Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 12, 2008

Sutanto, Berjaya di Daerah, Berkuasa di Pusat

Karakteristik jenderal bintang empat ini memang cocok untuk memimpin Polri yang sedang berupaya keras menaikkan citranya di mata publik. Selama berkarier, Sutanto dikenal sebagai aparat yang bersih dan teruji di berbagai macam tantangan. Sewaktu menjadi Kapolda Sumatera Utara dan Jawa Timur, ia pernah membuat gebrakan pemberantasan judi dan dikenal sebagai jenderal yang tidak bisa dipengaruhi mafia perjudian.

Mantan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Metro Kebayoran Lama ini sekarang sudah menjadi Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri). Pria kelahiran Pemalang, Jawa Tengan, 30 September 1950 ini adalah lulusan terbaik Akabri Kepolisian tahun 1973, satu angkatan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga merupakan lulusan terbaik Akabri Angkatan Darat.

Begitu lulus dari Magelang, Sutanto malang melintang di berbagai pelosok nusantara guna menjalani tugas kedinasannya. Ia dikirim ke Sumenep untuk ditugaskan sebagai Kepala Polisi Resor (Kapolres) Sumenep, Jawa Timur. Selama tahun 1992 hingga 1994, Sutanto mengemban amanah sebagai Kapolres Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam perkembangan selanjutnya, karier Sutanto mulai benderang.

Pada tahun 1999, ia memangku jabatan sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Metro Jaya. Gemblengan singkat sebagai Wakapolda ini memantapkan langkah karier Sutanto selanjutnya. Secara berturut-turut, suami Henny ini memimpin Polda Sumatra Utara (Sumut) selama setahun dan Jawa Timur (Jatim) selama dua tahun.

Selain karena pertemanan dengan presiden, selama kariernya di kepolisian, Sutanto juga dinilai bersih. Dia juga dikenal konsisten dan dekat dengan bawahan. Ayah dari empat anak ini dikenal jujur, bersih, dan punya komitmen tinggi memberantas kejahatan. Saat menjabat Kapolda Sumut (2000), dia berupaya secara gigih memerangi perjudian, premanisme, dan peredaran narkoba di provinsi itu.

Mantan ajudan Presiden Soeharto ini menghadapi segala bentuk risiko, baik dari para bandar judi dan internal Polri sendiri. Kalangan yang tidak senang dengan pemberantasan judi diberantas di daerah itu tidak mau Sutanto bertugas di Medan dalam waktu yang panjang. Entah apa yang terjadi, tanggung jawab sebagai Kapolda Sumut ini hanya dijalaninya dalam kurun tujuh bulan.

Dia dipindah menjadi Kapolda Jawa Timur. Di wilayah ini, Sutanto langsung menyatakan perang terhadap terhadap illegal logging, praktik BBM oplosan, judi, dan narkoba. Salah satu gebrakannya adalah menangkap dan menahan Sundono alias Jhonson Limuel Lim, bos kayu ilegal nomor satu di Jatim yang sebelumnya tak tersentuh hukum. Dia juga mengusir dan menampik utusan Sundono yang hendak menyuapnya Rp 2 miliar agar Sundono bisa ditahan luar. Dia tetap bergeming dengan keputusannya. Sundono tetap menjalani kurungan hingga kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan.

Setelah menuntaskan tugasnya sebagai Kapolda Jatim, ia dimutasi menjadi Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri dalam kurun waktu 2002 - 2005. Setelah SBY jadi presiden, nama Sutanto kembali bersinar. SBY mengangkatnya menjadi kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN) pada awal Maret 2005. Dia pun naik pangkat dari Irjen menjadi Komjen Pol.

“Jenis narkoba yang menjadi prioritas dalam penanganan adalah ganja, ekstasi, heroin berikut sabu. Mengapa ganja, ya karena ternyata jenis narkoba inilah yang terbanyak dipakai, yaitu menurut survei kita, 71 persen pengguna narkoba di Indonesia memakai ganja,” tutur Sutanto.

Ia menyadari, kasus ini melibatkan bandar kakap yang bermain dengan modal yang besar. Namun, nyaris tidak ada rasa gentar di hatinya. “Terus kenapa? Kenapa lantas enggak berani? Judi dan narkoba ini kan menjadikan anak bangsa sebagai korban,” katanya, dengan penuh semangat. Sutanto berharap bangsa ini secepatnya bangkit dan melakukan perlawanan terhadap judi dan narkoba.

“Ya kita harus bangkit. Tolong sampaikan kepada publik agar jangan terus terlena dengan keadaan ini,” ucapnya tegas. Kendati sebentar di BNN, dia telah melakukan gebrakan besar dalam menangkap anggota sindikat peredaran narkoba internasional. Selain itu, ia berhasil menggerebek dan menemukan sejumlah pabrik narkoba besar di sekitar Jakarta.

Hingga saat ini, penegakan hukum serta berbagai hal yang terkait narkoba juga menjadi prioritas utama kebijakannya. “Narkoba sekarang sudah merambah ke mana-mana. Jadi saya berharap supaya daerah-daerah serius menangani masalah ini. Tentu tidak bisa Polri sendiri yang mengatasi, tetapi juga aparat hukum yang lain. Ini penting, agar terhadap tersangka yang kita tangani diberikan sanksi yang seberat-beratnya,” katanya.

Untuk mengantisipasi gencarnya peredaran narkoba, kita terus berupaya melakukan sinergi dengan seluruh jajaran terkait. “Untuk ekstasi, kita terus cari pabrik-pabrik gelapnya. Termasuk tempat peredarannya di diskotek-diskotek. Saya akan memerintahkan agar diskotek terus dirazia, terutama untuk yang disinyalir di dalamnya ada peredaran ekstasi,” katanya.

Demikian pula dengan ladang ganja yang bisa ditemui di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Berdasarkan survei di kepolisian, ada belasan titik pembudidayaan ganja di NAD. Untuk itu, Sutanto terus berupaya agar tidak ada lagi tanaman ganja di sana. “Jadi kita tidak hanya mencari atau mengoperasi ganja yang didistribusikan ke Jawa, misalnya. Ya kita harus basmi sejak dari ladangnya, harus di Aceh-lah,” tuturnya.

Sedangkan untuk heroin, lanjut Sutanto, pihak akan memperketat jalur-jalur masuknya, melalui udara maupun laut dengan mengintensifkan kerja sama tukar-menukar informasi dengan negara-negara produsen narkoba. Ia berkata, “Kita tidak hanya menunggu kemungkinan narkoba yang datang ke sini. Kalau hanya menunggu, yang kita tangkap paling ”hanya” sepuluh kilogram.”

Saban hari, pria berkumis tipis ini terus berkuat dengan tantangan dan tanggung jawab yang tidak ringan. Namun, bukan berarti ia tidak lagi memiliki waktu luang untuk mengendurkan urat saraf. Selain lari pagi, hobinya adalah adalah memelihara burung. Di rumah yang ditempatinya sejak 1997 itu terlihat beberapa burung dalam sangkar yang digantung di berbagai tempat. Kicau burung kakatua, beo, dan nuri terus terdengar sepanjang waktu. Seakan-akan menjadi penyambut setiap tamu yang berkunjung.

Togar Manatar Sianipar, Lain di Wajah, Lain di Hati

Bicaranya meledak-ledak dan penuh semangat, seperti lazimnya orang Batak. Kelihaiannya dalam berkomunikasi inilah yang mencuatkan namanya, ketika dipercaya memangku jabatan strategis Kepala Dinas Penerangan Polri pada 1998 lalu. Waktu itu, sebagai juru bicara utama Polri, Togar Manatar Sianipar dikenal terbuka serta mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan berbagai macam elemen masyarakat.

Tak pelak, hubungan harmonis itu menjadikan citra Polri terangkat. Salah satunya, disebabkan mudahnya masyarakat, khususnya kalangan media, memperoleh informasi secara jelas, akurat, dan terbuka. Sekitar satu tahun bertugas sebagai Kadispen Polri, pria kelahiran Rantau Prapat, 8 Maret 1948 ini dipercaya pimpinan Polri dan dipromosikan untuk jabatan teritorial sebagai kepala kepolisian daerah (kapolda).

Saat menjadi kapolda, Togar tercatat salah satu perwira tinggi (Pati) Polri, yang pernah dipercaya menjabat kapolda sebanyak tiga kali, di tiga tempat berbeda, antara lain di Bali (1999), Sumatra Selatan (2000), dan Kalimantan Timur (2000). Tugas dan tanggung jawabnya sebagai kapolda dilaluinya dengan mulus. Semuanya berkat ketekunan bekerja sebagai sosok profesional.

Enam bulan menjabat sebagai Ses Deops Kapolri pada 2001, ia mendapat tugas dan dipercaya pimpinan Polri memegang jabatan strategis yang memang sesuai dengan bidang yang ditekuninya, yakni jabatan Waka Lakhar (Wakil Kepala Pelaksana Harian) Badan Narkotika Nasional (BNN). Sejak itu, ketegasan dan keberanian Togar benar-benar mendapat ujian.

“Penyalahgunaan narkoba sudah sampai ke anak-anak, mulai umur 8 - 10 tahun. Daerah sebaran juga tidak hanya di kota-kota, tetapi juga ke desa-desa. Di lingkungan pendidikan tidak terkecuali. Mulai dari SD, SLTP, SLTA. Perguruan tinggi apalagi,” katanya prihatin. Namun, lanjutnya, “Yang paling memedihkan hati saya, ketika saya tahu pejabat, wakil rakyat atau bapak rakyat terlibat kasus narkoba. Seharusnya mereka itu jadi contoh bagi masyarakat.”

Komitmennya dalam memberantas penyalahgunaan narkoba begitu kuat. Terbukti, pada 2002, ia diberi mandat menjadi Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN, setelah Kalakhar Komjen Pol Nurfaizi memasuki pensiun. “Kalau melihat jumlah korban yang meningkat, saya akui, yang kita (BNN) lakukan belum menunjukkan hasil,” katanya, dalam sebuah kesempatan. Namun, ia senantiasa memegang amanah yang dipercayakan padanya.

Dalam melihat kinerja BNN, lanjutnya, orang lebih banyak berorientasi pada hasil. Padahal sebetulnya proses itu penting. “Masyarakat ingin melihat, ada enggak pengurangan, ada nggak sih penurunan kasus-kasus narkoba, baik itu korban jatuh maupun korban penyalahgunaannya. Saya kira itu mungkin indikator yang bisa kita gunakan,” katanya, dengan berapi-api.

Tetapi, Togar menambahkan, “Tolong catat baik-baik bahwa seharusnya kalau bertanya soal pemberantasan narkoba ini tidak mesti kepada pemerintah. Karena pemerintah seharusnya menjadi fasilitator dan paling bertanggung jawab dalam permasalahan ini,” tuturnya, “karena pemerintah yang paling bertanggung jawab. Justru dengan pembentukan BNN ini merupakan petunjuk bahwa pemerintah paling bertanggung jawab. Tetapi, harus kerja sama pemerintah dengan masyarakat.”

Begitulah. Ketegasan dan kejujuran menjadi spirit sekaligus prinsip kerja Togar selama berkarier di kepolisian. Jiwa seorang pengabdi, pendidik, sekaligus pelayan masyarakat begitu terpatri dalam setiap tingkah laku maupun kebijakan yang dibuatnya. Sebagai abdi Negara, ia pun menabuh genderang perang terhadap narkoba.

Namun, siapa sangka, profesi ini ternyata tak pernah ada dalam angan-angannya di waktu kecil. Ia mengaku secara jujur tidak pernah bercita-cita menjadi polisi. Setamat SMA, sebenarnya ia ingin melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung, karena sejak kecil ia bercita-cita menjadi insinyur. Apalagi, di kampung halamannya, nama ITB telah menjadi simbol prestasi dan kebanggaan diri. Terbukti, cukup banyak teman-teman sekolahnya yang melanjutkan pendidikan ke sana.

Namun, keinginan menjadi insinyur itu serta merta kanda ketika ia kondisi ekonomi keluarga. "Kebetulan di sekolah, saya agak pintar. Dan saya merasa mampu masuk ke ITB. Tetapi saya menyadari karena ayah saya sudah meninggal ketika saya berumur enam bulan, kami bertiga bersaudara hanya dibesarkan oleh ibu," ujarnya.

Suatu malam, ia masuk ke kamar ibunya yang sudah terlelap tidur. Tak terasa, muncul rasa iba dalam sanubarinya. "Waduh, ibu saya sudah berjuang membesarkan kami sejak kecil. Berarti ibulah yang mati-matian. Kalau saya menuntut kuliah di ITB sama juga saya menyulitkan ibu saya,” katanya membatin.

Mulai saat itu, Togar berpikir keras mencari-cari sekolah yang tak memungut biaya atau gratis. Ketika besoknya ke sekolah, ia melihat banyak teman sebayanya yang mendaftar ke Akabri. Kebetulan di kampungnya terdapat seorang taruna AMN yang sudah lulus. Dari seoran taruna inilah Togar mendapatkan kejelasan informasi tentang Akabri. “Nah, dalam batin saya, ini dia sekolah gratis yang saya cari," kata Togar dalam hati.

Togar pun memberanikan diri mendaftar dan mengikuti seleksi di Akabri. Ternyata semua tahapan dapat dilaluinya dengan lancar sehingga dinyatakan lulus. "Saya tidak punya backing. Dari mana saya kenal backing, saya anak seorang janda, kok," ujarnya, dengan senyum bangga. Ia pun dapat menyelesaikan pendidikannya tanpa hambatan berarti.

Di tengah tugas dan tanggung jawab yang tak ringan, Togar dikenal tegas dan memiliki kedisiplinan yang tinggi. Namun, situasi yang bertolak belakang dapat kita jumpai ketika ia melepaskan baju dinasnya. Di rumah, gitar tidak lepas dari tangannya. Talenta bermusik dan menyanyi dibuktikan dengan album rekaman berjudul “Suara Hati” yang diluncurkannya bekerja sama dengan pencipta dan penyanyi terkenal Rinto Harahap. “Tetapi saya tidak mau disebut penyanyi. Sebut saja saya orang yang punya hobi menyanyi,” katanya dengan wajah ceria.

Da’i Bachtiar, Memikul Citra Menompa Prestasi

Terungkapnya pelaku kasus peledakan bom di Bali, 12 Oktober 2002, dan di Hotel JW Marriott, Jakarta, 5 Agustus 2003 lalu merupakan prestasi kepolisian yang membanggakan. Namun, keberhasilan ini dirasakan masih belum cukup bagi Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar, untuk meningkatkan performa aparat di mata publik. berbagai tugas berat untuk lebih meningkatkan citra kepolisian rupanya masih ada yang mengganjal dalam benaknya

Sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, waktu itu, alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1972, ini dinilai sangat menguasai lapangan tugasnya. Ia tiga kali menjabat Kapolres, yakni Kapolres Blora (1987), Kapolres Boyolali (1989) dan Kapolres Klaten (1990). Kemudian menjadi Sesdit Serse Polda Jatim (1992) dan Kapoltabes Ujungpandang (1993).

Setelah mengikuti Sesko ABRI, ia dipercaya memegang jabatan sebagai Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Polri pada 1998. Sejak itu, kariernya terus melejit. Tak sampai satu tahun menjabat Kadispen Polri, ia diangkat menjabat Dankorserse Mabes Polri. Jabatan Kapolda Jawa Timur pun disandangnya pada tahun 2000.

Setahun kemudian, secara berturut-turut ia dipercayakan menjabat Gubernur Akpol dan Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN), menggantikan Komjen Pol. Nurfaizi. Ia mengemban tugas yang tak ringan, yaitu menangkal semakin merajalelanya sindikat narkotika internasional beroperasi di Indonesia. Tidak hanya memantau, lembaga yang dipimpinnya ini juga bertugas memberantas peredaran dan penggunaan narkotika di seluruh Indonesia.

Selama setahun menjadi Kalakhar BNN, kinerja pria kelahiran Indramayu, 25 Januari 1950 ini, cukup inovatif dengan sejumlah terobosan. Terobosannya antara lain, kampanye keluarga antinarkoba sejak dini, penyebaran brosur antinarkoba, dan pembuatan buku mengulas tentang seputar bahaya narkoba kelas nasional dan internasional. Ada juga berbagai aktivitas terkait kampanye narkoba, seperti seminar, diskusi, sampai strategi pengadangan benda haram itu di peredaran.

Jabatan di BNN sebelumnya sempat dinilai bukan posisi jabatan idola oleh petinggi Polri. Bahkan sempat dicap sebagai tempat "buangan" karena tugasnya hanya biasa-biasa saja yakni, terkesan teoritis, tidak strategis. Namun, berdasarkan fakta yang ada, justru di lembaga BNN itulah, para petinggi polri itu menunjukkan kualitasnya.

Perjalanan karier Da’i membuktikan bahwa BNN diibaratkan sebagai kawah candradimuka menuju Trunojoyo I. Ia dipilih oleh Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai calon tunggal Kapolri. Namun, apa yang tampak di depan mata belum tentu mudah diraih. Da'i pun tidak serta merta menjadi Kapolri. Ia harus melewati ujian dari kalangan DPR yang terbelah dalam berbagai suara pro dan kontra.

Salah satunya, Da’i dianggap turut bertanggung jawab dalam kasus bentrokan berdarah di Bondowoso Jawa Timur, November 2000, yang menelan sejumlah korban tewas. Ketika itu Da'i menjabat Kapolda JawaTimur. Bahkan, Fraksi Kebangkitan Bangsa getol menolaknya. Partai Bulan Bintang mengkritik kinerjanya.

Beberapa aktivis yang menamakan diri Pro Demokrasi, menolak sosok Da'i karena mereka anggap pernah melakukan kebohongan publik di era Soeharto dan prestasinya dianggap tidak terlalu menonjol baik ketika menjabat Kapolda Jatim maupun Kalakhar BNN.

Namun, sebagian besar fraksi di DPR justru welcome dengan sosoknya. Akhirnya, pada Rapat Paripurna DPR ke-20, Kamis, 29 November 2001, DPR secara aklamasi menyetujui usulan Presiden Megawati Soekarnoputri untuk mengangkat Komjen Pol Da’i Bachtiar menjadi Kapolri. Pelantikan dilakukan pada sore harinya. Pangkatnya pun naik menjadi jenderal penuh.

Tugas besar telah menghadang. Seperti diamanatkan DPR melalui komisi gabungan—yang membahas pengangkatan Da’i—masalah penuntasan perjudian, kasus 27 Juli, narkoba, dan pengeboman menjadi prioritasnya. Selain itu, sebagai Kapolri, ia dituntut memiliki komitmen meningkatkan profesionalisme Polri.

Da’i menepis semua tudingan dan keraguan itu dengan kinerjanya setelah menjabat Kapolri. Secara jujur harus diakui bahwa ia menunjukkan prestasi yang mampu mengangkat harkat dan citra Kepolisian Republik Indonesia di mata dunia. Keberhasilannya mengungkap kasus ledakan bom di Bali memperlihatkan bahwa ia seorang Kapolri yang patut diacungi jempol.

Berbagai prestasi lain yang dibukukan oleh Da’i adalah pembangunan internal yang hasilnya baik dan telah dirasakan manfaatnya oleh semua kalangan. Contohnya, pembangunan sarana dan prasarana, peningkatan profesionalitas, peningkatan kemampuan dan kesiagaan Polri untuk bertugas setiap saat di seluruh wilayah tanah air. Di samping itu, kerja sama internasional dalam rangka penanganan kejahatan trans nasional, pemberantasan terorisme, serta penindakan terhadap penyalahgunaan maupun kejahatan narkoba juga berjalan dengan baik dengan sejumlah prestasi.

Pada Juli 2005, ia merampungkan tugasnya, dan digantikan oleh Jenderal Polisi Sutanto. Namun, jiwa pengabdian Da’i tak berhenti sampai di sini. Ia membidani lahirkan Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) dan menjabat sebagai ketua presidium. Melalui lembaga ini, ia mengajak seluruh komponen bangsa untuk ikut berperan aktif dalam pencegahan dan kepedulian terhadap hak-hak anak agar tidak muncul tindak kekerasan terhadap anak-anak.

"Kita ingin ada suatu gerakan atau apalah namanya yang harus mengalir komunikatif sehingga masing-masing komponen bangsa ikut berpartisipasi dalam menyosialisasikan hak-hak anak," katanya. Menurutnya, kekerasan terhadap anak saat ini masih banyak terjadi di kalangan masyarakat level bawah dengan berbagai alasan diantaranya alasan ekonomi. Oleh karena itu, lanjutnya, sudah saat seluruh masyarakat peduli, turut mencegah, dan memberikan kontribusi positif terhadap persoalan ini.

Ahwil Lutan, Diplomasi Tanpa Seragam

Tidak seperti pejabat pada umumnya, gayanya terlihat lebih santai. Daripada tampil dengan setelan jas, seragam dinas, atau safari, Ahwil Lutan lebih memilih busana yang kasual dalam kesehariannya. Bahkan, seringkali kita melihatnya berpenampilan jauh lebih muda dari usianya tatkala ia berbalutkan kaus dan celana jins.

Penampilan maupun gaya bicaranya yang cakap, luwes, dan tegas persis layaknya seorang diplomat. Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki jenderal bintang tiga ini pun sempat mengantarkannya menjadi Duta Besar RI untuk Meksiko merangkap Panama, Kosta Rika, dan Honduras, pada 2000 lalu. Sebuah tugas yang tak ringan, memang.

Salah satu tugas lulusan Akademi Kepolisian termuda di Indonesia, pada 1968 ini adalah meningkatkan hubungan diplomatik dan perdagangan antara Indonesia serta Meksico. Saat itu, perdagangan Indonesia ke negara-negara Amerika latin sebesar 600 juta dolar. Nilai ini menurut Deperindag masih dinilai kecil. Sebelum ditunjuk sebagai dubes,

Penugasan ini bukan kali pertama ia bertugas sebagai delegasi Negara. Sebelumnya, Ahwil memang sering kali meengeyam pendidikan di luar negeri, sehingga dirinya memiliki banyak pengalaman internasional. Kesempatan ini tidak banyak dimiliki oleh anggota Polri. Dalam mengeyam pendidikan di luar negeri, dirinya tidak segan-segan menjalin hubungan internasional dengan Perwira dari negara lain.

Hubungan ini pula yang dimanfaatkanya saat menjabat sebagai Sekertaris Nasional Central Bureau Interpol Indonesia. Prestasi yang diraih dalam jabatan ini antara lain mengembalikan sejumlah koleksi lukisan museum nasional dari Singapura dan mengembalikan para tersangka yang lari keluar negeri ke Indonesia walaupun Indonesia belum mempunyai perjanjian ekstradisi dengan negara yang bersangkutan.

Selama bertugas di kepolisian, pria kelahiran Pemantang Siantar,1 Juni 1947 ini dikenal aparat yang bersih dan memiliki komitmen yang tinggi. Walaupun namanya tidak terlalu menonjol, Ahwil, begitu panggilan akrabnya, lebih dikenal sebagai konseptor dan pemikir Polri yang memiliki visi ke depan, daripada sebagai komandan pasukan di lapangan. Berbagai jabatan penting yang memerlukan pemikiran dan strategi serta jaringan internasional sering diembannya. Seperti Staf Ahli Kapolri dan memimpin jajaran Reserse, Interpol, PTIK.

Sebagai anggota kepolisian yang menghabiskan sebagian hidupnya mengabdi pada negara, pemegang 10 satya lencana RI dan dua penghargaan dari luar negeri ini memiliki kesan yang begitu membekas dalam benaknya. Terlebih selama menjadi polisi ia lebih banyak bertugas pada kesatuan polisi yang tidak berseragam. Ternyata, pria yang selalu tampil berkacamata ini begitu menikmati hari-harinya sebagai petugas yang tidak berseragam ini.

Polisi berpangkat terakhir Komisaris Jerderal Polisi ini memant tergolong sosok polisi yang langka dengan komitmen tegas. Dalam dunia politik, misalnya, ia tidak pernah memperlihatkan keberpihakannya. “Saya menjadi seorang polisi bukan untuk berpolitik,” ujar Ahwil. Hal ini pula yang membuat dirinya selalu dipilih untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan internal Polri, seperti sebagai ketua tim penyelidikan kasus korupsi di tubuh Polri (1999) dan kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan mantan Kapolda Metro Jaya, Sofjan Jacoeb.

Ketika berpangkat Kapten, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan Drugs Enforcement (DEA) School di Amerika. Jenjang pendidikan inilah yang pada akhirnya membawa ia menduduki jabatan sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan Kordinasi Narkotika Nasional (Kalakhar BKNN). Sebuah tugas yang membuatnya makin matang sebagai sosok aparat sekaligus pengabdi pada Negara. “Sebagai seorang aparat, saya siap ditugaskan di mana saja, dalam maupun di luar negeri,” ujar Sarjana Hukum Universitas Pancasila, Jakarta, ini mantap.

Sebagai Kalakhar BKNN, ia prihatin kalau melihat para pemuda yang terjerumus barang haram tersebut. Dari tahun ke tahun korban dan pemakai juga meningkat, bahkan penangkapan terhadap pelaku juga meningkat. "Tapi ini tidak terjadi pada negara kita saja, tapi di negara lain juga terjadi hal yang sama. Karena masalah narkotika ini merupakan masalah yang sangat mengglobal," kata suami dari Kemala Anggraini ini.

Keberhasilannya sebagai anggota kepolisian ternyata juga dibarengi dengan kesuksesannya sebagai jenderal rumah tangga. Pemimpin Redaksi Majalah HealthNews ini pun sukses membesarkan anak-anaknya dengan pendidikan yang bermutu. "Meskipun saya ini seorang polisi, tapi bukan berarti saya harus menerapkan disiplin militer dalam kehidupan mereka," kata Kepala Project Alternative Development BNN, ini.

Sebagai orang tua, ayah tiga anak ini mampu membentuk dasar kepribadian sang anak dengan gemilang. Ia mengajarkan tentang kedisiplinan di lingkungan rumah dengan memulai dari hal-hal yang kecil. "Ketika anak-anak masih di sekolah dasar, saya harus sudah berada di dalam rumah pukul 18.00. Jadi saya mendidik anak dengan sistem militer hanya ketika anak itu masih di bangku sekolah dasar," jelas ayah tiga anak ini.

Setelah sekolah lanjutan, Magister Business Administration, Program Greggorio Universitas Areneta, Filiphina, ini memperlakukan anak dengan cara berbeda. Ahwil menghadapi mereka sebagaimana layaknya dengan seorang teman atau sahabat. Mereka bisa berdiskusi bahkan bisa adu pendapat. "Jadi yang timbul kita akan saling terbuka," ungkap pria yang mempunyai motto hidup 'pertamakali yang dipikirkan setelah jatuh adalah berdiri.

Hingga kini, gaya berbicaranya yang luwes dan terbuka ini terus dipertahankan. Pemilik VW kodok limited edition warna abu-abu ini tetap lurus dan tak neko-neko. Satu hal yang pasti, penampilannya tetap segar, energetik, dan penuh gaya. “Harus tetap segar dong,” kata mantan Wakil Kepala Sub Direktorat Reserse Narkotika Dit Serse Polri, ini dengan senyum berkembang.

Kamis, Juli 17, 2008

Anita Lie, Dokter Spesialis Pendidikan

Mengabdikan usia dan tenaganya demi pendidikan. Kesibukannya adalah memberikan pelatihan guna meningkatkan kompetensi para guru. Pengabdiannya pada pendidikan dibuktikannya dengan menyabet sejumlah penghargaan.

Dunia pendidikan di Indonesia kerapkali menguraikan problematika yang tak berkesudahaan. Maklum saja, sektor ini begitu menentukan laju dan masa depan kehidupan sebuah bangsa. Sayangnya, yang menjadi persoalan mendasar dari kondisi pendidikan di Indonesia adalah tidak adanya komitmen semua komponen bangsa untuk menempatkan pendidikan sebagai lokomotif perubahan bangsa.

Persoalan pendidikan juga tak pernah lepas dari sorotan Anita Lie. Pengamat pendidikan ini bahkan tanpa tedeng aling-aling mengatakan, "Sejak Orde Baru dulu, pendidikan hanya dijadikan instrumen untuk agenda politik negara. Sekarang lebih parah lagi, yakni pendidikan dijadikan sebagai mesin uang."


Ia lantas memberi contoh, Kepala Dinas Pendidikan yang ditunjuk bukan berdasarkan kompetensi, melainkan orang yang dekat bupati. Ujungnya adalah sebagai mesin uang atau harus memberikan setoran. "Demikian juga di atasnya, hingga menteri pendidikan yang ditunjuk berdasarkan pertimbangan politis. Padahal, seharusnya kepala dinas pendidikan itu merupakan jabatan karier, bukan politis," tuturnya.

Karena itu, untuk betul-betul mewujudkan anggaran 20 persen bagi kemajuan pendidikan, menurutnya, perlu "pembersihan" dari pengelola pendidikan itu sendiri, khususnya dari praktek-praktek politik praktis. Anita Lie mengaku khawatir, jika anggaran negara untuk pendidikan sebesar 20 persen betul-betul diwujudkan hanya akan terjadi pemborosan.

"Sekarang ini yang mestinya digarap dulu adalah desain atau `blue print`, sehingga penggunaan anggaran yang 20 persen itu jelas dan bukan hanya pemborosan," katanya. Namun, yang lebih lagi adalah, “Komitmen untuk menjadikan pendidikan sebagai lokomotif perubahan. Itu yang paling mendasar," ucapnya, menegaskan.

Dia mengakui, dalam dimensi kultural, kesadaran publik sangatlah berperan bagi tumbuhnya pendidikan. “Tetapi yang harus kita kritisi adalah partisipasi masyarakat menghadapi hegemoni negara dan kekuatan pasar, karena terjadi perubahan sosial politik pada partisipasi masyarakat itu sendiri yang semula bagus menjadi vakum,” katanya.

Persoalan Ujian Nasional (UN) sebagai salah satu kebijakan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) juga tak luput dari sasaran kritik dari salah satu tokoh pendidikan ini. “Masih banyak sekali kerancuan-kerancuan dalam kebijakan UN tersebut, termasuk juga dalam pelaksanaannya,” tutur ibu satu anak ini.

Terlahir untuk Mendidik

Anita Lie adalah seorang Doktor Pendidikan yang juga tengah menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Pendidikan Jawa Timur. Dari tangannya yang gemulai, telah lahir sejumlah buku cerita anak-anak, buku-buku dan artikel-artikel pendidikan. Kredibelitas Anita sebagai pakar pendidikan serta narasumber pada berbagai pelatihan guru.

Ia mendapatkan gelar Master of Arts dalam bidang Sastra Inggris dan Doktor Pendidikan dalam bidang kurikulum dan pengajaran dari Baylor University. Sebelumnya, ia dikenal sebagai dosem di program Sastra Inggris Universitas Kristen Petra, Surabaya, Jawa Timur, dari 1987 sampai 2001. Karier akademiknya sebagai Dekan Fakultas Sastra dipangku mulai dari 1999 sampai 2002.

Enam tahun sebelumnya, ia sempat menjadi dosen terbang di sejumlah negara di Asia, seperti di Singapura, Jepang, Korea, Taiwan, Filipina, Brunei Darussalam, Thailand, dan Malaysia. Dia pernah menjadi dosen tamu di beberapa universitas ternama, di antaranya Yonsei University di Korea, Kwansei Gakuin dan Momoyama Gakuin di Japan, Fu Jen University dan Soo Chow University di Taiwan, Chinese University dan Lingnan University di Hong Kong, Assumption University dan Chulalongkorn University di Thailand, Ateneo de Manila University dan De La Salle University di Filipina, dan University of Brunei Darussalam di Brunei, dan Universiti Putra Malaysia dan Univiersiti Kebangsaan Malaysia.

Ia seperti dilahirkan untuk mengabdi di dunia pendidikan. Pengabdiannya pada pendidikan dibuktikannya dengan sejumlah penghargaan, di antaranya penghargaan The Rotary International Ambassador of Good Will, PEO, dan ACUCA Fellowship. Pada 2000 dia memperoleh penghargaan SEAMEO Jasper Fellowship untuk kategori penelitian terbaik dari pemerintah Kanada, untuk penelitiannya dalam bidang kurikulum bahasa Inggris di Indonesia.

Sejak meletakkan jabatan akademiknya di Universitas Kristen Petra, bukan berarti komitmennya pada dunia pendidikan luntur begitu saja. Saat ini, wanita yang pernah mengajar Curriculum Design and Implementation di SEAMEO RELC, Singapura, ini berkarya sebagai anggota Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID), Direktur EduBusiness Consulting, Heritage Language School, dan dosen luar biasa Universitas Katolik Widya Mandala. Dia juga masih aktif berkarya di pelbagai lembaga pendidikan, seperti anggota Dewan Pakar Propinsi Jawa Timur dan Sekretaris Jenderal Dewan Pendidikan Propinsi Jawa Timur untuk periode 2003-2008.

Menyiapkan Pendidik Terlatih

Hingga sekarang pun, kesibukan Anita tak lepas dari dunia pendidikan. Bahkan, ia ibarat dokter bedah yang dengan sigapnya membedah dan menelaah pelbagai kekurangan di sektor strategis ini, termasuk peningkatan kualitas tenaga pendidiknya.

Tempo hari, ia menjadi salah satu tim fasilitator sekaligus pembicara dalam Program Pelatihan Guru di daerah Riau, Sumatera Utara, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Bersama Yayasan Tanoto, yang didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto, ia melatih sekitar 40 tenaga pendidik sekolah dasar dan menengah terpilih hingga sepekan penuh.

Macam-macam materinya. “Kami ajarkan metodologi pembelajaran itu bagaimana, pengelolaan kelas, mengajar matematika/ sains dengan menarik itu bagaimana, mengajar bahasa dan IPS dengan menarik bagaimana,” kata Anita, dengan penuh antusias. Agar lebih efektif, program pelatihan tersebut juga mengikutsertakan sejumlah alat peraga yang kreatif inovatif.

Apa sih yang akan Anda rubah? Saat ditanya demikian, Anita dengan sigapnya menjawab, “Pendidikan. Sebab, kalau dilihat dari segi kompetensinya, secara umum guru-guru kita masih parah. Guru-guru muda itu banyak yang cerdas, tapi mereka banyak yang masih menggunakan ejaan lama.” Kali ini wajahnya menyiratkan keseriusan sekaligus keprihatinan mendalam. Sebuah ironi di tengah modernitas yang mengguncang Indonesia.

Sebagai “dokter” pendidikan yang bergerak di wilayah informal, Anita terpanggil untuk melakukan sebuah langkah yang disebutnya proses penguatan dan pemberdayaan. Di satu sisi, ia sadar akan keterbatasan kekuatan yang dimilikinya sebagai pekerja sosial. Tidak ada yang namanya power untuk melahirkan sebuah kebijakan. “Tapi, di sisi lain, saya percaya, tidak semuanya harus dilakukan dari sisi pemerintah,” tuturnya.

Tanpa kenal lelah, ia mengunjungi satu kota ke kota lainnya di pelosok negeri untuk menyelenggarakan pelatihan ini. Melalui kegiatan sejenis, Anita berharap agar peserta nantinya dapat memiliki pemahaman konsep-konsep, paradigma, dan best practise untuk selanjutnya mengembangkan kompetensi dan profesionalisme mereka serta menjadi agen perubahan dan membawa multiplier effect bagi guru-guru yang lain.

Tak hanya memberikan pelatihan bagi, Anita secara rutin mengunjungi sekolah-sekolah dimana para guru itu bertugas. “Saya bisa melihat bagaimana mereka mengimplementasikan apa yang sudah mereka dapatkan,” kata Anita, dengan senyum berkembang.

Anak didik juga tak lepas dari perhatiannya. Setiap kali bertandang, ia biasanya menyapa anak-anak sekolah, menanyakan kelas berapa, berikut sejumlah pertanyaan untuk mengetes kemampuan intelegensia sang anak. “Waktu tanya anak ini kelas berapa, saya kan tahu kurikulum SD ini, Misalnya kelas empat ini sudah pecahan dan segala macam ya. Kalau kelas dua kelas tiga pembagian perkalian, saya tes. Saya tanya itu untuk mengetahui standar kompetensi di daerah,” ucapnya, panjang lebar. Di luar ataupun di dalam kelas, Anita begitu mudahnya akrab dengan mereka.

Tanpa sungkan, ia bahkan acapkali masuk ke kelas saat pelajaran berlangsung. Kali ini, yang menjadi sasaran pengintaiannya adalah guru. “Saya duduk di belakang. Saya observasi guru ini bagaimana mengajarnya, interaksi dengan anak bagaimana,” tuturnya, lagi.

Melalui peran kecilnya ini, Anita tak serta merta menargetkan hal yang muluk-muluk. Apalagi, sampai menyelesaikan satu demi satu persoalan di bidang pendidikan. Dengan penuh optimisme, ia berucap, “Saya tidak mennargetken semua masalah ini akan sudah ada solusinya dan beres. Tapi peran Tanoto, guru-guru, dan peran kami sebagai fasilitator ini pasti ada sebagian dari permasalahan ini yang bisa diselesaikan.”

Kendati sebuah peran kecil, Anita tentu saja telah banyak berkorban untuk hal ini. Ia mengaku begitu disibukkan dengan kegiatan ini, apalagi sampai dengan serangkaian roadshow ke pelbagai daerah. “Kegiatan seperti ini seperti tidak ada hentinya. Tapi, saya tetap menikmatinya,” kata perempuan berusia 42 tahun ini.

Bagaimana dengan waktu bersama keluarga? Wajah Anita tak beriak sedikitpun. Beberapa detik kemudian, bibirnya membentuk sebaris senyum. “Untuk acara keluarga, kami campin. Kebetulan kami bertiga suka kegiatan outdoor. Dulu, ia begitu gemar mendaki gunung. Belakangan, kesenangannnya ini mesti takluk oleh usianya yang terus bertambah. “Sekarang, masih aktif berenang seminggu tiga kali,” katanya, tetap dengan wajah penuh semangat.

Ketika waktu bersantai bersama keluarga telah lewat, ia kembali sibuk dengan rutinitasnya yang padat. Dalam angannya, terbayang sebuah masyarakat yang tengah menuju kehidupan yang lebih bersih dan sehat. Sebuah proses pendidikan anak bangsa yang tidak tercemari.