Tampilkan postingan dengan label Fashionista. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fashionista. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 12, 2008

Sebastian Gunawan, Perancang Busana Multi Talenta

The real star of the Indonesian fashion world today” Begitu Harian The Jakarta Post memujinya. Busana rancangannya begitu berkelas, dari dekoratif yang simpel sampai busana yang begitu dramatis. Desainer yang terkenal dengan rancangannya yang glamour, feminim, dan elegan, ini seringkali membawa harum nama Indonesia di mata dunia.

Setumpuk kain sutera bisa tak berarti apa-apa di hadapan kita. Tetapi coba sodorkan kain tersebut pada Sebastian Gunawan, pasti disulapnya menjadi rancangan busana yang begitu menawan. Pria kelahiran Jakarta, 2 Juli 1967 ini memang dikenal sebagai perancang busana dengan beragam gaya dan tema. Karya-karya penuh inspirasi. Gaun malam rancangannya begitu popular.

Kreativitasnya dalam mendesain sebuah busana tak hanya dikenal di dalam negeri, melainkan juga telah diakui di mancanegara. Ia juga meraih berbagai penghargaan, baik dalam dan luar negeri. Karena itu, desainer yang sempat menimba ilmu Fashion Design di Institute of Mode, Susan Budiharjo, seringkali menjadi tolak ukur utama dalam perkembangan tren busana di Tanah Air.

Apa yang diperoleh Seba, begitu panggilan akrabnya, memang melalui perjalanan yang panjang. Kecintaannya pada kegiatan merancang busana dimulai saat ia duduk di bangku sekolah menengah. Sejak itu Sebastian terus mencari dan mengembangkan bakat yang dimilikinya. Hasil rancangannya seringkali dipakai oleh teman-teman sekelas maupun anggota keluarga, terutama pada acara-acara penting.

Petualangannnya di dunia fashion terus berlanjut. Pada 1993, Sebastian memperkenalkan hasil rancangan perdananya dengan karya-karya personal dan koleksi eksklusif dengan merek namanya sendiri, Sebastian A. Gunawan. Namanya pun mulai diakui di kalangan pekerja industri fashion di Indonesia.

Alumni The Fashion Institute of Design and Merchandising, Los Angeles, ini terus memacu kreativitasnya. Dua tahun berikutnya, bersama sang istri, Christina Panarese, ia meluncurkan koleksi busana siap pakai dengan nama “VOTUM”, yang artinya Vote of Confidence.

Dalam kurun waktu enam tahun, desainer yang seringkali menjadi juri dalam kompetisi fashion bergengsi di Indonesia ini kembali memperkenalkan koleksi terbarunya dengan merek “Sebastian’s” dan “Sebastian Sposa”. Merek terakhir ini merupakan koleksi busana pengantin yang dirancang khusus untuk kalangan menengah atas.

Kreativitas Sebastian ternyata tak hanya di dunia mode, tapi juga dalam hal merancang keramik. Garis rancangannya yang dikenal anggun dan glamour pernah ia pindahkan ke dalam aksesori kamar mandi dan piranti makan-minum berbahan keramik. Dengan memadukan konsep fashion dan function, keramik bermerek Seba Xeramik ini tetap terlihat anggun dan fungsional dengan nuansa Oriental dan Spanyol. Dalam pengerjaannya, Sebastian menemukan keasyikan tersendiri. "Keindahan busana akan terlihat begitu selesai pengerjaan. Sementara piranti ini keistimewaannya setelah di-setting dalam sebuah penataan," ungkapnya.

Selain produktif dalam merancang, lulusan Instituto Artistico Dell Abbigliamento Maragoni, Milano, Italia, ini juga secara rutin menggelar peragaan busana tunggal. Terakhir kali, peraih penghargaan Young Fashion Designers Contest pada 1993 ini menyelenggarakan pergelaran busana dengan tema “Rendezvouz”. Kali ini busana yang ditampilkan bernuansa lembut, muda, cerah, dengan ornamen kilau payet dan manik kristal, serta paduan antara hitam dan putih.

Mendapat pengukuhan di dalam negeri, Sebastian lantas memperlebar pangsa pasarnya ke mancanegara. Dia seringkali berpartisipasi dalam pagelaran maupun kompetisi fashion tingkat internasional. Pada 2004 lalu, misalnya, ia meraih penghargaan World Young Designer Award pada Konvensi sedunia International Apparel Federation (IAF) XX di Barcelona, Spanyol. Rancangannya berlabel “I Miss Bali” berhasil menyisihkan 17 pesaingnya dari negara lain.

Kiprahnya di dunia internasional terus berlanjut. Peraih penghargaan Best Designer dari Indonesia Tattler Society ini juga turut andil dalam Bangkok International Summer Fashion Week 2005 lalu. Dalam pekan mode yang digelar di Central Chidlon, salah satu departement store terkemuka di Thailand, ini ia diundang sebagai perancang bintang tamu.

Tampaknya peragaan kali ini cukup memuaskan Sebastian. "Saya rasa ini adalah salah satu yang terbaik dari peragaan saya di luar negeri,” ujarnya, berterus terang. Bukan saja karena baju-baju hasil rancangannya diminati pengunjung, tapi fasilitas dan kolaborasi mereka yang terlibat, seperti make up artist, koreografer, dan pihak penyelenggara begitu menyenangkan. Selain itu, ia tampaknya telah menemukan peluang yang terbuka untuk menembus pasar Thailand.

Kolaborasi Sebastian dan Christina dalam merancang busana mendapat apresiasi dari berbagai kalangan di Indonesia. Di samping merancang busana untuk dijual di pasaran atau permintaan pribadi, seringkali ia mendapat kehormatan untuk merancang gaun-gaun cantik dalam rangka perayaan khusus. Seperti dalam pemilihan Miss ASEAN 2005 lalu maupun untuk konser musik penyanyi Titie DJ, beberapa waktu lalu.

Peragaan busana yang diselenggarakan Sebastian pun tak semata berorientasi keuntungan. Seringkali pergelaran ia selenggarakan dalam rangka mengumpulkan dana amal. Dana yang berhasil dikumpulkan pun cukup besar. Dalam pergelaran yang dilaksanakan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) tahun lalu, misalnya, penjualan kursi pergelaran mencapai Rp378 juta. ”Saya pikir, daripada sekadar membuat pergelaran, mengapa tidak untuk amal saja. Toh, pelanggan saya tidak keberatan,” katanya, ringan.

Kreativitas dan inovasi Sebastian tampaknya akan terus berlanjut. Apalagi, ia mengakui, industri fashion di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk maju, mengingat jumlah populasi penduduk Indonesia yang besar. Peluang yang sama juga ia temukan untuk pasar luar negeri. “Kita juga memiliki potensi yang cukup bagus untuk dapat bersaing dan berkembang bila didukung dengan regulasi dan program-program promosi yang cukup menunjang dari pemerintah,” tutur Desainer Favorit 2005 versi Majalah Dewi ini.

Maka, kecintaannya pada dunia rancang busana maupun desain kreatif akan melanjutkan perannya dalam industri fashion tanah air. “Saya ingin memperkuat eksistensi bisnis fashion di Indonesia,” ujar pemilik Sebastian’s Boutique, ini dengan penuh semangat. Ia pun menapaki masa mendatang dengan rancangan yang menjanjikan optimisme.

Kamis, Juli 24, 2008

Anne Avantie, Sebuah Anugerah dari Kebaya

Citra busana yang serba gemerlap, mewah, glamour, serta berkarakter begitu melekat dalam koleksi kebaya rancangannya. Busana etnik kontemporer yang ia tekuni ternyata begitu disukai, bahkan mampu bersaing di tengah gempuran fashion global. Koleksi kebaya ini pun dirancang tanpa meninggalkan corak maupun karakter aslinya.

Anne Avantie dan kebaya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Bahkan, ia telah menjadi ikon baru dalam hal rancangan kebaya kontemporer di Indonesia. Modifikasi kebaya rancangannya begitu menarik, imajinatif, dan anggun. Serangkaian kebaya yang ditampilkannya juga sarat dengan detail, penggunaan payet, brokat, sulam dan manik, bordir, serta sentuhan benang emas di tepi makin memperkuat kesan gemerlap pada rancangannya.

Desainer kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, ini tampaknya begitu memahami keinginan setiap perempuan yang ingin tampil anggun. Hampir seluruh koleksinya menampilkan siluet feminine dengan potongan ketat menonjolkan lekuk tubuh pemakainya. Kebaya-kebaya modern rancangannya pun tetap memancarkan keanggunan serta aura yang begitu kuat.

Mengeksplorasi pesona kebaya modern menjadi jiwa dan kekuatannya dalam berkarya. Peraih penghargaan Kartini Award 2005 ini memperlihatkan metamorfosa kebaya dalam melewati zaman yang terus berubah. Untuk menciptakan kebaya yang fasionable dan tetap digemari masyarakat, Anne mengadaptasikan warna dan sentuhan modern pada setiap rancangannya. Hasilnya, busana nasional ini bisa bersaing di antara produk fashion dari mancanegara.

Di balik karya-karya kontemporernya, Anne tetap menjunjung tinggi kebaya klasik. “Apa yang saya lakukan ini adalah bakti cinta untuk mempertahankan busana klasik Indonesia ini, dan memberinya warna agar luwes melewati zaman,” ujarnya. Kecintaan Anne pada kebaya yang begitu besar membuat karyanya sangat bernyawa.

Rancangan kebaya kontemporernya muncul dalam berbagai bentuk dan detail. “Saya membuat kebaya dalam berbagai versi. Saya harap, karya saya tidak dibanding-bandingkan dengan yang lain, karena tiap konsepnya memang berbeda. Saya ingin kebaya-kebaya saya bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang,” tutur perancang yang telah bekerja sama dengan Bank Mandiri Prioritas dalam menggelar show tunggal sekaligus meluncurkan buku berjudul “Aku, Anugerah, dan Kebaya” di Hotel Mulia, Jakarta.

Upaya Anne dalam membuat kreasi kebaya hingga setenar sekarang telah melewati perjalanan yang panjang. Sukses yang diraihnya merupakan hasil dari sebuah proses pembelajaran yang tiada henti sejak kecil. Bakat seorang perancang handal ia asah dengan merancang busana tari, pesta, hingga hiasan rambut ketika duduk di bangku sekolah menengah.

Naluri seorang pebisnis mulai terlihat saat alumni SMU Loyola, Semarang, ini memberanikan diri membuka Griya Busana Permatasari, sebuah usaha yang melayani penyewaan kostum tari. Salah satu pelanggannya adalah sebuah kelompok tari, Andromedis Dance. Seiring dengan naiknya pamor kelompok tari ini, nama Anne Avantie pun turut terkenal di Semarang.

Seni tari juga membuat Anne akrab dengan orang-orang dari dunia panggung.

Mereka juga sempat bekerja sama mengadakan pagelaran busana pesta di salah satu arena sepatu roda di Semarang. Tak disangka, baju pesta rancangannya yang memakai aplikasi unik mampu menarik minat banyak orang. Perjalanan hidup kemudian mengantarkannya menjadi seorang desainer besar Indonesia dengan spesialisasi kebaya masa kini.

Anne mengaku tidak pernah menempuh jalur pendidikan formal untuk merancang busana. Kendati tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang mode, rancangannya tidak saja berhasil menyejajarkan dirinya dalam deretan perancang papan atas di Indonesia. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, koleksi kebaya rancangannya selalu dilibatkan dalam pentas pemilihan Putri Indonesia maupun Miss Universe.

Sukses sebagai perancang tidak membuat Anne lupa dengan tanggung jawab maupun kepedulian sosial yand dimilikinya. Anne pun memanfaatkan kariernya untuk mengumpulkan dana yang disumbangkan untuk kegiatan terapi pengobatan. Ia pun tergerak untuk menolong anak-anak cacat penderita pembesaran kepala (hydrocephalus), dengan mendirikan sebuah panti sekaligus klinik pengobatan gratis bagi mereka. “Buat saya, ini adalah resep dalam membangun keseimbangan hidup,” kata Anne, dengan penuh kesahajaan.

Selama 20 tahun berkarya, perjalanan karier Anne sebagai perancang busana telah memberikan kontribusi yang berharga bagi perkembangan dunia fashion di Indonesia. Ia bangga ketika menyaksikan pamor kebaya kembali terangkat. Baginya, kebaya bukanlah semata busana, melainkan perwujudan kekuatan dan anugerah. “Kebaya adalah jalan yang selalu ada dalam hidup saya,” tutur Anne tentang karya-karya yang telah membesarkannya.

Kamis, Juli 17, 2008

Kanaya Tabitha, Berkarya dengan Sepenuh Jiwa

Ia dikenal sebagai salah satu perancang busana termahal di Indonesia. Bisnisnya makin berkibar ketika ia memproduksi busana berlabel namanya sendiri. Gaya rancangannya terkenal dengan tema-tema sensualitas, super feminim, modern, dan glamor dengan model potongan yang unik dan tak lazim begitu digemari pemerhati fashion.

Perancang busana kelahiran Dumai, Riau, 19 Desember 1972 ini memang tak lama mengikuti sekolah fashion design. Tetapi bakat, perjuangan, dan kemauan kerasnya telah mengantarkannya sebagai desainer papan atas di Tanah Air. Sederet artis ternama, tokoh terkemuka, hingga pejabat negara menjadi pelanggan setia karya-karyanya. Baju-baju pestanya yang feminim, seksi, dan glamor juga disukai para wanita.

Selain mengandalkan pendapatan dari hasil rancangan, desainer yang berkiprah sejak 1998 ini juga melayani pembuatan seragam berbagai instansi, termasuk militer. Terkadang, Kay, sapaan akrabnya, menjadi konsultan fashion dan penampilan sebuah instansi maupun perorangan. Rancangannya pun pernah ditayangkan dalam acara Style with Elsa Klensch di CNN dan pada Channel 10 TV News, Australia, pada 2000 silam.

Sebuah terobosan besar ia lakukan saat memutuskan mengikuti Hongkong Fashion Week pada 2002 lalu. Keikutsertaan dalam pameran niaga ini merupakan bagian dari upaya memperbesar pasar produknya yang menawarkan pakaian malam. Selain itu, perancang busana yang juga sempat mengikuti Bali Fashion Week 2002 ini menginginkan sebuah tantangan baru dengan menjajaki pasar luar negeri.

Dalam usia kariernya sebagai desainer, Sarjana Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, ini telah menorehkan prestasi yang mengesankan. Di antara pencapaiannya yang membanggakan adalah peragaan busana di atas pesawat, merancang pakaian dinas harian perwira tinggi kepolisian RI, dan menjadi konsultan penampilan hingga merancang busana untuk penyiar acara stasiun televisi SCTV.

Karya-karya peraih penghargaan The Most Powerful Woman in Indonesia 2002 versi Mark Plus dan Majalah Swa, ini memang cenderung modern, glamour, dan super feminim. Rancangannya banyak bermain dengan cutting yang menonjolkan kesempurnaan seorang perempuan. “Kekuatan saya memang di cutting,” katanya, berterus terang. Di samping bermain dengan potongan-potongan yang tak lazim dan pola yang rumit, ia juga berani melakukan eksperimen warna.

Dari berbagai show yang diikutinya, peragaan busana tunggal bertajuk “Secret of Eve” yang digelar pada Agustus 2004 lalu merupakan pagelaran paling berkesan sepanjang kariernya. “Itu show tunggal pertama saya. Jadi saya excited banget. Bisa dibilang show tersebut mencoba membicarakan karakter atau kepribadian perempuan saat itu," ujar salah satu Desainer Favorit 2005 versi Majalah Dewi ini. Ia pun tak menyangka show itu akan berdampak besar pada perjalanan kariernya.

Kini, hari-harinya tetap disibukkan dengan melayani permintaan pembuatan seragam berbagai perusahaan. Ia terbuka untuk menerima berbagai permintaan dari kalangan manapun. "Saya tetap harus memuaskan mereka," katanya. Selain melayani permintaan dari berbagai pihak, perempuan yang gemar menulis cerita fiksi ini juga tetap menggarap rancangan berlabel namanya. Selain busana, ia pun mulai melayani permintaan dalam merancang aksesori untuk kebutuhan interior rumah.

Masuknya brand-brand busana terkenal dari luar negeri, diakui Kanaya, menjadi tantangan sekaligus pemacu baginya untuk terus menggali kreativitas. Ia menyadari, merek-merek tersebut sedikit banyak turut mempengaruhi gayanya dalam merancang busana. Pemilik House of Kanaya Tabitha ini berkata, “Dunia fashion memang kadang naik, kadang turun. Itu tak masalah. Yang penting, saya tetap berkarya dengan sepenuh hati, makin kreatif, dan konsisten pada gaya dan karakter rancangan saya”.

Tak hanya berharap agar karya-karyanya diminati masyarakat, ia juga merasa turut bertanggung jawab agar hasil rancangannya menjadi barometer. Lebih dari itu, ia merasa terpanggil untuk memberikan edukasi pada publik tentang busana-busana bermutu. “Di balik karya-karya yang saya ciptakan, saya ingin memberikan pelajaran pada masyarakat agar mengerti penampilan, bagaimana memilih bahan yang cocok untuk Indonesia,” tutur bintang iklan produk deodoran, handphone, dan pelangsing tubuh ini.

Seperti umumnya pekerja keras, tidak ada kata puas dalam diri Kanaya. Berbagai rencana dan terobosan bisnis telah ia rancang. Desainer yang berencana mengadakan kembali peragaan busana tunggalnya di tahun 2007 ini juga berharap agar desainer-desainer Indonesia bisa menunjukkan kemampuannya di kancah global. Apalagi, menurut ibu satu anak ini, dari segi artistik, rancangan busana karya para desainer di Indonesia masih lebih bagus dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Sebuah harapan yang tidak terlalu mengada-ada.