Tampilkan postingan dengan label Inforial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inforial. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 23, 2010

Unjuk Aksi, Raih Prestasi

AXIOO International Motocross Championship 2009 Round II, dihadiri para kroser internasional, Tim AXIOO membukukan prestasi gemilang.

Seri ke-2 Kejuaraan AXIOO MotoX - International Motocross Championship 2009 bertajuk “AXIOO Motocross Championship Round II”, kembali digelar di Indonesia, pada 11-12 Juli 2009 lalu. Kali ini, yang bertindak selaku tuan rumah adalah Sirkuit Argopuro, Jember, Jawa Timur. Kejuaraan kali ini memainkan beberapa kelas pertandingan, di antaranya SE 125CC Pro-light, SE 80CC, SE 65CC, SE 50CC, SE 125CC Executive, dan SE 125CC EX-Pro series.

Berbeda dengan Seri I yang dilangsungkan sebulan sebelumnya yang hanya melibatkan peserta dari beberapa negara, Seri II ini diramaikan oleh para kroser dari berbagai negara dipastikan akan ambil bagian untuk meramaikan event internasional ini. Sedikitnya 16 negara, antara lain dari Australia, Selandia Baru, Jepang, Cina, Filipina, India, Thailand, dan Hongkong, berani memastikan ambil bagian dengan mengirimkan kroser-kroser papan atas mereka, untuk berlaga di kelas bergengsi 125 cc.

Kedatangan para kroser asing ini diharapkan dapat membuat persaingan jadi lebih menantang. Apalagi kebanyakan dari mereka sudah datang lebih awal dan melakukan persiapan bersama para kroser lokal. Event yang diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Kabupaten Jember dan Pengurus Propinsi IMI Jatim ini juga diramaikan seluruh kroser nasional papan atas seperti Denny Orlando, Aep Dadang, Febby Ariwibowo, Alexander Wiguna, Adi Aprian Nugraha, Aldy Lazaroni, dan Hannu Malherbe.

Dua kroser, Watanaa Khanlaya dan James Robinson yang membela tim Suzuki Evalube AXIOO Racing Team, mampu memanaskan persaingan menuju yang terdepan. Selain Watanaa, Thailand juga menghadirkan Krisada Bunvatee yang dipastikan akan menambah kerasnya persaingan. Meski baru pertama kali tampil di Indonesia, Bunvatee mampu memberikan perlawanan terbaiknya untuk bisa memenangkan event perdana yang diikutinya di Indonesia ini.

Bermain di sirkuit seluas 10,500 m2, pada kejuaraan ini tim AXIOO – Evalube yang diwakili kroser Kim Ashkenazi asal Australia meraih prestasi gemilang. Untuk race pertama, Kim William Ashkenazi meraih gelar juara pertama pada kelas SE 125CC Pro-light. Sedang untuk race 2 milik pebalap Australia lainnya, Jarryd Mcneil. Sedangkan juara Seri I, pebalap nasional Aep Dadang hanya masuk finis di urutan ke-12 dengan catatan waktu 25 menit, 6,696 detik.

Pada race pertama, Kim William Ashkenazi yang juga juara Australia 1992, tampaknya belum tertandingi kroser lainnya di kelasnya. Ashkenazi menyelesaikan 18 lap dengan waktu 24 menit dan 34,172 detik, meninggalkan kroser Thailand, Wattana Kanlaya, sekitar 7,5 detik di belakangnya. Wattana berada di posisi kedua.

”Saya senang dengan sirkuit ini, selama tidak hujan. Kalau hanya debu, tidak jadi persoalan. Kalau seandainya turun hujan, saya menjadi orang pertama yang akan mengundurkan diri dari kejuaraan ini,” kata Ashkenazi yang pernah mengikuti Kejuaraan Dunia Motokros 2002.

Dalam ajang yang dikemas dalam program Bulan Berkunjung Jember (BBJ) 2009 ini, AXIOO meraih keberhasilan, baik sebagai peserta maupun sponsor utama penyelenggaraan event berkelas internasional ini. Hal ini memang menjadi komitmen AXIOO untuk memberikan layanan terbaik, baik bagi peserta lomba, para kostumer, maupun masyarakat luas.

Sebagai bukti komitmen penuh dari AXIOO sebagai sponsor utama, AXIOO yang juga mensponsori event "Jember Axioo Extreme Motocross Internasional” ini menyediakan Media Center yang memudahkan rekan-rekan media dalam meng-up date informasi yang ada. Bagi pelanggan setianya, AXIOO memberikan apresiasi yang tinggi dengan menyiapkan tempat duduk atau tenda khusus VIP.

View terbaik dan full-service akomodasi diberikan oleh AXIOO demi mengutamakan kenyamanan para pelanggannya untuk menyaksikan kejuaraan ini dari awal hingga akhir. Hal ini sesuai dengan komitmen AXIOO – Your Lifetime Partner.

Kamis, Juli 17, 2008

Menjawab Kebutuhan Informasi Tentang Perpajakan


Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan, membawa pesan, membangun citra, serta mempererat dan mengakrabkan hubungan dengan publik.

Seiring dengan tingginya kebutuhan akses informasi masyarakat terhadap perpajakan, penyediaan akses informasi yang lebih mudah dan cepat menjadi prioritas utama. Hal ini juga sejalan dengan program modernisasi di lingkungan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik. “Itulah maksud kami mendirikan call center. Kami membuat informasi layanan yang langsung dapat diakses masyarakat luas,” kata Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyrakat Ditjen Pajak, Djoko Slamet Surjoputro.

Djoko menambahkan, call center yang selanjutnya disebut dengan Kring Pajak ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan, membawa pesan, membangun citra, serta mempererat dan mengakrabkan hubungan dengan publik. Sebagai institusi yang penting dan strategis, Ditjen Pajak yang juga pengelola pajak perlu membangun saling keterbukaan dan kepercayaan antara wajib wajib serta masyarakat luas. Dengan keberadaan call center ini, waktu maysrakat untuk mengerti dan memenuhi kebutuhan informasi akan perpajakan menjadi lebih efisien.

Call center ini merupakan layanan akses informasi pertama kali di pemerintahan. Di negera lain yang lebih maju, call center merupakan unit yang penting. “Kita menyampaikan informasi, menerima pertanyaan, keluhan, kritik, saran, dan sebagainya. Sehingga akan terjalin keterbukaan. Saling percaya, dan dibuktikan bahwa apa yang dikatakan atau dijanjikan oleh agen akan terwujud,” kata Djoko menambahkan. Sejak diadakan call center yang sifatnya inbond call ini, pelayanan maupun pemberikan informasi pun menjadi seragam dan lebih tertata.

Keberadaan Kring Pajak ini memudahkan wajib pajak maupun masyarakat umum memperoleh informasi seputar perpajakan, sehingga meningkatkan kepatuhan dari para wajib pajak. Djoko menambahkan, call center ini juga menampung aspirasi publik mengenai kebijakan-kebijakan perpajakan. “Inilah corong lembaga. Diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan sebaik-baiknya dengan menghubungi nomor telepon 021-500200,” tutur Djoko.

Call center ini mendorong pelayanan dengan mendekatkan diri pada masyarakat agar memperoleh informasi yang sama tentang peraturan dan informasi perpajakan, sehingga mereka lebih tahu tentang kewajibannya. “Sebab, tingkat kepatuhan masyarakat bisa jadi karena mereka tidak mengetahui informasi yang sebenarnya. Untuk itu, kami ingin memberikan layanan secara maksimal pada masyarakat,” kata Kepala Sub Direktorat Pelayanan Ditjen Pajak, Aim Nursalim Saleh.

Dengan tarif lokal yang lebih murah, masyarakat dapat bertanya seputar informasi yang sifatnya umum tentang perpajakan. Misalnya, tarif pajak, obyek pajak, serta peraturan-peraturan mengenai perpajakan yang berlaku. Tidak hanya berfungsi sebagai information center, Kring Pajak juga menjadi complain center yang menampung segala pengaduan, keluhan, serta memberikan edukasi atau penyuluhan pada masyarakat.

Call center ini membuka pengaduan jika masyarakat menghadapi masalah seputar perpajakan, seperti sarana dan prasarana yang kurang memadai dalam layanan perpajakan, pelanggaran kode etik petugas pajak, hingga ketentuan yang berbeda penafsiran di lapangan untuk mendapatkan klarifikasi. “Berbagai pertanyaan dan keluhan ini akan direkam dan ditindaklanjuti seoptimal mungkin. Kami menghargai pengaduan ini dan kita tidak ingin kasus ini hilang begitu saja.,” kata Aim, menambahkan.

Kriing Pajak ini menyediakan agen atau operator yang akan melayani berbagai kebutuhan informasi maupun pengaduan para wajib pajak maupun masyarakat luas. Layanan ini terselenggara selama 24 jam, dengan rincian, untuk berbicara dengan agen maupun mendengarkan integrated voice record (IVR) terbuka selama jam kerja antara pukul 07.30-17.00. Selebihnya, layanan ini dalam berbentuk IVR atau mesin penjawab yang akan melayani kebutuhan informasi masyarakat.

Para agen dilengkapi dengan tax knowledge base sebagai referensi dalam menjawab berbagai pertanyaan dari wajib pajak. Database ini terdiri dari peraturan perpajakan yang berlaku. Ada pula frequence answered question (FAQ), pertanyaan yang sering muncul supaya memudahkan agen untuk mengantisipasi pertanyaan yang disampaikan. Mereka juga dilengkapi dengan database pembayaran, informasi Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP), hingga data wajib pajak.

Dalam perkembangannya, walaupun belum diluncurkan secara resmi, Kriing Pajak 500200 mendapat respon positif dari masyarakat. Sampai sekarang para penelpon sudah melampaui angka 7.000. Masyarakat sangat antusias dengan adanya call center ini. Sebagian besar di antara mereka menanyakan soal perpajakan, seperti SPT tahunan serta NJOP di sebuah kawasan. Seperti yang diharapkan, Kriing Pajak ini adalah jawaban dari kebutuhan informasi masyarakat seputar perpajakan.

Terima Kasih Pahlawanku

Penghargaan ini berupa bonus, beasiswa, serta rumah kepada insan olahraga dan generasi muda berprestasi.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Begitulah pepatah berkata. Untuk itu, sebagai bentuk penghargaan atau apresiasi terhadap generasi berprestasi, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Mennegpora) Adhyaksa Dault menyerahkan penghargaan kepada insan olahraga dan generasi muda berprestasi.

“Dalam kondisi bangsa seperti sekarang ini, hanya ada dua hal yang dapat meningkatkan semangat nasionalisme kita yaitu budaya dan olahraga. Untuk itu, sudah seharusnya kita memberikan apresiasi kepada insan-insan olahraga dan generasi muda berprestasi yang telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional,” kata Mennegpora Adhyaksa Dault.

Penyerahan penghargaan ini dilaksanakan secara simbolis di sebuah acara bertajuk “Terima Kasih Pahlawanku” di Smesco Promotion Center (SPC) Jakarta, Sabtu (7/6) lalu. Tidak hanya memberikan penghargaan pada atlet berprestasi, Mennegpora juga memberikan apresiasi terhadap para mantan atlet serta generasi muda berprestasi lainnya.

Dalam acara itu, pemerintah melalui Kantor Mennegpora menyerahkan penghargaan rumah, masing-masing senilai Rp100 juta kepada 45 mantan atlet nasional. Penghargaan rumah untuk mantan atlet ini secara simbolis diserahkan kepada dua orang yang mewakili, yaitu Suratmi (atletik) dan Little Pono (petinju). Penghargaan berupa rumah ini juga antara lain diterima oleh Rahmi Kurnia (tae kwon do), alm. Sukarman (gulat), Sutiono (balap sepeda), Siswoyo (angkat besi), Siti Dwi Astuti (pencak silat), Wayan Sudiana (bola voli), Praptiningsih Rahayu (yudo), dan sejumlah mantan atlet berprestasi lainnya.

Little Pono, mantan atlet tinju bersorak kegirangan ketika diminta tampil di panggung untuk menerima penghargaan. Ia menyatakan rasa bangganya karena jerih payahnya selama ini mengharumkan Indonesia mendapat apresiasi dari negara. “Kini saya tidak usah mengontrak rumah lagi,” ucapnya gembira.

Penghargaan kepada mantan atlet berprestasi tersebut merupakan tahap pertama dari total rencana 100 rumah yang akan diserahkan untuk anggaran 2008. Sisa 55 rumah, menurut rencana, diserahkan pada dua tahap berikutnya, yaitu Agustus dan September 2008. Menurut Adhyaksa, pemberian rumah tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memberikan apresiasi dan penghargaan kepada mantan atlet berprestasi yang telah berjasa mengharumkan nama bangsa di berbagai kegiatan olahraga internasional di luar negeri.

Sejak pemerintah menggulirkan program penghargaan rumah kepada mantan atlet berprestasi pada 2006 lalu, pemerintah secara berkesinambungan memberikan 100 rumah setiap tahunnya. Untuk tahun ini, sekitar 800 pengajuan dari mantan atlet yang masuk ke Kantor Mennegpora, tapi hanya 100 rumah yang bisa disediakan. ”Setiap tahun pemerintah berencana untuk memberikan penghargaan berupa rumah kepada 100 mantan atlet. Karena anggaran yang terbatas, saya meminta kepada mereka yang belum kebagian untuk bersabar,” kata Adhyaksa.

Sampai saat ini, Kantor Mennegpora telah membagikan sebanyak 155 rumah, masing-masing 10 rumah pada 2006, 100 rumah pada 2007 dan 45 rumah pada 2008. Pada akhir 2008, jumlah tersebut akan bertambah menjadi 210 sampai akhir 2008. Program pemberian rumah bagi para mantan atlet ini juga terselenggara atas kerja sama dengan Kementerian Negara Perumahan Rakyat.

Selain memberikan penghargaan rumah kepada mantan atlet, Mennegpora juga memberikan penghargaan kepada insan olahraga dan generasi muda berprestasi lainnya, seperti almarhum Sophan Sophiaan yang telah berjasa bagi bangsa dan negara, Tim Piala Uber Indonesia 2008, atlet Para Games 2007 di Thailand, petenis cilik Nadia, pelukis cilik Andri, serta grup band remaja Lantro Band yang mendapat penghargaan di Sanremo, Italia.

Tim Piala Uber yang diwakili Vita Marissa, Lilyana Natsir, dan pelatih Marleve Mainaky mendapat bonus masing-masing sebesar Rp50 juta atas prestasi mereka melampaui target hingga melaju ke final sebelum dikalahkan juara bertahan China.

Sedangkan penghargaan kepada almarhum Sophan Sophiaan yang meninggal dunia akibat kecelakaan saat mengendarai motor besar guna memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional beberapa waktu lalu, diterima oleh Widyawati. “Saya tidak mengira mendapat penghargaan ini dari pak Adhyaksa Dault. Beliau sangat apresiatif sekali terhadap mereka yang telah menunjukkan prestasi kepada bangsa dan negara,” papar Widyawati, sambil menahan rasa haru.

Berbagai penghargaan tersebut, kata Adhyaksa, sebagai wujud apresiasi Pemerintah yang diraih oleh pemuda baik di bidang olahraga maupun lainnya. Di tengah kondisi yang serba memprihatinkan di mana anggaran yang tipis, Adhyaksa mengakui tetap akan memberikan penghargaan yang terbaik pada mereka yang berprestasi. “Kita tetap berkomitmen untuk menghargai prestasi atlet. Meski dalam kondisi minim, tetap kita memberikan yang terbaik,” katanya.

Bukan sekali ini saja Pemerintah akan memberikan penghargaan. Pada kesempatan berikutnya, menurut Adhyaksa, Pemerintah juga akan memberikan penghargaan serupa terhadap mereka yang berprestasi pada peringatan Hari Olahraga Nasional serta Hari Sumpah Pemuda, September dan Oktober mendatang, serta pada peringatan hari besar nasional lainnya.

Penghargaan Bagi Pelaku UKM Terbaik di Indonesia

Pelaku UKM terbaik di ajang Dji Sam Soe Award 2007 telah dikukuhkan. Tidak hanya membukukan prestasi dan kebanggaan, peluang baru pun datang membentang bagi para pemenang.

Senyum bertebaran di wajah Nelly Nurlaila. Matanya berkaca-kaca. Pikirannya campur aduk, antara bangga dan haru. Jerih payahnya dalam membangun usaha pembuatan roti di bawah bendera Nusa Indah Bakery seperti terbayar sudah. “Seperti mimpi rasanya. Terus terang, saya tak pernah terpikir untuk tampil di ajan seperti ini, apalagi sampai menjadi pemenang,” katanya, tetap dengan wajah bahagia.

Rasa bangga juga dirasakan Mandar Utomo dan Martini. Keduanya berturut-turut dinobatkan sebagai pemenang kedua dan ketiga di ajang yang sama. Bahkan, Martini, yang sempat jatuh bangun mengembangkan kerajinan handycraft di bawah Martini Natural tak kuasa menahan tangisnya. “Syukur alhamdulilah. Ini berkat bantuan dari berbagai pihak,” katanya. Oleh karena itu, ia berteguh hati mempersembahkan penghargaan yang diraihnya buat semua keluarga, karyawan, serta semua pihak yang telah membantu kesuksesan usahanya.

Perhelatan Dji Sam Soe Award 2007 ini sejatinya merupakan wujud dari komitmen dan keseriusan Dji Sam Soe dalam memajukan usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Selain itu, penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi PT HM Sampoerna kepada para pelaku UKM yang telah memberikan motivasi dan memacu para pelaku UKM lain demi memajukan perekonomian nasional.

“Kami melihat dan sadar bahwa potensi dan peran UKM sangat penting bagi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi rakyat,” kata Angky Camaro, Chief Executive Officer PT HM Sampoerna dalam sambutannya di acara puncak penyerahan penghargaan Dji Sam Soe Award 2007. Hal tersebut, lanjutnya, menjadi landasan bagi perusahaan untuk memotivasi pelaku UKM agar berkembang melalui penganugerahan pelaku UKM terbaik. “Semoga para pemenang dapat menjadi teladan bagi pelaku UKM lain di tanah air,” harapnya.

Menjadi yang terbaik di ajang Dji Sam Soe Award 2007 ini memang tak mudah. Perjalanan Dji Sam Soe award 2007 yang mengusung tema “Menanam Karya Menuai Kesempurnaan” ini telah melalui masa enam bulan untuk pencarian dan penilaian yang obyektif terhadap kandidat di seluruh tanah air. Sebanyak 5.650 UKM terdaftar dalam ajang ini, naik 9,8 persen dari tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut selanjutnya terjaring 650 pelaku UKM yang dinyatakan lolos verifikasi awal dan berhak untuk menjalani tahap penjurian pertama. Tahap seleksi pertama berhasil menetapkan 234 pelaku UKM berhak mengikuti tahapan seleksi berikutnya. Dari 234 pelaku UKM ini kemudian ditetapkan 9 finalis UKM Terbaik yang berpotensi melaju ke jenjang penilaian berikutnya.

Seleksi ini dilakukan oleh Tim Dji Sam Soe dan Tempo sebagai penyelenggara serta dibantu oleh Tim Juri Tetap yang terdiri dari Ade Suwargo Mulyo (Swisscontact), Arief Mulyadi (PT Permodalan Nasional Madani, PNM), serta Hendri Ma’ruf dan Dhanny Wangsahardja (Dunamis Organization Services). Tahapan seleksi juga melibatkan Juri Kehormatan yang terdiri dari Bob Sadino (Entrepreneur), Dr. Ir. Choirul Djamhari (Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha, Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah), Prof. Dr. Ir. Mangara Tambunan (Akademisi), Goetz Ebecke (Swisscontact), dan Wiwin P. Soedjito (Pengamat UKM).

Para finalis yang sebagian besar srikandi-srikandi pelaku UKM tersebut kemudian harus melewati ujian berikutnya. Secara bergiliran, mereka harus mempresentasikan lika-liku perjalanan usaha, visi, kinerja, dan target usaha masing-masing. Tidak hanya itu, tahap presentasi ini juga diwarnai dengan tanya jawab guna menguji wawasan dan kecerdasan para finalis.

Hasilnya, 9 finalis ini mampu menarik simpati para juri, sehinga menyulitkan mereka untuk menentukan sang pemenang. “Ternyata kita punya bibit UKM yang banyak. Yang perlu adalah pemupukan. Harusnya pemerintah memperhatikan mereka,” kata Bob Sadiono. “Mereka tidak lagi memikirkan soal keberlangsungan usaha. Yang mereka miliki adalah obsesi dan semangat untuk terus memajukan usahanya,” tutur Prof. Dr. Ir Mangara Tambunan, menambahkan.

Setelah melalui rapat internal, para juri pun memutuskan tiga orang pemenang I, II, dan III. Penilaian tiga pemenang Dji Sam Soe Award 2007 ini berdasarkan atas penilaian obyektif yang menjunjung tinggi asas keadilan dan idealisme. Selanjutnya, para pemenang ini diumumkan di Ballroom Four Seasons Hotel, Jakarta, pada 14 Desember 2007 lalu, di hadapan undangan yang sebagian besar finalis 234 Dji Sam Soe Award dari tahun pertama hingga ketiga, dewan juri, dan para undangan lainnya.

Bentuk apresiasi kepada pelaku UKM ini terselenggara berkat kerjasama Dji Sam Soe, PT Tempo Inti Media Tbk (penerbit Majalah Tempo dan Koran Tempo), dan masih didukung oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Swisscontact dan Dunamis Organization Services. Tiga lembaga terakhir ini juga digandeng pihak Dji Sam Soe sebagai pemrakarsa award ini, sebagai juri tetap. Ini merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas penyeleksian. Juri tetap ini memiliki kewenangan untuk menyeleksi dari total jumlah peserta hingga tersortir menjadi sembilan finalis.

Penilaian yang obyektif, adil, dan bermuatan idealisme memang melahirkan pelaku UKM Terbaik yang membanggakan. Mereka telah bekerja habis-habisan, memeras otak, dan tahan banting. “Mereka begitu kreatif dalam membangun jaringan usaha. Ini perlu dikembangkan lagi di kemudian hari,” kata Dr. Ir. Choirul Djamhari, salah satu juri dalam sambutannya mewakili Menteri Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah.

Latar belakang digelarnya ajang ini tidak lepas dari perjalanan PT HM Sampoerna yang telah diwariskan lebih dari 94 tahun lalu. Dji Sam Soe sendiri selaku contoh nyata dari keberhasilAN sebuah UKM, berharap agar pelaku UKM di Indonesia nantinya mendapat tambahan ilmu, wawasan, dan pengalaman dari peraih penghargaan Dji Sam Soe Award 2007. Dari kerja keras dan kegigihan yang mereka tunjukkan, para pelaku UKM dapat memacu kinerja usaha, semangat, serta meluaskan jaringan usahanya untuk kesuksesan bisnis yang mereka kelola.

Atas prestasi yang diraihnya, para pemenang juga mendapatkan piala bergengsi serta memperoleh total hadiah sebesar Rp 108 juta. Selain itu, mereka juga berhak mengikuti program pelatihan manajemen dan kepemimpinan untuk meningkatkan profesionalisme serta daya saing di masa mendatang. Tidak hanya sukses membuktikan kemampuan dan ketangguhannya dalam mengarungi dunia bisnis, mereka juga memiliki banyak kejutan serta peluang baru yang bisa dinikmati sehingga usaha bisa berkembang lebih sempurna di masa mendatang.

Boks

Pemenang Dji Sam Soe Award 2007

Prestasi

Nama Usaha

Jenis Usaha

Hadiah

Juara I

Nusa Indah Bakery

Usaha pembuatan bakery

Tropi, uang Rp 45 juta

Juara II

Kajeng Handicraft

Usaha pembuatan mainan edukatif

Tropi, uang Rp 36 juta

Juara III

Martini Natural

Usaha pembuatan tas dan sandal

Tropi, uang Rp 27 juta

Penghargaan Bagi Pelaku UKM Terbaik di Indonesia

Pelaku UKM terbaik di ajang Dji Sam Soe Award 2007 telah dikukuhkan. Tidak hanya membukukan prestasi dan kebanggaan, peluang baru pun datang membentang bagi para pemenang.

Senyum bertebaran di wajah Nelly Nurlaila. Matanya berkaca-kaca. Pikirannya campur aduk, antara bangga dan haru. Jerih payahnya dalam membangun usaha pembuatan roti di bawah bendera Nusa Indah Bakery seperti terbayar sudah. “Seperti mimpi rasanya. Terus terang, saya tak pernah terpikir untuk tampil di ajan seperti ini, apalagi sampai menjadi pemenang,” katanya, tetap dengan wajah bahagia.

Rasa bangga juga dirasakan Mandar Utomo dan Martini. Keduanya berturut-turut dinobatkan sebagai pemenang kedua dan ketiga di ajang yang sama. Bahkan, Martini, yang sempat jatuh bangun mengembangkan kerajinan handycraft di bawah Martini Natural tak kuasa menahan tangisnya. “Syukur alhamdulilah. Ini berkat bantuan dari berbagai pihak,” katanya. Oleh karena itu, ia berteguh hati mempersembahkan penghargaan yang diraihnya buat semua keluarga, karyawan, serta semua pihak yang telah membantu kesuksesan usahanya.

Perhelatan Dji Sam Soe Award 2007 ini sejatinya merupakan wujud dari komitmen dan keseriusan Dji Sam Soe dalam memajukan usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia. Selain itu, penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi PT HM Sampoerna kepada para pelaku UKM yang telah memberikan motivasi dan memacu para pelaku UKM lain demi memajukan perekonomian nasional.

“Kami melihat dan sadar bahwa potensi dan peran UKM sangat penting bagi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi rakyat,” kata Angky Camaro, Chief Executive Officer PT HM Sampoerna dalam sambutannya di acara puncak penyerahan penghargaan Dji Sam Soe Award 2007. Hal tersebut, lanjutnya, menjadi landasan bagi perusahaan untuk memotivasi pelaku UKM agar berkembang melalui penganugerahan pelaku UKM terbaik. “Semoga para pemenang dapat menjadi teladan bagi pelaku UKM lain di tanah air,” harapnya.

Menjadi yang terbaik di ajang Dji Sam Soe Award 2007 ini memang tak mudah. Perjalanan Dji Sam Soe award 2007 yang mengusung tema “Menanam Karya Menuai Kesempurnaan” ini telah melalui masa enam bulan untuk pencarian dan penilaian yang obyektif terhadap kandidat di seluruh tanah air. Sebanyak 5.650 UKM terdaftar dalam ajang ini, naik 9,8 persen dari tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut selanjutnya terjaring 650 pelaku UKM yang dinyatakan lolos verifikasi awal dan berhak untuk menjalani tahap penjurian pertama. Tahap seleksi pertama berhasil menetapkan 234 pelaku UKM berhak mengikuti tahapan seleksi berikutnya. Dari 234 pelaku UKM ini kemudian ditetapkan 9 finalis UKM Terbaik yang berpotensi melaju ke jenjang penilaian berikutnya.

Seleksi ini dilakukan oleh Tim Dji Sam Soe dan Tempo sebagai penyelenggara serta dibantu oleh Tim Juri Tetap yang terdiri dari Ade Suwargo Mulyo (Swisscontact), Arief Mulyadi (PT Permodalan Nasional Madani, PNM), serta Hendri Ma’ruf dan Dhanny Wangsahardja (Dunamis Organization Services). Tahapan seleksi juga melibatkan Juri Kehormatan yang terdiri dari Bob Sadino (Entrepreneur), Dr. Ir. Choirul Djamhari (Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha, Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah), Prof. Dr. Ir. Mangara Tambunan (Akademisi), Goetz Ebecke (Swisscontact), dan Wiwin P. Soedjito (Pengamat UKM).

Para finalis yang sebagian besar srikandi-srikandi pelaku UKM tersebut kemudian harus melewati ujian berikutnya. Secara bergiliran, mereka harus mempresentasikan lika-liku perjalanan usaha, visi, kinerja, dan target usaha masing-masing. Tidak hanya itu, tahap presentasi ini juga diwarnai dengan tanya jawab guna menguji wawasan dan kecerdasan para finalis.

Hasilnya, 9 finalis ini mampu menarik simpati para juri, sehinga menyulitkan mereka untuk menentukan sang pemenang. “Ternyata kita punya bibit UKM yang banyak. Yang perlu adalah pemupukan. Harusnya pemerintah memperhatikan mereka,” kata Bob Sadiono. “Mereka tidak lagi memikirkan soal keberlangsungan usaha. Yang mereka miliki adalah obsesi dan semangat untuk terus memajukan usahanya,” tutur Prof. Dr. Ir Mangara Tambunan, menambahkan.

Setelah melalui rapat internal, para juri pun memutuskan tiga orang pemenang I, II, dan III. Penilaian tiga pemenang Dji Sam Soe Award 2007 ini berdasarkan atas penilaian obyektif yang menjunjung tinggi asas keadilan dan idealisme. Selanjutnya, para pemenang ini diumumkan di Ballroom Four Seasons Hotel, Jakarta, pada 14 Desember 2007 lalu, di hadapan undangan yang sebagian besar finalis 234 Dji Sam Soe Award dari tahun pertama hingga ketiga, dewan juri, dan para undangan lainnya.

Bentuk apresiasi kepada pelaku UKM ini terselenggara berkat kerjasama Dji Sam Soe, PT Tempo Inti Media Tbk (penerbit Majalah Tempo dan Koran Tempo), dan masih didukung oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Swisscontact dan Dunamis Organization Services. Tiga lembaga terakhir ini juga digandeng pihak Dji Sam Soe sebagai pemrakarsa award ini, sebagai juri tetap. Ini merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas penyeleksian. Juri tetap ini memiliki kewenangan untuk menyeleksi dari total jumlah peserta hingga tersortir menjadi sembilan finalis.

Penilaian yang obyektif, adil, dan bermuatan idealisme memang melahirkan pelaku UKM Terbaik yang membanggakan. Mereka telah bekerja habis-habisan, memeras otak, dan tahan banting. “Mereka begitu kreatif dalam membangun jaringan usaha. Ini perlu dikembangkan lagi di kemudian hari,” kata Dr. Ir. Choirul Djamhari, salah satu juri dalam sambutannya mewakili Menteri Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah.

Latar belakang digelarnya ajang ini tidak lepas dari perjalanan PT HM Sampoerna yang telah diwariskan lebih dari 94 tahun lalu. Dji Sam Soe sendiri selaku contoh nyata dari keberhasilAN sebuah UKM, berharap agar pelaku UKM di Indonesia nantinya mendapat tambahan ilmu, wawasan, dan pengalaman dari peraih penghargaan Dji Sam Soe Award 2007. Dari kerja keras dan kegigihan yang mereka tunjukkan, para pelaku UKM dapat memacu kinerja usaha, semangat, serta meluaskan jaringan usahanya untuk kesuksesan bisnis yang mereka kelola.

Atas prestasi yang diraihnya, para pemenang juga mendapatkan piala bergengsi serta memperoleh total hadiah sebesar Rp 108 juta. Selain itu, mereka juga berhak mengikuti program pelatihan manajemen dan kepemimpinan untuk meningkatkan profesionalisme serta daya saing di masa mendatang. Tidak hanya sukses membuktikan kemampuan dan ketangguhannya dalam mengarungi dunia bisnis, mereka juga memiliki banyak kejutan serta peluang baru yang bisa dinikmati sehingga usaha bisa berkembang lebih sempurna di masa mendatang.

Boks

Pemenang Dji Sam Soe Award 2007

Prestasi

Nama Usaha

Jenis Usaha

Hadiah

Juara I

Nusa Indah Bakery

Usaha pembuatan bakery

Tropi, uang Rp 45 juta

Juara II

Kajeng Handicraft

Usaha pembuatan mainan edukatif

Tropi, uang Rp 36 juta

Juara III

Martini Natural

Usaha pembuatan tas dan sandal

Tropi, uang Rp 27 juta

Dicari Pejuang Masyarakat Berikutnya

Sebuah ajang pemberian penghargaan bagi warga yang mempunyai kontribusi besar dalam meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat lain kembali digelar untuk ketiga kalinya.

PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (Danamon) untuk ketiga kalinya meluncurkan Danamon Award 2008, sebuah program yang bertujuan untuk mengidentifikasi serta memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para anggota masyarakat yang berjuang demi peningkatan kesejahteraan sesama anggota masyarakat. Dengan tema “Pejuang di Antara Kita” Danamon menekankan arti semangat perjuangan bersamaan dengan perayaan Kemerdekaan Indonesia Agustus mendatang, saat nama-nama peraih Danamon Award 2008 diumumkan.

Untuk itu, Danamon Award 2008 mengundang partisipan dari lima kategori, yaitu individu, badan usaha skala kecil, menengah, dan besar, serta organisasi/ lembaga nirlaba yang berdomisili di Indonesia yang menjalankan peran pemberdayaan sejalan dengan visi Danamon: “Kita peduli dan membantu jutaan orang untuk mencapai kesejahteraan”. Pendaftaran Danamon Award dibuka sejak 3 Juni lalu sampai 17 Juli 2008.

“Kami bangga bahwa Danamon Award kini kini telah memasuki tahun ketiga. Kami juga senang bahwa Danamon Award telah mendapat tanggapan yang begitu baik dalam penyelenggaraannya pada dua tahun sebelumnya, dengan jumlah partisipasi melebihi 2.000 dari seluruh Indonesia," ungkap Wakil Presiden Direktur Danamon, Jos Luhukay.

Danamon menyadari bahwa banyak individu, badan usaha, dan berbagai lembaga yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dengan membantu orang lain mengembangkan dan meningkatkan tingkat kesejahteraan mereka. Para “pejuang” masyarakat ini berada di antara kita semua dan mendedikasikan segenap waktu dan upaya mereka serta menciptakan dampak yang langgeng bagi kemajuan orang lain. “Kami memandang yang mereka lakukan itu sebagai menumbuhkembangkan dan merealisasikan nilai-nilai Danamon. Karena itu, sudah sepatutnya kita mengenal dan memberikan penghargaan kepada mereka” kata Jos.

Di tahun ketiga ini, Danamon Award kembali dilaksanakan atas kerja sama dengan Kelompok Tempo Media, penerbit Majalah Tempo dan Koran Tempo, dan didukung Swisscontact, lembaga internasional untuk kerjasama teknis antara Negara Swiss dengan negara-negara sahabat untuk pengembangan UKM, Dunamis Organization Services, penyedia pelatihan manajemen perusahaan, kepemimpinan dan pembentukan tim demi mancapai hasil usaha yang maksimal, serta LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Pencarian pejuang masyarakat ini melibatkan proses penjurian yang didukung oleh suatu panel juri independe, dan memiliki kredibilitas tinggi, seperti ekonom Prof. Dr. Sri Edi Swasono, Peter Bisseger dan Ade Suwargo dari Swisscontact, pakar manajemen dari Dunamis Organization Services, Ria Sidabutar dan Hendri Ma’ruf, serta Jaleswari Pramodhawardani dari LIPI.

Untuk menyeleksi para pemenang penghargaan Danamon Award, panel juri independen akan melakukan tiga tahap evaluasi yang meliputi wawancara telepon dengan para partisipan, validasi data, survei langsung dan wawancara tatap muka, dokumentasi, serta presentasi tentang kegiatan pemberdayaan yang dilaksanakan.

Untuk ikut serta dalam penghargaan ini, para individu atau institusi harus telah melaksanakan program atau kegiatan yang menghasilkan dampak pemberdayaan yang langsung terhadap kelompok atau komunitas yang ditujunya. Selain itu, program atau kegiatan tersebut harus dilaksanakan secara terus menerus, dan paling tidak telah dilakukan selama satu tahun, dan telah menunjukkan dedikasinya kepada bangsa Indonesia melalui cara masing-masing.

Danamon Public Affairs Head, Zsa Zsa Yusharyahya mengatakan bahwa Danamon sangat terkesan dan bangga dengan kualitas proyek-proyek partisipan pada tahun 2006 dan 2007, baik dalam hal dampak serta tujuan berkelanjutan dari setiap inisiatif tersebut. “Melalui Danamon Award 2008, kami mengundang partisipasi Anda dalam mengidentifikasi anggota masyarakat tersebut yang dapat memberikan inspirasi serta motivasi dalam memberdayakan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Untuk itu, daftarkan dan nominasikan segera individu, perusahaan, atau lembaga non-profit pemberdaya masyarakat di sekitar Anda sebagai kandidat pemenang Danamon Award 2008. Ambil formulir pendaftaran di Cabang Bank Danamon terdekat. Kunjungi situs www.danamon.co.id dan www.tempointeraktif.com untuk mengakses formulir pendaftaran online. Atau hubungi hotline Danamon Award di (021) 7029 3011 dan 7029 3117.

Boks

Pemenang Danamon Award 2007

Ir. Rachmita Maun Harahap, M.Sn
Membangun Kemandirian Kaum Tuna Rungu

Keterbatasannya dalam pendengaran dan berkomunikasi bukanlah penghalang menuju sukses, bahkan mengabdikan segenap pikiran dan tenaga bagi masyarakat. Begitulah gambaran Rachmita Maun Harahap. Insinyur Teknik Arsitektur ini memang memiliki keterbatasan (tuna rungu). Namun, ia mampu membuktikan potensinya yang luar biasa. Tidak hanya itu, Magister Seni lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), ini pun mampu mendermakan kemampuan yang dimilikinya demi kemajuan masyarakat sesamanya.

Perjuangan Mita menjadi solusi dalam menciptakan kemandirian bagi para tuna rungu dengan memberikan pelatihan maupun keterampilan bagi mereka. Didorong pengalamannya sebagai karyawati di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, Mita terjun dalam berbagai kegiatan sosial khususnya bagi penyandang cacat. Kegiatan ini sudah dimulai sejak tahun 1991. Pada 5 Desember 2001 Mita mendirikan sekaligus menjadi Ketua Yayasan Sehat Jiwa dan Raga atau disingkat SEHJIRA.

Dibantu tim relawan, ia menggalang dana dan menyediakan informasi seputar pendidikan dan lapangan kerja bagi keluarga tuna rungu yang kurang mampu, sehingga mendapatkan kesamaan dan kesejahteraan. Bagi Mita, untuk meningkatkan kesejahteraan para tuna rungu diperlukan wadah untuk memberikan informasi yang dapat menjembatani berbagai kepentingan kelompok masyarakat dengan para penyandang cacat.

Penganugerahan Bagi Pelopor Pemberdayaan Masyarakat

Ajang penganugerahan bagi para pelopor pemberdayaan masyarakat, Danamon Award, kembali digelar pada tahun 2007. Sejumlah figur yang konsisten melakukan pemberdayaan dan menginspirasi masyarakat luas kembali dilahirkan.

Dalam rangka mengidentifikasikan dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para anggota masyarakat yang telah berjuang demi peningkatan kesejahteraan sesama, Danamon Award 2007 kembali digelar. Ajang ini terbuka bagi semua individu, badan usaha, dan lembaga nirlaba di Indonesia yang menjalankan peran pemberdayaan, sejalan dengan visi Bank Danamon: ”Kita peduli dan membantu jutaan orang untuk mencapai kesejahteraan”.

Untuk dapat ikut serta dalam penghargaan ini, para individu maupun institusi setidaknya telah melaksanakan program atau kegaitan yang menghasilkan dampak pemberdayaan yang dirasakan langsung oleh kelompok atau komunitas yang ditujunya. Selain itu, program atau kegiatan tersebut harus dilaksanakan secara terus menerus, paling tidak selama satu tahun.

Dalam penyelenggaraannya, penghargaan ini terdiri dari lima kategori; individu, badan usaha skala kecil, menengah, dan besar, serta organisasi/ lembaga nirlaba. Sejumlah 2.111 peserta dari seluruh Indonesia tercatat turut berpartisipasi dalam ajang ini. Setelah melewati proses seleksi administrasi, interview telepon, kunjungan ke lokasi dan depth interview, juri memutuskan 15 finalis untuk melangkah ke tahap penjurian. Mereka berasal dari 12 provinsi dengan segala bentuk program maupun kegiatan pemberdayaan yang beraneka ragam.

Para finalis ini selanjutnya mempresentasikan kegiatan yang mereka lakukan di hadapan para juri. Selain itu, panel juri juga mengidentifikasi atribut-atribut yang menentukan, antara lain melalui evaluasi mendalam yang meliputi skala dan cakupan, frekuensi, dampak program atau kegiatan, sumber daya yang terkait, serta pendanaan yang digunakan.

Tahapan seleksi Danamon Award 2007 melibatkan Dewan Juri Independen Danamon Award 2007 terdiri dari para individu yang memiliki integritas tinggi dengan latar belakang yang beragam. Mereka antara lain Ade Suwargo Mulyo, project Manager dari SwissContact, Lembaga Swadaya Masyarakat dari Negara Swiss, pakar manajemen Ria Sidabutar, Hendri Ma’ruf dari Dumanis Organization Services, serta jaleswari Pramodhawardani dari LIPI.

Selain itu, penghargaan ini juga menyertakan Dewan Juri Kehormatan, yang terdiri dari Prof. Dr. Sri Edi Swasono, akademisi dan ekonom senior, Dr. Imam B. Prasodjo, sosiolog yang banyak berkiprah dalam kegiatan sosial, Risa Bhinekawati, Executive Director Yayasan Danamon Peduli, Peter Bisseger, Country Director Swisscontact, serta Halida Hatta, toko pemberdayaan perempuan.

Para juri berkenalan dengan orang-orang yang luar biasa. Mereka tanpa disuruh telah memberdayakan sesama, memampukan orang lain untuk mampu mandiri, dan merelakan dirinya untuk berkorban untuk orang lain,” kata salah satu juri kehormatan, Prof. Dr. Sri Edi Swasono. Ia melanjutkan, peserta Danamond Award kali ini lebih banyak dan lebih berkualitas.

Tingginya kualitas kegiatan pemberdayaan yang dilakukan para finalis Danamon Award 2007 juga diakui Zsa Zsa Ysharyahya, Public Affairs Head Bank Danamon. ”Hal ini membuat sulit para juri kehormatan dalam penilaian tahap akhir untuk menentukan para peraih Danamon Award 2007,” katanya.

Untuk itu, selain menetapkan lima pemenang yang mewakili lima kategori, panel juri kehormatan juga menetapkan bahwa dua dari lima belas ”pejuang masyarakat” berhak mendapatkan penghargaan khusus (Special Recognitions), antara lain karena keunikan dan aspek inovasi dalam kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat banyak yang mereka laksanakan. ”Saya berharap para pemenang Danamon Award 2007 ini lebih giat lagii dalam melaksanakan tugasnya,” kata Sri Edi Swasono.

Salah satu pemenang untuk kategori Usaha Skala Kecil, Sujarto, mengucapkan, ”Luar biasa. Saya tidak menyangka anak desa seperti saya akan meraih penghargaan ini.” untuk itu, pria yang sukses membudidayakan tanaman hias yang miliki nilai tinggi di Karang Anyar, Jawa Tengah, ini berniat untuk menularkan kegembiraan ini kepada saudara, tetangga, dan masyarakat luas untuk melakukan apa yang telah dilakukan. ”Semua orang bisa melakukan hal ini,” katanya, dengan penuh keyakinan.

Hal senada juga disampaikan pemenang kategori penghargaan khusus, Rachmita Maun Harahap. Pelopor pemberdayaan bagi komunitas tuna rungu ini berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih besar lagi dalam memberdayakan sesamanya. Mita, panggilan kecilnya, berkata, ”Saya ingin tidak ada lagi diskriminasi bagi kami, kalangan tuna rungu. Kami juga mampu berkarya seperti halnya orang normal lainnya.”

Rasa bangga dirasakan peraih Danamon Award 2007 kategori Usaha Skala Besar, Budiono. Mewakili perusahaan tempatnya bekerja, PT Pupuk Kaltim, ia menjadi motor pengembangan ekonomi masyarakat pesisir di sepanjang pantai Kalimantan Timur. Ia begitu bangga dengan keberhasilannya dalam menyelesaikan sebagian masalah yang dihadapi pemerintah. ”Kami sudah berada di jalur yang benar dalam memberdayakan masyarakat. Untuk itu, kami akan lari dengan lebih cepat lagi. Dengan demikian, masyarakat akan lebih berdaya dan akan mengangkat dirinya sendiri,” katanya.

Atas prestasi dan dedikasinya dalam melakukan pemberdayaan bagi masyarakat di sekitarnya, para pemenang mendapatkan hadiah sebesar Rp20 juta. Selain itu, para pemanang juga mendapatkan kesempatan lain yang tidak ternilai harganya, di antaranya publikasi dan kesempatan menularkan program pemberdayaan yang dilakukan kepada masyarakat luas.

Program ini diselenggarakan oleh Bank Danamon, bekerjasama dengan PT Tempo Inti Media (Penerbit Majalah Tempo dan Koran Tempo)dan didukung Swisscontact, lembaga internasional untuk kerjasama teknis antara Negara Swiss dengan negara-negara sahabat untuk pengembangan UKM, Dunamis Organization Services, penyedia pelatihan manajemen perusahaan, kepemimpinan dan pembentukan tim demi mancapai hasil usaha yang maksimal, serta LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Agar upaya pemberdayaan terus berlangsung dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, ajang Danamon Award direncanakan akan kembali digelar pada tahun-tahun mendatang.

Boks

Para Pemenang Danamon Award 2007

a. Penghargaan Khusus Danamon Award 2007

Nama

Kategori

Kegiatan Pemberdayaan

Ir. Rachmita Maun Harahap M.Sn

Individu

Solusi terhadap kemandirian tuna rugnu dengan memberikan pelatihan keterampilan

Kwan Hwie Liong

(William Kwan)

Lembaga Nirlaba

Revitalisasi budaya dan usaha kecil batik lasem

b. Peraih Danamon Award 2007

Nama

Kategori

Kegiatan Pemberdayaan

dr. Sofyan Tan

Individu

Progam anak asuh

Slamet Riyadi

Usaha Skala Kecil

Usaha kecil menggunakan bahan-bahan daur ulang, melibatkan para lansia

Sujarto

Usaha Skala Menengah

Budidaya tanaman hias yang memiliki nilai tinggi

Ir. Budiono

Usaha Skala Besar

Pengembangan ekonomi pesisir di sepanjang pantai Kalimantan Timur

H. Fuad Affandi

Lembaga Nirlaba

Pemberdayaan santri dan masyarakat di lingkugan Pondok Pesantren Al Ittifaq dalam bidang pertanian

Investasi yang Saling Menguntungkan

Sejalan dengan pendapatan yang terus meningkat, investasi yang dilakukan perusahaan juga meningkat dari tahun ke tahun.

Performa maupun kinerja PT Angkasa Pura I (Persero) senantiasa mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Prestasi yang diraih meliputi berbagai aspek manajerial, mulai dari keuangan, performa operasional dan teknik, serta komersial dan pengembangan usaha. Berdasarkan penilaian terhadap berbagai aspek di atas, perusahaan telah memenuhi kualifikasi “AA” dengan kategori sehat.

Prestasi yang cukup menonjol dibukukan perusahaan melalui aspek keuangan. Pendapatan perusahaan telah mengalami peningkatan secara positif dalam lima tahun terakhir. Begitu juga dengan pencapaian laba, pendapatan operasional, aset atau kekayaan perusahaan, maupun kemampuan likuiditas perusahaan yang diraih dengan cara melakukan optimalisasi kas melalui cash management.

Bersamaan dengan jumlah pendapatan, laba, maupun aset perusahaan yang terus meningkat, Angkasa Pura I juga melakukan investasi yang meningkat dari waktu ke waktu. Investasi tersebut berupa perbaikan bandara lama, peremajaan fasilitas navigasi maupun infrastruktur lainnya, serta pembangunan bandara baru di beberapa daerah. Investasi tersebut murni diambil dari dana internal perusahaan. Di beberapa tempat, pembangunan bandara juga melibatkan pemerintah daerah yang didukung oleh APBN.

Investasi ini dimungkinkan dilakukan Angkasa Pura I mengingat terjadinya pola maupun cara berinvestasi. Jika dulu inisiatif datang dari pemerintah, kini Angkasa Pura I telah diberikan kewenangan dan tanggung jawab untuk berinvestasi. Oleh karena itu, Angkasa Pura memiliki rencana investasi skala besar di masa mendatang.

Selama empat tahun terakhir, total dana yang diinvestasikan Angkasa Pura I mencapai Rp1,3 triliun. Pada 2008, investasi yang disalurkan perusahaan sebanyak Rp664 miliar. Target investasi yang dilakukan Angkasa Pura I, 60 persen dianggarkan untuk meningkatkan kualitas keselamatan, kenyamanan, dan keamanan bandara. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan benar-benar concern dengan bangunan maupun program kerja yang ditugaskan oleh pemerintah selaku pemegang saham.

Jadi, dalam periode ini, hampir seluruh terminal dan infrastruktur mendasar sudah diperbaiki. Fasilitas navigasi juga sudah ditingkatkan. Sampai saat ini, Angkasa Pura telah berinvestasi Rp160 miliar untuk mengganti empat radar di bandara. Rencananya, Angkasa Pura I akan melakukan investasi yang besar tahun depan. Investasi ini berupa pembangunan bandara baru dan renovasi beberapa bandara di Wilayah Timur Indonesia, seperti Bali, Solo, Semarang, Lombok, dan Makassar.

Selain Angkasa Pura I, sejumlah proyek pembangunan bandara juga melibatkan pihak-pihak lain, baik pemerintah provinsi dan kabupaten di mana proyek berada. Namun, investasi terbesar dilakukan oleh Angkasa Pura I. sebagai contoh, pembangunan bandara di Lombok Tengah, hingga saat ini Angkasa Pura I menginvestasikan dana sekitar Rp700 miliar.

Merangkul semua pihak untuk berinvestasi di bandara merupakan paradigma baru Angkasa Pura I. Hal ini mengingat peranan besar yang diberikan Angkasa Pura I untuk memberikan kontribusi pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. “Jadi, iklim investasi kami buka kepada masyarakat. Kalau ada investor, baik dalam dan luar negeri, datang dan membangun di bandara, kami sangat welcome,” kata Direktur Utama Angkasa Pura I, Bambang Darwoto.

Dari sisi komersial, bandara menjadi pusat pertemuan orang dengan berbagai macam kepentingan. Di sinilah potensi bisnis berada. Apalagi, Angkasa Pura I memiliki dua portofolio bisnis, aeronautika dan nonaeronautika yang potensial. Bidang aeronautika ditentukan oleh jumlah penumpang, pesawat, serta sarana transportasi. Tidak lagi menunggu bola, Angkasa Pura juga berperan layaknya airliner. “Kita bersama dengan maskapai penerbangan mencoba untuk men-drive bagaimana mendatangkan penumpang. Dulu, dianggap sebagai kepentingan airline, tapi sekarang telah dianggap sebagai kepentingan Angkasa Pura juga,” kata Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha Angkasa Pura I, Y.A.Y. Supardji.

Dari sisi nonaeronautika, Angkasa Pura I tidak semata-mata mengejar profit, tapi juga mengutamakan pelayanan dan menciptakan peluang kerja. Menciptakan bisnis, bersinergi dengan masyarakat, dan membuka peluang usaha. Angkasa Pura I ibarat pemilik yang menyewakan lahannya untuk kepentingan usaha banyak pihak. Terdapat 80 jenis usaha yang dapat dilakukan Angkasa Pura I bersama masyarakat. Hasilnya pun begitu mengembirakan, serta dapat memberikan keuntungan bagi banyak pihak.

Selangkah Lagi Menuju Gerbang Internasional

Menjadi perusahaan pengelola bandar udara dan pelayanan jasa navigasi penerbangan kelas dunia.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara yang diberikan kepercayaan untuk mengelola 13 bandar udara di Wilayah Timur Indonesia, PT Angkasa Pura I (Persero) membukukan diri sebagai perusahaan yang sehat dengan skor 83 kualifikasi “AA”. Kinerja ini mencerminkan capaian prestasi di berbagai aspek, seperti performa operasional dan teknik, komersial dan pengembangan usaha, serta keuangan.

Kinerja operasional bandara yang dicapai Angkasa Pura I berada di atas standar key performance indicator (KPI) yang ditetapkan oleh regulator. Hal ini meliputi pelayanan jasa pendaratan, penempatan, penyimpanan pesawat udara (PJP4U), Pelayanan Jasa Penerbangan (PJP), Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U), serta Pelayanan Jasa Counter dan Garbarata, baik domestik maupun internasional.

Dari sisi operasional, isu yang paling mendapat sorotan selama ini adalah masalah keamanan. Oleh karena itu, Angkasa Pura I berupaya untuk mengikuti standar internasional dalam masalah aviation security. Akhirnya, dengan kerja keras, sejumlah bandara telah dinyatakan sudah memenuhi standar. Bahkan, Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, pada Maret 2008 lalu telah dinyatakan memenuhi standar keamanan internasional.

Bidang operasional juga terkait dengan persoalan kapasitas. Selama ini kendala atau hambatan dalam hal operasional terkait dengan pertumbuhan traffic dan arus penumpang yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Di sisi lain, bandara di lingkungan Angkasa Pura I sebagian besar bangunan lama, sehingga antara kapasitas dan suplai sudah tidak seimbang. Kita harus meningkatkan kapasitas yang ada.

Kecilnya kapasitas bandara seringkali menimbulkan keluhan dari para pengguna jasa. Oleh karena itu, Angkasa Pura I memiliki perhatian yang besar terhadap hal ini. Untuk menunjang kesiapan operasional, perusahaan mengadakan renovasi atau peremajaan fasilitas yang sudah tua, seperti radar, telekomunikasi, sistem navigasi, hingga kendaraan operasional. Di sisi lain, penambahan kapasitas ruangan terus dilakukan sehingga diharapkan bandara telah memenuhi standar internasional.

Dalam peningkatan kualitas SDM, manajemen Angkasa Pura I telah menempuh berbagai cara, seperti training, pendidikan khusus, hingga program magang. Untuk itu, kerja sama dengan lembaga perguruan tinggi dan perusahaan navigasi penerbangan, seperti Air Service Australia (ASA) telah dilakukan. Secara berkala, manajemen mengirimkan para karyawan untuk meningkatkan kualifikasi sehingga lebih mampu untuk mengoperasikan peralatan pekerja.

Tidak hanya belajar, mereka juga dilatih untuk mengontrol udara sesuai dengan standar internasional. Dengan demikian, seluruh SDM yang terlibat dalam aktivitas pelayanan dan bisnis utama perusahaan memiliki kesiapan dan kompetensi sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kompetensi ini ditunjukkan dengan adanya licence, rating, dan Surat Tanda Kecakapan Personil (STKP) bagi seluruh SDM.

Dari sisi keuangan, pendapatan perusahaan telah mengalami peningkatan secara positif dalam lima tahun terakhir. Total pendapatan operasional selama lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Pada 2006, pendapatan yang diraih mencapai Rp1,31 triliun. Pada 2007, pendapatan dari sales mencapai Rp1,8 triliun, dan menigkat menjadi Rp1,9 triliun pada 2008. Perolehan ini meningkat tajam dari hanya sekitar Rp745 miliar pada 2003 lalu.

Pencapaian laba sebelum pajak selama lima tahun terakhir juga mengalami peningkatan berarti, dan telah melampaui target yang ditetapkan. Pada 2006 lalu, laba mencapai Rp332 miliar, dan meningkat menjadi Rp388 pada 2007. sedangkan kemampuan likuiditas perusahaan juga mengalami kemajuan. Jika pada 2003 lalu memiliki uang kas Rp306 miliar, kini mencapai Rp1,2 triliun. Pendapatan yang meningkat ini diraih dengan upaya melalukan optimalisasi kas melalui cash management, sehingga dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.

Total aset maupun kekayaan selama lima tahun mengalami peningkatan rata-rata sebesar 16,58%. Pada 2006 lalu, aset perusahaan mencapai Rp4,92 triliun, meningkat sebesar 4,22% bila dibandingkan dengan aset tahun sebelumnya. Hingga kini, total aset atau kekayaan yang dimiliki perusahaan mencapai Rp7,4 triliun, meningkat tajam dari hanya Rp3 triliun pada 2003 lalu.

Sejalan dengan pendapatan yang terus meningkat, investasi yang dilakukan perusahaan juga menigkat dari tahun ke tahun. Pembangunan bandara sedikit banyak telah menyita kemampuan keuangan Angkasa Pura I. Beberapa tahun yang lalu pembangunan bandara menjadi tugas pemerintah karena merupakan infrastruktur mendasar. Tapi, tugas ini dialihkan ke Angkasa Pura I, seiring dengan performa perusahaan yang terus membaik. Lebih dari itu, perusahaan juga dituntut untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat.

Tidak hanya berorientasi profit, perusahaan juga menunjukkan kepedulian terhadap tanggung jawab sosial perusahaan. Hal ini tercermin dari berbagai program Corporate Social Responsibility (CSR) yang meliputi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Sampai sekarang, hampir Rp120 miliar disalurkan kepada 6.414 mitra binaan di 13 bandara dan kantor pusat.

Perusahaan juga menyalurkan dana bina lingkungan hampir mencapai Rp20 miliar. Mulai 2007, perusahaan memberikan bantuan bina lingkungan secara monumental, dengan membangun proyek air minum, ruang baca, posyandu, serta galeri di sejumlah wilayah di Tanah Air. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian Angkasa Pura I terhadap lingkungannya begitu besar. Sebuah itikad yang mengembirakan.

****

Boks

Dirut Angkasa Pura 1

Bambang Darwoto

“Prioritas Kami adalah Pelayanan”

Untuk mewujudkan visi sebagai operator bertaraf internasil, apa rencana dan target Anda ke depan?

Kami akan membuat skala perioritas yang harus dilakukan. Sebagaimana kami nyatakan dalam visi kami, menjadi pengelola navigasi penerbangan dan kebandarudaraan world class operator. Artinya, pada beberapa bandara yang melayani internasional, harus setara dengan pelayanan di bandara luar negeri. Dari 13 bandara itu tidak seluruhnya baik. Masih ada yang perlu dibenahi. Yang nampak antara lain Makassar, penumpangnya lebih dari 3,5 juta per tahun. Bandaranya sekarang berukuran 10 ribu meter persegi saja. Jadi sudah over capasity, karena itu kami membangun bandara baru seluas 51 ribu meter persegi, dengan kapasitas penumpang 7,5 juta.

Soal rencana modernisasi navigasi dan lain-lain, bagaimana?

Tahap pertama adalah menambah kapasitas terminal. Baru nanti untuk navigasi, penyempurnaan sistem prosedur, dan sebagainya. Modernisasi navigasi penerbangan juga menjadi tanggung jawab Angkasa Pura I. Ini semua akan kita lihat untuk kebutuhan operasional dan berbagai macam aspek lainnya. Tapi, intinya target kami dalam beberapa tahun ke depan untuk menjadi operator bertaraf internasional harus tercapai. Kami berkomitmen untuk dapat menyediakan bandara yang menangani penerbangan internasional.

Bagaimana dengan rencana atau target investasi?

Kalau dilihat dari pengalaman beberapa tahun ini kurang lebih 60 persen dari anggaran investasi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas safety dan keamanan di bandara. Dari tahun ke tahun investasi ini terus meningkat. 60 persen digunakan untuk meningkatkan kualitas keselamatan. Total investasi yang disalurkan pada 2008 sebanyak Rp664 miliar. Namun, di tempat lain pembangunan terminal baru dikerjakan oleh angkasa pura bekerja sama dengan pemerintah daerah yang didukung oleh APBN.

Bisa dijelaskan soal kontribusi dalam menunjang program Visit Indonesia Year 2008?

Tentu Angkasa Pura mendukung sepenuhnya program ini. Setiap bandara harus siap menyambut kedatangan para turis kapan saja dengan pelayanan terbaik. Harapan kami, program ini juga didukung instansi terkait lainnya sehingga betul-betul menghasilkan pelayanan yang terbaik.

Lalu, bagaimana komitmen perusahaan dalam memberikan kepuasan pada pengguna jasa?

Pelayanan kepada pengguna jasa merupakan salah satu hal yang menjadi prioritas perusahaan, karena hal ini mengacu pada standarisasi yang ditetapkan pemegang saham maupun pengelolaan bandara internasional. fsilitas harus dibenahi, kemampuan sumber daya manusia juga harus sesuai dengan standar bandara luar negeri. Ini semua memiliki dampak terhadap masalah pembangunan bandara. Dan, ini tidak bisa sekaligus dilakukan, harus bertahap.