perhitungan. Satu hal yang diyakininya, “Orang akan berhasil kalau orang itu sehat secara fisik, mental dan spiritual. Dengan sehat tadi kita dapat bekerja dan berpikir dengan sehat.”

Selama menjadi seorang wirausahawan, ia membidani lahirnya berbagai perusahaan, seperti PT Progisa Utama, perusahaan distribusi pembalut wanita, PT Sindo Prima Diwisesa, distributor cat untuk keperluan industri, serta PT Komiku Mediatama, perusahaan pemegang lisensi dan merchandise aneka film kartun. Bahkan, jauh hari sebelum ia gemilang sebagai “raja ponsel”, Hermes sempat mendirikan PT Dwidaya Adisakti dan PT Cipta Multi Usaha Perkasa, masing-masing perusahaan distributor ponsel Ericsson dan perusahaan layanan serta distribusi kartu Satelindo.

Dalam berusaha, Hermes berprinsip, kerja sekeras apapun tidak akan memperoleh hasil maksimal tanpa adanya kebulatan visi, misi, dan filosofi. Ia pun meyakini, kunci sukses lainnya dalam bisnis apapun adalah ketekunan dan tekad untuk menerapkan nilai-nilai profesionalisme. ”Kiat bisnis saya sebenarnya sederhana. Perlu diingat, di bidang bisnis apapun, kalau kita mengerjakannya dengan penuh komitmen, dan digeluti secara serius dan profesional, bisnis yang dijalankan pasti akan berjalan baik,” katanya.

Demikian pula dalam menjalankan bisnisnya di bidang selular. ”Visi kami, ingin menjadi perusahaan penyedia jasa telekomunikasi kelas dunia yang siap menghadapi tantangan terhadap perkembangan teknologi yang serba canggih,” tuturnya. Ia pun memiliki misi ingin menjadi perusahaan yang memiliki jaringan distribusi terluas di Indonesia, dengan merangkul seluruh operator maupun prinsipal telepon selular dan memberikan servis yang prima pada setiap pelanggan melalui dukungan yang diberikan dan orang-orang yang memiliki motivasi tinggi dalam pengoperasiannya ke sebuah jaringan organisasi yang profesional.



Mengenai filosofi yang mendasari langkah bisnis ponselnya, President Director PT Cipta Multi Usaha Perkasa ini mengaku menerapkan filosofi yang diistilahkannya dengan enam bintang, antara lain lokasi strategis, ragam pilihan produk, jaminan produk, harga bersaing, langsung aktif, dan pelayanan profesional.

Menurutnya, tidak mudah mencapai predikat sebagai perusahaan yang memiliki jaringan distribusi telepon selular terluas di Indonesia. Namun, dengan komitmen pelayanan terpadu, ia mencoba tidak sekadar menjual handset, aksesoris. atau produk telepon selular lainnya. „Selain punya keteguhan hati dan pantang menyerah, service kepada customer dan tahu bagaimana meyakinkan customer dengan product knowledge yang dimiliki adalah kunci sukses lainnya,” katanya.

Menomorsatukan orang yang memiliki integritas dan loyalitas, serta menempatkannya sesuai dengan kemampuan bidangnya merupakan kiat Hermes bertahan menghadapi persaingan bisnis. “Di selular, komitmen saya sudah kuat dan mantap. Saya sekarang bisa mendelegasikan tugas dan tanggung jawab ke tim manajemen,” katanya.

Komitmennya yang besar terhadap bisnis selular, tidak saja ia wujudkan dalam bentuk outlet yang kini tersebar di 14 provinsi, tetapi juga lewat majalah Selular, sebuah majalah bulanan yang khusus membahas berbagai masalah berkaitan dengan ponsel. Majalah bulanan, yang diterbitkan pertama kali, bulan April 2000 ini oplahnya terus meningkat dan mendapat sambutan positif di masyarakat.

Pengakuan masyarakat sebagai pengusaha properti yang patut disegani juga telah dimiliki Hermes yang sejak tahun 2000 lalu mendirikan perusahaan properti, Global Realty Internasional berpusat di Sydney, Australia. Boleh jadi, properti merupakan lahan lainnya yang ia gunakan untuk mempekerjakan uang dan kekayaannya agar terus berkembang biak. Ruko, apartemen, gedung perkantoran, hotel, hingga resort menjadi instrumen properti yang dia galakkan.

Berangkat dari hobi membaca semua bidang untuk memperluas wawasan, lulusan SMA ini banyak tahu tentang regulasi, kultur, alam, dan iklim investasi. “Saya tertarik properti karena merupakan investasi paling solid, meski return tidak tinggi. Sebab, kendati terjadi resesi, kebutuhan terhadap properti tetap ada,” jelasnya mantap.

Guna melebarkan sayap bisnisnya di bidang properti, ia pun melirik Aceh. Langkah ini tentu saja menggoyahkan stigma Aceh sebagai kawasan investasi yang tidak aman dan rawan konflik. Memang sempat muncul pertanyaan sinis, “Apa tidak ada tempat investasi lain?” Namun, Hermes tetap berpegang teguh pada keyakinannya sendiri, “Kalau saya bangun hotel di tempat lain, saya bisa dibilang orang bodoh. Untuk apa saya bersaing di hutan belantara yang memang sudah padat kalau istilahnya “seperti anjing berebutan tulang”. Tapi sekarang konflik horizontal sudah mulai tidak ada. Saat ini sangat luar biasa berinvestasi di sana.”

Dengan mantap dan optimistis, ia pun membangun Swiss Bell Hotel. Hotel jaringan internasional asal Eropa, ini ibarat mainan baru bagi Hermes. Yang unik, tempat penginapan yang menyediakan 159 kamar yang dikelola Hermes juga direncanakan memiliki fasilitas sekolah pariwisata. “Saya pikir tadinya mau buat yang kecil-kecil saja. Dalam perjalanan banyak masukan-masukan,” katanya, prihal bisnis propertinya ini.

Naluri bisnis Hermes tak berhenti sampai di sini. Kawasan agrobisnis “Sentul Paradiso” yang berlokasi di Desa Cijayanti, Sentul Selatan, makin menguatkan eksistensi Hermes sebagai pengusaha properti yang patut diperhitungkan. Seperti saat berbicara tentang industri ponsel dengan nada berapi-api, ia pun dengan penuh semangat bercerita tentang rencana bisnisnya ini.

Ia menyebut kawasan agrobisnis ini sebagai resort yang terintegrasi. Ia berencana kawasan ini tak hanya menyediakan fasilitas resort, tapi juga ada perkebunan coklat. Hermes mengakui, ide ini muncul setelah ia melihat-lihat satu perkampungan dari Niss (Perancis) ke Montecarlo. Di tengah jalanan yang berliku, terdapat sebuah pabrik parfum (concentrate-nya) yang menyuguhkan pengalaman baru tentang proses pembuatan parfum, dari berupa batangan pohon sampai jadi parfum.

Kebun coklat dipilih Hermes, karena coklat digemari orang dari berbagai lapisan, dari anak kecil sampai tua. Sayangnya, mayoritas orang tidak tahu, pohon cokelat, bentuk biji, proses pembuatan itu bentuknya seperti apa. Inilah yang merangsang instink bisnis Hermes, untuk menjadikan kawasan ini sebagai resort terpadu. Kawasan ini dimaksudkan sebagai tempat pembelajaran keluarga di akhir pekan, lengkap dengan tempat penginapannya.

Di lahan seluas 13 hektar ini tadinya direncanakan akan dibangun perumahan ini, Hermes mendadar mimpinya yang baru. “Saya punya mini plan mengenai process chocolate plann-nya. Itu nantinya ada mini plan, ada mixer, ada wholeemile sampai ke depositor sampai jadi, ada proses produksinya seperti pabrik cokelat mini,” katanya sambil menunjukkan gambar yang dimaksud.

Obsesi mengembangkan kawasan agrobisnis ini tampaknya berawal dari hobinya berkebun. Lihat saja pekarangan rumahnya yang seluas 6500 meter di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Tempat tinggal eksekutif yang biasa bangun jam 05.30 WIB ini terlihat sangat asri dengan 15 pohon Rambutan, 15 pohon Mangga, 12 pohon Kelapa, pohon Alpukat, pohon Duren, dua pohon Sawo, dua pohon Belimbing, Jeruk Bali.

Tanpa manajer investasi pribadi, Hermes terus menggelembungkan pundi-pundi investasinya. “Saya punya team work yang solid. Mereka sering kasih input dan selalu dirundingkan, karena saya bukan one man show. Saya ingin, perusahaan saya tetap bisa berjalan tanpa kehadiran saya,“ terang penggemar renang ini. Dengan laju usaha yang stabil dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi 2000 orang lebih, bagi Hermes, tentu mendatangkan suatu kebahagiaan tersendiri.

Kamis, Juli 17, 2008

Generasi Kedua Pewaris Tahta Usaha

Generasi Pertama mendirikan, Generasi Kedua membesarkan. Dalam dunia usaha, ungkapan klasik ini sering terdengar. Kendati memiliki fasilitas yang lebih nyaman, mereka tetap memikul tanggung jawab yang tak ringan. Pewaris bisnis ini dituntut untuk memiliki ide inovatif sekaligus kemampuan untuk melaksanakan gagasan tersebut. Tugas mereka adalah melestarikan dan mengembangkan bisnis keluarga, melampaui usia pendirinya. Profil pengusaha muda di bawah ini telah menorehkan pembuktian-pembuktian terbaik sebagai generasi penerus perusahaan keluarga.


Buyung Soeseno Boenarso
Putra Mahkota Bisnis Percetakan

Kesibukan terlihat di percetakan Subur cabang Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan. Saat itu, jaringan cetak terpadu ini dipenuhi para pengunjung yang membutuhkan layanan percetakan dengan kualitas tinggi. Buyung Soeseno Boenarso, Managing Director PT Suburmitra Grafistama, yang mengelola percetakan ini, pun tak kalah sibuknya. Ia hilir mudik di antara mesin percetakan dan foto copy sambil mengontrol kinerja karyawannya.

Buyung, panggilan akrabnya, adalah satu dari sejumlah pengusaha yang tengah meretas usaha warisan keluarga. Keterlibatannya dalam dunia usaha bermula pada 1992 lalu saat ia ditugaskan untuk meneruskan kiprah sang bapak, Soesono Boenarso. Sejak saat itu, ia mengendalikan sepenuhnya perjalanan usaha hari demi hari. “Bapak tetap terlibat sebagai komisaris,” kata wiraswastawan yang sempat menekuni sekolah perhotelan ini.

Menjadi penerus kedua dalam perusahaan terkadang memang membanggakan dan membuat orang terlena. Tapi, pria berusia 35 tahun ini tak mau terlena dengan kemapanan dan bergantung pada nama besar sang bapak. Namanya usaha, lanjut Buyung, tak ada istilah enak. Tetap ada resiko dan tanggung jawab yang besar. “Ayah saya saja belum menikmati, apalagi saya,” ujar anak sulung dari empat bersaudara ini sambil tersenyum.

Memang sudah ada pondasi yang sudah dibangun oleh sang bapak. Merek Subur sebagai penyedia jasa foto copy dan percetakan berkualitas juga sudah kuat di hati publik. “Tapi, menjaga dan meneruskan usaha ini juga penting,” kata penggemar olahraga tenis ini, sambil menambahkan, “Peran saya lebih kepada maintenance dan mempertahankan brand.”

Dalam perkembangan, Buyung mulai menyadari perannya tak cukup hanya dengan melestarikan apa yang sudah diwariskan sang bapak. Ia pun merasa terpanggil untuk mengembangkan usaha keluarganya agar lebih baik lagi di masa mendatang. Satu hal yang ditakutkan bapak dua anak ini, “Kalau hanya mempertahankan kualitas brand, tapi tak punya pikiran atau terobosan maju, usaha ini bisa disalip para pesaing.” Karena itu, ia ditantang untuk berpikir lebih jauh agar bisa mengembangkan bisnis ini.

Semenjak diberi amanah untuk mengelola usaha, Buyung mendedikasikan seluruh tenaga dan pikiran demi keberlangsungan usaha yang dirintis sejak 1987 ini. Berbagai pengembangan dan terobosan bisnis telah berhasil ia lakukan. Jaringan percetakan ini juga telah memiliki tujuh cabang di Jakarta. “Awalnya 10 cabang. Karena krisis, kami lakukan restrukturisasi dan efisiensi dengan menutup beberapa cabang,” ujar Buyung.

Di samping memperluas jaringan, ia juga terus melakukan pengembangan di bidang sumber daya manusia maupun penerapan teknologi terkini. “Kami terus memaksimalkan produktivitas dengan mencari mesin percetakan yang menerapkan teknologi mutakhir,” ujar Buyung yang kini dibantu adik-adiknya dalam mengelola Subur. Seperti halnya perusahaan jasa, Buyung senantiasa mengutamakan kepuasan konsumen sebagai visi usahanya.

Riza Suarga
Pewaris Usaha Perkayuan


Dunia perhutanan dan perkayuan sekarang bukanlah hal yang asing bagi Riza Suarga. Bahkan, sektor inilah yang membesarkan reputasinya sebagai pengusaha. “Basis usaha saya adalah perkayuan,” kata Komisaris PT Ranggakesuma, yang mengelola hutan seluas 120 ribu hektar di daerah Kalimantan Timur.

Kiprah Riza dalam usaha ini bermula sejak ia meraih gelar Sarjana Ekonomi dan Insinyur Teknik Mesin dari Ohio University, Athens, Ohio, Amerika Serikat, pada 1988. Atas amanah orang tua, ia pun melanjutkan usaha perkayuan milik keluarga. “Tadinya saya masih ingin meneruskan kuliah. Karena orang tua menyuruh saya mengelola usaha ini, saya pulang,” tutur pria berusia 39 tahun ini.

Semenjak mewarisi usaha perkayuan miliki keluarga, Riza seringkali dihadapkan pada situasi yang tak mudah. Krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1997 lalu, membuat utang perusahaannya membengkak. Produktivitasnya pun menurun. Sementara di sisi lain ia bertanggung jawab untuk mempertahankan keberadaan usaha ini sehingga bisa memperoleh keuntungan maksimal.

Berbagai tantangan itulah justru membuat naluri bisnisnya makin terasah. “Krisis telah mengubah cara pandang saya, khususnya dalam berbisnis,” kata pengusaha yang telah menerbitkan sejumlah buku di bidang perhutanan dan hukum ini. Bapak dua anak ini pun merasa makin jeli dalam menangkap dan menciptakan peluang baru.

Keuletan dan kerja kerasnya pun menuai hasil. Riza sukses melakukan restrukturisasi utang dan menyelamatkan perusahaan dari terpaan krisis. Lebih dari itu, ia mampu melakukan ekspansi bisnis dengan gemilang. Di tangan Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) ini pula, usaha keluarganya ini berkembang menjadi tujuh perusahaan. Ia pun sukses melebarkan sayap usaha ke bidang agrobisnis dan peternakan.

Dalam berbisnis, pengusaha yang masih tercatat sebagai mahasiswa program doktoral pada Jurusan Sumber Daya Alam, Fakultas Antropologi, Universitas Indonesia, Jakarta, ini berprinsip tidak mau berambisi dalam mengejar sebuah target. “Saya selalu mensyukuri apa yang saya dapatkan sekecil apapun dan saya manfaatkan sebaik mungkin,” kata Executive Chairman Masyarakat Perhutanan Indonesia (MPI).

Sekarang, ekspansi bisnisnya merambah ke bidang restoran atau kafe. Kafenya, Port City Java, sebuah kafe asal Amerika Serikat, telah berdiri di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Dalam waktu dekat ini, peraih penghargaan Best Gross Overall, Jakarta Amateur Golf Open pada 1999 ini berencana membuka gerai kafe berlabel sama di Jakarta dan di luar negeri. Bagi penggemar golf, motor besar, dan travelling ini, tiada hari tanpa mencari dan menciptakan peluang baru.

Pop Mulhadi, Perintis Executive Lounge di Bandara

Keberadaan Executive lounge (EL) kini sudah menjadi kebutuhan semua orang, khususnya mereka yang sering bepergian dengan menggunakan pesawat terbang. Pengguna fasilitas ini antara lain nasabah bank, pemegang kartu kredit, sampai penumpang umum, terutama kelas bisnis. Dalam perkembangan, EL tak hanya kebutuhan, tapi juga menjadi bisnis jasa yang menjanjikan keuntungan.

Adalah Pop Mulhadi yang merintis bisnis jasa pengadaan dan pengelolaan fasilitas yang juga disebut VIP Room ini pada 1989. Waktu itu, perempuan kelahiran Surabaya, 24 April 1941 ini diminta oleh manajemen Garuda untuk membenahi VIP Room Garuda di Bandara Juanda. “Suami saya memang saat itu menjadi Kepala Bandara Juanda. Saya merasa terpanggil untuk membenahi bandara yang kondisinya kurang terawat,” kata mantan penari, peragawati, dan penyanyi ini.

Pop, begitu panggilannya, kemudian bekerja sama dengan Grup Sampoerna dalam hal pembiayaan renovasi. Sebagai imbalan, segala perlengkapan VIP Room itu, seperti cangkir, asbak, tempat koran, dan lain-lain berlogo Sampoerna. Desain, tata ruang, aksesori, serta pemilihan makanan sepenuhnya dilakukan Pop. Hasilnya, VIP Room rancangan Pop ini dinilai sebagai EL terbaik di masa itu.

Keberhasilan Miss Personality Indonesia 1964 ini dalam menata EL eksklusif mulai diperhitungkan banyak orang. Buktinya, tahun berikutnya ia ditunjuk Citibank untuk membuat EL bagi pemegang Citibank Gold Card. “Inilah pertama kali bank punya fasilitas ruang tunggu di bandara,” kata pemilik sekaligus chief executive officer PT Taurus Gemilang ini. Dengan investasi Rp 450 juta, Taurus menjalin kemitraan dengan puluhan perbankan dalam hal pengadaan EL di beberapa bandara.

Permintaan layanan serupa datang dari beberapa bank lainnya, termasuk dari Bank Mandiri untuk nasabah Mandiri Prioritas. “Inilah pertama EL untuk produk perbankan di Indonesia,” kata finalis Entrepreneur of The Year 2006 versi Ernst & Young, ini. Perkembangan bisnis jasanya yang mengembirakan itu terus berlanjut. Hingga saat ini Taurus telah memiliki 10 EL.

“Saya tak menduga bisnis jasa ini akan berkembang seperti ini,” kata penggemar golf, menari, menyanyi, dan menulis ini. Padahal, awalnya ia ragu, karena usaha ini masih baru di Indonesia. Tak ada usaha yang bisa ia jadikan tolak ukur. Apalagi, ia tak memiliki data jumlah pemegang kartu kredit, nasabah perbankan, maupun pangsa pasarnya. Namun, tekadnya untuk merintis usaha baru begitu bulat.

Lounge yang dikelola Taurus cukup istimewa. Suasananya yang tenang, menu makanan yang beragam, pelayanan yang ramah, dan keberadaan beberapa fasilitas penunjang lainnya, seperti pijat refleksi. Taurus juga selalu menampilkan cirri khas di setiap lounge yang dikelolanya. Kualitas layanan pun tetap terjaga karena Pop kerapkali turun langsung untuk mengawasi kinerja anak buahnya.

Sukses merintis dan mengelola bisnis lounge di bandara, Pop bersama Taurus Gemilang selaku induk usaha juga menggarap bisnis yang lain. Saat ini, pemegang main franchise restoran asal Thailand, Black Canyon Café, ini telah memiliki enam gerai kafe di beberapa kota besar di Indonesia. Perempuan serba bisa ini juga tetap meneruskan usahanya di bidang jasa periklanan dan public relations di bawah bendera Java Ad.

Cukupkah keberhasilan bisnis ini bagi Pop? “Saya tak akan pernah berhenti. Saya selalu melihat celah dan peluang, kemana pun saya pergi,” kata ibu tiga anak ini dengan wajah berseri. Dalam waktu dekat, selain mengembangkan bisnis yang sudah ada, ia berencana terjun ke bisnis properti dengan membangun cluster-cluster kecil, dengan keamanan dan kebersihan yang terjaga. Pengusaha yang juga aktif di berbagai lembagai sosial ini mengaku begitu mencintai semua pekerjaannya ini.

Ahmad Sahroni, Kerja Keras yang Berbuah Sukses

Tidak ada hasil maksimal tanpa kerja keras dan kemauan untuk mendapatkan yang terbaik. Begitu pula dengan usaha yang ditekuni Ahmad Sahroni. Kesuksesannya dalam mengelola bisnis di bidang jasa angkutan transportasi laut dan konstruksi tak lepas dari kegigihan dan kelihaiannya dalam melakukan perencanaan bisnis dan melaksanakan program sesuai target yang diinginkan.

Kecermatan dalam membaca peluang, naluri yang tak mudah berpuas diri, dan kemampuan dalam mempelajari trik dan strategi bisnis dengan cepat adalah persyaratan lain yang dimiliki Roni, panggilan akrabnya. Tiga hal inilah yang seringkali ia lakukan sebelum mendirikan dua usaha yang dikelolanya sekarang ini. Pengusaha muda yang sempat menjadi karyawan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pelayaran ini berkata, “Terus terang, saya banyak belajar ketika bekerja pada orang, termasuk trik dalam berbisnis di bidang ini.”

Pria kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1977, ini pun sempat merasakan bagaimana susahnya merintis karier sebagai karyawan profesional di tengah himpitan persaingan yang keras. “Saya pertama kali diterima menjadi staf operasional pada 1997, dan disuruh kesana kemari oleh atasan,” kata alumni Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta, ini. Berbagai cacian dan kemarahan atasan juga ia rasakan. Namun, Roni tetap berusaha tegar menerimanya. “Itu ilmu buat saya,” katanya.

Selama berkarier, ia mempelajari seluk-beluk dunia pelayaran, berikut pengadaan dan perbaikannya. “Saya memang agak cepat dalam mempelajari sesuatu,” tutur Roni, yang sempat bercita-cita menjadi karyawan perbankan, ini. Hasilnya, setelah lima tahun bekerja, penggemar golf dan balap motor ini pun merintis usaha di bidang transportasi laut dengan membawa nama PT Sagakos Intec bersama seorang rekannya pada 2002.

Sejak memutuskan untuk merintis usaha sendiri, Roni merasa tertantang untuk membuktikan pada banyak orang bahwa ia pun bisa berdiri di atas kaki sendiri. “Bedanya dengan karyawan yang cuma menunggu perintah, saya bertanggung jawab 100% demi kemajuan usaha ini. Saya tertantang untuk memberikan keuntungan bagi perusahaan sesuai target yang ditetapkan,” kata anak pertama dari dua bersaudara ini. Roni pun mengaku bebas melakukan inovasi dan menuruti naluri bisnis yang ia miliki.

Tak jarang pula merasakan ketidaknyamanan, karena tingkat persaingannya yang begitu tinggi. “Kalau kita lengah, orang lebih cenderung memanfaatkan keadaan. Jadi, dalam berbisnis kita juga mesti memiliki banteng yang tangguh, aman, dan tidak gampang roboh,” tuturnya. Dengan konsep dan strategi yang jitu, ia mampu melewati ketatnya kompetisi ini dengan lancar. Roni pun terus mengendalikan laju usahanya dengan penuh optimistis.

Sampai sekarang, pengusaha yang juga mendirikan usaha konstruksi di bawah naungan Beringin Putra Adiperkasa ini, telah memiliki sekitar tiga kapal laut. Selain dipakai untuk perusahaan sendiri untuk mendistribusikan peralatan konstruksi, ada juga yang disewakan kepada perusahaan pertambangan dan pengeboran. “Kami fokus di dua sektor ini dulu. Terlalu banyak usaha pusing juga,” ucapnya, sambil tertawa lepas.

Walaupun sukses membangun usaha, Roni mengaku, kerja keras dan usaha yang strategis dalam mempertahankan stabilitas usaha tetap diperlukan. Hingga kini ia tetap terbiasa pulang sampai larut malam. “Saat main golf pun, saya tetap bekerja sambil membangun relasi bisnis baru,” kata penggemar mobil mewah ini, dengan wajah serius. Tak kenal lelah, ia terus berusaha untuk menghasilkan yang terbaik bagi perusahaan.