Tampilkan postingan dengan label Korporat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korporat. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 23, 2010

Penerapan GCG, Mencari Model untuk Indonesia

Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa Barat dianggap mengadopsi model corporate governance yang berbeda-beda. Model apa yang cocok diterapkan di Indonesia?

Berawal dari ambruknya sejumlah perusahaan besar di Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu, penerapan good corporate governance seperti mendapat momentum kembali. Agar kasus serupa tidak terulang, pada 2002 pemerintah federal AS menerbitkan Sarbanes-Oxley Act (SOA) yang dimaksudkan untuk memperketat kontrol dan audit terhadap perusahaan. Ketentuan SOA, seperti dikutip dari situs BPKP Indonesia, merupakan perangkat perusahaan untuk menciptakan tata kelola perusahaan yang baik dan transparan. Ketentuan mengenai aturan kontrol itu menggunakan framework yang disusun oleh Comitte of Sponsoring Treadway Organization Comission (COSO).

Di Indonesia, konsep good corporate governance pun menyeruak di kalangan usaha, terutama pada badan-badan usaha milik pemerintah. Isu korupsi yang menjadi tema negatif selama bertahun-tahun dikhawatirkan bisa mengganggu performa perusahaan-perusahaan negara yang telah go public. Konsep ini pun menjelma menjadi ajimat baru bagi kesehatan dan keberlangsungan perusahaan.

Lihat saja perkembangan Telkom belakangan ini. Menurut Direktur Utama PT. Telkom Indonesia Tbk, Rinaldi Firmansyah, Telkom masih eksis dikarenakan prinsip good corporate governance telah menjadi fondasi perusahaan. ”Itu seperti pembuluh darah,” katanya. Terbukti, di tengah kompetisi industri telekomunikasi yang begitu ketat, Telkom mampu bersaing karena menerapkan kesehatan, transparansi, dan akuntabilitas perusahaan.

Jika dikaitkan dengan struktur kepemilikan dalam perusahaan, menurut H. Sri Sulistyanto, Dosen Fakultas Ekonomi yang juga peneliti dari Universitas Soegijapranata, Semarang, Jawa Tengah, penerapan prinsip good corporate governance selalu memunculkan paradoks. Teori menyatakan, untuk mengurangi masalah agensi adalah dengan “mekanisme pemegang saham besar” (large outside shareholder). ”Kenyataan yang terjadi di lapangan justru menunjukkan hal tersebut membuat akses dan kontrol pemegang saham mayoritas terhadap manajemen perusahaan menjadi tak terbatas, yang pada akhirnya hanya merugikan pemegang saham minoritasnya,” katanya.

Contoh lain yang dikemukakan Sulistyanto adalah mekanisme employ stock option program (ESOP) yang sebenarnya didesain agar terjadi kepemilikan manajerial (managerial ownership) dalam perusahaan. Kepemilihan manajerial, lanjutnya, secara konseptual diharapkan membuat terciptanya corporate of ownership. Dalam posisi ini, manajemen tidak lagi hanya sebagai bertindak pengelola perusahaan (agent), namun juga berperan sebagai pemilik perusahaan (principal). Peran ganda ini, kata Sulistyanto, diharapkan dapat membuat menajemen perusahaan mau bekerja lebih baik dan lebih keras karena perusahaan yang dipegangnya bukan lagi milik orang lain, namun juga miliknya sendiri.

Kenyataannya, ia menilai, konsep “mulai” ini ternyata justru dimanfaatkan manajer perusahaan untuk kepentingan pribadinya. Seperti dalam kasus Enron yang terjadi di AS, setelah menerima ESOP, perusahaan memang meningkat kinerjanya. Tapi peningkatan kinerja tersebut ternyata merupakan hasil rekayasa untuk mendongkrak harga pasar saham perusahaan tersebut. Kemudian pada saat harga saham mencapai puncaknya (windows of opportunity), manajemen Enron mengeksekusi saham opsinya.

Namun, Komisaris Utama PT Telkom Tbk. Tanri Abeng, memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, konsep good corporate governance menjadikan sistem sebagai panglima. Semua orang termasuk pemegang saham harus tunduk kepada sistem. ”Karena itu, yang paling berkepentingan dengan tata kelola yang baik itu harusnya datang dari pemegang saham. Sebab, Kalau konsep ini berjalan sempurna, maka pemegang saham tidur saja kan. Jadi, itu suatu yang otomatis,” katanya.

Selama ini, AS menerapkan model one board system dalam membangun tata kelola usahanya. ”Dalam one board system ini, direksi dan komisaris menjadi satu, karena memang mereka bertanggung jawab bersama untuk memformulasikan rencana strategis perusahaan,” katanya. Bahkan, lanjut Tanri, sinergi ini memungkinkan terjadinya share responsibility dan ownership sebagai acuan.

Kalau diinterpretasi secara sempit, Tanri menambahkan, governance mengatur fungsi komisaris dan direksi secara berbeda. “Tapi, kalau saya mengangkat pengertian yang lebih luas, adalah kristalisasi dari jiwa one board system yang berlaku di AS,” katanya. Karena itu, lanjutnya, tugas komisaris tidak hanya menyetujui atau mengawasi, tapi juga bersama direksi melakukan sinergi positif membangun suatu kebersamaan agar badan usaha itu tumbuh dan berkembang.

Sejauh ini, penerapan model corporate governance di berbagai belahan dunia, seperti AS, Jepang, dan Eropa Barat dianggap mengadopsi model yang berbeda-beda. Menurut Sulistyanto, hal ini disebabkan oleh perbedaan tipe pasar modal dan bisnis yang berkembang. Oleh karena itu, lanjutnya, praktik bisnis setempat (practice based approach) juga mesti dijadikan pertimbangan dalam mengadopsi sebuah model. ”Perbedaan budaya, sistem perekonomian, sistem politik dan pemerintahan, dan sebagainya memang membuat business culture Indonesia berbeda dengan negara lain,” tuturnya.

Namun, lanjutnya, Indonesia sejauh ini banyak mengadopsi model dari AS, termasuk perekonomian, bisnis, pasar modal, bahkan akuntansinya. ”Maka lebih tepat jika GCG yang dipakai di Indonesia juga mengadopsi model AS,” kata Sulistyanto, menambahkan. Kendati demikian, ia menegaskan, setiap negara tetap mempunyai keunikan sendiri, yang membuat satu negara berbeda dengan negara lain, baik budaya, sistem perekonomian, sistem politik dan pemerintahan, dan sebagainya.

Perkembangan budaya, sistem perekonomian, maupun sistem politik dan pemerintahan telah mempengaruhi corporate culture perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. ”Mengingat bahwa budaya, sistem perekonomian maupun dinamika bisnis, sistem politik dan pemerintahan antara Indonesia dan AS berbeda, maka bisa dimengerti jika corporate culture dunia usahanya juga berbeda,” ujarnya. Dampaknya, penerapan good corporate governance di Indonesia memerlukan kekhasan dan tidak mungkin sama dengan model yang diterapkan di negara lain.

Senin, Februari 22, 2010

Lemahnya Perlindungan terhadap Data Pribadi

Dering ponsel menyela acara makan siang Hery Artono. Wirausahawan di bidang alat mesin pertanian ini buru-buru meraih ponsel di hadapan. “Halo,” katanya, dengan nada berat. Lama ia terdiam, sambil mendengarkan suara di seberang. “Oh, tidak Mbak. Lain kali saja. Terima kasih ya,” katanya, sambil buru-buru menutup panggilan.

Kepada para relasinya, pria asal Semarang, Jawa Tengah ini lantas bercerita mengenai asal-usul panggilan tadi. Rupanya, tawaran berbagai pihak yang mengatasnamakan bank penerbit kartu kredit yang dimilikinya telah mengusik ketenangannya. Mulai dari Kredit Tanpa Agunan (KTA), asuransi, paket wisata, hingga produk komersial lainnya. “Bukan sekali ini saja, tapi berkali-kali. Ini sangat mengganggu,” ujarnya lagi.

Herry Artono tak sendirian. Nasib yang lebih tragis menimpa Beatrice Pangestu, karyawan swasta di Surabaya, Jawa Timur. Sebulan setelah aplikasi kartu kreditnya disetujui sebuah bank asing, ia mendapat telepon yang mengaku dari bank penerbit kartu kredit untuk melakukan konfirmasi atas kartu kredit yang ia terima. Tanpa curiga, Beatrice pun memberikan nomor kartu berikut expiry date-nya. “Karena saya yakin orang tersebut dari bank penerbit kartu kredit karena mengetahui identitas pribadi saya,” katanya.

Kemudian, orang tersebut mengatakan bahwa dirinya mendapatkan free 3 voucher dari Grand Hyatt Hotel. Rasa senang menyelinap bilik hati Beatrice. Namun, belum hilang rasa senang ini, ternyata di akhir pembicaraan orang tersebut menyebutkan jumlah yang harus ia bayar dan langsung didebet otomatis dari kartu kredit Beatrice, sebesar Rp 3.687.900.

“Saya sangat terkejut dan langsung menelepon card center untuk melakukan pemblokiran terhadap kartu kredit saya,” katanya. Nasi sudah menjadi bubur. Ternyata kartu kredit yang ia miliki sudah melakukan transaksi berupa debit sejumlah nominal di atas oleh pihak penelpon. Pihak penerbit pun tak dapat melakukan pembatalan transaksi tersebut. Yang lebih menyesakkan, pihak penerbit mengakui tak tahu menahu dan tak pernah melakukan kerja sama apapun dengan penelpon.

Pengalaman seperti ini boleh jadi menimpa Anda atau siapapun yang pernah melakukan transaksi atau memberikan data pribadi kepada perusahaan yang membutuhkan. Peristiwa ini menunjukkan, posisi individu di hadapan entitas bisnis seringkali tidak kuat. Sebagai contoh, seseorang yang mengajukan aplikasi kartu kredit diharuskan untuk mengisi formulir yang disediakan oleh lembaga keuangan yang mengeluarkan kartu tersebut. Nyaris seluruh data penting yang berkaitan dengan orang tersebut wajib diberikan, atau ia kehilangan kesempatan untuk memperoleh kartu kredit.

Kewajiban menyerahkan data pribadi, yang menyangkut banyak aspek kehidupan dan perjalanan hidup seseorang dan bahkan keluarganya, telah menjadikan individu tawanan sistem. Data pribadi harus diserahkan untuk kebutuhan apapun, mulai dari mengajukan kredit rumah, melamar pekerjaan, mengambil hasil undian, dan sebagainya.

Sebaliknya, seakan tidak ada kewajiban dari pihak yang menghimpun data pribadi tersebut untuk menjaga kerahasiaannya, dalam pengertian hanya menggunakannya untuk kepentingan seperti yang telah disepakati. Sering terjadi, data pribadi itu diteruskan kepada pihak lain tanpa seizin pribadi yang bersangkutan. Misalnya, bagaimana sebuah perusahaan bisa menawarkan produk atau jasanya kepada seseorang dengan mengirim surat ke alamat rumah padahal nama dan alamat yang bersangkutan tidak tercantum di buku telepon.

Menurut catatan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), belakangan ini pengaduan soal adanya telepon yang menawarkan beragam produk mulai marak. “Maraknya kejahatan melalui SMS (short message service), undian berhadiah, hingga melalui surat atau dokumen yang seolah-olah resmi, karena pelaku usaha tidak bisa mem-protect atau melindungi data-data milik konsumen,” kata Anggota Pengurus Harian YLKI, Sudaryatmo.

Secara kelembagaan, YLKI juga mengeluhkan masih lemahnya perlindungan terhadap data pribadi yang diterapkan instansi pemerintah maupun badan usaha. Kondisi ini rawan menimbulkan tindak kejahatan, di mana yang menanggung akibatnya konsumen atau masyarakat luas. Apalagi, lanjut Sudaryatmo, kasus-kasus ini akan terus terjadi selama pemerintah belum bisa memberikan perlindungan data pribadi secara optimal serta menyediakan perangkat hukum yang bisa menimbulkan efek jera terhadap pelaku maupun instansi yang ceroboh.

Merespon adanya keluhan masyarakat ini, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) bekerja sama dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) tengah menyiapkan RUU Perlindungan Data dan Informasi Pribadi (RUU PDIP). Kendati hanya pengatur pejabat publik, RUU ini dimaksudkan agar perusahaan peminta data pribadi bertanggung jawab menyimpan kerahasiaan data pribadi masyarakat atau konsumennya.

Namun, pengamat telematika Onno W. Purbo menjelaskan, kerahasiaan data pribadi ini sudah diproteksi oleh UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Pasal 26. Pasal ini menjelaskan antara lain, penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan orang yang bersangkutan.

Pasal ini juga mengatur, orang yang dilanggar haknya pun dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan UU ini. “Jadi, perusahaan yang meminta data kita hanya bisa menyerahkan ke pihak lain jika ada ijin tertulis dari kita yang memiliki data. Secara etik,, perusahaan tersebut harus bertanggung jawab untuk melindungi data kita,” kata Onno, menjelaskan.

Telaah mengenai kasus ini tidak dimaksudkan untuk memperkeruh persoalan, termasuk mencari-cari kesalahan pihak manapun. Diskusi lebih diarahkan pada apa dan bagaimana seharusnya perusahaan maupun konsumen maupun masyarakat luas memperlakukan data-data pribadinya secara cermat dan tahu data apa yang bisa dipublikasikan atau tidak.

***

Onno W. Purbo

Pakar Telematika

“Manajemen Indonesia Harus Belajar Banyak”

Secara etis, data dan informasi yang diberikan oleh nasabah atau masyarakat kepada perusahaan yang meminta data pribadi hanya untuk keperluan perusahaan yang bersangkutan dan hanya untuk kepentingan tertentu seperti yang diinginkan pemberi data. Biasanya untuk authentikasi atau billing. Dan, perusahaan penerima data tidak boleh mempublikasikan atau menjual data pribadi nasabah atau konsumen ke pihak ketiga.

Kalau memakai media elektronik, ada sedikit proteksi dari UU ITE. Pasal 26 menjelaskan, (1) Kecuali ditentukan lain oleh Peraturan Perundang-undangan, penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan. (2) Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang-Undang ini.

Saya bukan orang hukum, jadi saya mungkin saja salah. Namun, kalau transaksi memakai media elektonik, maka UU ITE Pasal 26, seperti saya sebut di atas bisa dipakai. Memang data diambil oleh bank atau perusahaan telekomunikasi dan bisa saja dijual kepada siapapun atau merchant manapun. Misalnya yang sering kejadian untuk dikirimi katalog setiap bulan biar kita tertarik untuk belanja.

secara etika, kita berhak untuk meng-update data, berhak supaya data tersebut tidak dipublikasikan. Perusahaan juga tidak boleh meng-copy-kan atau menjual ke pihak ketiga tanpa seizin pemilik data. Kalau merasa terganggu kita bisa menggugat pakai UU ITE Pasal 26. Sebab, tindakan menyerahkan data kepada pihak lain itu tidak dapat ditoleransi.

Kalau mengacu ke UU ITE Pasal 26, perusahaan yang meminta data kita hanya bisa menyerahkan ke pihak lain jika ada ijin tertulis dari kita yang memiliki data. Perusahaan harus bertanggung jawab untuk tidak menyerbarluaskan data tersebut.

Tindakan maupun langkah legal yang dapat dilakukan seorang konsumen yang datanya diserahkan kepada pihak lain juga sudah diatur dalam UU ITE Pasal 38 dan 39. Apabila pemilik data merasa dirugikan dan dapat membuktikan kerugian yang dialaminya, maka ia dapat mengajukan gugatan kepada pihak yang menyelenggarakan Sistem Elektronik dan/atau menggunakan Teknologi Informasi yang menimbulkan kerugian.

Pasal ini juga mengatur, masyarakat dapat mengajukan gugatan secara perwakilan terhadap pihak yang menyelenggarakan Sistem Elektronik dan/atau menggunakan Teknologi Informasi yang berakibat merugikan masyarakat, sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Dari sisi perlindungan data individu, semua data pelanggan atau individu adalah amanat. Jangan sampai perusahaan menyepelekan amanat yang diberikan masyarakat. Sebab, sering kali manajemen menganggap sepele keamanan data. Contoh yang paling sederhana, banyak orang (manajer) memberikan password ke anak buahnya supaya memudahkan pekerjaan dia. Padahal otoritas seorang manajer dengan anak buahnya berbeda, sehingga akibatnya bisa fatal sekali.

Secara prosedural, harus dibuat prosedur pengumpulan data minimal yang tidak melanggar privacy seseorang, tapi tidak melanggar hukum jangan sampai sembarangan orang data mengakses database. Kalau pun ada yang mengakses database data tersebut sebaiknya di-log atau dicatat siapa, kapan, serta apa yang diakses supaya sewaktu-waktu terjadi masalah kita dapat dengan mudah melacak

Yang mungkin juga penting, proteksi sistem pengiriman data maupun server sebaiknya mengikuti standar atau konsensus network security yang berlaku supaya tidak sembarangan orang dapat melihat data yang ada. Karena itu, manajemen di Indonesia masih harus banyak belajar prosedur proteksi data dan informasi berkaitan dengan komputer, karena ini menjadi fatal di dunia yang serba maya.

***

Sudaryatmo

Anggota Pengurus Harian YLKI

“Masuk Ranah Legal”

Banyak yang mulai terganggu dan mengeluh dengan adanya pembocoran data pribadi ini. Ada beberapa konsumen yang merasa tidak memberikan data, namun tiba-tiba ditawari produk yang sebetulnya tidak dibutuhkan mereka. Padahal, konsumen tak pernah memberi mandat pada perusahaan untuk menyebarkan data pribadi dia kepada pihak lain.

Yang jadi masalah, bank atau perusahaan penerima data pribadi menggaransi tidak akan membocorkan data. Tapi, perusahaan mengaku tidak bisa mengontrol perusahaan kurir untuk meng-copy data, walaupun hanya alamat. Dulu, data kelompok masyarakat pengguna kartu kredit itu bisa diperjualbelikan. Artinya, dari sisi nama dan alamat saja jadi ladang bisnis. Apalagi kalau sampai ke soal kinerja, track record, performance pembayaran, sehingga layak ditawari berbagai macam produk.

Dalam konteks industri, perbankan dibangun berdasarkan trust. Bank menjamin data tidak dibocorkan. Kalau nasabah tidak lagi percaya pada bank, sebetulnya bank itu sudah habis. Namun, saya yakin bahwa kalangan industri perbankan tidak akan menyalahgunakan trust konsumennya.

Kaitannya dengan rejim kerahasiaan bank, dulu memang masih ada perdebatan, sampai batas mana rahasia bank. Dengan UU baru, menjadi jelas apa yang harus di-cover bank serta mana yang data yang boleh dipublikasikan. Kalau seperti tabungan, bank tak boleh mempublikasikan. Beda kalau kewajiban, seperti hutang, boleh diumumkan, dalam rangka supaya nasabah mau menunaikan kewajibannya.

Walaupun demikian, hak sebagai pribadi setelah memberikan data untuk mendapatkan jaminan atas perlindungan kerahasiaan data. Kalau kita bisa membuktikan bahwa perusahaan yang meminta data membocorkan atau bahkan menjualbelikan data pribadi dan berdampak pada kerugian pada pemilik data, pemilik data berhak menuntut.

Tindakan menyerahkan data ke pihak ketiga sudah masuk ranah legal. Ketika kita mengisi formulir kredit pemilikan rumah, bank tak punya kewajiban untuk mengembalikan data yang diminta, tapi bukan berarti konsumen memberikan hak pada perusahaan untuk menyebarluaskan datanya.

Tuntutan ke arah legal action juga bisa dilakukan apabila terbukti pembocoran data ini merugikan nasabah. Memang kalau kita bicara dalam konteks legal, kita menggunakan acuan UU yang sifatnya umum, pidana atau perdata. Ada yang menggunakan yang sifatnya khusus, seperti UU perlindungan data pribadi. Konsumen bisa menuntut perusahaan secara perdata maupun pidana kepada pihak yang membocorkan data pribadi kepada pihak ketiga.

Mestinya perlindungan terhadap data diberikan perusahaan, sehingga bisa meyakinkan konsumen bahwa sistem yang diterapkan berlapis sehingga tak mungkin data dicuri atau dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Tapi, sistem apapun, di belakangnya kan ada orang, sehingga tak bisa dipegang. Kasus yang terungkap, seperti kloning kartu kredit, selalu melibatkan orang dalam, karena dia tahu sistemnya.

Sanksi yang dapat diberikan pada perusahaan yang memberikan data pribadi ke pihak ketiga, bisa beragam. Dalam konteks administrasi, kalau perusahaan bisa dibuktikan telah membocorkan data nasabah, otoritas bank sentral yang bisa menjatuhkan sanksi, bahwa perusahaan itu telah melanggar prinsip good corporate governance.

Dari aspek perdata, perilaku ini dapat menimbulkan kerugian karena pihak bank melakukan pelanggaran terhadap hak subyektif pemilik data. Dia telah menggunakan data, menyebarluaskan, atau menjual data tanpa ijin pemilik data. Gugatan ini bisa disampaikan ke peradilan umum dan nasabah berhak mendapatkan ganti rugi.

Kasus ini menyangkut relasi, interaksi, hubungan antara pribadi dengan lembaga bisnis, memang harus ada aturan yang spesifik. Di sini kita mendesak adanya UU Perlindungan Data Pribadi, untuk melindungi para pemilik data. Bagi pemilik data, harus ada kejelasan mengenai apa yang boleh dan tak boleh dilakukan. Sampai berapa jauh dia membuka data pribadi.

Muhamad Ismail Thalib
Direktur PT Zahir Accounting

“Posisi Konsumen Lemah”

Pihak perusahaan sebagai peminta data konsumen hendaknya hanya menggunakan data tersebut untuk keperluan kelengkapan data transaksi yang terhubung antara perusahaan tersebut dengan konsumen. Data yang dimintapun hendaknya hanya data-data yang benar-benar diperlukan dan terkait dengan transaksi.

Di samping itu, konsumen yang dimintai data mempunyai hak untuk mendapatkan jaminan bahwa data-data yang diberikan hanya dipergunakan untuk keperluan pelayanan dengan perusahaan yang bersangkutan. Dengan kata lain, seharusnya pemilik data mendapatkan perlindungan bahwa data-data yang diberikan tidak dipergunakan oleh perusahaan lain, ataupun bagian lain meski satu grup usaha.

Apalagi data tersebut diperlakukan sebagai data calon target pemasaran dari perusahaan lain yang terhubung baik secara langsung atau tidak langsung dengan perusahaan pertama di mana konsumen menyerahkan datanya. Sebab, dari sisi etis, tindakan menyerahkan data kepada pihak lain sama sekali tidak dibenarkan.

Sejauh pemahaman kami, tidak ada Undang-Undang yang memperbolehkan perusahaan yang meminta data kita menyerahkan ke pihak lain. Lebih spesifik lagi, Indonesia belum memiliki Undang-Undang yang secara khusus menjamin kerahasiaan data konsumen. Undang-Undang yang di negara lain lazim disebut UU PDP (Personal Data Protection) semestinya menjadi perhatian khusus dari pemerintah.

Karena belum ada UU yang secara khusus mengatur PDP tersebut, maka perusahaan yang menyebarkan data konsumen itu bisa lepas dari tanggungjawab. Mereka bisa saya dengan sesuka hati menyebarluaskan data pribadi, termasuk data yang sifatnya privacy sekalipun.

Padahal, dari sisi perlindungan data individu, yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan yang meminta data adalah memastikan dan menjamin bahwa data tersebut tidak disalahgunakan selian kepentingan transaksi yang berkaitan. Bahkan tidak dipergunakan untuk kepentingan marketing produk lain dari perusahaan yang sama. Perusahaan mesti punya itikad baik dalam keamanan data konsumen.

Jika penyebarluasan data pribadi ini sudah terjadi, tindakan yang dapat dilakukan seorang konsumen yang datanya diserahkan kepada pihak lain adalah meminta bantuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Upaya hukum pastinya bisa dilakukan. Namun, posisi konsumen akan sangat lemah karena tidak adanya sanksi hukum yang jelas dan tegas yang mengikat perusahaan yang menyebarkan data tersebut.

Berkaitan dengan sistem penyimpanan data, proteksi dan keamanan data, suatu sistem yang mengatur jaminan keamanan data konsumen mesti diciptakan agar kepercayaan konsumen kepada perusahaan bisa meningkat. Dalam hal kasus pertukaran data konsumen di kalangan perusahaan kartu kredit membuat kepercayaan konsumen kepada perusahaan penyedia kartu
kredit di Indonesia akhir-akhir ini menjadi menurun.


PT Semen Gresik (Persero) Tbk: Kinerja Handal, Prestasi Maksimal

Perusahaan mencatat pertumbuhan yang luar biasa dalam setahun terakhir.

Menjadi perusahaan publik yang mampu meneguk keuntungan berlipat justru di saat sulit merupakan kebanggaan tersendiri. Begitulah dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Perusahaan semen terdepan di Indonesia ini mampu mencatat kenaikan laba bersih sebesar 42,1% senilai Rp 2,5 triliun di tahun buku 2008. Laba ini melonjak secara signifkan dibanding tahun sebelumnya senilai Rp1,7 triliun. Kinerja di bidang keuangan lainnya pun mengagumkan. Earning before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) Semen Gresik mencapai Rp 3,9 triliun atau meningkat 35,8% dibanding tahun sebelumnya.

Dengan kondisi ini, keuangan Semen Gresik berada dalam posisi yang kuat, dengan cashflow yang sangat bagus dan fondasi keuangan yang begitu kuat. ”Komitmen kami terhadap prudent management, membuat Perseroan mampu mempertahankan kinerja perusahaan di saat krisis ekonomi sekaligus mempersiapkan diri untuk memenuhi potensi pertumbuhan konsumsi semen domestik ke depan,” Direktur Utama PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Dwi Soetjipto.

Capaian dalam setahun terakhir, menurut Dwi Soetjipto, Semen Gresik juga mencatat peningkatan volume penjualan sebesar 4,2% menjadi 17,7 juta ton dengan total nilai pendapatan sebesar Rp 12,2 triliun. Laba operasi juga mengalami peningkatan sebesar 41,3% menjadi Rp 3,4 triliun. Nilai harga saham dasar (Earning per Share) turut mencatat peningkatan hingga 42,4% menjadi Rp 426 per saham, melebihi target pasar yang memprediksi nilai harga saham dasar yang berkisar pada Rp 355 per saham.

Dampak krisis ekonomi global yang melanda Indonesia di pertengahan tahun 2008 sempat dirasakan Semen Gresik pada semester pertama 2009, yang mengakibatkan turunnya konsumsi semen domestik hingga minus 7%. Kendati demikian, Dwi memastikan bahwa Perseroan hanya mengalami minus 3%, dengan penurunan penjualan domestik sebesar 2,0% atau menjadi 3,78 juta ton. Lebih dari itu, Perseroan juga mampu meningkatkan kinerja dengan mencatat laba operasi sebesar Rp 704 miliar atau meningkat 23%.

Sampai saat ini, PT Semen Gresik bersama PT Semen Tonasa dan PT Semen Padang, memimpin pasar industri semen domestik dengan pangsa pasar sekitar 45%. Sinergi tiga perusahaan dan tiga merek di bawah naungan Semen Gresik Group (SGG) ini merajalela di pasar utama nusantara, mulai dari Pulau Jawa, Pulau Sumatera, dan Pulau Sulawesi. Dengan mensinergikan tiga merek yang kuat di bawah satu induk perusahaan, SGG menjelma menjadi produsen terbesar di industri semen domestik, dengan kapasitas mencapai 18 juta ton per tahun.

Diakui Dwi, panggilan kecil Dwi Soetjipto, sinergi tiga merek di bawah satu induk perusahaan ini memang menjadi salah satu keunggulan Perseroan. Masing-masing perusahaan memiliki basis pelanggan yang kuat dan loyal, mencakup beberapa segmen utama pasar semen domestik. ”Perseroan adalah pemain domestik yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sehingga memberikan peluang untuk meningkatkan efisiensi operasi,” lanjutnya.

***

Berkah dari Inovasi Tanpa Henti

Pertumbuhan signifikan yang didapat dalam setahun terakhir tak lepas dari sinergi dan inovasi yang dilakukan perusahaan

Tidak ada yang menafikan inovasi sebagai kunci utama dalam mendulang sukses. Babakan sejarah membuktikan, isu perubahaan maupun inovasi yang senantiasa digelorakan menjadi kekuatan dalam merengkuh keberhasilan dalam menggaet pasar. Sebagai bukti nyata, keberhasilan yang diraih PT Semen Gresik (Persero) Tbk. menunjukkan bahwa inovasi dan isu perubahan mutlak diperlukan guna menyongsong keberhasilan yang diinginkan.

Setelah membukukan keuntungan laba bersih senilai Rp 2,5 triliun di tahun buku 2008, naik sebesar 42,1% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1,7 triliun, perusahaan bertekad untuk mempertahankan keberhasilan ini di masa-masa mendatang. Untuk mempertahankan pangsa pasar dan posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terdepan di Indonesia, Semen Gresik mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu. Misalnya dengan melakukan inovasi di berbagai sektor, khususnya yang berkaitan langsung dengan konsumen.

Berkenaan dengan produk dan layanan konsumen, sejumlah upaya terus dilakukan perusahaan untuk mencapai target perusahaan. Mulai dari menjaga kualitas produksi, menjamin pasokan, menetapkan harga bersaing, hingga after sales service. Dalam menjaga kualitas produksi, perusahaan menetapkan agar produk Semen Gresik memiliki kualitas lebih baik dari pesaing.

Layanan purna jual juga terus ditingkatkan. ”Kalau dulu kita berpikir, semen begitu lepas dari tangan kita, dianggap tugas selesai, maka sekarang kami berkomitmen untuk membuka layanan selama 1x24 jam,” kata Dirut PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Dwi Soetjipto. Kalau semen yang diterima mengecewakan, perusahaan akan menggantinya dengan yang baru. Begitu juga dengan aplikasi yang menemui ada masalah. ”Kita akan cari sebabnya. Kita menyiapkan tim untuk itu semua,” ujar Dwi.

Saat ini, lanjut Dwi, perusahaan tengah memfokuskan strategi pada pengembangan perusahaan khususnya untuk mengantisipasi potensi peningkatan konsumsi semen domestik yang diperkirakan akan tumbuh sekitar 6,5% pada tahun 2011. Sebagai persiapan untuk memenuhi permintaan tersebut sekaligus untuk mempertahankan pangsa pasar, perusahaan akan meningkatkan kapasitas produksi serta efisiensi operasional secara menyeluruh.

Untuk mempertahankan pangsa pasar dan posisi perusahaan sebagai produsen semen terdepan di Indonesia, Perseroan mengalokasikan belanja modal (Capex) sekitar US$ 1,2 miliar dalam lima tahun ke depan. Anggaran ini digunakan antara lain untuk membiayai pembangunan pabrik baru di Jawa dan di Sulawesi, pembangunan pembangkit tenaga listrik di Sulawesi, serta proyek peningkatan kapasitas dari peralatan yang ada saat ini (debottlenecking project). Selain itu, anggaran tersebut juga akan dialokasikan untuk meningkatkan efisiensi operasional perusahaan termasuk peningkatan sistem IT dan pengembangan sumber daya manusia.

”Dalam rangka pembangunan pabrik baru di Jawa dan Sulawesi, Perseroan baru saja menandatangani kesepakatan pembelian peralatan utama (main equipments) yang memiliki teknologi terkini dengan keunggulan lebih efisien dan ramah lingkungan,” kata Dwi. Peralatan ini, lanjutnya, termasuk Mesin Penggilingan Bahan Baku (Vertical Raw Mill) dengan kapasitas produksi 750 ton per jam dan Mesin Penggilingan Semen (Vertical Cement Mill), dengan kapasitas 2x250 ton per jam. Khusus untuk Vertical Cement Mill ini merupakan yang pertama digunakan di Indonesia dan teknologi terbaru di dunia.

”Pembelian peralatan tersebut membuktikan komitmen manajemen Perseroan dalam meningkatkan kapasitas produksi guna menyelesaikan pembangunan pabrik baru yang efisien dan ramah lingkungan ini tepat pada waktunya,” tutup Dwi. Dengan demikian, upaya Semen Gresik untuk mempertahankan produksi dan pangsa pasar mayoritas di domestik tinggal menunggu waktu untuk mewujudkan keberhasilannya.


Boks

Berbagai Penghargaan yang Diraih selama 2009

1. Best Managed Company Awards dari FinanceAsia

Dalam penyelenggaraan “Asia’s Best Companies Pool 2009”, FinanceAsia menobatkan PT Semen Gresik (Perseroan) Tbk. sebagai “Best Managed Company” di urutan ke-7, di bawah Astra International, Telkom Indonesia, Antam, Bank Mandiri, BCA, dan Bumi Resources. Sementara, di bawah Semen Gresik tercatat Unilever Indonesia, Adaro, dan Inco. Di tahun sebelumnya, Semen Gresik juga memperoleh penghargaan kategori “Most Committed To a Strong Devidend Policy” dari lembaga yang sama.

2. SWA 100 Indonesia’s Best Wealth Creators

Setelah mampu menempati peringkat 15 pada 2008, Majalah SWA yang bekerja sama dengan Internasional Stern Stewart & Co Konsultan Manajemen, kembali menobatkan Semen Gresik di urutan 9 dari 100 perusahaan terpilih. Semen Gresik dinilai sebagai perusahaan terbaik yang mampu memberikan peningkatan kekayaan secara berkelanjutan bagi shareholders-nya.

3. Solo Best Brand Index 2009

Survey Solo Best Brand Index 2009 yang meneliti produk terbaik berdasarkan pangsa pasar, popularitas iklan dan merek, citra produk, kepuasan konsumen dan loyalitas pada merek, menobatkan Semen Gresik di peringkat pertama. Perseroan terpilih dari survei yang dilakukan selama tiga bulan Maret – Mei 2009 dengan 17.313 responden untuk 58 kategori produk.

4. Tokoh Olahraga 2008

SIWO PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA Cabang JAWA TIMUR, menganugerahkan Semen Gresik sebagai Tokoh Olahraga 2009, pada Maret 2009.

5. Lembaga/Instansi Peduli Olahraga Jatim 2008

SIWO PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA Cabang JAWA TIMUR, juga memberikan penghargaan sebagai Lembaga/Instansi Peduli Olahraga Jatim 2008, pada Maret 2009.

***

Berjaya karena Efisiensi

Rencana dan target saja tak cukup. Diperlukan efisiensi dan fokus pada bisnis inti.

Di balik sukses pasti tersimpan rahasia. Demikian pula dengan raihan keberhasilan yang dibukukan SGG selaku induk tiga perusahaan dengan tiga merek berkualitasnya. Menurut Dwi Soetjipto, Dirut PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Setidaknya ada empat fokus manajemen yang menjadi kunci keberhasilannya selama empat tahun terakhir. Fokus ini, lanjutnya, senantiasa dilakukan secara konsisten guna memaksimal potensi dan target perusahaan.

Fokus manajemen, lanjutnya, antara lain manajemen penerimaan (revenue management), manajemen biaya (cost management), manajemen kapasitas (capacity management), dan manajemen perbaikan daya saing (improving competitive advantage). ”Dalam manajemen penerimaan, sebaran penjualan produk diutamakan pada daerah yang memberikan margin laba maksimal melalui program optimasi distribusi dan pola angkutan yang efisien,” tutur Dwi.

Di samping itu, peningkatan kapasitas produksi dilakukan secara seksama, baik dengan membangun pabrik baru maupun optimasi fasilitas produksi. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan kapasitas produksi Semen Gresik setahun terakhir yang mencapai 18 juta ton. Fokus manajemen ini, menurut Dwi, dilakukan seraya membangun sinergi antara perusahaan-perusahaan di bawah bendera SGG.

Setelah prestasi berhasil diraih, perusahaan pun bertekad untuk mempertahankan keberhasilan ini di masa-masa mendatang. Namun, di sinilah persoalannya. Mempertahankan prestasi jauh lebih mudah daripada meraihnya. Dwi juga meyakini hal itu. Karena itu, untuk mempertahankan pangsa pasar dan posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terdepan di Indonesia, Semen Gresik mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu. Salah satunya adalah melakukan efisiensi di berbagai sektor usaha.

Harap maklum, efisiensi menjadi kata kunci dalam pencapaian prestasi adalah efisiensi yang dilakukan perusahaan. Efisiensi terbesar perusahaan plat merah ini berasal dari distribusi. Cross-backing initiative, yaitu masuk ke wilayah pasar terdekat dengan sentra produksi dinilai sebagai strategi jitu mengantisipasi mampetnya distribusi.

”Dalam manajemen cost, kita berusaha mensinergikan sistem distribusi antara unit-unit usaha,” kata Dwi. Desain distribusi yang dimaksud adalah pembagian jalur distribusi berdasarkan cakupan suplai setiap unit produksi. Misalnya, Semen Padang menjamin kebutuhan di bagian barat, Semen Gresik di bagian tengah, dan Semen Tonasa di bagian timur. ”Dengan cara ini, sepanjang 2008 Semen Gresik mampu melakukan penghematan sebesar 15% dari ongkos total operasional, sekitar Rp 21 miliar,” kata Dwi.

Terkait dengan produk dan layanan konsumen, Dwi melanjutkan, sejumlah upaya terus dilakukan perusahaan untuk mencapai target perusahaan. Mulai dari menjaga kualitas produksi, menjamin pasokan, menetapkan harga bersaing, hingga after sales service. ”Dalam menjaga kualitas produksi, kami berusaha agar Semen Gresik punya kualitas lebih baik dari pesaing,” kata Dwi.

Kaitannya dengan distribusi, lanjut Dwi, perusahaan selalu berusaha untuk mempermudah akses distribusi oleh konsumen. Soal harga, saat ini harga Semen Gresik lebih baik dari harga pesaing. ”Lebih baik di sini bukan berarti lebih murah, tapi justru lebih tinggi dan menjadi prize leader,” tuturnya.

Sederet strategi ini mempertebak keyakinan Dwi untuk senantiasa menjaga dan mempertahankan raihan yang telah dicapai. ”Prioritas kami saat ini adalah mempertahankan pertumbuhan Perseroan secara berkelanjutan guna memberi nilai tambah bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya serta terus mempertahankan posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terdepan di Indonesia,” tuturnya. Karena itu, lanjutnya, SGG dituntut untuk lebih fokus pada bisnis intinya yaitu memproduksi semen untuk mendukung pembangunan nasional.

***

Wawancara

Dirut PT Semen Gresik (Persero) Tbk.

Dwi Soetjipto: “Menjadi Terdepan di Lokal maupun Regional”

Meretas sukses seperti yang dialami Semen Gresik Group (SGG) bersama unit-unit usaha lainnya ternyata tak semudah yang dibayangkan. Direktur Utama PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Dwi Soetjipto pun merasakan kerasnya perjuangan mewujudkan target-target yang ditetapkan perusahaan. Sejak penggabungan usaha dalam satu induk pada 1995 lalu, posisi perusahaan bukannya membaik, melainkan terus terpuruk akibat belum padunya sinergi dan konsolidasi yang dilakukan.

“Ada kecurigaan di kalangan internal, bahwa Semen Gresik akan membangkrutkan Semen Padang maupun Semen Tonasa,” kata Dwi. Belum lagi tuntutan ada spin off yang disuarakan kalangan internal. Yang membuat pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 54 tahun lalu ini merasa tertantang, adalah merubah mindset yang berkembang di jajaran karyawan. Bagaimanapun, lanjutnya, sejarah panjang dan fanatisme kelompok telah mengakar kuat sehingga unit-unit usaha bergerak sendiri-sendiri.

Long history yang dimiliki masing-masing kelompok memang tak bisa dihapus. Tapi kita bicara kepentingan korporat, bagiamana merubah mindset-nya for the best corporate,” tutur penyandang Magister Manajemen dari Universitas Andalas, Padang, yang memimpin Semen Gresik sejak 2005 lalu ini. Karena itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkan serta menghilang mindset dan syak wasangka negatif di benak para karyawan.

Karena itu, Sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, ini mendesain sistem, di samping membangun sinergi. Bapak empat anak ini juga merancang sistem informasi yang lebih terbuka. “Yang sangat penting dalam segala hal adalah aspek komunikasi. Sehingga yang tadinya terdikotomikan dalam kelompok, pelan-pelan bisa mencair,” tuturnya.

Walhasil, pertumbuhan kinerja perusahaan bergerak secara signifikan. Hanya dalam tempo empat tahun di bawah komandonya, Semen Gresik menjelma menjadi perusahaan publik dengan sederet prestasi membanggakan. Hal ini karena semua pihak merasakan bagaimana manfaatnya bersinergi. “Semua karyawan sekarang berpikir bahwa the only in the future is to be one company, tahapannya sudah jelas arahnya,” katanya. Berikut wawancara lengkapnya:

Kinerja dan pencapaian dalam setahun terakhir tampaknya mengembirakan. Apa pemicunya?

Alhamdulillah dengan kondisi terakhir setelah bisa konsolidasikan tiga perusahaan, kinerjanya cukup bagus. Kalau kita lihat di masa lalu, tiga perusahaan ini berjalan sendiri-sendiri, sarat dengan konflik internal, masing-masing dalam posisi mengemban persepsi berbeda mengenai holding ini. Bukannya persepsi positif membangun kinerja, bahkan saling mencurigai setiap kali policy yang mau dibangun selalu dimentahkan, dan sebagainya.

Namun, setelah semua pihak menyadari, tiga perusahaan dengan tiga merek ini merupakan sebuah keunggulan. Banyak yang bisa disinergikan, seperti fasilitas produksi, memasarkan, hingga soal strategi yang sifatnya jangka panjang. Salah satu senjata dalam bersaing di semen adalah persepsi masyarakat. Karena persepsi orang terhadap tiga perusahaan ini adalah satu perusahaan, maka orang tidak khawatir, kalau ada masalah di satu usaha, pasti akan dibantu oleh yang lain.

Perusahaan sempat terkendala karena krisis global. Apa jalan keluarnya?

Kalau merujuk pada kinerja dalam setahun terakhir, Semester I 2009, di saat krisis global, kita dihadapkan pada demand dalam negeri yang minus. Karena itu, kalau demand semen sampai zero, itu sebuah problem nasional karena menyangkut gambaran pembangunan di sektor yang lain, seperti infrastruktur, perumbahan, dan sebagainya. Tapi kalau kita bandingkan dengan kondisi di negara lain, ini masih bagus. Kita masih bisa fokus pada grand strategy yang sudah digariskan, sehingga alhamdulillah masih ada pertumbuhan laba 33%. Itu juga membuat para investor surprise. Karena itu di atas ekspektasi mereka. Dalam kondisi sulit ternyata masih bagus.

Inikah benefit lain dari sinergi yang Anda bangun?

Dampak dari upaya membangun sinergi tadi tidak hanya aspek laba saja, tapi juga dari sisi kapasitas. Awalnya 16,8 juta ton, sekarang meningkat menjadi 18 juta ton per tahun. Tahun ini kita targetkan menjadi 19 juta ton per tahun, dengan hanya bagaimana kita bisa bersinergi secara operasional. Sistem pemeliharaan kita sehingga utilisasinya menjadi naik.

Dulu, setiap usaha kalau punya suku cadang, akan simpan dan pakai sendiri, meskipun di tempat lain sedang mengalami masalah. Tapi, sekarang kita bisa koordinasikan unit lain agar membantu yang lain kalau di tempat lain lagi ada problem. Orang ahlinya langsung kita kerahkan. Jadi, kita berkonsolidasi sehingga bisa menambah kapasitas produksi menjadi naik. Saya sendiri yang tadinya harus masuk dan mencoba menggunakan konsep sinergi, juga surprise dengan pencapaian ini.

Ketiga perusahaan ini berbisnis dalam komoditi yang sama. Anda menjamin tidak akan saling “memangsa” satu sama lain?

Buat kami, persaingan itu wajar terjadi. Hanya bagaimana mereka bersaing secara sehat, tidak saling membunuh. Kalau ada kebutuhan, lalu sama-sama bersaing untuk menjual ke situ. Silakan saja masuk lalu di antara anggota ini bisa mendapatkan. Jadi, selama ini di pasar memang bersaing, sejauh kita bisa melakukan konsolidasi secara sehat. Kita nanti akan bicara dalam manajemen cost, bagaimana mensinergikan sistem distribusi. Mau disuplai untuk konsumen masa saja dan bersaing di pasar. Karena itu, siapa yang punya stok banyak, harus diberi kesempatan untuk menyalurkan ke mana-mana, sehingga mengganggu produksi.

Sekarang SGG menguasai pasar domestik sebanyak 45%. Apa resepnya?

Posisi di pasar dibangun oleh image. Pertama, tentu kita lakukan survei pasar. Image bagi semen yang dianggap sebagai komoditi yang bagus adalah kualitas. Maka, Semen Gresik mendesain kualitas produknya harus lebih baik dari pesaingnya. Jadi, kami ambil sample di pasar, lalu didesain. Survei yang dilakukan, antara lain menjadi kunci kita bertahan di sektor ini.

Kedua, sistem distribusi bagaimana masyarakat mudah dan merasa terjalin terhadap suplai. Karena itu kami memperbaiki sistem distribusinya sampai gudang. Tentu menyiapkan after sales service. Kalau dulu kita berpikir, semen begitu lepas dari tangan kita, dianggap tugas selesai, maka sekarang kami berkomitmen untuk membuka layanan selama 1x24 jam. Kalau semen yang diterima mengeras, kita akan ganti. Kalau dalam aplikasi ada masalah, kita akan cari sebabnya. Kita menyiapkan tim untuk itu semua.

Apa target perusahaan di tahun ini?

Ke depan, termasuk dimulai dari tahun ini, fokus utama perusahaan adalah capacity management. Saat ini, utilisasi peralatan produksi perusahaan sekarang sudah membaik. Kalau setelah krisis pertumbuhan naik, bisa kedodoran kalau tidak ada manajemen kapasitas yang baik. Tahun ini kami fokus menyelesaikan proyek pembangunan pabrik baru agar perusahaan dapat menjaga market yang 45%.

Kedua, membangun competitive advantage yang menjaga market share tadi. Kami menargetkan tahun ini informasi dan teknologi (IT) tuntas, sehingga perusahaan memiliki platform yang sama untuk IT. Sejalan dengan set up IT ini, kita membangun approach system untuk melanjutkan perubahaan. Problem of the company adalah mindset. Jadi, yang lalu kita lakukan pendekatan mindset dengan human. Saya targetkan integrasi sistem SDM harus selesai. Selanjutnya adalah corporate structure, pendekatan organisasi.

Apa harapan Anda pada momen ulang tahun Semen Gresik ke-52 kali ini?

Di ultah ke-52 ini, sinergi baik antargrup dan departemen harus makin kuat. Semen Gresik bukan berhadapan dengan perusahaan dalam negeri, tapi perusahaan asing, seperti Indocement, Holcim, dan sebagainya. Inilah perusahaan yang menjadi empat besar dunia. Jadi, saya berharap bahwa semangat bersaing atau fighting spirit dibangun untuk mengantarkan Semen Gresik masuk ke dalam era baru.

Semen Gresik harusnya bukan lagi industri atau pabrik semen yang hanya dikenal di Indonesia, tapi sudah bisa bermain di regional. Kita harap, ultah ini menjadi momentum bagi kita untuk menatap ke era baru. Bagaimana Semen Gresik yang leading di domestik melangkah ke level berikutnya, yaitu menjadi pemimpin regional, mungkin Asia Tenggara. Potensinya besar sekali. Saya optimis kita bisa.

Manajer Keuangan, Ujung Tombak Keberhasilan Usaha

Baik atau buruknya perusahaan ditentukan oleh manajemen keuangan dan peran seorang manajer keuangan.

“Dasar keberhasilan bisnis Anda terdapat pada neraca dan laporan keuangan”. Begitu pameo yang sering kita dengar. Bukan semata kalimat yang sia-sia, berbagai kasus menunjukkan bahwa laporan keuangan ibarat cermin yang merefleksikan kinerja perusahaan secara umum. Oleh karena itu, banyak kalangan menaruh perhatian pada financial management.

“Manajemen keuangan sangat penting untuk kesuksesan perusahaan,” kata pengamat ekonomi Umar Juoro. Ketika kita dapat memantau penghasilan, biaya dan indikator keuangan lainnya sesegera mungkin dan akurat, lanjutnya, maka kita juga dapat membuat keputusan keuangan untuk jangka pendek dan jangka panjang secara bijaksana yang membuat perusahaan dan bisnis bertumbuh.

Pentingnya mengelola keuangan, lanjut Umar, tidak semata berkaitan dengan perencanaan, budgeting, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan. Namun, lebih jauh dari itu, manajemen keuangan bisa menjadi titik central dalam menentukan kondisi perusahaan secara umum. “Ini sudah menjadi standard di manapun, baik korporasi maupun perusahaan kelas mikro sekalipun,” kata Komisaris PT Bank Internasional Indonesia Tbk. (BII), ini.

Sebab, menurutnya, perusahaan yang bisa berkembang pesat biasanya mampu memanfaatkan sumber-sumber keuangan, baik dari bank, pasar modal, obligasi, atau masyarakat langsung, secara efektif dan efisien. “Manajemen keuangan adalah kunci untuk menilai sejauh mana perusahaan bekerja dan mencari laba,” katanya, menambahkan.

Manajemen keuangan dapat dikatakan tepat, lanjutnya, kalau mampu mengelola dana yang ada secara efektif dan efisien. Misalnya, dengan jumlah tertentu bisa mendapatkan yang lebih besar. Sebab, kalau tidak efisien, lanjutnya, dengan jumlah yang lebih besar, tapi hasil lebih kecil. “Itu penting dalam pengertian efisiensi, supaya kapital bisa digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Jadi, semakin efisien, semakin produktif dia,” tuturnya.

Indikator manajemen keuangan telah efektif dan efisien, lanjut Ketua Dewan Direktur Center for Information and Development Studies (CIDES) ini, dapat dilihatdDalam kerangka rasio atau return on equity (RoE). Jika hasil yang diperoleh dari modal yang ditanamkan perusahaan semakin tinggi, berarti semakin bagus. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah hasil yang didapatkan, makin buruk kinerja perusahaan.

Usuran lainya dapat dilihat juga dari return on asset (RoA). Bisa kita lihat, perusahaan tumbuh jika aset makin besar, baik mencakup ekuitas maupun aset yang ada di perusahaan. Ini merefleksikan, kalau perusahaan industri, bagaimana dia menggunakan mesin atau pekerjanya secara efektif. Bagaimana memanfaatkan infrastruktur yang ada untuk menghasilkan revenue sebesar mungkin. “Itulah yang kita sebagai ukuran efisiensi dan efektivitas dalam manajemen keuangan perusahaan,” kata Umar.

Kinerja manajemen keuangan yang efektif juga bisa dilihat dari revenue penerimaan per jumlah pekerja. “Ini juga bagian dari efisiensi. Kalau makin banyak pekerja, tapi revenue rendah, berarti produktivitasnya rendah,” tuturnya. Demikian pula dengan besarnya cost terhadap sales. Kalau cost lebih besar dari sales, berarti perusahaan itu tengah merugi.

Secara umum, manajemen keuangan dapat dikatakan baik kalau kita lihat secara sederhana laporan keuangan itu bisa dipahami. “Jika tidak, pasti manajemen keuangannya jelek,” katanya. Apalagi, pasiva-nya lebih besar dari aktiva-nya, pasti ini perusahaan bangkrut, karena kapitalnya jadi negatif. Hal ini, lanjutnya, secara sederhana juga bisa terefleksikan kondisi keuangan dari perusahaan yang bersangkutan.

Manajemen keuangan yang baik juga dapat dilihat dari pengelolaan rugi-labanya. Kalau perusahaan neracanya baik, perusahaan itu profitable. “Dari neraca kita bisa memahami bagaimana perusahaan itu dikelola. Kalau jelek, tdak bisa dibohongi dengan alasan apapun kalau perusahaan itu buruk dan menjelang bangkrut,” katanya.

Manajemen keuangan dilakukan, menurut Umar, dimaksudkan untuk memaksimalkan nilai perusahaan, memaksimalkan laba, dan memaksimalkan kesejahteraan para pekerja dan pemegang saham. “Kalau keadaan aktiva-pasiva baik, struktur modal baik, perusahaan bisa profitable,” katanya. Kalau menguntungkan, si pemegang saham akan menerima dividen. Mereka juga bisa meningkatkan kesejahteraan karyawan dengan memberikan bonus atau insentif.

Penerapan manajemen keuangan dalam perusahaan yang menganut sistem sentralisasi maupun desentralisasi, lanjut Umar, bisa dibedakan. Misalnya, dalam perusahaan yang memiliki holding company, bisa saja pabriknya ada perusahaan yang melakukan kegiatan produksi, kegiatan logistik, maupun perdagangan. Ini dalam satu grup. Namun, manajemen keuangan diberlakukan secara terpusat.

Di samping itu, lanjut Umar, bisa juga masing-masing usaha diberi kewenangan untuk mengelola keuangan sendiri, tapi perusahaan induk tetap memberikan kriteria. Misalnya, masing-masing usaha harus mementukan berapa RoE dan RoA-nya, dan ukuran efisiensi dan efektivitas lainnya. “Namun, kalau holding company, saya cendrung memilih sistem desentralisasi. Karena bisa lebih efektif dan efisien dalam mengelola kapital,” tuturnya.

Namun, dalam penerapan sistem pengelolaan keuangan ini, Umar tidak melihat perbedaan secara signifikan antara sistem yang diadopsi perusahaan Indonesia dengan asing. “Kalau perusahaan itu bagus, pasti akan serupa. Dalam pengertian, laporan keuangan bisa merefleksikan kinerja keuangan,” katanya. Namun, lanjutnya, sebetulnya bukan perbedaan antara sistem yang dianut Indonesia atau luar, tapi pada kategori perusahaan yang baik atau tidak.

Sebab, lanjutnya, manajemen keuangan itu memiliki standardisasi yang sama. Baik perusahaan di indonesaia maupun luar, skala besar atau kecil, kalau manajemen keuangannya bagus, laporan keuangannya pasti bisa dibaca dengan mudah. Laporan keuangan ini merefleksikan kondisi perusahaan. “Sudah kelihatan, apakah modal cukup, penjualan meningkat, cost besar, atau efisien,” katanya.

Lagipula, Umar menambahkan, menilai kinerja perusahaan dari ukuran-ukuran keuangan sudah cukup memadai. bahkan, manajemen keuangan menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan maupun pihak-pihak luar dalam mengambil keputusan. Ia memberikan contoh, kalau perusahan publik, publik bisa menilai, dia pantas membeli sahamnya atau tidak dengan melihat manajemen keuangannya.

Instrumen yang biasa digunakan dalam manajemen keuangan, menurut Umar, serupa dengan manajemen pada umumnya. Manajemen keuangan juga mensyaratkan aktivitas perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh perusahaan. Evaluasi, lanjutnya, juga dapat diberlakukan dalam setiap tahapan, berdasarkan periodisasi yang diinginkan perusahaan.

Mekanisme evaluasi juga tergolong standard. Perusahaan yang bagus, lanjut Umar, bisa mengevaluasi apakah target tercapai atau tidak. “Ini bisa dievaluasi melalui key performance indicator (KPI) yang bisa dilakukan kapan saja, setiap kali ada laporan keuangan,” katanya. Indikatornya, kalau perusahaan bagus, manajemen keuangan bagus, biasanya di tiap-tiap kuartal bisa mendekati target yang ditetapkan anggaran.

Evaluasi juga menyangkut keputusan-keputusan yang kaitannya dengan aspek finansial. Misalnya, mengapa target penjualan atau penerimaan tidak tercapai. Jikapun ada pendapatan, lanjutnya, juga bisa dievaluas jenis pendapatannya seperti apa, apakah dari operasional maupun nonoperasional. “Hal ini bisa dilihat perbulannya, dibandingkan bulan lalu, atau bulan di tahun lalu. Dari situ bisa dinilai lagi, keuntungan/labanya. Ini bisa dievaluasi, instrumennya standard,” katanya.

Tugas seorang manajer keuangan, tutur Umar, tidak semata menggunakan dana dan menghasilkan laba bagi perusahaan, tapi juga mencari dana. “Tugas ini juga bagian yang utuh dalam manajemen keuangan,” katanya. Sebab, lanjutnya, kalau tidak ada dana, dia mau mengelola apa. Karena itu, kalau butuh dana lagi, manajer keuangan harus menyiapkan segalanya untuk mendapatkan dana dari pihak luar.

Yang paling penting, lanjutnya, dalam manajemen keuangan ini, penting bagi seorang manajer keuangan untuk senantiasa jujur dan dipercaya. “Kalau dia manajer, direktur keuangan, karyawan, komisaris, sampai pada partner bisnis, atau siapapun, pegangannya hanya itu,” katanya. Kalau tidak dipercaya, laporan keuangan bisa muncul dalam tiga versi, satu untuk bank, pemegang saham, atau pajak. “Itu yang justru menyesatkan,” lanjutnya.

Di samping itu, manajer keuangan juga perlu memiliki kemampuan secara teknis yang baik. Sebab, lanjutnya, manajemen keuangan merupakan sesuatu yang detail dan standard. “Saya tidak katakan yang lain tidak detail, tapi manajemen keuangan tidak bisa improvisasi sendiri. Supaya laporan keuangan bisa merefleksikan keadaan yang sebenarnya. Ada kaidah yang harus dipenuhi, kalau tidak, ada konsekuensi hukum,” kata Umar.

Selama ini, lanjutnya, manajer keuangan sering dianggap tidak friendly, karena harus menjaga ketat dan tidak sembarangan menggunakan dana perusahaan. “Saya lebih cenderung, manajer keuangan yang sifatnya konservatif,” katanya. Namun, lanjut Umar, dia harus mengajak dan meyakinkan divisi lain untuk bersinergi untuk mencapai target yang ditetapkan perusahaan.

“Sehingga orang tidak melihat keketatan atau kepelitan seorang manajer saja. Tapi, juga untuk kepentingan perusahaan,” tuturnya. Apalagi, lanjutnya, untuk menetapkan perencanaan, anggaran, dan sebagainya, ia juga butuh masukan dari divisi lain, sehingga ia bisa memfasilitasi atau mendorong sehingga kapital bisa produktif seoptimal mungkin. Karena itu, peran manajer keuangan sangat menentukan hitam-putihnya capaian-capaian yang ditetapkan perusahaan.

Kamis, Juli 17, 2008

Melayani dengan Sepenuh Hati

Tak ada yang meragukan ampuhnya senjata yang bernama kepercayaan. Sektor yang mengandalkan pelayanan (service ) bahkan menjadikannya sebagai satu-satunya kunci keberhasilan. Demikian halnya dengan sektor perbankan. Perlu kerja keras dan perbaikan secara berkesinambungan setiap lini, termasuk dari sisi pelayanan.

Survey yang dilakukan Marketing Research Indonesia (MRI) baru-baru ini menyangkut pelayanan prima (service excellence ) perbankan makin mengukuhkan faktor kepercayaan ini. Kepercayaan konsumen memang menjadi kekuatan utama setiap industri perbankan yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Yang menarik, penelitian ini juga membuktikan, keberadaan seorang pemimpin puncak atau chief executive officer (CEO) sebuah bank memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam mendongkrak tingkat pelayanan suatu bank. Sekadar menyebut contoh, kiprah Agus D.W. Martowardojo sebagai orang nomor satu di Bank Mandiri ternyata membawa berkah tersendiri bagi kemajuan bank ini.

Sebagai bank besar, tentu bank pelat merah ini tak semata dipercaya karena sosok. Lebih dari itu, dukungan yang kuat dari pemerintah menjadikan Bank Mandiri sebagai bank terbesar di Indonesia dengan permodalan yang kuat. Tak aneh jika PT Pefindo menetapkan peringkat PT Bank Mandiri Tbk di level A+ untuk hal ini.

Menjadi bank besar, sehat, dan modern tampaknya bukan lagi mimpi bagi bank BUMN terbesar ini. Sembari tetap menggarap pasar corporate banking, bank ini menfokuskan diri pada penyaluran kredit ke sector telekomunikasi, pertambangan, energi, dan agrobisnis.

Dalam rangka menjadi bank modern, PT Bank Mandiri TBK berusaha memaksimalkan layanan elektroniknya ( e-banking). Bank ini pun menargetkan pertumbuhan pendapatan di luar pembiayaan (fee base income) pada 2006 sebesar Rp90 miliar-Rp120 miliar, dengan terus mengembangkan kapasitas layanan elektroniknya.

Target pertumbuhan tersebut naik 15%-20% dibanding capaian tahun lalu, yang besarnya mencapai Rp600 miliar. Bank Mandiri akan terus mengembangkan lima fasilitas e-banking yang telah dimiliki, seperti ATM Mandiri, SMS Banking, Internet Banking Mandiri, phone banking Call Mandiri, maupun electronic data capture (EDC). "Taget utama layanan e-banking ini adalah nasabah high tech yang mengedepankan layanan elektronik," kata Direktur Konsumer Bank Mandiri Omar S. Anwar, seperti dilansir Harian Bisnis Indonesia, terbitan 25 Maret 2006.

Sebagai bank yang mempunyai kompetensi dalam kredit korporasi, Bank Mandiri mulai mengembangkan kompetensinya dalam segmen kredit ritel yang menuntut peningkatan kemampuan layanan terhadap nasabah. Makanya, untuk menunjang kinerja perbankan, para nasabah mulai diarahkan untuk menggunakan layanan elektronik. Hingga kini e-banking Mandiri melayani sekitar tujuh juta nasabah.

Keandalan bank di masa mendatang memang banyak ditentukan oleh kemampuan mengembangkan saluran elektronik dan teknologi informasi (TI). "Guna meraih dana murah dan memenangkan kompetisi dalam industri perbankan, maka kami perlu memperluas distribusi jaringan kantor serta mengambangkan e-banking," ujar Omar S. Anwar, seperti dikutip Harian Media Indonesia edisi 25 Maret 2006.

Atas terobosan ini, Bank Mandiri meraih penghargaan e-Company Award 2005 peringkat kedua sebagai bank yang memiliki integrasi sistem online dan real time, jumlah transaksi dan nasabah yang meningkat, serta peningkatan kinerja dengan risiko terkontrol. Memang, investasi TI Bank Mandiri tergolong lebih besar jika disbanding dengan bank-bank lainnya di Indonesia .

Mereka mengucurkan lebih dari US$200 juta untuk merombak core banking system (eMAS Program) dan membenahi sejumlah aplikasi layanan. Itu belum termasuk biaya rutin setiap tahun. Intinya, investasi TI diarahkan sebagai strategi penunjang untuk menjadikan Bank Mandiri sebagai regional champion bank.

Keberhasilan IT governance Bank Mandiri juga dikukuhkan dengan diraihnya "MIS Asia Innovations Award 2004". Penghargaan ini membuktikan bahwa strategi TI-nya selaras dengan strategi bisnisnya. Hal ini diharapkan dapat memberi nilai tambah maupun kinerja yang terukur dengan risiko yang terkelola di masa mendatang.

Menjadi bank modern, bukan berarti menjauh dari rakyat. Tahun ini, Bank Mandiri menargetkan kredit untuk Usaha Makro Kecil dan Menengah (UMKM) sebesar Rp10 triliun. Menurut Sasmita, Direktur UKM PT Bank Mandiri Tbk, sebagaimana dikutip Harian Investor Daily pada 4 April 2006, target tersebut akan diperoleh dari penambahan kredit UMKM baru pada 2006 ini. Diperkiran kredit baru tumbuh 32% dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp7,8 triliun. "Bahkan diharapkan pada 2010, total UKMK Bank Mandiri dapat mencapai Rp20 triliun," kata Sasmita.

Dengan kinerja keuangan yang semakin membaik, penerapan TI yang kian diterima nasabah, serta pelayanannya yang sepenuh hati menjadikan Bank Mandiri sebagai bank terbesar tak tergoyahkan lagi. Boleh jadi, tekad bank plat merah ini untuk memasuki tahapan strategis menjadi salah satu bank terkemuka di kawasan regional Asia Tenggara, akan tercapai.

Melek Teknologi Informasi dengan IG2S


Telkom memberikan donasi dan investasi sosial, khususnya dalam bidang pendidikan dan pelatihan gratis yang terkait dengan akses internet.


Sebagai media penyebaran informasi global, keberadaan internet dirasakan manfaatnya, baik untuk kepentingan bisnis maupun personal. Jumlah penggunanya pun makin meningkat dari waktu ke waktu. Salah satu komunitas pemanfaat jasa internet terbesar di Indonesia adalah kelompok usia sekolah dan mahasiswa. Karenanya, diperlukan upaya sistematis dan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang efektif.


PT Telkom selaku perusahaan penyedia jasa informasi dan komunikasi memiliki kemampuan dan kemauan untuk dapat menjadi salah satu motor pertumbuhan pemanfaatan internet di Indonesia umumnya. Bagi komunitas sekolah, penggunaan internet lewat produk layanan dan program pun diciptakan untuk menjawab kebutuhan internet bagi dunia pendidikan.


Sebagai perusahaan jasa informasi dan komunikasi, Telkom menyadari peran penting sekolah sebagai tulang punggung dalam pengembangan dan pemanfaatan internet di Indonesia. Sekolah dapat digunakan untuk menumbuhkan kesadaran nasional tentang internet sebagai media percepatan pemanfaatan pengetahuan sertaa menggali informasi secara tidak terbatas lewat dunia maya. Infrastruktur yang dimiliki oleh Telkom dengan cakupan nasional mendukung pengembangan dan pemanfaatan internet di sekolah dan kampus.


Sebagai tindak lanjut dan komitmen untuk menjadi motor penggerak pertumbuhan internet di Indonesia, Telkom mengembangkan program Internet Goes to School (IG2S). Program yang dikembangkan sejak tahun 1999 ini dimaksudkan untuk mengatasi kesenjangan terhadap akses informasi melalui internet di kalangan masyrakat, khususnya di lingkungan sekolah, madrasah, dan pesantren.


Melalui program IG2S, Telkom memberikan donasi dan investasi sosial, khususnya dalam bidang pendidikan dan pelatihan gratis kepada para siswa maupun guru terkait dengan akses internet. Hal ini dipercaya akan memberikan cara baru yang lebih maju bagi kalangan sekolah untuk mengakses berbagai sumber informasi dan bahan pendidikan yang diperlukan.


IG2S selanjutnya menjadi program nasional Telkom untuk mengurangi kesenjangan digital di kalangan para siswa dan guru SMU sekaligus menjadi sarana informasi pembelajaran internet praktis bagi komunitas sekolah dan kampus, sehingga komunitas tadi bisa menjadi tulang punggung bagi percepatan pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia.


Melalui program ini Telkom melakukan beberapa hal. Bagi sekolah yang belum memiliki fasilitas laboratorium komputer, Telkom mengundang perwakilan siswa dan guru sekolah untuk datang dan mengikuti pelajaran materi singkat menggunakan internet. Apabila sekolah telah memiliki laboratorium komputer, instruktur internet dari Telkom siap mendatangi sekolah setiap saat.


Salah satu faktor penghambat perkembangan jumlah pemakai internet di komunitas sekolah dan kampus adalah infrastruktur (perangkat dan jaringan) dan tarif yang dirasakan masih cukup tinggi. Dana untuk pengadaan infrastruktur dan berlangganan terkadang tidak dapat ditanggulangi sekolah termasuk orang tua murid sehingga perlu ada insentif khusus dari Telkom.


Program insentif khusus akses komunitas sekolah diberi nama TelkomNet Sekolah. Program yang sejalan dengan program sosialisasi penggunaan internet tadi memberikan diskon khusus flat sebesar 40 persen dari pemakaian normal akses TelkomNet Instan. Termasuk insentif berupa kemudahan pasang baru saluran telepon pelengkap untuk percakapan sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran dan pemanfaatan internet di sekolah.


Selain itu, Telkom juga menyalurkan bantuan berupa personel computer (PC) ke sekolah-sekolah yang membutuhkan. Program IG2S ini juga meliputi pengembangkan Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) di berbagai titik kantor dinas pendidikan kota/kabupaten/provinsi di seluruh Indonesia.


Stakeholder utama dalam pengembangan pemanfaatan internet di sekolah adalah pendidik. Untuk menumbuhkan kesadaran tentang kebutuhan internet di kalangan pendidik, Telkom membangun adanya visi yang jelas tentang arah penggunaan internet bagi percepatan penyerapan pengetahuan dan alat bantu proses belajar-mengajar di sekolah dan kampus.


Guna membangun komitmen bersama untuk memanfaatkan teknologi informasi (IT), PT Telkom bersama Dinas Pendidikan menggelar Forum IT Gathering dalam kerangka melakukan perkenalan dan inventarisasi visi pendidik tentang internet. Kegiatan ini juga dilakukan di beberapa daerah lain dalam format yang berbeda, namun pada prinsipnya tetap memiliki kerangka dan tujuan yang sama, yaitu menumbuhkan pemahaman akan kebutuhan internet bagi sekolah dan kampus.


Kegiatan ini juga sebagai inventarisasi kebutuhan IT sekolah dan kampus, selain menciptakan komitmen sekolah dan kampus untuk menggunakan internet sebagai sarana belajar-mengajar. Komitmen PT Telkom untuk dapat menjawab kebutuhan internet sekolah juga menjadi sasaran di samping dukungan formal dari pemerintah pusat dan daerah atas kebutuhan IT sekolah dan kampus dalam bentuk peraturan ataupun imbauan.


Selama pelaksanaan, program IG2S selalu menarik minat dan perhatian para pelajar. Setiap PC selalu penuh dengan siswa yang antusias mempelajari materi, seperti cara membuat e-mail, berkomunikasi dengan e-mail, mailing list, chatting, cara browsing, hingga menggunakan mesin pencari, seperti Google. Program ini berhasil memancing inisiatif dari sekolah maupun pesantren untuk menyadari pentingnya berkomunikasi maupun memanfaatkan internet. Dari sini lahir akselerasi keinginan pelajar untuk memanfaatkan internet makin cepat.


Sebetulnya, niat utama Telkom dalam program ini bukanlah urusan bisnis. Kepentingan bisnis menjadi sasaran jangka panjang, dan tidak langsung megharapkan hasilnya sekarang juga. Yang terpenting adalah mencerdaskan kehidupan bangsa meski dalam skala kecil.


Namun, tidak terelakkan bahwa program IGTS ternyata memberikan andil yang cukup signifikan dalam kenaikan pendapatan. Setelah IGTS digelar di beberapa divre Telkom, pendapatan dari unit meningkat. Pertumbuhan bisnis internet secara nominal cukup bagus. Meski diakui juga, unit internet sampai saat ini belum memberikan sumbangan pendapatan yang signifikan untuk Telkom.


Dengan program IG2S, banyak sekolah di kota maupun di pelosok desa yang memperkenalkan internet sebagai salah satu program intra dan ekstrakurikulernya. Lewat laboratorium atau perpustakaan, komputer dan saluran akses internet, sekolah memberi bekal cukup memadai tentang internet dan pemanfaatannya. Selanjutnya para siswa dapat memanfaatkan pengetahuan tentang internet untuk pengembangan diri dan alat bantu mengerjakan tugas-tugas sekolah.


Terhitung sejak diselenggarakan pada tahun 1999 sampai sekarang, program IG2S telah melibatkan ratusan ribu sekolah, guru, dan siswa di seluruh Indonesia. Kontribusi Telkom dalam peningkatan internet awarness di kalangan sekolah, guru, maupun siswa ini tidak menutup kemungkinan akan terus meningkat di masa-masa mendatang. Selangkah lagi, upaya untuk menumbuhkan semangat belajar masyarakat, khususnya di kalangan siswa maupun guru, untuk menggunakan internet dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari dapat terwujud.

Membangun Masyarakat Cerdas Bersama Telkom

Telkom menerapkan program dan langkah strategis dalam perannya membangun masyarakat cerdas.


Sebagai BUMN yang senantiasa hadir melayani masyarakat, PT Telkom memiliki komitmen yang tinggi untuk mendukung dan melaksanakan program corporate social responsibility (CSR). Atas dasar ini, CSR Telkom secara tidak langsung menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan. Visi untuk menjadi pelopor implementasi CSR di Asia diperkuat dengan misi mulia, yaitu berperan aktif dalam mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan teknologi informasi dan komunikasi, berperan aktif dalam meningkatkan Sebagai arah dan impian bersama seluruh jajaran Telkom, serta berperan aktif dalam menjaga kesinambungan lingkungan.


Di bidang pendidikan, kebijakan Telkom diarahkan untuk mengambil peran dari upaya membangun masyarakat cerdas. Kebijakan ini dielaborasikan melalui serangkaian program yang lebih terfokus dan menyeluruh, pengembangan usaha kecil dan menengah, serta berbagai kegiatan sosial lainnya. Selanjutnya, menjelang satu abad kebangkitan nasional, Telkom meneguhkan komitmen “Membangun Masyarakat Cerdas” ke dalam program pengembangan masyarakat. Titik beratnya adalah mengacu pada domain Telkom sebagai BUMN yang bergerak di bidang penyediakan dan pelayanan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (Infokom).


Sebagai institusi bisnis modern, apalagi sebagai operator flag carrier, Telkom tentu merasa berkewajiban untuk mengembangkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) di Indonesia. Selain karena ICT telah menjadi sarana penunjang vital dalam mewujudkan pendidikan modern, hal tersebut juga berkaitan erat dengan kompetensi dan kapasitas Telkom sebagai operator ICT terbesar di Indonesia.


Dalam mengembangkan peran dan tanggung jawab sosialnya, Telkom dihadapkan pada kenyataan adanya kesenjangan digital (digital divide). Kesenjangan digital ini sangat dirasakan tidak hany dalam kaitan paradoks kota besar dan kecil, kota dan desa, melainkan juga dalam suatu kota, terutama sejak penggunaan internet secara luas dan meningkatnya arus informasi yang sangat dominan, didukung platform teknologi dan Sistem Informasi. Kesenjangan digital juga terkait dengan kesetaraan memperoleh peluang. Karenanya, sangat diperlukan upaya yang sungguh-sungguh untuk memperkecil kesenjangan itu.


Namun, dengan cakupan yang begitu luas, Telkom berinisiatif mengambil peran yang lebih spesifik, yakni bagaimana memfasilitasi akses internet untuk masyarakat, termasuk komunitas sekolah. Harap dimaklumi, sekolah merupakan lingkungan persemaian anak-anak bangsa, yang di masa datang dipercaya akan mengusung kemajuan dan sekaligus cerminan keberhasilan bangsa.


Dengan mendukung akses yang lebih baik dan mudah ke berbagai sumber informasi, maka komunitas sekolah diharapkan akan mampu membangun jembatan atas kesenjangan digital yang terjadi. Begitu juga, masyarakat luas akan memperoleh peluang yang sama dalam mengakses dan memanfaatkan informasi. Karenanya, mereka layak memperoleh uluran tangan dari institusi, seperti Telkom, untuk membangun dirinya secara lebih baik.


Berbagai upaya yang telah dilakukan sejatinya merupakan bagian dari wujud tanggung jawab sosial Telkom, sebagai perusahaan nasional yang peka terhadap berbagai masalah yang dihadapi masyarakat bangsanya. Salah satunya dalam aspek pendidikan, yakni melalui upaya pengentasan kesenjangan digital, meningkatkan akses ke berbagai sumber informasi dengan mengoptimalkan pemanfaatan solusi Infokom terintegrasi, serta meningkatkan kualitas guru.


Dengan kemampuannya yang besar dalam penyediaan infrastruktur jaringan dan layanan Infokom yang luas, Telkom sangat berkompeten dalam membantu mengurangi semakin lebarnya kesenjangan digital dan sekaligus membangun masyarakat cerdas. Di samping itu, bantuan Telkom terhadap peningkatan pendidikan juga berwujud rumah baca, beasiswa, sarana teknologi informasi, perpustakaan, olimpiade matematika, renovasi sekolah, lomba karya/ inovasi, magang, dan sebagainya.


Sebagai bentuk tingginya komitmen Telkom dalam upaya memasyarakatkan teknologi informasi, Telkom telah mengembangkan berbagai program strategis di bidang pendidikan yang berkelanjutan. Program tersebut antara lain, Internet Goes To School (IG2S), Community Access Point (CAP), e-Learning, Smart Campus, dan Generasi Baru Guru.


Di bidang pengembangan internet di kalangan siswa, Telkom mengembangkan program IG2S sejak tahun 1999. Program ini ditujukan untuk mengatasi kesenjangan terhadap akses informasi melalui internet di kalangan masyarakat, khususnya di lingkungan sekolah, madrasah, dan pesantren. Melalui program IG2S, Telkom juga memberikan donasi dan investasi sosial, khususnya dalam bidang pendidikan dan pelatihan yang terkait dengan akses internet.


Melalui kerjasamanya dengan PT Pos Indonesia, Telkom membangun CAP yang diwujudkan dalam bentuk pendirian Warung Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Warmasi). Warmasi akan dilengkapi dengan infrastruktur jaringan komunikasi dan akses internet, e-business, value added service, call center, dan pemanfaatan jasa kiriman pos, yang memungkinkan masyarakat yang berkunjung ke kantor pos dapat mengakses internet secara gratis, dan melakukan kegiatan komunikasi lainnya dengan mudah.


Di bidang e-Learning, Telkom telah menandatangani Naskah Nota Kesepahaman (MoU) dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), dan Departemen Agama (Depag), yang dilakukan di Yogyakarta pada 22 Mei 2006. Kerjasama tersebut ditujukan untuk mendukung program bersama dalam Distribusi Bahan Ajar Online (e-Learning). Langkah ini merupakan suatu lompatan bersejarah bagi Telkom dan dunia pendidikan di Indonesia.


Untuk kebutuhan kalangan perguruan tinggi, Telkom menyediakan solusi Smart Campus, yang berupa layanan Total Solusi Infokom Terintegrasi untuk kebutuhan komunikasi multimedia. Untuk itu, Telkom bekerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, antara lain UGM, ITB, UI, dan universitas lainnya, dalam hal penyediaan infrastruktur, layanan dasar kampus, aplikasi dan konten, serta pengelolaan bisnis dan kastamer di lingkungan kampus.


Tidak hanya memfokuskan pada peningkatan kecerdasan maupun pembangunan akses internet bagi siswa, Telkom juga memberikan perhatian terhadap guru sebagai elemen kunci dalam membangun generasi bangsa yang cerdas. Generasi Baru Guru, demikian nama program CSR tersebut, ditujukan untuk membantu meningkatkan kualitas guru dalam menjalankan fungsinya dalam melahirkan generasi Bangsa yang maju. Telkom telah dan secara berkesinambungan menjalankan program ini sebagai bagian dari upaya membangun generasi bangsa yang cerdas.


Lima pilar program strategis yang berkaitan dengan CSR Telkom di bidang pendidikan (IG2S, CAP, e-Learning, Smart Campus, dan Generasi Baru Guru), telah dijalankan Telkom secara sungguh-sungguh. Hal ini semakin menunjukkan bahwa Telkom sangat serius dalam upayanya ikut mencerdaskan bangsa melalui dukungan berbasis teknologi dan solusi Infokom.


Mencerdaskan bangsa, merupakan suatu upaya besar yang bersifat jangka panjang. Namun, Telkom telah merintis jalan menuju keberhasilan yang lebih besar lagi. Keberhasilan Telkom dalam meraih laba dalam kegiatan bisnis, pada saat yang sama, sebagiannya dikembalikan lagi ke tengah-tengah masyarakat dalam berbagai bentuk kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kemajuan bangsa di masa mendatang.