Tampilkan postingan dengan label Inovasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inovasi. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 22, 2010

Membangun Lingkungan Inovatif. Pilih Inovasi atau Tertinggal?

Sebagai produsen alat utama sistem persenjataan (alutsista), PT Pindad senantiasa mengadakan inovasi teknologi secara dinamis.

Pembangunan industri pertahanan dan keamanan (hankam) bagi negara manapun kini merupakan sebuah keniscayaan. Bidang ini menjadi penting karena industri hankam menyediakan sumber daya yang dibutuhkan bagi pertahanan dan keamanan. Hal inilah yang menyebabkan di mana pun industri hankam menjadi strategis dan memberikan ruang yang besar bagi negara untuk melakukan intervensi. Sehingga setiap negara berusaha untuk mengembangkan industri hankamnya sendiri agar mandiri.

Sebagai produsen alutsista, PT Perindustrian Angkatan Darat (Pindad) memang tergolong unik. Pindad membuat produk hanya diperuntukkan semata buat satu konsumen, yakni Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Kami tak bisa disamakan dengan industri otomotif lainnya. Tapi, kami tetap perlu strategi bagaimana bisa berkembang,” kata Direktur Utama PT Pindad, Adik Avianto Soedarsono.

Pihaknya memang bisa saja mengekspor produk untuk kebutuhan negara lain. Namun, lanjut Adik, biasanya negara pengimpor tanya, apakah negara sendiri menggunakan produk dimaksud. Karena itu, jika ada peluang baginya untuk menjual produk keluar, tuturnya, dasarnya harus dibangun dulu oleh TNI. Lebih dari itu, pihaknya juga harus memproduksi peralatan sesuai kebutuhan.

26 tahun beroperasi merupakan waktu yang tergolong cukup untuk membangun kemampuan sendiri, khususnya dalam memproduksi amunisi maupun alutsista. Karena itu, selalu up to date dengan perkembangan di luar senantiasa mutlak dilakukan. “Intinya, bagaimana semangat ini dibangun agar kita tak bergantung dari luar. Dengan semangat itu kita berusaha untuk punya kemampuan sendiri,” kata Adik.

Ketergantungan yang tinggi pada pihak asing terhadap peralatan dan produk hankam, selain menguras devisa juga akan mengandung kerawanan bagi kedaulatan dan pertahanan negara yang bersangkutan. Dalam perang teluk kemarin, ternyata sebagian peralatan militer Amerika tergantung pada komponen industri sipil buatan Jepang.

Untuk Indonesia, embargo terhadap peralatan dan jasa di bidang pertahanan dari Pemerintah Amerika Serikat cukup mengganggu kinerja sistem hankam kita. “Jadi, mau tidak mau Indonesia harus terus-menerus berusaha mengembangkan industri dan teknologi hankamnya sendiri secara mandiri,” tutur Adik.

INOVASI PRODUK & PEMBIAYAAN: Sebagai contoh, saat ini Pindad tengah menyelesaikan produk panser jenis Armored Personnel Carrier (APC) 6x6 pesanan Departemen Pertahanan (Dephan), yang diperkirakan selesai tahun ini. Penyerahan panser ini dilakukan secara bertahap sesuai dengan jumlah unit yang telah diproduksi. Meskipun buatan dalam negeri, dari sisi kualitas panser produksi terbaru Pindad tidak kalah dibandingkan panser buatan luar negeri seperti Perancis.

Terobosan ini mendapat apresiasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyaksikan pelaksanaan serah terima 40 panser dari 154 panser antara Dephan dan Pindad, beberapa waktu lalu. Usai pidato dan peninjauan, SBY langsung menaiki Panser tersebut. Ia berdiri, melambaikan tangan, dan memberi acungan jempol untuk kendaraan tempur buatan dalam negeri itu.

Presiden SBY mengatakan, panser buatan Pindad tersebut merupakan prestasi gemilang putra dan putri bangsa. “Inovasi ini tidak kalah dari negara lain,” katanya. Keinginan agar TNI menggunakan produk dalam negeri sudah ia ungkapkan sejak 2005. Menurut SBY, jika industri strategis di dalam negeri bisa memproduksi, wajib menggunakannya, asalkan kualitasnya kompetitif dibanding impor. “Malu, jika kita harus mengimpor senapan atau sepatu dari luar negeri,” kata SBY.

Sedangkan untuk alat utama sistem senjata (alutsista) canggih yang belum bisa diproduksi, seperti pesawat tempur dan kapal selam, bisa dibeli dari negara lain. “Itu pun tidak boleh ada kondisionalitas,” katanya. SBY mengatakan, pembelian Alutsista harus didasarkan pada skala prioritas. “Jangan tiba-tiba beli,” kata SBY. Karena ini juga terkait bisnis, SBY juga meminta audit dilaksanakan agar sesuai standar.

Sampai saat ini Pindad terus berupaya meningkatkan diri untuk melengkapi berbagai kebutuhan logistik bagi TNI maupun Polri. Bahkan, menurut rencana, tidak lama lagi Pindad akan melakukan inovasi dengan membuat roket propelan dan ranjau pintar dasar laut dengan kemampuan daya ledak di atas TNT untuk TNI AL.

”Inovasi terus terus kami kembangkan dan tingkatkan. Ke depan kami akan mencoba meraih teknologi roket propelan, karena sekarang eranya roket,” kata adik. Namun demikian, kata dia, selama ini untuk memasok kebutuhan bahan dasar, baik senjata, amunisi maupun peralatan tempur lain, beberapa komponen harus didatangkan dari beberapa pabrik di luar negeri seperti Korea, Thailand, dan Belgia. Pihaknya juga bekerja sama dengan beberapa negara untuk pengadaan bahan baku tersebut agar tidak ada ketergantungan terhadap satu negara.

Menurut Adik, panser buatan Pindad memiliki spesifikasi yang sama dengan produksi luar negeri, baik dari bahan baku maupun kemampuan di medan tempur. Namun, dari sisi harga, panser buatan dalam negeri jauh lebih murah. Sebagai gambaran, panser buatan luar negeri harganya bisa mencapai Rp13 miliar per unit, sedangkan produksi dalam negeri harganya hanya Rp6 miliar hingga Rp7 miliar per unit. “Jadi, ada penghematan dana yang cukup besar," katanya.

Yang membanggakan, inovasi Pindad di bidang persenjataan beberapa kali menyita perhatian publik internasional. SS-2 (Senapan Serbu-2) beberapa kali menang dalam ajang pertandingan Internasional. Di Brunei Darussalam anggota TNI yang memakai SS2-V4 berhasil mengalahkan angkatan bersenjata Brunei, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, dan negara ASEAN lainnya yang memakai senapan serbu jenis M16 buatan Amerika dan AK buatan Rusia.

LINGKUNGAN INOVATIF: Dengan inovasi, Pindad mampu memproduksi dan mengembangkan produk alutsista sesuai keperluan. “Untuk survive, kita harus inovatif, baik produk maupun proses. Kemampuan karyawan harus terus berkembang,” kata Adik. Sebab, lanjutnya, fasilitas yang baik dan SDM yang berdedikasi tinggi dengan inovasi-inovasi yang dilakukan secara terus menerus, akan menghasilkan produk-produk prasarana yang inovatif dan kompetitif.

Untuk itu, lanjutnya, peran pemimpin dalam mengembangkan kultur inovatif sangat vital. Kemampuan terobosan, menjalankan bisnis as usual, atau menghasilkan temuan-temuan baru bergantung pada top management. Menurut Adik, “Dia harus capable, baik secara teknologi maupun network. Karena bisnis ini tidak sendiri, tentu dia tak bisa jalan sendiri.”

Beberapa perusahaan tertentu sering kali susah mengalami inovasi. Pindad juga sempat mengalami hal serupa, karena kemampuan penguasaan teknologi yang terbatas. Karena itu, Adik segera meminta dukungan dari institusi terkait. “Waktu bikin panser yang tak kuat nanjak, saya ke Perancis dan Jerman, minta dukungan. Masalah harga masih bersaing dengan industri alutsista dunia,” katanya.

Hambatan lainnya dalam berinovasi, menurut Adik, adalah tidak adanya kepercayaan. “Orang tidak percaya kalau kita mampu. Padahal, kalau memang diberi kesempatan, saya bisa mengusahakan,” katanya. Karena itu, pihaknya tidak memiliki kesempatan untuk melakukan eksperimen maupun mengasah kemampuan.

"Negara lain kalau mau bikin alat, ditanya kesanggupannya seperti apa, bisa diusahakan tidak. Sementara di Indoneia tidak. Kalau tidak bisa, beli sama dari luar atau impor,” tutur Adik mencontohkan. Padahal, lanjutnya, jika kesempatan dan dana diberikan padanya, ia yakin bisa. Memang blm bisa mencapai angka 100%, “tapi learning curve saya akan menuju ke sana. Saya mau bikin banyak inovasi produk, sehingga market saya di TNI tambah besar,” ujar Adik, menambahkan.

Untuk merebut kepercayaan tersebut, Adik lantas memotivasi dan menggerakkan anak buahnya dan memberikan kesempatan lebih banyak pada mereka untuk melakukan percobaa-percobaan sehingga mampu menghasilkan inovasi handal. “Kita harus buktikan kalau mampu. Kapabilitas teknologi, kemampuan akademis, lembaga riset pemerintahannya, memberikan dana untuk pelatihan, itu yang harus dibangun,” katanya.

Membangun lingkungan yang senantiasa membuka lebar-lebar terhadap tumbuh kembangnya budaya inovasi, menurut Adik, juga seharusnya dipacu oleh pemerintah. “Kalau pemerintahnya kuat, penguasaan teknologi bisa dilakukan dengan pemberian fasilitas, penguatan riset dan pengembangan, hingga pemberian beasiswa,” katanya. Kelak, lanjutnya, kemampuan dan kepintaran yang dimiliki bisa diaplikasikan di dunia persenjataan.

Inovasi sebagai kultur dan budaya kerja, menurut Adik, senantiasa terus dikembangkan. Usaha yang dilakukan adalah senantiasa melakukan eksperimentasi terhadap produk, melakukan riset dan pengembangan, dan tentunya kesempatan. Apalagi, pembelajaran teknologi ternyata merupakan proses besar yang dinamis, butuh waktu, biaya, dan tidak terjadi secara otomatis.

Karena itu, ia berharap, pemerintah tidak lagi memandang Pindad sebagai perusahaan pemasok senjata. “Tapi memandang kita sebagai bagian dari sistem yang harus dibina,” katanya. Untuk perang, perlu peluru, dan pelurunya harus ada yang membuatkan. Dan, membuat senjata seperti yang diinginkan, lanjutnya, perlu waktu dan tidak bisa dibuat secara mendadak.

Selain mengharapkan adanya keberpihakan dengan cara memberikan kesempatan, Adik juga memerlukan sinergi antara instansi pemerintah. Sebab, lanjutnya, energi yang diperlukan untuk mengurusi birokrasi kadang lebih berat. Jika tidak, pilihannya hanya ada dua, mau berkembang dengan inovasi atau tetap tertinggal?

Selasa, November 25, 2008

Menggenjot Produktivitas Padi dengan Pola Tanam SRI

Turunnya tingkat kesuburan tanah, rendahnya produktivitas pertanian, serta kelangkaan sumber daya air menjadi hambatan berarti bagi peningkatan produktivitas pangan di masa mendatang. Namun, SRI datang membawa solusi. Apa saja keunggulannya?

Di saat kita mencanangkan produktivitas hasil-hasil pertanian, kita sejatinya juga tengah berhadapan dengan sejumlah permasalahan pelik di lapangan. Bagaimana tidak. Tanah kita ternyata tidak sesubur dulu lagi. Sumber daya air yang menopang produktivitas pertanian juga semakin langka. Pemanasan global kini tidak lagi isu semata, melainkan telah mempengaruhi pola tanam pertanian. Belum lagi tuntutan agar kita juga memproduksi pangan yang sehat dan ramah lingkungan.

Untungnya, di tengah himpitan persoalan, acapkali muncul mutiara gagasan ataupun temuan baru di bidang pola tanam yang mencengangkan. System of Rice Intensification atau disebut SRI, contohnya. Belakangan, inovasi dalam hal intensifikasi pertanian ini diyakini sebagai solusi di saat petani kita didera oleh turunnya produktivitas pertaniannya.

SRI dikenal dengan berbagai keunggulannya, mulai dari usaha tani yang ramah lingkungan, hemat air irigasi, hemat saprodi (bibit), serta produksi tinggi yang di atas rata-rata nasional. Selain dapat mendaur ulang limbah, berbasis kearifan lokal, beras organik yang dihasilkan pun sehat dan bebas residu kimia. Soal harga, tarif harga beras hasil pertanian SRI juga di atas harga pasar.

Inti dari SRI adalah intensifikasi proses yang merupakan sumbangan teknologi kimia terhadap pertanian. Pola tanam ini mengenal prinsip-prinsip dasar yang mesti diaplikasikan dalam setiap usaha pertanian. Tanah yang sehat, karena menggunakan bahan organik, benih muda bermutu yang berumur 5-10 hari dari kecambah di persemaian, serta pola tanam tunggal dan dangkal dengan akar horizontal membentuk huruf L. Di samping itu, benih yang dibutuhkan hanya sekitar 5-7 kilogram/hektar. Jarak tanamnya lebar, dengan kisaran jarak 27x27 cm atau 30x30 cm. Penyiangan dilakukan setidaknya tiga hingga empat kali.

TEKNIK PENANAMAN: Sistem intensifikasi ini diperkenalkan oleh Mubiar Purwasasmita, dosen Departemen Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB). Bersama seorang penyuluh dari Ciamis, Alik Sutaryat, ia mencoba menggunakan kompos untuk menanam padi. Bahkan, Alik sudah mencoba menanam padi di dalam pot. Hasilnya, menanam padi tak selalu harus di sawah. Di rumah pun bisa karena kini padi dapat ditanam di pot. Hasilnya pun bisa berlipat ganda dibandingkan dengan penanaman di lahan sawah yang menggunakan metode konvensional.

Dalam teknik penanamannya, persiapan lahan dilakukan dalam dua tahap, disingkal dan digaru (dihaluskan). Pada saat bersamaan ditaburkan pula kompos. Biarkan lahan macak-macak (lembab) selama satu minggu. Direkomendasikan pemakaian kompos sebanyak 5-10 ton per hektar. Penambahan kompos ini juga dapat dilakukan pada saat penyiangan.

SRI juga mengadopsi pemilihan benih bernas. Sebelum benih disemai perlu dilakukan uji benih bermutu/ bernas dengan menggunakan larutan garam. Persemaian dipersiapkan di lawah sawah dengan menggunakan nampan atau alat sederhana lainnya. Selanjutnya, penanaman satu bibit per lubang saat bibit berumur 5-10 hari. penanaman ini menggunakan sistem tanam tunggal, tanam dangkal, dan akar berbentuk huruf L, dengan jarak tanam minimal 27x27 cm.

Penanaman yang baik adalah benih padi pada usia 10 hari segera dipindahkan ke pot atau sawah karena pada usia 12 hari benih akan menghasilkan buku pertama. Buku pertama itu akan menghasilkan 65 persen anakan. Pada penanaman, benih jangan terlalu ditekan dalam-dalam, cukup dibenamkan hingga berbentuk seperti huruf L. Ini untuk membuat pertumbuhan akarnya maksimal.

Selama masa pertumbuhan, budidaya padi intensif dan efisien ini mengutamakan manajemen perakaran yang berbasis pada pengelolaan air, tanah, dan tanaman. Pengendalian hama dilakukan melalui konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu budidaya tanam sehat, pendayagunaan fungsi musuh alami, pengamatan berkala, dan tidak menggunakan pestisida sintetis.

Penanaman padi metode SRI pada dasarnya tidak selalu harus digenangi. Untuk mendapatkan resapan air yang cukup, perlu dibuat saluran keliling dan memotong pada pertengahan lahan. Pada tahapan pertumbuhan vegatitif, irigasi berselang (terputus) dapat diterapkan. Air diberikan secara macak-macak. Pada saat penyiangan, dilakukan penggenangan (2-3 cm). pada padi berumur 45 hari lahan dikeringkan selama 10 hari untuk menghambat pertumbuhan vegetatif. Irigasi tanpa penggenangan ini diyakini akan dapat menghemat air sampai 40%.

Air diberikan secara macak-macak kembali sampai masa pertumbuhan malai, pengisian butir, hingga bernas. Lahan digenangi sehari sebelum penyiangan untuk mempermudah penyiangan. Penyiangan dilakukan selang 10 hari sebanyak minimal tiga atau empat kali, mulai dari hari ke-10,20,30, dan 40 hari setelah tanam. Selanjutnya, sawah dikeringkan sampai panen.

PERBANDINGAN SIGNIFIKAN: Pola tanam SRI ini memang berbeda dibandingkan dengan cara konvensional. Pada pola tanam konvensional, umur semai sekitar 30 hari, jarak tanam 20x20 cm, serta memerlukan benih 40 kg/hektar. Sedangkan SRI memiliki umur benih 5-10 hari, jarak tanam 30x30 cm, dan benih yang dibutuhkan cukup 7 kg/hektar.

Lahan dan tanaman harus digenangi dalam pola tanam konvensional, sedangkan SRI lahannya tanpa penggenangan, dan kondisi lahan macak-macak. Perbedaan lainnya, 30 hari setelah tanam, padi yang ditanam dengan cara konvensional memiliki kondisi akar layu, sedangkan pola SRI cenderung lebih berkembang dan kuat. Sebab, jika digenangi oksigen pada padi yang bukan tanaman air ini tak bisa menembus akar. Akar pun tak dapat menghasilkan nutrisi yang dibutuhkan tanaman.

Hasil dan pendapatan hasil padi pun meningkat, kualitas produk lebih sehat dan berdaya saing tinggi. Metode tersebut menghasilkan gabah tiga kali lebih banyak dari penanaman konvensional di sawah yang digenangi air. Metode konvensional menghasilkan 4 ton gabah per hektar. Akan tetapi, dengan penanaman yang diberi kompos dapat mencapai hasil 12 ton gabah per hektar. Terbukti, di Sukabumi, pola tanam SRI mencapai 9,2 ton/hektar, Ciamis 9,3 ton/hektar, sedangkan di Garut mencapai 11 ton/hektar.

Pola tanam yang juga tengah disosialisasikan Yayasan Aliksa Organik SRI (AOS) ini juga berdampak pada lingkungan sehat berkelanjutan, tumbuh dan berkembangnya kearifan lokal, serta pemanfaatan potensi lokal. Yang lebih mengejutkan, produkitivitas ini ternyata membangkitkan semangat berusaha tani dan menumbuhkan pasar lokal.