Tampilkan postingan dengan label Relax With.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relax With.... Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 22, 2008

Martha Suherman, Young & Mature Lady

Dalam dunia industri yang penuh seteru, kau tunjukkan diri sebagai pelaju. Pelaju sejati di ranah industri. Tak ada lagi waktu selain bermimpi dan meraciknya hingga mewujud nyata. Kabarkan pada semua, apakah gerangan yang telah membuatmu terus meregang, dengan gairah dan optimisme yang berapi-api?

Wild Child

Terlahir dengan shio monyet, beginilah jadinya dirimu. Memanjat pepohonan menjadi kegemaran yang memercikkan riang di hati. Kau pilih binatang piaraan sebagai karib daripada boneka imut seperti bocah seumuranmu. Anak ayam atau anjing kesayangan, menjadi teman menghabiskan waktu di hari-hari beliamu. Tak mengherankan jika akhirnya karakter tomboy begitu melekat daripada kesan feminis di dirimu. “Aku juga lebih sering bermain dengan kakak lelaki di rumah,” tuturmu tersipu. Perangaimu pun menampakkan seorang pendiam, namun pemberani juga nekat.

Wajahmu bersemu merah tatkala kukuakkan setangkup memori di bangku sekolah. Kau pun tersenyum geli saat dipanggil guru BP karena kedapatan bersitegang dengan perempuan kakak kelasmu selepas upacara bendera. “Dia menjambak rambutku. Upacara bubar, kujambak juga dia,” kilahmu, cepat. Gelakmu pun memecah.

Impian menjadi pendidik sempat melintas perigi benakmu. Tapi, cita itu sirna juga ditelan waktu. Tak suka anak kecil, begitu dalihmu sebelum akhirnya meneruskan kegemaran lama, menggambar. Apalagi bila melihat perkembangan anak di zaman internet begini, “Tak mungkin rasanya aku mengajari mereka,” ucapmu, selirih bayu.

Artistic Madness

Naluri seorang seniman mulai bermekaran di bilik-bilik hati. Kutahu, itu adalah titisan dari sang buyut yang memang seorang seniman berdarah asli Tiongkok, nun jauh di seberang. Lantas, kau pun melaju di jalan untuk menjadi seorang desain artistik sejati.

Malang melintang berkarier di perusahaan orang, hasratmu berkelana berlabuh juga di bisnis milik keluarga. Dari pekerja menjadi pemilik, dari pelakon seni menjadi penggerak industri, tentu sempat menempatkanmu dalam posisi transisi yang memeras daya pikir, kekuatan imaji. “Adaptasinya lama juga,” ujarmu, pelan.

Setiap waktu dan ruang yang kau miliki selalu dijejali dengan urusan kerja. Bahkan di rumah atau di saat berlibur sekalipun, suara tempaan sang aya atau bunyi keluhan di pesawat telepon kerap berdendangan di indera pendengaranmu. “Kalau kerja sama orang tua, bete-nya kadang juga dibawa ke rumah,” akumu tanpa tedeng aling-aling.

Keteguhan diri untuk menyatakan tiada henti dalam belajar jualah yang membuat kau mulai menikmati profesi barumu. Semester lewat kau tersadar, industri yang kau geluti juga mensyaratkan jiwa-jiwa yang menyanjung seni. Seperti yang kau akui sendiri, produk-produknya juga mengaplikasikan seni tersendiri. Inspirasimu soal tren pewarnaan mengalir sedia kala.

Independent Girl

Bagi sebagian kaummu, apalah guna kerja keras jika kemapanan secara ekonomi telah menenangkan batin. Tak ada waktu yang tepat dan berharga selain mengumbar keriaan sembari memamerkan kejayaan. Macam-macam sarananya, di club, kafe, atau diskotek. Seperti laiknya anak muda sebayamu kini.

Tapi, kau yakinkan aku bahwa itu semua bukan bagian dari dirimu. Dari belia pun kau telah belajar banyak soal kemandirian, walaupun kau hidup di tengah gelimang ekonomi lebih dari cukup. Seperti halnya diriku, bukankah tak setiap pintamu dituruti orang tua?

Karenanya, sambil kuliah kau telah mencium aroma keringatmu sendiri, aroma kesenangan yang kau dapatkan sendiri. Kau pun belajar menghadapi persoalan hidup seusiamu dan memecahkannya sendiri. Bahkan, kau pun mulai menyimpan rahasia sendiri. “Memang ada jatah uang jajan, tapi kalau mau lebih, ya, cari sendiri,” ucapmu soal didikan orang tua.

Sebagai puteri satu-satunya, kupahami bila kau digadang-gadang sebagai ratu bisnis keluarga selanjutnya. Dari sang bapak, kau pun belajar banyak soal profesionalisme, tentang bagaimana melanjutkan kejayaan dan mempertaruhkan nama baik keluarga. Hal terpenting yang kau pegang erat, positive thinking, walau seburuk apapun keadaan.

Young Leader

Mengomandani puluhan jajaran pemasar, kau bergerak ritmis. Seperti usiamu yang penuh dinamika. Adakalanya jiwa mudamu mendominasi, tak jarang juga aura ketegasan seorang pemimpin menyemburat. Jika kau tengah bersidepan dengan bawahan melampaui usiamu, wibawamu memancar. “Tapi, kalau di depan sebaya, ngomongnya bisa lu-gua,” katamu dengan selarik senyum tipis itu.

Tidakkah posisi ini membuatmu dewasa sebelum waktunya? Kau mengangguk pelan, pertanda setuju. Walaupun kau tak merasa masa mudamu terbawa pergi percuma. Sebelum terkekeh sendiri, kau bercerita, “Kalau ngobrol dengan teman main suka enggak nyambung. Satu bicara atasannya di kantor, aku malah cerita tentang bawahan.”

Kau pun bertutur soal sikap sekian orang yang meremehkanmu kala didaulat sebagai pemimpin baru di biduk usaha itu. Menjadi generasi penerus perusahaan keluarga kadang tak mengenakkan bagimu. Bukankah kau sering menjadi obyek, menjadi sorotan mata jalang penuh selidik? Pikiranmu acapkali dipenuhi dengan apa dampak yang kau atau orang tua derita bila setitik nila kau cipratkan di belanga.

Dari luar, menjadi pewaris kerajaan bisnis memang melenakan. Tapi, kau pastikan tak akan terbuai oleh gelar atau status. “Aku tak mau mentang-mentang kerja di perusahaan keluarga terus berbuat seenaknya,” ucapmu seperti ingin menyadarkan. Seperti yang kau sadari pula, semua memang ada bersama pasangan masing-masing. Ada tantangan dan peluangnya. Ada problem berikut pemecahannya. Di perusahaan keluarga yang kau bidani sekarang, pun ada dinamikanya. Begitulah memang hukumnya.

Enjoyable Journey

Menjaga keseimbangan antara padatnya pekerjaan di kantor dengan menciptakan suasana santai di rumah, membantu menjadikan hidupmu lebih teratur dan menyenangkan. Banyak belajar cara merawat rumah dari Sang Bunda membuat naluri keibuanmu ada. Tapi, jangan tanya perihal rutinitas puan Hawa yang gemar menghabiskan waktu di meja rias atau bermanja di salon. Ehm, kau bukan tipikal seperti itu, rupanya.

Seperti kepribadianmu yang terkesan simpel, cuek, dan tak mau ribet. Tak seperti perempuan kebanyakan, jarang terlihat peralatan kosmetik di tas. Tak ada bedak, juga lipstik. Setelah kutelisik, “Aku kalau dandan pagi bisa sampai malam. Tak diotak-atik lagi,” tuturmu, tanpa beban.

Kau bertutur soal driving range sebagai wahana pelampiasan amarah dan ketertekanan. Dengan mengayun-ayunkan stik dan memukul golf sebanyak-banyaknya, pikiran baru dan segar seketika kau rasakan. Jika ada aral, mencari suasana yang lebih santai, seperti ke kafe sambil berwisata kuliner, atau melahap Japanese Food kesukaanmu, menjadi kebiasaan di kala senggangmu.

Dengan musik easy listening yang membuai, kau rasakan sebuah hidup yang baru. Kau pun berpantang dating ke klub. “Aku paling enggak bisa di ruangan yang crowded. Gimana bisa bersantai?” dalihmu. Menonton film komedi, drama, dan animasi Jepang, pun menjadi agenda lain di akhir pekanmu.

Great Expectation

Seperti prinsipmu yang tak pernah mengenal kata akhir dalam belajar, begitu jua dalam merenda karier dan masa depan. Kendati kau mengaku bukan orang yang muluk dalam berangan, membesarkan usaha keluarga atau meretas firma sendiri, adalah mimpi pribadi yang menggelayuti hari-harimu.

Dalam berkarya ataupun berkarier, prinsipmu begitu tegasnya. Kemahiran dalam membina rumah tangga menjadi ukuran sukses seseorang dalam mengelola usaha. Bagimu, jika keluarga terkendali dengan harmonis, perusahaan juga bisa terkelola dengan apik. “Kalau saya punya keluarga berantakan, susah bagi perusahaan menjadi bagus nanti,” tuturmu, mantap. Ya, semua memang mesti berjalan seimbang, Martha.

Yang terpenting bagimu saat ini adalah menjalani apa yang ada di hadapanmu. Berharap memiliki kerajaan bisnis hasil jerih payah sendiri bisa saja kau lakukan mulai hari ini. Tapi, pengabdian seorang anak pada keluarga dan orang tua, tampaknya melumerkan hasrat pribadimu, untuk sementara waktu.

Layaknya wanita karier yang memburu prestasi dan prestise, kau teguhkan aku bahwa kau tak akan menyerah pada usia, atau bahkan pada kehidupan sekalipun. “Kalau tiba-tiba merasa puas dan pensiun total, sepertinya tak mungkin. Saya bukan tipe itu,” ucapmu dengan garis bibir tertarik dan senyum mengembang. Ya, seperti orang yang terbiasa dengan kesibukan dan rutinitas, memilih berdiam di rumah kerap mendatang petaka tersendiri.

Penutup:

Dalam dunia usaha yang penuh seteru, kau teguhkan hati untuk terus mengejar mimpi. Seperti tak ada lagi penat, kau berpacu dengan waktu, mengukir diri dalam kanvas kehidupan. Benar katamu, tak ada kata akhir selagi sang pemilik hidup masih rela membagi kasih-Nya.

MARTHAGRAFI

Nama Lengkap Martha Suherman Lahir Bogor, 9 Maret 1980 Tinggi/berat 170 cm/63 kg Pendidikan Desain Komunikasi Visual, Universitas Trisakti, Jakarta Pekerjaan Direktur Marketing PT Murni Cahaya Pratama (produsen Cargloss) Hobi Golf, art, film, Filosofi Hidup Never Stop Learning Penghargaan The 2nd Best Graduated Trisakti (1998)

Lula Kamal, Undefined Beauty

Serupa sayap elang, segala sisi kehidupan kau pijak. Tak ada kata diam dalam kamusmu. Cakarmu mencengkeram erat. Sayapmu terus mengepak mencari dahan baru tempat berlabuh. Warna-warni kehidupan menjadikanmu tegar di segala ranah, segala musim. Inilah jadinya bila kekuatan jiwa dan keuletan raga berpadu dalam deru napasmu. Semakin kutelusuri, aura kecantikanmu kian menguasai. Hingga tak terperikan lagi.


Unforgettable Moment

Lula Kamal. Entah mengapa kau dipanggil begitu, seperti tertoreh di akta lahirmu yang kini tersimpan rapi di brankas dengan selaksa kombinasi. Terlahir dari harmoni Arab, Sunda, Cina, Betawi, tiga senyawa ini melahirkan guratan wajah bernuansa Timur Tengah yang khas dan berkarakter.

Di luar itu semua, permainan masa kecil dan tempaan keras orang tua menjadikanmu tumbuh dengan karakter yang kuat. Daya juang dan semangat hidupmu bergelora sedari dini. Pantang menyerah, walau sang hidup mengayun-ayun. Pendidikan agama, kebebasan menikmati masa kanak-kanak, dan penghargaan atas ilmu pengetahuan, membuat masa lalumu begitu bermakna.

Aku mengerti bila akhirnya naluri kelelakian, tomboy, dan cenderung ceriwis itu, melumerkan feminisme dan kelembutan layaknya kaummu. Kau bertutur tentang masa lalu yang memang ditempa tak seperti perempuan kebanyakan. Ah, Lula, ingin rasanya aku mengulang kehidupan ini dan menjelma menjadi teman sepermainanmu. Bermain bersama sepanjang hari. Ya, seperti hari-harimu yang telah lalu.

Permainan layang-layang, memanjat pohon adalah penggalan masa kanak-kanak yang terlalu indah bagimu untuk dilupakan. Setiap saat, hikayat ini tersimpan di perigi hatimu. Aku pun tak heran jika bermain boneka, dokter-dokteran, atau petak umpet, tak pernah menjadi penggalan cerita kecilmu. Kau pun tertawa renyah tatkala kuingatkan tentang kegemaran bermain layang-layang di satu siang, hingga tercebur ke selokan kotor saking asyiknya. “Badan hitam-hitam semua. Aku sampai disabet dengan ikat pinggang sama bapak,” kenangmu tersipu.

Naluri seorang petarung itu begitu terlihat kala kau menjejakkan kaki di bangku sekolah menengah. Kala itu, kau bercita-cita jadi seorang teknisi. Lagi-lagi, sikap patuhmu yang kau tunjukkan ketika sang ibu justru menyuruhmu menjadi seorang pelayan medis, seorang penyembuh. Kau sempat menampik dengan alasan tak menyukainya. “Ya, mana mungkin aku suka kalau tak mencobanya,” begitu kilahmu.

Unappeased Pray

Hidup adalah epik panjang yang telah tertoreh pena Sang Pencipta. Lakon yang juga mesti kau jalankan. Peran yang terkadang berakhir manis, semanis madu. Terkadang menyayat, segetir empedu. Kerapkali bahagia terselip, sesekali nestapa menyelinap. Silih berganti bagai musim, bagai siang dan malam.

Menyimak riwayatmu, aku teringat omongan Charlie Chaplin, pesohor lalu. Dalam rentang yang dekat, kehidupan itu ibarat tragedi yang menyemburkan aura kesedihan. Tapi, dari jauh ia ibarat komedi, muara segala gelak dan tawa. Betul juga, bukan? Riang dan gulana, suka dan nestapa itu, setipis kulit bawang. Ayo, jujurlah padaku! Bukahkah kau juga acap sukar membedakannya.

Setiap udara yang kau hela selepas mimpi malammu, makin menebalkan keyakinanmu bahwa esok bukanlah milik manusia. Bahwa kehidupan ini ada yang punya. Maka, selagi Sang Pemilik rela meminjamkannya, adalah sebuah mukjizat tak terperi bagimu. ”Kita enggak tahu umur kita berapa panjang. Makanya, tiap pagi bangun tidur saya panjatkan puja-puji pada-Nya,” tuturmu, setengah berbisik.

Itulah yang membuat hari-harimu tetap saja indah terasa. Susah atau senang, riang ataupun gundah sama saja. Percayalah, Lula. Apa yang terlihat bukanlah sesungguhnya yang terjadi. Tak selamanya duka menurutmu, sengsara juga kata Sang Penguasa. Lagipula, kau yang meneguhkannya sendiri, pahit kehidupan telah menegarkan dan membijakkan hatimu.

Maka catatlah segala pinta yang kau ajukan pada-Nya. Betulkah semuanya telah terbayar tunai, Lula? Memang pintamu tak sekejap terkabulkan. Permohonanmu mensyaratkan ketulusan, kesabaran, dan pengorbanan. Ada hari di mana kau gigih meminta, ada pula waktu di saat kau sibuk menerima. Aku teringat ucapanmu itu, “Saya yakin, apapun yang diberikan Tuhan, itu yang terbaik buat saya. Kalau jelek, saya belum tahu bagusnya di mana. Kalau bagus, saya juga mesti hati-hati. Siapa tahu, ada cobaan lagi yang lain.”

Jika pun ada yang perlu kau sesali, itu karena terbatasnya kesempatanmu untuk berbalas kasih dengan sang adik. Memang, andai setiap orang tahu maut bakal menjemput seseorang yang kita kasihi, bahkan semesta lengkap dengan segala isinya menjadi sesembahan dari mereka yang tertinggal. Andai kau tahu usia adikmu tak lama, kau pasti memberikan yang terbaik untuknya. “Saya sadar, kebaikan saya belum cukup untuknya,” katamu.

Uncounted Talent

Tak terbayang rasanya bila keceriwisan itu bukanlah perangai yang mendarah daging dalam dirimu. Ya, tak hanya aku, siapa yang bisa mengenalimu. Sifatmu yang cerewet dan ceplas-ceplos adalah berkah yang telah kau temukan. Membuka gerbang keberhasilanmu. Membuka mata publik untuk tahu beragam hal darimu.

Tak hanya dikenal sebagai penyeru di bidang kesehatan, kau pun menjelma menjadi idola. Talenta seorang entertainer yang kau asah, melahirkan dirimu bukan semata penghias layar kaca. Kau pun menjadi seorang pembicara, pemandu acara di pelbagai ranah. Mulai dari persoalan kesehatan, narkoba, politik, gaya hidup, sosial budaya, motivasi, hingga urusan pengembangan diri.

Kau memang menyimpan sekian bakat. Keuletanmu dalam memoles bakat itulah yang membuat hidupmu lebih mudah. Pintar saja memang tak cukup, Lula. Seperti halnya dirimu, kecerdasan turut memberi peranan dalam memperkuat daya tahan hidupmu. “Memang ada pekerjaan pokok dan sampingan. Tapi, kadang yang kita pikir yang utama, malah jadi sampingan. Yang jadi sampingan malah jadi yang utama,” ucapmu.

Di bidang presenter, hatimu telah terpaut. Kau merasa bidang ini tepat untukmu. Ragam manfaat telah kau rengkuh, “Buat saya, bidang yang menyenangkan, ketemu banyak orang, bisa belajar banyak hal, juga memperluas networking.”

Walaupun demikian, kau teguhkan hati untuk tetap peduli pada dunia kesehatan. Sebagai dokter, kau tak pernah lupa berbagi. Aku yakin betapa riangnya para pengidap penyakit HIV/ AIDS, dan ketergantungan obat itu, datang ke proyek layanan tes dan pengobatan gratis di sejumlah lembaga pemasyarakatan di tanah air yang segera kau wujudkan.

Unfettered Time

Bahkan, rutinitas pekerjaan pun kau bisa jalani dengan santainya. Selain karena menyenangkan, kau juga menikmati pelbagai aktivitas ini. Kalau ada yang melelahkan bagimu, hanyalah kesemrawutan lalu lintas. Pekerjaanmu memang membutuhkan mobilitas tinggi.

Sebagai perempuan metropolitan, kau begitu mementingkan keseimbangan hidup. Kau benar-benar menikmati waktumu. Traveling, mendengarkan musik, berlatih di gym, nonton film horor di bioskop, adalah agenda pribadimu yang tak boleh terlewatkan. “Sekarang sudah enggak nge-disco lagi,” akumu. Bila memungkinkan, kau tak canggung bersosialisasi di kafe atau resto bersama rekan-rekan. Ya, sekadar menuruti kegemaranmu berpetualang selera. Mengunyah kudapan Italia, Jepang, atau kenikmatan karedok kesukaanmu.

Membaca pelbagai jenis buku adalah caramu mengintip cakrawala dunia. Mulai dari cerita pendek yang berhubungan dengan kehidupan, hingga komik Donald Bebek. Kau mengaku banyak belajar dari cerita bergambar yang biasa dibaca anak-anak ini. “Banyak lho kata-kata bijak di sana,” tuturmu. Malah, penggalan kata-kata bijak Donald kerap kau bawa ke seminar, menjadi referensi utama mengalahkan Teori Marketing Steven R. Covey.

Sebagai penampil di depan khalayak, kau pun paham akan keserasian berbusana. Kau gemari warna hitam yang bisa menyembunyikan bentuk asli tubuhmu. Pun warna hijau yang mencerahkan. Kau gemari pula warna-warna senada kulitmu. Tak bergantung pada bandrol, koleksi busana kasual hingga setelan resmi menggantung di almari pakaianmu.

Unbreakable Heart

Cinta. Perasaan ini yang membuatmu terlampau pasrah. Tak semata dirimu, rasa inilah yang menggerakkan begitu banyak pujangga dunia, mengabadikannya dalam larik-larik puisi. Mengilhami begitu banyak komposer dan musisi, mengabadikannya dalam simfoni dan lirik-lirik menggugah. Perasaan ini yang mengilhami banyak sineas dan sutradara, mengabadikannya dalam pita seluloid megah.

Makanya, jangan pernah mengecilkan kemampuan hati, Lula. Dalam sekejap, hati mampu menyapa cinta. Cintalah yang memercikkan rasa rindu, bahagia, berbagi tanpa pernah berhitung. Kau pun memaknai rasa ini begitu, “Tak ada hitungan sama sekali. Kalau ada pepatah, kalau kita mencintai hidup, maka kita mencintainya lebih daripada hidup itu sendiri.”

Keluhuran cinta meyakinkan dirimu akan adanya kesejatian rasa ini. Cinta sejati tak hidup di ruang kosong. Ia tak mesti didukung banyak hal. Sampai renta pun ia tak bakal datang sendiri tanpa dijemput, tanpa kerelaan berkorban. “Cinta tak akan hidup semata karena cinta. Cinta itu mesti dijaga, dipelihara.”

Tak heran jika kau bukanlah sosok yang mudah tertaklukkan. Kau yakinkan aku, keelokan fisik maupun desiran darah kala pandangan beradu pertama kali, tak mempan memanahmu sekalipun. “Saya bukan tipe orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama,” tuturmu, tegas. Kesucian cinta mengajarimu tentang kasih yang sebenar, tak bersemai dari raga, apalagi harta. Meneguhkanku bahwa rasa ini akan menyapamu setelah jalan-jalan panjang terlampaui.

Tapi, tahukah engkau akan kekuatan hati yang lain, Lula? Dalam bilangan detik, hati pula yang menggelontorkan cinta itu. Maka bercerminlah dari kegagalan membangun kerajaan cintamu kemarin. Kebeningan hatimulah yang memutuskannya cepat-cepat. Kebenaran itu tak pernah absolut, katamu. Apalagi kebenaran yang berlandaskan emosi, bukan logika. Ya, benar sekarang, belum tentu benar dua bulan mendatang.

Kembali ketegaran menghidupimu. Kau sebut dirimu seorang janda bahagia, yang tak mau termegap-megap dalam linangan kesedihan. Ya, tak perlu duka, apalagi malu itu bersemayam dalam kalbumu. Bukankah kehidupan telah memberikan kebahagian lain dari pintu yang tak kau duga? “Cuma rasanya kesempatan orang untuk menggodaku jadi lebih banyak. Orang mudah beranggapan, saya pasti butuh kasih sayang, sentuhan,” katamu, dengan seringai jenaka, “Orang boleh nyoba, tapi saya kan bisa nolak.”

Sampai berapa lama kebutuhan biologis layaknya perempuan dewasa menderamu? Itu yang tak kau sanggah. Keinginanmu akan kasih sayang, perhatian, dan belaian dari pasangan, memang tetap ada. “Mungkin perempuan lebih gampang dibanding laki-laki. Saya tak bisa langsung turn on, libido naik ketika melihat laki-laki, atau dipegang,” ucapmu lirih.

Lebih dari itu, tanggung jawabmu untuk menghidupi keluarga seorang diri lebih kau pentingkan di atas segalanya. Kebiasaan hidup mandiri sejak menikah pun menjadi resep jitu. “Kalaupun satu saat saya mesti sendiri lagi, tak ada masalah. Semua saya biasa tangani sendiri.” Ah, lesung pipi itu.

Unending Hope

Jika pun kau kembali berhasrat untuk memiliki pendamping cepat-cepat, bukan karena kesendirian telah melecutmu. Semata karena si buah hati, tuturmu. Naluri keibuanmu berkata, “Kasihan lihat dia tanpa kehadiran figur bapak.” Kini kau berada di jalan yang tepat, Lula. Jalan untuk menemukan seorang pelindung yang kau harapkan.

Sosok yang cocok dengan anak, itu kriteria utamamu. Cinta sang anak telah meluluhkan egomu, rupanya. Karenanya, kau tempatkan figur yang bisa menerimamu apa adanya di urutan berikutnya. Keterbukaan dalam segala hal, menjadi pelengkap mahligai yang kau dambakan.

Dalam berkarier, kau mengaku berpuas hati dengan apa yang kau toreh di dunia entertaint. Kendati, keinginan untuk memiliki program acara lebih menarik yang kau akui sendiri masih mengganjal di hati. “Saya ingin punya acara talkshow yang jauh lebih bagus lagi,” katamu, dengan kilatan optimisme di matamu.

Kodratmu sebagai pengabdi di dunia medis tak kau tinggalkan sepenuhnya. Di samping menyukseskan proyek pengobatan khusus bagi narapidana di lembaga pemasyarakat, kulihat harapanmu untuk mendirikan sejenis rumah sakit ketergantungan obat. “Saya berharap, segala bentuk pengobatan ada di sana, lengkap. Orang bisa memilih jenis pengobatan yang paling cocok buat dirinya. Orang juga bisa belajar di sana,” ujarmu, berapi-api. Memanas, sepanas bara.

Menghadap cakrawala, kau hembuskan semangat yang tak pernah penat. “Hidup ini terlalu indah kalau dilewatkan,” katamu berulang kali. Aku kini tahu apa yang tengah kau cari. Dan kau berdiri, berlari mengejar angan, meniti segara kehidupan yang telah tersurat. Kedua tanganmu terentang, serupa sayap elang.

Lulagrafi

Nama lengkap Lula Kamal LahirTinggi/berat 168 cm/60 kg Pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, King’s College, London PekerjaanHobi Travelling, baca, renang, nonton, Prestasi Jakarta, 10 April 1970 Dokter/Presenter/Pembicara seminar/Motivator None Jakarta Pusat (1990), None DKI Jakarta (1990), Putri Kampus (1993), Perempuan Pilihan Matra (2000), Chevening Awards (2002).

Sonia Wibisono, The Flying Doctor

Dari keluarga kecil yang bersahaja, kau tumbuh menjadi perempuan yang didamba. Sosok wanita pengabdi yang tak lagi memedulikan diri sendiri. Putik bungamu memancarkan aroma semerbak, meneguhkan kesejatian seorang pemberi. Tetaplah seperti dirimu, Sonia! Walau angin musim bertiup ke mana...

A Formed Baby

Bahkan buah pun acap enggan jatuh jauh dari pohonnya. Begitu pun dirimu yang sedari kecil memang dididik untuk menjadi seorang dokter kelak. “Biasanya profesi dokter itu turun temurun. Kalau bapaknya dokter, anaknya juga bisa jadi dokter,” tuturmu, seperti ingin meneguhkan tradisi ini.

Lalu, kau panjang lebar berkisah tentang perhatian kedua orang tuamu yang sama bergelar dokter. Bagaimana keduanya menanamkan pentingnya hidup sehat sejak kau belia. Cuci tangan, jangan buang sampah sembarang, hingga petuah yang mengarah pada kebersihan lingkungan dan dirimu sendiri, menjadi dogma keluarga yang mengalir dalam darahmu.

Tapi, tahukah kau, Sonia, terdapat jutaan gelar dan mata pencaharian lain yang bertaburan selain dokter. Kau juga dikenalkan dengan aneka profesi lain yang bakal mewarnai hari depanmu. Namun, gelar ini kadung membelitmu. Menjerat angganmu hingga kau tak mengelak lagi.

Tentu, pilihanmu itu bukan semata value of life dalam keluarga ataupun sekadar melanjutkan tradisi yang sedang bergulir. Segudang alasan lain menguatkanmu untuk mengabdi di dunia kesehatan. Kau teguhkan keraguanku, bahwa profesi dokter ibarat sang penyelamat memiliki sisi positifnya bagi manusia. Lewat bidang ini pula kau bisa menjamah yang papa secara langsung.

A Dedicated Girl

Kini, tak ada lagi hambatan bagimu untuk terus membagi kehidupanmu sendiri pada sesama. Selain sebagai dokter, tak pernah jemu kau memberikan penyuluhan kesehatan di pelbagai seminar atau diskusi soal kesehatan. Ranah media pun kau jamah di jari lentikmu. Menulis dan mengasuh rubrik konsultasi kesehatan di beberapa majalah.

Pun, kutemukan wajah manismu di mana-mana,. Di kedai kopi, atau di warung jamu di pelbagai sudut kota di tanah air. Satu saat, episode hidup menempatkanmu sebagai duta produk dengan menjadi bintang iklan sebuah produk jamu ternama di tanah air. Katamu, “Kalau saya meng-endorse satu produk, pasti sekalian mengedukasi masyarakat bahwa produk ini pantas dikonsumsi masyarakat.”

Tak jarang pula kau muncul di layar kaca sebagai bintang tamu atau presenter. Bukan semata perona tabung kaca. Bagimu, keterlibatanmu dalam dunia layar kaca, tak lepas dari misi dan keinginan untuk mencoba memasukkan unsur-unsur pendidikan kesehatan kepada segala lapisan masyarakat, terutama masyarakat bawah. Tak heran kalau kau pun menerima peran dokter tamu pada sebuah acara hiburan di sebuah stasiun televisi swasta. Itulah bagian peranmu untuk mengedukasi publik. “Yang penting pesannya sampai ke masyarakat,” tuturmu.

Lalu, jadilah kamu sosok flying doctor yang tak melulu terpenjara di ruang praktik. Bahkan, kegiatanmu belakangan lebih banyak berseliweran dari satu acara televisi ke acara televisi, dan dari seminar ke seminar. Bukan semata demi misi pendidikanmu itu. Malah, dari kecil pun, kau tak suka jadi gadis pendiam. Katamu, kalau di ruang praktik terus, stres bakal menjeratmu.

Dalam dirimu, memang kutemukan sosok aktif. Main sandiwara atau operet, menjadi pasukan pengibar bendera, dan seabrek kegiatan ekstrakurikuler, menjadi memori terindah di masa sekolah menengahmu. Saat di bangku kuliah, kau sibukkan diri di organisasi maupun acara-acara kemahasiswaan. “Saya memang suka melakukan banyak hal,” katamu lagi. Tak terbayang rasanya kalau aura indahmu hanya bisa dinikmati oleh satu dua pasien di ruang praktik.

Lebih dari itu, kegemaranmu bertemu banyak orang telah terlampiaskan, kini. Menjadi pembicara publik di seminar, tak hanya memberi ruang untuk terus berbagi. Justru dari situ pula kau bisa menimba selaksa pengalaman dan pengetahuan baru. Impas. Walau di jiwamu sendiri tak pernah ada hitungan-hitungan untung rugi.

A Selfless Doctor

Ya, sekali lagi, tak ada kata pamrih dalam kamus hidupmu. Jauh hari, kau buktikan hal itu. Ingatkah kau, Sonia, ketika dengan ringannya kau menutup biaya berobat pasien yang kurang mampu saat magang dulu? Kau tegaskan bahwa hubungan dokter-pasien tak bisa semata hubungan bisnis. Lebih dari itu, kau yakinkan aku bahwa masih ada dokter idealis sepertimu di era materialisme ini.

Lagi-lagi kau sungkan jumawa. Kau bisikkan padaku bahwa itulah buah dari didikan orang tuamu agar tak mencari uang di profesi dokter. Memang tak wajar rasanya jika seorang penjaga kesehatan justru mengharap orang lain jatuh sakit. Artinya, ucapmu, jangan kita mencari penghasilan dari orang sakit. “Jangan pula kita mengharapkan orang untuk sakit,” tegasmu.

Aku sepenuhnya setuju akan hal itu. Tapi, seperti yang kau yakini pula, bukankah telah terjalin simbiosis mutualisme antara pasien-dokter sejak lama? Apa yang keliru dari traksaksi bisnis keduanya? Salahkah jika rekan seprofesimu berkehidupan mapan karena kerelaannya berbagi dengan sesama?

Jawabanmu kembali mencengangkanku. “Orang sakit itu jangan dicari-cari. Jangan pula saya berharap agar makin banyak orang sakit datang ke saya.” Misimu untuk mengajarkan gaya hidup sehat pada publik, justru kian terbukti tatkala mereka tetap hidup sehat dan justru tak ada yang sakit lagi. “Kalau mau cari uang, dari tempat yang lain saja. Misalnya, bikin bisnis atau sesuatu yang bisa berguna bagi masarayakat,” tegasmu, lagi.

Karena itulah kau mencoba mengasah bakatmu yang lain di jalur kewirausahaan. Tersiar kabar, kau pun membuka usaha bersama teman-temanmu. Antara lain, restoran Sup Sip, restoran yang mengkhususkan diri di masakan Thailand. Restoran ini kau sebut menawarkan makanan sehat dan hanya dimasak dengan bumbu-bumbu alami.

Kau juga menggelar butik bernama Shanghai Tang di sebuah pertokoan elite di ibukota. Matamu berbinar-binar ketika bicara mengenai butikmu yang menawarkan pakaian bercorak China dan Tibet, ini. “Itu sampingan saja. Saya pasif dan sekadar bantu. Teman-teman yang menjalankannya,” katamu, tak kalah sumringah. Kau pun tengah merancang sebuah usaha lain yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan.

A Fashionable Lady

Bersidepan denganmu, rasanya aku tengah berhadapan dengan seorang ‘dokter spesialis fashion’. Betul juga. Kehidupanmu tak melulu bersinggungan dengan medis, tapi juga dengan urusan mode. Kau pun fasih berbicara soal tren busana di samping dunia kedokteran.

Terbukti, kesadaranmu atas penampilan dapat dibilang luar biasa. Kau pun begitu memperhatikan penampilan dan perawatan diri. “Buat saya, penampilan itu sangat penting. Termasuk juga dengan kebersihan diri,” ujarmu, seakan ingin menjawab rekaanku. Bahkan, kerapihan, kebersihan, dan tubuh yang wangi, kau bukukan sebagai kriteria penunjang kesuksesan.

Seberapa penting seorang dokter sepertimu untuk tampil fashionable? Tanyaku. “Kalau dokter enggak harus fashionable. Yang penting bersih, rapi, dan pakai pakaian yang pantas dengan dirinya,” jawabmu, lugas. Karenanya pula, kau lebih suka memburu dan mengoleksi busana yang unik, ketimbang mengedepankan merek.

Seabrek koleksi pakaian, dari yang resmi sampai kasual menyesaki lemarimu. Ada pakaian formal untuk praktik atau seminar, ada juga yang kasual untuk bersantai dengan keluarga. “Saya kan masih muda. Mumpung masih muda, ya, saya juga ingin menikmati masa muda,” katamu tergelak.

Kau pun fasih bercerita soal koleksi di butikmu. Ada kemeja yang dikenakan artis seksi Angelina Jolie. Kemeja sutra biru itu dikenakannya saat bermain dalam film Tomb Raider II. Demikian pula tas bayi yang sering digadang-gadang aktris Jennifer Aniston dalam serial televisi Friends.

Di luar itu semua, kutemukan dalam dirimu seorang yang mengutamakan keseimbangan hidup. Di tengah kesibukan yang ada, kau masih punya banyak waktu luang sehingga bisa memanjakan diri sendiri, menonton film favorit, traveling, berenang, hingga bertandang ke gym.

A Dreamer Woman

Walau telah bergelimang prestasi, kau pastikan masih banyak cerita anganmu yang belum terangkai nyata. Banyak pula mimpi-mimpi indah yang berpijak di tanganmu yang lembut. Bagimu, ketidaksempurnaan adalah satu hal yang membuat kita terus dipenuhi ambisi-ambisi. “Saya akan terus mengembangkan diri saya,” ucapmu, setengah berbisik, namun kudengar begitu tegas.

Lebih jauh lagi, kau pertegas komitmen untuk terus berbagi dan berbagi. “Kebetulan, secara pribadi, alhamdulillah sudah cukup,” katamu. Apalagidunia pengobatan memang tak berdiri dengan sendirinya. Ia selalu mengintai setiap kehendak dan laju masyarakat.

Kau juga kan yang mengatakan pengobatan itu memuat unsur seni tersendiri. Peningkatan kemampuan dalam pengobatan, hanya dimungkinkan lewat pengalaman. Prinsip itu yang juga yang kau pegang teguh. Selebihnya, kau ingin sibuki diri dengan membaca dan mempelajari perkembangan-perkembangan baru dunia kesehatan.

Kelak, ranah dedikasi dan pengabdianmu bisa berkembang sesuai pengalamanmu. Mengajar di kampus dan berbagi pengetahuan dengan generasi di bawahmu, menjadi impian berikutnya. “Hanya dengan edukasi yang terus-menerus, masyarakat kita akan lebih tahu manfaat gaya hidup sehat,” ujarmu.

Rasanya, seperti dedikasimu pada profesi, tak jua ada kata bosan saat berbincang denganmu. Memberi dan berbagilah, Sonia, selama itu menjadi sahara kebahagiaan untukmu. Aku percaya, apa yang kau lakukan saat ini, sejatinya untuk bekal di hari nanti. Kau berharap jalurmu tetap kau lakoni hingga masa yang kau sendiri tak tahu entah sampai kapan.

SONIAGRAFI

Nama lengkap dr. Sonia Grania Wibisono lahir Jakarta, 11 Oktober 1977 Pendidikan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia (FKUI) Profesi Dokter, konsultan kesehatan, moderator, serta pembicara di pelbagai seminar kesehatan, model iklan sejumlah produk kesehatan Hobi Menari, menonton, membaca, dan designing Prestasi Finalis Cover Model Majalah Anita (1992), Juara II Look’s Agency Model (1994), Finalis Abang None Jakarta Selatan (2000), serta lulus dengan mendapat penghargaan dari FKUI (2001)

Rahma Alia, The Sweatest Journey

Alia panggilanmu. Rahma Alia tepatnya. Tak usah dieja dan dianalisa terlalu rumit. Toh, aku yakin banyak yang sepaham denganku tentang dia: Cantik, smart, berbakat. Tiga perangai yang tak semata tersemat di fisik, tapi telah memburai dalam tarikan napasnya. Berjanji mengasihi dan meneguhkan kesetiaan diri. Lalu pada siapakah sejatinya hatimu berbagi?

The Sweatest Young

Gadis kecil yang pemalu tumbuh menjadi sosok yang menyenangkan. Bicaramu terbuka, apa adanya. Padahal, jujurlah, itu bukan dirimu. Masih segarkah ingatanmu pada Alia kecil yang ekstrovert, dan sungkan bicara pada orang lain? Berambut pendek, berperangai tomboy, tapi tak pernah berani menunjukkan kepercayaan dirinya.

Toh, tak ada penggalan hidup lainnya yang bisa menyamai keindahan masa kecilmu itu. Wajar, sebagai anak sekaligus cucu pertama, kau tumbuh dalam pusaran perhatian orang-orang terkasih. “Syukur, keluargaku tipe yang sangat care dengan anak-anaknya. Jadi, aku mendapatkan semua itu,” katamu, lirih.

Masih ingatkah kamu pada kebiasaan masa kecil yang gemar memakai baju adat maupun kebaya dari Indonesia sampai mancanegara? Sibak dan sibak kenanganmu saat kau memakai baju adat ala kompeni di kala hari ibu. Sementara teman sekelasmu memilih berteguh setia dan cinta pada baju daerah. “Aku dikejar-kejar dan dibilang penjajah, ha-ha-ha!” ceritamu sambil tertawa lepas. Ah, ingin rasanya aku mampir dan turut memainkan peran dalam nukilan kisahmu itu.

Kamu pasti tahu. Jika keinginan untuk mengubah diri tak pernah terlintas di benakmu, kau tetap menjadi dirimu. Di tengah pembelajaran tradisi agama yang kuat, kau dandani diri di sekolah pengembangan kepribadian, berbusana apik, hingga pelbagai kursus singkat lainnya.

“Begitu aku pergi keluar negeri dan sekolah di sana, aku seperti mendapat kepercayaan dalam diriku.” Ya, kesejatian hidup memang diperoleh dengan menjalaninya dengan kesejatian diri. Itu pula yang kau pegang teguh. Dengan menggali yang terpendam dan membahas yang terlintas. Dan, waktu pun mengubahmu.

The Sweatest Harmony

Tetapi aku tak tahu, sebagaimana dirimu. Jalan hidup, siapa yang bisa menerka? Begitu pun kala kau dinobatkan menjadi None Jakarta, beberapa tahun di muka. Bahkan, kontes-kontes sejenis ini pun tak pernah kau idamkan. Hingga tantangan untuk mencari siapa dirimu sebenarnya itu terus berdengung-dengung.

Maka, panggung penobatanmu sebagai Puteri Pariwisata, pantas kau sebut sebagai malam terindah dan membanggakan dalam hidup. Membanggakan, karena kau telah merajut mimpi barumu. Bahagia, karena di saat orang memiliki dengan mengumpulkan, kau memilikinya dengan memberi.

Sejak duta wisata itu kau rengkuh, aku tahu, ceritamu tidaklah usai. Babak baru justru membentang. Dan, kau tengah melaluinya kini. Dengan kepercayaan diri dan kecintaan pada negeri yang memenuhi relung jiwa, kakimu ringan menyambangi pelosok hingga penjuru benua. Kaulah pribadi yang terbuka dan peduli pada segala.

Kau lakoni semua itu tanpa menanggalkan insting jurnalisme dalam dirimu. Bagimu, ragam lakon ini adalah kombinasi yang bagus. Senikmat aromamu, begitu pula saat kau menyambangi satu-satu dan bercerita tentang keajaiban Indonesia dengan runutnya. Sadarlah, wahai Rahma Alia. Kau kini bukan lagi pembawa pesan atau pembaca berita semata. Melainkan telah menjadi public speaker. Juga public figure.

The Sweatest Love

Lalu, bicaralah tentang cinta yang telah melumuri hati semua orang, Alia. Tentang kasih yang sebenar, dan asmara terindah yang kau miliku itu. Tentang standard operational procedure yang digariskan keluarga, atau tentang konservativisme yang sempat mengekangmu. “Orang tuaku memang cukup konservatif soal ini,” akumu, ringan.

Mereka mesti tahu kau pergi dengan siapa, bukan? Walaupun mereka membebaskanmu mau pulang jam berapa saja. Ingatkah kau tentang politik cinta ala mereka? “Ya, itu politik yang mesti diterapkan pada pasangan,” katamu, lagi. Lalu, mengalirlah dari mulutmu tentang titipan pertanyaan atau penyelidikan kecil-kecilan untuk sekadar menguliti dia.

Tetapi, sadarkah kau Al, bahwa cinta adalah anugerah yang pantas dimiliki? Kau mendefinisikannya sebagai satu hal yang mesti dirawat dan berkorban untuknya. Bagimu, cinta adalah sikap menerima, walau ada kekurangan dalam diri pasangan. Kau pun mahfum akan kekuatan cinta yang bisa mengubah kehidupan.

Kau yakinkan aku akan kepedulianmu pada cinta. Bukan karena ada bagian dari kehidupan yang kau sesali dan ingin kau ubah. Bukankah kau sendiri yang menghakimi keindahan hidupmu? Memang, ada beberapa kesalahan atau kesempatan yang terlewatkan. Tapi, justru dari situlah kau belajar tentang kehidupan.

Alia, hidup itu tergantung dari apa yang kau pikirkan dan lakoni. Hidup ini akan mudah jika dibuat mudah. Dan akan rumit jika dibikin rumit. Persis kepribadianmu yang simple, tapi juga complicated. Memandangi satu hal dari dua sisi, itu tak salah, walau itu membuatmu jadi peragu. Tapi, bukahkah dari situ jua muara kearifan?

The Sweatest Mood

Kepribadian maupun talentamu yang lengkap terasah memang bisa membuat iri kaum Hawa seusiamu. Tapi, percayalah, Alia, tak ada yang berubah dari gaya dan penampilanmu yang simpel dan tak dibuat-buat itu. Betul kan dugaanku bahwa kau bukan termasuk tipe konvensional, khususnya dalam berbusana?

Lalu, kau bertutur soal fashion dan koleksi baju yang menurutmu tak mesti menuruti kata zaman. Juga tentang kegemaran masa kecilmu pada busana bergaya klasik yang katamu tak pernah ketinggalan masa. Busana itu hanya pembalut tubuh, begitu kata sebagian orang. Nyatanya, kau pun lebih memilih busana yang enak dipakai. “Koleksi bajuku tak terlalu up to date juga, kok,” ucapmu, jujur.

Selain menggemari musik klasik, kau pun mahir memainkan piano. Persis saat kau memainkan bola basket dengan daya motorik kakimu yang mengagumkan. Dari kelincahan jemari lentikmu, lalu lahirlah irama Consolotion dari Fransz List atau Gragmen dari Jaya Suprana. Adakalanya, lagu-lagu yang kau mainkan mengagungkan romantisme dengan penghayatanmu yang mendalam. Katamu lagi, kau agak moody saat di depan piano.

Seperti sifatmu yang simpel, kau pun menyukai film-film bertema ringan, meski kau prasyaratkan harus ada pesan yang disampaikan. “Beautiful Mind”, misalnya. Kau pun begitu mahir memilih aktor dambaan. Robert de Niro, Jack Nicholson, atau aktris sekaliber Sandra Bullock, Julia Robert, dan Nicole Kidman yang mengharu-biru itu.

Meski kau kini telah jadi pesohor, gaya tradisional maupun etnik masih membelit kalbumu. Tak aneh bila kau lebih suka berlibur di pantai dan menikmati pemandangan alam, daripada berplesir di tengah belantara gedung. Satu yang berubah darimu. Kau yang dulu menggandrungi warna-warna kuat, kini tak lagi. Itukah tandanya aura kelembutan seorang wanita telah mengalahkan sifat tomboy-mu? Hanya senyummu sebagai jawaban, di sana.

The Sweatest Dream

Orang bilang, lengkapnya seorang wanita dapat dirasakan bila ia hidup dengan lelaki pilihan, plus renyah suara anak-anak yang meningkahinya. Begitu juga dengan dirimu. Bagimu, usiamu saat ini memang terasa ideal jika dijalani bersama seorang terkasih hati. Toh, komitmen untuk membangun sebuah kerajan mungil bernama rumah tangga, belum juga kau lakukan.

Katamu, kau masih punya banyak pertimbangan lain, utamanya untuk lebih banyak tahu soal dia, lelaki pilihan itu. Bukan saja karena ia bakal menjadi nahkoda buatmu, tapi seorang imam dari segala aspek. Agama, pendidikan, kehidupan, dengan segala tanggung jawabnya. Dia memang harus seperti itu, Alia. Aku pun terlalu menyayangkan bila jiwa ragamu tak mendapat pelindung yang setimpal denganmu.

Belum lagi soal mimpimu menjadi anchor profesional yang diperhitungkan, kelak. Walau telah menggantongi gelar insinyur, kau ternyata lebih menggandrungi bidang komunikasi atau broadcasting sebagai pilihan profesimu. “Aku ingin sekolah lagi. Kalau bisa di Inggris,” katamu, pelan.

Aku tahu jawaban atas pilihanmu itu. Setiap kali membaca atau bertemu orang, kau terasa mendapat sesuatu yang baru. Itu yang membuat kau gemar berkomunikasi, kini. Katamu, kau dapat memberikan nilai tersendiri dalam hubungan antarmanusia.

Memang, misi yang selalu ternanam dalam jiwamu adalah memberi dan memberi. Bukan semata mengandalkan pemberian finansial, tapi juga motivasi, pemikiran, dan inspirasi. Semua itu adalah pencapaian berharga bagimu.

Berdua, kita terus berdua. Mengabarkan cinta, mimpi, juga rangkaian hidup terindah. Satu yang pasti, Alia, perjalananmu tak boleh berhenti hanya karena genangan kolam, atau lorong basah kemarau, yang menghadirkan kilau untuk secuil makna. Usah pula kau menoleh pada mimpi-mimpi kecil. Percayalah, itu bukan halte yang terakhir bagimu.

ALIAGRAFI

Nama Lengkap Rahma Alia, Lahir Jakarta, 17 Maret 1981, puteri sulung pasangan Drs. Syarif Hubeis dan Lola Zahranoor Tinggi/ Berat 170 cm/51 kg Pendidikan Jurusan Teknik Industri, Universitas Trisakti (2003) Pekerjaan Presenter, Reporter ANTV Prestasi None Jakarta (2001), Puteri Pariwisata (2005) Hobi Basket, lari, main piano, travelling Aktor/Aktris Favorit Robert de Niro, Jack Nicholson, Sandra Bullock, Julia Robert, Nicole Kidman

Devi Ariyani, Calm Manner in Hectic Life

Adalah seorang perempuan yang tak berhenti pada nyanyian semusim.

Menyerahkan drama hidup pada pemilik panggung tunggal.

Seperti singa petarung, kau simpan sebuah energi tak sembarang.

Lantas dari mana insting petualang sejati itu kau dapatkan, Devi?

Masih adakah waktu bagi para petualang asmara, berenang menuju teduh lubukmu?

Devi & Unique Character

Tampilan luar kerapkali menjebak. Tidak seperti tampaknya, yang gemulai dan feminim, naluri seorang petarung sejati bertalu-talu di perigi jiwamu. Salah jika orang menduga, kau dara yang mudah dijinakkan dengan satu dua kata, dilemahkan satu dua gertakan.

Sedari kecil, kau terbiasa dengan kegiatan yang mengandalkan kekuatan fisik. Kau pun tumbuh berkembang tak seperti gadis belia kebanyakan. Teman sebayamu memilih bermain dengan boneka kesayangan, sementara kau lebih gandrung mengayuh sepeda kumbangmu. Berkelana, mengikuti hasratmu ke mana. Kala rekan sepermainanmu bercengkerama dengan peralatan dapur dan masak-masakan, kau melanglang ke les tari satu ke satu.

Kegemaran yang menjadi karakter. Aku pahami ada apa di balik agresifitas dan energimu, kini. Kau tergolong orang yang tak bisa diam, rupanya. Makanya, terlalu sayang jika ada yang menuntutmu pasif dan menjalani sesuatu ala kadarnya. Di balik wajahmu yang sendu, terselip jiwa yang haus akan petualangan-petualangan menantang, yang memompa adrenalinmu.

Bahkan maut pun kau kencani. Maka, katakan padaku, olahraga membahayakan mana yang tak pernah kau rasa. Parasailing, boatsailing, jetski, rafting, snorkeling, kayak, dan segala olah fisik yang berhubungan dengan air kau gemari. “Saya senang datang ke tempat baru, nyoba olahraga yang sedikit memacu adrenalin. Tinggal sky diving dan bungy jumping yang belum,” katamu. Tak ada getir, kelu, dan leguh dari rautmu.

Kau pun bertutur tentang nukilan drama, saat angin kencang mempermainkanmu di udara. Terbayang aku pada wajahmu yang menegang ketika permainan parasailing itu mengendalikanmu hingga tak tertahan lagi. Tatkala kau memiringkan boatsailing hingga 90 derajat, mengendarai jetski di belantara ombak yang menggulung. Amboi, Devi! Bahkan gentar pun enggan menghinggapi hatimu yang lapang.

Devi & Career Responsibility

Jalan hidup seseorang terkadang jauh di luar dugaan. Begitu pun dengan noktah-noktah kehidupan yang kau titi. Siapa yang mengira kau bakal memangku jabatan prestisius ini. Yang pasti, dari dulu, kau mencintai dinamika. Bertemu orang, menilik perkembangan sosial, hingga kau temukan sendiri rumusan itu, marketing.

Lalu, menjelamalah dirimu seorang wanita karier dengan jam terbang tinggi. Menjelajahi pelosok negeri hingga menyambangi sepanjang benua. Jabatan brand leader/head of marketing Levi’s Indonesia, pun menempatkanmu sebagai pengembang beragam hal, dari produk, retail, hingga marketing, promosi, juga citra. Kau pun muncul sebagai orang pertama di balik merajalelanya produk Levi’s di penjuru negeri.

Kau merinci gemilang ini bukanlah target. Ia hanyalah hasil dari jerih payah yang kau korbankan. “Saya tak pernah menargetkan untuk menjadi apapun. Saya mengikuti air, hidup ini bagi saya mengikuti air saja,” katamu. Tak aneh jika dirimu belum memiliki gambaran masa depan seperti apa yang bakal kau hadapi kelak.

Yang terang, kau mensyaratkan agility, adaptability, dan flexibility, sebagai bagian terpenting dalam merenda karier. Pun menangkap demand, kebutuhan pasar, dan melihat perubahan dinamika itu. “Saya ditantang juga untuk menciptakan trend. Kejelian membaca need dan consumer respon.” Jadilah dirimu sebagai pelayan, yang merespon selera dan kebutuhan banyak orang.

Devi & Balance in Life

Aku setuju, hidup memang seperti air. Mengalir dari hulu ke hilir. Tak seorang pun yang membantahnya. Seperti dirimu yang memasrahkan hidup pada kelenturan, keluwesan, dan keleluasaan air. Kepasrahan yang total itulah, yang membuatmu begitu mencintai kehidupan. Ujarmu soal hidup, “Hidup hanya sekali, makanya harus dinikmati. Kalau orang tidak bisa menikmati hidup, tandanya dia tak bisa mensyukuri nikmat yang diberikan Yang Di Atas.”

Kesejatian hidup pun mengajarimu banyak hal. Manis dan getir. Suka dan derita. Seperti roda pedati yang berputar, mengikuti pendulum kehidupan. Menuruti drama yang digubah penulis skenario tunggal. Sebagaimana diriku, kau pun hanya pelakon. Meniti aliran yang tertuliskan.

Betul katamu, tak ada yang perlu disesali dalam hidup. Tak ada yang keliru dalam kehidupan ini. Tak perlu kau tangisi kekecewaan, kegagalan, atau bahkan tatkala roda kehidupan memerosokkanmu sekalipun. “Justru saya senang pernah jatuh, kecewa, gagal, karena itu yang membuat saya lebih kuat dan tumbuh.”

Keyakinan itu berurat dan mengakar dalam jiwamu yang tegar. Tak ada drama satu babak pun yang perlu kau putar ulang. Seperti lakonmu jua, hidup telah berjalan bagaimana seharusnya. Kau pun cukup puas menjadi Devi yang sekarang, dengan apa yang peroleh, apa yang kau toreh.

Jika pun kau mesti berduka, masih ada keluarga, teman, sahabat, dan orang terdekat yang memompa semangat. Begitu berartinya orang-orang ini di sisimu. Kau pun mengamsalkan orang tanpa keluarga dan teman dekat, ibarat pohon tanpa akar. Di kala down, orang terdekat yang memberi semangat. “Keluarga bagi saya penting sekali. Begitu juga teman dekat.”

Sebagai bagian dari caramu menikmati hidup, kau ciptakan keseimbangan-keseimbangan itu. Keseimbangan duniawi-akhirat, jasmani-rohani, mental-spiritual. Kau pun lahir sebagai pemeluk agama yang taat. “Makin kencang gaulnya, makin kencang ritual agamanya,” katamu, sebelum tawamu memburai, menepuk-nepuk indera pendengaranku.

Devi & Women Trendsetter

Adakalanya rasa jenuh menggelayutimu. Ia mendatangi tanpa kau undang. Kala rutinitas menjebak, atau aktivitas yang monoton. “Saya enggak sabaran orangnya. Saya mudah jenuh dengan aktivitas yang sifatnya monoton.” Maka, pelbagai aktivitas di luar kegiatanmu yang lazim, diagendakan sedemikian rupa. Berkontemplasi lewat kegiatan sarat tantangan.

Menyambangi ke salon, kongkow di kafe, atau sekadar membaca buku-buku filsafat karya penulis kesohor, semisal Richard Bach atau Micth Album, adalah bentuk pelarianmu kala kejenuhan menjerat. Sekali waktu, kau sisihkan waktu untuk mendengarkan musik atau menonton film drama, komedi, aksi, dan suspense.

Melancong setidaknya sembilan kali dalam setahun menjadi agenda tetapmu. Kau lakukan itu sambil berdinas, tanpa perlu cuti khusus. Di akhir pekan pun, tak ada waktu luang yang kau lewatkan sia-sia. Pergi ke gym, menari salsa, atau melakukan wisata kuliner kesukaanmu. Utamanya masakan Jepang dan Italia.

Sebagai motor pengembangan merek busana kesohor, kau pun pandai mematut diri. Memantau segala laju dan gerak trend terbaru. Kau ibarat model berjalan bagi Levi’s. “Memang tak ada tuntutan dari manajemen. Itu kesadaran sendiri.” Semua tak lepas dari keinginanmu mengubah citra dan persepsi, bahwa produk itu bisa dikenakan di segala waktu. Tak kenal tempat, usia, dan suasana.

Kendati demikian, pelbagai merek kenamaan juga menyesaki lemari pakaianmu. Mulai dari busana rancangan Biyan, kebaya Anna Avantie, blazer dari Next, Mango, atau Zara. Maka, mewujudlah ragamu layaknya model di segala musim. Trendsetter di segala ranah.

Devi & Sexiest Moment

Tapi, sadarkah kau Devi, bahwa setiap busana yang kau kenakan itu, memercikkan aura sensualitas yang menjerat? “Ya, busana juga bisa membuat orang seksi. Orang juga harus merasa nyaman dengan busana yang dipakainya.” Kecantikan dan seksualitas, adalah aroma yang mengundang, bukan meletihkan. “Saya justru merasa paling seksi kalau pakai jeans,” katamu, lagi.

Lalu, kau definisikan seksi itu hanya tersemat di bagian luar semata. Segala macam bentuk fisik kau tengarai bisa membuat seksi empunya. “Setiap orang ingin tampil seksi,” ujarmu. Namun, sensualitas yang paripurna kau terjemahkan sebagai hasil perpaduan kecantikan inner dan outer.

Pilih smart atau cantik? Kupancing kau dengan pertanyaan ini. “Saya pilih smart. Kalau boleh jujur, kalau cantik, orang cenderung melihat kita sebagai obyek, bukan subyek.” Tapi, sebagaimana dirimu, siapa yang tak riang jika dua kekuatan ini bergumul dalam ragamu. “Kalau saya bisa memilih, saya ingin dua-duanya. Bukan berarti orang cantik tak bisa smart, atau orang smart tak bisa cantik.” Malah, seperti dugaanmu, kecerdasan pun akan melahirkan sebuah kecantikan yang memanggil-manggil.

Devi & Single Life

Di manakah lahirnya kekecewaan, Devi? “Dari harapan,” tegasmu. Benar juga, kekecewaan selalu menemui sekoci baru, tatkala sebuah harapan berada di ruang hampa. Makanya, segala urusan kau biarkan mengalir apa adanya. “Hasil adalah akibat, bukan target. Kalau ditargetkan, nanti stres sendiri.” Aku pun sepenuhnya memahami bila kau lebih mementingkan proses daripada hasil.

Sebagaimana yang kau yakini, tak ada yang bisa dihasilkan tanpa kerja keras. Sukses itu tak datang dengan sendirinya, menghampiri setiap orang yang bertopang dagu semata. Ia mesti mensyaratkan banyak hal. Kau berpandangan, hanya pekerja keraslah yang berhak atas hasil yang gemilang.

Layaknya kesuksesan dalam berkarier, kau pun menafsirkan pernikahan yang sakral itu bukan tujuan dalam hidupmu. “Menikah bukanlah tujuan, itu hasil dari satu hubungan. Makanya, saya tak menargetkan kapan dan di usia berapa saya mesti menikah.”

Bagimu, melajang bukanlah beban. Kesendirian tak membuatmu merasa hilang, apalagi sepi. Kehidupan terus berlanjut. Langkahmu tak kan meletih. Sepi pun tak mampu merantai keriangan hatimu.

Maka, yang terjadi, terjadilah. Kau serahkan akhir cerita hidupmu pun pada air yang mengalir, bukan pada yang menggenang. Bagimu, tak ada yang lebih berharga selain merenda profesionalisme. Bilur-bilur seorang wanita karier merembes sedia kala. Seperti napas yang selalu kau hela…

DEVIGRAFI

Nama lengkap: Devi Ariyani, Tinggi/berat 167 cm/52 kg Pendidikan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia (1992), New York University (2000), Capilano College, Canada (2001) Pekerjaan/Jabatan Brand Leader/Head of Marketing Levi Strauss Indonesia Pekerjaan Sebelumnya Strategic Planning Director Lowe Lintas Adv. (1999) Prestasi/penghargaan Beasiswa dari Canada International Development Agency (CIDA) untuk Post Graduate in International Management, Capilano College, Canada Hobi Dancing, menonton, membaca, sport, traveling, adventure.

Jumat, Juli 18, 2008

Gaby Aquariesta: "Aku sudah Merasakan Kenikmatan itu”

Ada hari-hari yang menyisakan begitu banyak pertanyaan. Ada pula hari-hari yang menyajikan sekian jawaban. Ada waktu yang menyuguhkan beragam cerita tak berkesudahan. Tapi, ada pula saat dimana rasa sepi dan sunyi meraja.

Namun, sepotong hari yang kulalui kali ini memang bukan sembarang. Sebuah senja di keheningan Siam Square, Cilandak Town Square, Jakarta, yang menguraikan helai demi helai hikayat seorang anak manusia tanpa penat.

Di senja yang sama, aku bertukar ucap, merenda kata. Laksana sahabat yang lama tak bersua dengannya. Pertanyaan dan jawaban menggericau, silih berganti merangkai sebuah cerita. Hari itu adalah hari di mana Gaby Aquariesta, nama gadis itu, kembali meneguhkan diri untuk merajut kehidupan yang penuh makna. Berjanji menebarkan kegembiraan hati tak terperi. Di hadapanku.

“Hidup memang tak selalu menyenangkan. Tapi, aku bersyukur dengan apa yang kumiliki sekarang,“ tuturmu, sebelum menyeruput Thai ice tea. Ya, siapa yang tak beruntung dengan limpahan cinta kasih, perhatian, dan penghargaan dari orang-orang terdekatmu. Siapa yang merugi dengan status sebagai anak yang paling disanjung itu. Jika pun suatu hari kau menemukan senyum tak lagi bersisa, cukuplah kasih sayang yang paripurna itu menjadi pelipur laramu.

Tentu saja masih ada yang mengganjal di semenanjung batinmu. Obsesimu menjadi seorang pegolf profesional, menjadi seorang dokter bedah plastik yang mengabdikan diri pada sebanyak mungkin orang. Bahkan, rasa haru seketika meretih di sanubarimu tatkala ingatan kita tertuju pada kaum papa. Pada mereka yang tak berupa sempurna. Kau pun meneguhkan janji, Jika tidak jadi dokter, kau ingin mendirikan rumah sakit buat orang tak mampu.

Permainan golf memang tak asing lagi bagimu. Kau yang dibesarkan dalam keluarga yang begitu mencintai permainan ini, telah mengenalnya sejak usiamu baru beberapa warsa. Adalah paksaan sang papa ketika menemaninya ke driving range, yang meronta keingintahuanmu. “Setiap kali latihan, aku harus memukul 500 bola. Capek, kan?” katamu, setengah memelas. Untuk gadis sebelia dirimu, tentu permainan itu begitu melelahkan. Juga membosankan. Aku memahami ketika kau akhirnya terkelempai pasrah.“Aku belum merasakan nikmatnya permainan ini,” begitu alasanmu, waktu itu.

Nyatanya, tak berselang lama, hasrat menjadi pegolf merembih sendiri dari bilik-bilik anganmu. Kini, tak usah ditanya lagi soal gairah dan kesenanganmu saat mengayunkan stik. Panas yang terik, rinai hujan yang mencambuk, dan peluh yang berburaian ibarat menu pemanis yang kau hadapi di turnamen satu ke turnamen lainnya. Di berbagai turnamen, kau yang kini memegang handicap 18 sebagai pegolf yunior itu bahkan telah membukukan prestasi yang berkerencang di sanubari. Ada rasa bangga menyeruak, kala duta bangsa kau sandang jua. Di negeri jiran, kau berjibaku tanpa kelah lelah. Mencari jati diri, merajut eksistensi.

“Aku merasa, pergaulan di golf itu beda. Ada gengsinya juga, karena rata-rata pemainnya berpendidikan,” katamu, soal golf yang telah menjerat hatimu. Kau pun mengakui, telah merasakan kenikmatan tersendiri saat berada di lapangan. Sambil mengaduk-aduk casava, makanan ringan khas Thailand, kau melanjutkan, “Olahraga ini benar-benar butuh ketekunan, keseriusan, dan kesabaran. Aku merasa olahraga ini cocok dengan karakterku yang keras.”

****

Pondok Indah Golf Club, di sebuah akhir pekan yang sembab. Ini kali kedua kita bersua. Saat itu, kulihat kau tak lagi gemulai seperti hari yang telah lewat. Kesan tomboi begitu melekat di balik busana sporty dan aksesori golf yang kau kenakan. “Aku bisa kelihatan tomboi. Kadang juga terlihat feminin. Tergantung situasi,” ucapmu. Ego diri keinginan untuk menang sendiri memang wajar untuk gadis 17 tahun sepertimu.

Namun, karakter keras bukanlah penghalang bagimu dalam menjalin sebuah persahabatan. Maklum saja, sifatmu yang begitu aktif, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah, mempermudah dirimu untuk mendapatkan seorang sahabat yang diinginkan. “Jangan suruh aku diam. Aku tak bisa melakukannya,” tuturmu, dengan seringai jenaka. Aku tak heran jika memasak, berenang, berbelanja, traveling, hingga mengoleksi sepatu, tas, dan boneka barbie menjadi kegemaranmu selain bermain golf.

Kau yang peranakan Cina-Palembang, itu merasa nyaman dan percaya diri dalam bergaul. Gebot, Geboy, atau Encim, adalah panggilan khasmu orang-orang dekatmu di lingkungan rumah dan di sekolah. “Sahabat yang baik selalu ada saat aku membutuhkannya. Kalau lagi susah, dia bisa mengerti aku, terbuka, dan saling percaya. Aku pun merasa tenang di sampingnya,” begitu kau artikan seorang sahabat sejati.

Begitukah senarai kriteriamu soal pasangan dambaan? Lelaki yang pintar dan berpendidikan, berkepribadian baik, dan memiliki sense of humor merupakan tipikal pendamping yang menjadi prioritas dalam anganmu. “Aku orangnya periang. Jadi, dia harus bisa membuatku selalu gembira. Dia juga mesti nyambung kalau diajak bicara,” lanjutmu, “Secara fisik, aku suka cowok putih dan tinggi. ”

Namun, sadarkah kau, Gaby, bahwa hari esok bukanlah milik kita? Bukan pula milik sepasang orang tua yang kau teladani itu. Pun lelaki pejantan yang menggelimuni perigi kalbumu. Tapi, tak ada yang salah dengan kepingan-kepingan rencana yang selalu menghidupkanmu itu. “Hidupku masih panjang. Jadi, masih ada waktu dan kesempatan untuk mewujudkan apa yang kuinginkan,” katamu, dengan tatapan penuh harap.

“Jangan bilang “tidak” kalau belum mencobanya.” Seperti rangkaian kata yang kau pegang teguh, memang tak ada yang tak mungkin dalam hidup ini. Tak ada yang tak bisa diwujudkan, apalagi bagi gadis sepertimu yang selalu optimistis dan bergelora. Maka, teruskan langkahmu, menempuh hari-hari yang menyisakan tanya. Melewati masa yang menyajikan kelumit demi kelumit jawaban.

Kamis, Juli 17, 2008

Cathy Sharon: Sepenggal Kisah Tiada Akhir

Terserah Anda memanggilnya. Catherine Sharon Gasnier, Cathy Sharon, atau VJ Cathy. Ini adalah sederet nama seorang dara. Ya, nama seorang perempuan semampai dengan tinggi 170 sentimeter dan wajah menawan hati. Bukan sekadar nama, tapi deretan kata bermakna. Setiap hurufnya menyimpan talenta dan bilur-bilur seni dalam jiwa.

Merenda karier dari panggung modeling yang penuh kilau, perempuan kelahiran Jakarta, 8 Oktober 1982 ini terus berkelebat. Dari panggung peraga, dunia presenter yang berjiwa anak muda, sekian pariwara, hingga mengukuhkan diri sebagai aktris penuh bakat. Mengawali karier akting lewat film televisi (FTV), bertajuk Suami buat DJ Funky, Kau Membuat Aku Gila, dan Jejak Kupu-kupu, ia merasa tertantang untuk menjajal layer lebar. Dunia Mereka, Bangku Kosong, Cewek Penakluk, atau Sang Dewi adalah beberapa skenario yang ia perankan dengan penuh rasa.


Cathy, begitu panggilan kecilnya, memang dikenal sebagai salah satu VJ (Video Jockey) MTV Indonesia, selain sebagai bintang iklan dan aktris film. Setelah memutuskan berhenti dari VJ, ia pun makin meneguhkan hati dengan dunia layer lebar. Sebagai pemain baru layar lebar, Cathy mempunyai banyak obsesi. Ia ingin memerankan sebanyak mungkin tokoh kontroversi yang menantang, seperti berperan sebagai perempuan homoseks atau psikopat.


Bahkan, ia berniat akan menjajal semua peran yang ditawarkan kepadanya. Bukan berarti ia akan menerima lakon apa saja. Dara berwajah indo ini tetap selektif agar kemampuan aktingnya lebih terasah dan terarah. Simak film terbarunya, Sang Dewi. Ia berperan sebagai Jessie, sosok yang mencoba memahami pilihan sahabatnya walaupun hati kecilnya tidak memiliki ruang untuk itu.


Dalam film ini, Cathy dihadapkan pada kondisi yang membuatnya harus memahami perasaan sahabatnya. Padahal, ia tidak suka dengan pilihan yang dilakukan sang sahabat. Tapi, demi persahabatan, relung rasanya pun ia korbankan. “Nah, peran inilah yang mendorong saya harus bisa masuk ke dalam sosok itu, dan tentu saja enggak gampang karena ada semacam pertempuran mental yang mesti saya mainkan,” katanya panjang lebar.


Di film ini pula ia menanggalkan karakter feminin, dan merubah diri menjadi seorang gadis tomboi. Bukan hanya bergaya seperti pria, Cathy juga tertantang melakukan banyak hal yang identik dengan kaum lelaki. Salah satunya, merokok, yang memang tidak ia sukai sejak lama.


"Cara ngomong pun harus diubah agak garang. Perilakunya cuek dan asal. Makanya, aku agak sulit berperilaku seperti itu. Pokoknya, Jessie itu jauh banget dari aku yang asli," ujarnya lagi.

Bahkan, dia harus menjalani scene terkena bogem mentah lawan mainnya. Sebab, dalam film tersebut, sosok Jessie akrab dengan dua petinju. Singkat cerita, dua petinju itu terlibat kesalahpahaman dan Jessie berada dalam posisi hendak melerai. Sialnya, niat baik sang pelakon berbalas pukulan dari teman-temannya.


Menurut Cahty, justru di situlah dirinya merasakan pengalaman berbeda. Sebuah atmosfer yang tak pernah ia dapatkan dan rasakan sebelumnya. Haru dan menegangkan. "Di situ adegannya sedih banget sekaligus hancur-hancuran. Tapi, justru aku paling suka adegan ini," tegasnya.

Begitulah kehidupannya kini. Sebagai aktris berbakkat, Cathy mengukuhkan diri bahwa bahwa ia tak semata melintas di jagad hiburan. Ia hadir, menghibur, dan mengabdikan diri. Oleh karenanya, tawaran untuk membintangi acara Extravaganza yang fenomenal di sebuah saluran tv terrestrial pun datang menyambanginya.

****

Dalam kamus kehidupan Cathy, dunia entertainment adalah bagian dari kesibukan. Kegiatan lainnya adalah merintis usaha di bidang kecantikan dan perawatan tubuh. Salon yang terletak di kawasan Setrasari, Bandung, Jawa Barat, ini pun akan dikelolanya secara profesional sebagai ladang usaha di kemudian hari. “Ya, sambil jalan sambil nyiapin masa depan lah. Lagian, ini kan sesuai dengan hobi gue ngerawat tubuh,” ujarnya.


Usaha yang berkibar sejak Mei 2007 lalu ini menyiratkan dua hal. Investasi dan gaya hidup. “Awalnya sih diajak teman. Kupikir ide tersebut cukup bagus untuk mengisi waktu,'' katanya singkat. Walhasil, selain mengurus bisnis salonnya, ia masih menerima banyak pekerjaan sebagai presenter berbagai acara hiburan.

Disebutkan, kesibukannya mengelola salon bukan berarti dirinya pensiun dari dunia akting, karena itu akan terus berperan dalam dunia hiburan di Tanah Air. Salon adalah jembatan menuju impiannya yang lain. “Ingin juga jadi pengusaha yang sukses dan bisa membuka lapangan kerja buat orang lain,” katanya dengan wajah berbinar.

Ia adalah satu di antara sekian banyak penghibur yang melihat karier keartisan tidak kekal. Ada saat untuk menanjak dan benderang di puncak gemintang, ada masa pula untuk turun perlahan sambil menyiapkan ranah baru yang tak kalah menantang. Begitulah kearifan hidup mengajarkan.

Salon juga pertanda sebuah semangat gaya hidup sehat yang tak pernah lekang pada diri Cathy. “Saya sangat suka pergi ke salon,” kata gadis yang gemar membawa air mineral sendiri ini. Salon adalah sarana meraih vitalitas hidup. Lebih dari itu, ia dapat merawat aura maupun kecantikan ragawi.

Sosoknya memang mencerminkan seorang yang peduli pada gaya hidup sehat. Di samping menyibukkan diri di klub fitness dua kali seminggu, ia pun turut andil dalam kampanye anti narkoba. Baginya, menghindari narkoba itu penting. “Semua orang seharusnya merasa cantik dan percaya diri tanpa harus memakai narkoba,” tuturnya penuh semangat.


Menurut Cathy, cantik tanpa narkoba bisa memiliki berbagai makna. Cantik sendiri, lanjutnya, tidak sekadar dapat dilihat berdasarkan penilaian pada wajah serta penampilan seseorang. Kepribadian bisa menjadi salah satu kriteria cantik. Sambil melumat kentang goreng, ia berujar, “Bagi saya, menghindari narkoba hanya karena ingin tampil cantik atau percaya diri adalah harus.”


Atas peran dan kepeduliannya ini, perempuan berdarah Prancis ini didaulat sebagai Duta Media Against Drugs, bersama sejumlah rekan seprofesinya. "Aku akan menyerukan agar muda-mudi tetap pede tanpa narkoba," ujarnya sambil menambahkan, “Yang penting enak buat diri, tapi jangan sekali-kali menggunakan narkoba.”

Tak terasa, jalinan kata kami beradu lama. Di ujung sua, ia tetap menegaskan komitmen dan obsesinya untuk melakukan kegiatan sosial sebanyak mungkin yang ia bisa. Cathy pun mengaku akan terus berkonsentrasi untuk mengajak sesama pada jalan kehidupan yang lebih baik. Sebuah niat mulia yang harus didukung dan diwujudkan bersama.

Entah sampai kapan…..