Tampilkan postingan dengan label Profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profesional. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 22, 2010

Ida Yusmiati, Si Kancil yang Cerdik

Hidup punya jalannya sendiri. Tetapi jalan hidup adalah pilihan. Jika satu pilihan telah diambil dan ditempuh, pilihan lain tak mungkin dijalani pada saat yang bersamaan. Begitu juga dengan pilihan karier yang ditempuh Ida Yusmiati. Sejak mengenal bangku sekolah, rupanya ia sudah mencita-citakan sebuah pekerjaan di industri minyak dan gas.

Adalah figur sang bapak yang mengenalkannya pada industri ini. Harap maklum, bapaknya adalah karyawan Pertamina. Karena karier bapaknya pula, Ida Yusmiati berpindah-pindah tempat tinggal. Ia menamatkan pendidikan dasar di Medan, Sumatera Utara. Sedangkan bangku sekolah menengah pertama dan menengah atas dihabiskan di Padang, Sumatera Barat.

Terobsesi dengan pekerjaan sang bapak, Ida, panggilan kecil perempuan kelahiran Bandung, 6 Juni 1965 ini, selanjutnya melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB). Di benaknya, terbayang profesi seorang insinyur yang menghabiskan waktu dan tenaganya di industri gas maupun perminyakan.

Setelah menamatkan pendidikan tingginya, Ida kemudian bekerja di perusahaan migas, Arco Indonesia, pada tahun 1989. Jabatan pertamanya saat itu adalah staf di production engineer. “Selanjutnya, saya di divisi petroleum engineer, hingga jadi reservoir engineer,” katanya.

Selama di divisi ini, ia menemukan berbagai pengalaman menarik. Pekerjaan di lapangan menuntutnya untuk melakukan kunjungan ke rig. “Pertama kali nyoba meng-cover offshore, visit ke rig,” kenangnya. Padahal, periode saat itu belum banyak profesional perempuan yang bekerja di perminyakan dan ditugaskan di offshore. Karena itu, Ida termasuk generasi pertama wanita yang ditugaskan ke offshore dalam sejarah perminyakan di Indonesia.

Ida mengakui, pekerjaan ini cukup menantang keberanian dan kekuatan mentalnya. Sebab, sebagian besar partner kerjanya adalah kaum lelaki dengan usia di atas dirinya. Nyatanya, tidak ada hambatan secara mental maupun fisik, karena rekan kerja begitu kooperatif. “Secara mental, enggak jauh beda antara perempuan dan laki-laki. Mereka baik, ramah, perhatian, dan mengerti tugas yang harus kita kerjakan,” kata Ida.

Tentu ia sempat merasakan saat-saat berat selama penugasan, misalnya jauhnya dari flow station yang membuatnya harus menginap di rig. Sebagai team leader, sesekali muncul rasa jenuh, apalagi tugas yang durasinya panjang. “Tapi, kunjungan ini kan tidak rutin, ada kerjaan yang dilakukan supervisi. Jadi, tidak merasa jenuh juga,” tutur Ida.

Yang banyak menolong Ida, hubungan kerja di antara rekan berlangsung baik sekali. Bahkan di antara rekan kerja saling memperhatikan, terbuka, saling minta tolong. “Waktu itu, sebagai engineer, saya mengerjakan pekerjaan di offshore yang operatornya pria berumur. Tapi, tidak ada masalah,” katanya.

Selama menjadi orang lapangan sebagai team leader, ia sempat ditugaskan di sejumlah lapangan yang dikelola Arco, seperti Kangean, Bali Utara, bahkan penugasan ke luar negeri, tepatnya di Alaska sebagai reservoir engineer selama periode 1996-1997. selama penugasan, ia membawahi para insinyur di lapangan.

Pada tahun 2000, Arco Indonesia mengalami peralihan ke BP Indonesia. Dari lapangan, ia berpindah tugas dan menjadi orang kantoran dengan memfokuskan diri pada bidang komersil. Sebagai comersial team leader, ia kembali mendapatkan penugasan internasional, tepatnya di Aberdin, BP North Sea, pada periode 2004-2006. selanjutnya ia ditugaskan di LNG Tangguh.

Mulai tahun 2008, Ida bekerja di BP West Java sampai masa peralihan ke Pertamina, pada tahun ini, dan berubah menjadi PHE ONWJ. Dengan kata lain, sejak awal berkarier hingga sekarang Ida tidak pernah pindah kerja. Hanya saja, perusahaan tempatnya bekerja mengalami pindah kepemilikan dan perubahan nama saja.

Setelah divestasi ke Pertamina, Ida menjabat sebagai General Manager Comersial and Investment/Finance. Divisi ini membawahi comersial, marketing, PSIM, procurement, dan teknologi informasi. Tugas dan tanggung jawabnya pun bertambah seiring dengan target dan harapan baru yang dibebankan perusahaan.

Sebagai general manager, ia bertugas untuk menopang bisnis dari bidang komersil, marketing, PSIM, dan teknologi informasi agar bisnis berjalan dengan baik. “Kalau komersial, kita lebih fokus ke bisnis ONWJ. Secara keseluruhan, marketing focus pada pemasaran gas dan mengoptimasi gas yang kita produksi,” katanya. Selain itu, lanjutnya, PSIM fokusnya pada bisnis sehari dari segi pengadaan dan jasa. Sedangkan divisi teknologi informasi men-support bsinis dari segi informasi dan teknologi.

Tahun ini perusahaan menargetkan produksi secara keseluruhan sebesar 22,5 ribu barel per hari. Sedangkan produksi gasnya ditargetkan mencapai 222 dbd per hari. Ada juga target pencapaian lewat pelaksanaan pekerjaan. Dari sisi produksi, menurut Ida, target ini menjadi tantangan. Kendati demikian, peluang untuk mewujudkan target ini cukup besar. “Kurang lebih kita bisa memenuhi dan bahkan ada improvement, dengan cara meningkatkan koordinasi dan kerja sama antardepartemen,” katanya.

Apalagi, lanjutnya, tim ONWJ setelah mengalami divestasi justru lebih solid dibanding sebelumnya. Setiap departemen mengetahui fungsi dan peran masing-masing sehingga bisa meningkatkan performa. Bahkan, Ida optimis, ONWJ punya potensi untuk menjadi role model ke depan.

Lapangan yang sudah mature yang dioperasikan merupakan tantangan yang cukup berat di pundak setiap karyawan. Mereka dituntut untuk lebih bertanggung jawab terhadap profesionalisme, karena perusahaan dianggap sebagai acuan untuk operasi yang ada di laut. “Menurut saya, kami punya potensi ke arah itu meskipun tantangannya ada. Tiap orang di ONWJ bisa berbuat lebih banyak untuk berkontribusi,” katanya.

Oleh karena itu, ia juga dituntut untuk melakukan pendekatan dengan bawahan, dengan mengedepankan peningkatan komunikasi, baik di internal maupun antardepartemen. Ia bertekad untuk membangun visi yang sama terhadap ONWJ. Hubungan kerja yang profesional tapi juga dekat juga terus ia lakukan.

Menjaga nilai-nilai profesionalisme dalam karier merupakan salah satu kiat Ida dalam membangun karier. Apalagi, setelah diakuisisi Pertamina, ia lebih dituntut untuk bertanggung jawab dengan pekerjaan dan tugas sehari-hari. Hal ini ia lakukan seiring dengan proses adaptadi serta pembangunan budaya dan iklim kerja baru.

Sebab, sewaktu di bawah naungan BP yang grup dan jaringan bisnis besar dengan standar yang lebih baku, perusahaan menerapkan guideline maupun base practise sharing. Sejak di bawah Pertamina, ia dihadapkan pada situasi untuk lebih independen. “Kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita putuskan dan lakukan. Kita seperti stand alone. Tapi di saat lain kita tetap dituntut profesional,” tutur Ida.

Karena itu, Ida tak mengelak juga sempat merasakan stres di tempat kerja. “Yang namanya stres yang di-drive oleh deadline itu biasa. Kalau kerjaan yang ribet, itu suatu yang wajar,” katanya. Sebagai pelarian, ia berupaya untuk menciptakan keseimbangan antara aktivitas dunia kerja dengan di luar kerja. Kegemaran berkebun, bersepeda, main tenis, serta mencoba hal-hal baru menjadi pelariannya saat jeduh melanda.

Dengan tugas dan tanggung jawab yang diembannya, Ida menfokuskan diri untuk menstabilkan organisasi. “Saya ingin berbuat apapun yang saya bisa untuk menstabilkan dan mengembangkan ONWJ. Kita berharap bisa berbuat lebih banyak lagi untuk memenuhi visi dan target perusahaan,” katanya, dengan wajah penuh keyakinan.

Jumat, Agustus 22, 2008

Lonny Juanita, Bekerja Sambil Berpesta

Siapa yang tak butuh hiburan? Kehidupan metropolitan yang kian hiruk pikuk saja, makin meneguhkan bahwa sarana pelepasan rasa jenuh atau stres harus ada. Tingginya demand dan kebutuhan kaum urban akan hiburan itulah yang membuat tempat-tempat hang out di ibukota terus bertumbuhan. Score! salah satunya.

Sadar akan tingginya minat dan kebutuhan tersebut, Lonny Juanita optimis bahwa keberadaan Score! akan tetap diminati publik. Kafe yang mengusung konsep one stop entertainment ini memang menawarkan beragam hiburan pilihan. Mulai dari sportbar, permainan biliar, pertunjukan musik, hingga hidangan makanan berkualitas.

Turut serta mengemas acara hiburan menarik dan mensosialisasikan program agar mendapat animo pengunjung menjadi salah satu tugas keseharian Lonny, panggilan akrabnya. Selaku Public Relations Manager Score!, perempuan berusia 29 tahun ini kerap berada di garis terdepan, terutama bila sebuah program tengah diselenggarakan Score!

Di samping berhubungan dengan media serta membangun citra lembaga, ia juga mesti membangun keakraban dengan para pengunjung. Saking ramahnya, tak jarang para tamu yang datang mengartikan lain. Perlakuan iseng pengunjung tak jarang dialaminya. “Misalnya, ngajak kenalan atau makan,” kata dara berdarah Jawa dan Nusa Tenggara Timur, ini, dengan wajah tersipu.

Tapi, yang namanya public relation, tetap dituntut menghadapi suasana sepelik apapun dengan senyuman. Termasuk dengan aneka tingkah laku dan perlakuan pengunjung tadi. “Saya berusaha tidak meladeni. Tapi, sebisa mungkin sikap saya tak membuat mereka tersinggung,” tutur perempuan berambut panjang terurai yang sempat menekuni dunia modeling ini.

Pernahkah wanita rupawan ini dihinggapi rasa jenuh oleh pekerjaan? Tentu saja. Namun, atmosfer kerja yang memang sarat hiburan serta suasana keakraban antarrekan-rekan sejawat menjadi pelipur hati di kala rasa bosan menggelayut. “Makanya, saya bisa kerja sambil refreshing di sini,” ujar sang penggemar renang dan bowling. Di kala senggang, wanita karier yang tak biasa membawa pekerjaan ke rumah ini, menyempatkan waktu melirik kafe maupun tempat hiburan lain di ibukota.

Dalam dunia kerja, Lonny yang meneamtkan kuliah di Fakultas Sastra (Inggris) di Universitas Indonesia, Jakarta, juga kerap dibebani target oleh perusahaan. Tapi, “Target memicu kita lebih baik lagi di masa mendatang,” kilahnya. Yang penting, lanjutnya, lakukan tugas maupun target tersebut secara maksimal. “Saya masih ingin mewujudkan rencana-rencana Score! yang lain,” tutur Pemenang Ketiga Wajah Femina 1997 ini, lugas.

Ully Pebrianti, Bekerja Sambil Berkarya

Berkarier di dunia perhotelan memang mengasyikan. Selain salary yang memadai, juga beroleh kesempatan membangun networking yang luas. Hal inilah yang membuat Ully Pebrianti begitu menyukai profesinya sebagai Guest Relation Officer (GRO) Hotel Kedaton, Bandung, Jawa Barat. “Saya juga bisa mengetahui karakter masing-masing orang dari latar belakang budaya yang berbeda,” tutur lajang kelahiran Bandung, 27 Pebruari 1979, ini, seraya melepas senyum.

Dengan tugas melayani setiap pengunjung, mojang Parahyangan ini mesti tampil dengan performa tinggi setiap waktu. Tak heran jika senyum ramahnya bertebaran menyapa setiap pengunjung hotel tak henti-hentinya. “Dari yang mau cari informasi sampai complain saya yang hadapi,” ungkap putri ketiga dari empat bersaudara, pasangan Hendra Suriawinata dan Hanifah Sambas.

Kecintaan terhadap profesi kian menebalkan tekad Ully, panggilan akrabnya, untuk bekerja lebih profesional. Baginya, pekerjaannya sekarang merupakan peluang sekaligus tantangan. Demi obsesi meraih karier yang lebih baik, ia merelakan waktu pribadi maupun jam-jam istirahatnya terganggu. Demi pekerjaan, ia kerap harus pulang larut malam. Kendati demikian, alumnus STBA Yapari Bandung, 2002 lalu ini mengaku enjoy saja.

Sebagai sosok yang berada di garis terdepan dalam hal pelayanan, tentu ia mementingkan stamina dan kebugaran fisik. Untuk menjaga kebugaran, wanita muda yang pernah berkarier di Setia Budi Indah Hotel, Bandung, dan Citibank, ini, punya kiat sendiri. Selain jogging yang rutin dilakukan saban weekend di GOR Padjadjaran, meliuk-liukkan kuas di atas kanvas merupakan kegiatannya di kala santai. Baginya, melukis bisa menjadi pelarian, membuat pikiran senang dan fresh kembali.

“Lukisan saya alirannya ekspresionis. Antara naturalis dan abstrak,” jelasnya, seraya menambahkan, “Jadi masih bisa kelihatan obyeknya walaupun samar-samar.” Kali ini, wajah Ully tak setegang beberapa menit di muka. Senyumnya kian merekah, bertebaran ke segala arah. Anda berminat untuk dilukis? “Boleh, tinggal pesan saja,” canda Ully sambil tertawa lepas. Boleh juga.

Rara Wilis, Bekerja Sambil Bermimpi

Bekerja di bidang telekomunikasi yang kerap didominasi pria tak membuat Rara Wilis Setiawati canggung, apalagi rendah diri. Malahan, lajang berusia 30 tahun ini telah membuktikan eksistensinya sejak memangku jabatan Public Relations Manager PT Trikomsel Multimedia. Di perusahaan yang bergerak di bidang retailer produk-produk telepon seluler tersebut, ia turut andil mengembangkan gerai Oke Shop yang kini merambah 500 outlet lebih.

Wilayah kerjanya pun tak semata mengurus bagaimana citra perusahaan makin membaik, tapi juga mengelola unit bisnis, retailer, dan pemasarannya. Mulai dari survei lokasi, meneliti kondisi sosial setempat, hingga pembukaan gerai baru. “Terus terang, aktivitas tidak pernah ada ujungnya. Tapi, buat saya, dua bidang ini menarik,” aku putri ketiga pasangan Winarso dan titi Setiati ini, sumringah.

Rara, begitu ia akrab disapa, merasakan proses pembelajaran yang cepat dari bidang yang ia geluti sekarang. Selama 24 jam, ia mesti buka mata dan telinga. “Ada saja yang baru. Itu yang menyenangkan,” imbuhnya. Hal yang kerap membanggakannya adalah manakala ia merangkai program dan mengeksekusinya dengan gemilang. Gara-gara pekerjaan pula, lulusan LPK Tarakanita, ini, mengaku jadi lebih melek soal teknologi informasi.

Meski dikenal sebagai wanita yang sukses dalam karier, Rara mengakui lakonnya sebagai seorang profesional tak selamanya geluti. Kelak, ritme hidupnya yang keras dan memburu waktu, mesti ia perlambat. Seiring dengan kematangan diri dan bertambahnya usia, penggemar traveling ini mesti berpikir untuk menata kehidupan pribadi yang lebih baik.

“Ke depan, saya ingin bekerja dari apa yang saya miliki sambil menyalurkan beberapa hobi,” kata perempuan yang mahir menari tarian daerah ini. Membuka usaha sendiri, buka toko buku, merintis sanggar tari, serta bergelut dengan kegiatan sosial lain, adalah rencana-rencananya di masa depan. “Ya, kegiatan yang lebih santai dan enggak ngoyo,” ujar sang penikmat musik.

Lebih dari itu, jika pun masih bekerja, ia ingin waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah sambil membesarkan anak-anaknya. “Bukan berarti menjadi wanita karier selamanya tidak boleh. Tapi, tipe orang kan beda-beda,” kilah dara yang berencana menikah dalam waktu dekat ini. Sebuah kesadaran penuh akan kodrati.

RI.Hana Maharani, Tak Henti Menimba

Berkarier di sebuah perusahaan otomotif raksasa memang membanggakan. Rasa itu juga yang dialami Retno Intan Hana Maharani. Apalagi, jabatannya sebagai marketing public relations PT Toyota Astra Motor (TAM), begitu strategis dalam mengatrol citra perusahaan. Maka, lajang berusia 27 tahun ini, terlihat begitu enerjik menyapa sesama karyawan internal perusahaan, klien, maupun customer.

Sempat bercita-cita jadi insinyur, di tengah jalan ia malah tergiur bidang kehumasan. “Profesi ini begitu menarik buat saya,” aku mantan copywriter di sebuah perusahaan periklanan, yang bergabung dengan TAM sejak 2002 lalu. Di samping bisa bertemu banyak orang dengan pelbagai karakternya yang khas, ia mengaku tertantang untuk bisa meladeni semua keinginan mereka. Hana, begitu sapaan akrabnya, menemukan kepuasan tersendiri kala berjumpa dan membangun relationship dengan banyak orang.

Karena itu, ia beranggapan, pengalaman bergabung dan terlibat dalam tim yang mensukseskan produk-produk Toyota, merupakan pengalaman berharga. Tak cuma itu, TAM secara kelembagaan juga bisa berfungsi sebagai sarana pembelajaran baginya. “Toyota itu kayak sekolahan buat saya. Di situ, ide-ide kita terus dipacu dan dihargai,” tutur perempuan yang berencana mengabdi di dunia pendidikan ini.

Meski kebesaran nama, maupun hasil penjualan Toyota, masih bertengger di puncak teratas, bukan berarti penggemar nonton dan menulis ini sudah berpuas diri. Kompetisi yang kian ketat, diakuinya, sebagai lonceng pengingat. “Kami mesti berlomba untuk membangun brand image yang lebih baik untuk berebut pasar. Minimal kita bisa bikin program public relations yang lebih unik dan berbeda,” kata puteri sulung pasangan Hono Witono dan Lutfiana ini, mantap.

Tina Prabowo, Totalitas yang Gemilang

Saban kali merintis karier di sebuah perusahaan, setiap kali itu pula Tina Prabowo berpikir bahwa perusahaan itu adalah pelabuhan terakhirnya. Demikian juga kala ditawari berkarier sebagai Marketing & Coorporate Communication Director PT Amway Indonesia, pada 2003 lalu, ia pun tak merasa perlu lagi lirak-lirik rumput tetangga atau mencari pekerjaan yang lebih prestisius.

Dalam rumusan berkarier, pantang bagi perempuan kelahiran Jakarta, 1 Agustus 1963 ini, untuk berpindah-pindah kerja. “Kutu loncat juga enggak baik. Nanti dikira saya tidak konsisten dan tidak profesional,” kilah mantan General Manager Sales and Business Development PT Ericsson Indonesia, ini, lugas. Kini saatnya bekerja dengan totalitas yang tinggi, begitu tekadnya.

Kendati demikian, rasa gamang sempat menghantui Tina, sapaan akrabnya, ketika baru bergabung dengan salah satu perusahaan multilevel marketing (MLM) terbesar di Indonesia itu. Bukan apa-apa, inilah kali pertama baginya bekerja di perusahaan MLM. Berbeda dengan sebelumnya yang sebagian besar perusahaan multinasional yang berhubungan dengan conventional channel.

Kewenangan, keleluasaan bergerak, dan tim marketing yang solidlah, yang membuyarkan keraguannya itu. Dibebani tanggung jawab merancang business plan selama tiga tahun pada trisemester pertama, ia lewati dengan gemilang. Begitu pula saat ditugaskan membenahi struktur organisasi dalam kurun enam bulan.

Tahun pertama memaksa Tina bekerja ekstra. Karena target perusahaan, jam kerjanya pun melar, dari pukul 08.00 hingga 22.00. “Hampir tidak ada hari liburnya. Terkunci, tak bisa kemana-mana,” aku pemegang gelar MBA dari IPMI – Business School & Monash University, ini.

Toh, masa-masa sulit dan penuh tantangan itu dilaluinya dengan sukses. Terobosan baru untuk memajukan Amway Indonesia ia urai dengan lihainya. Alhasil, Amway Indonesia mampu menduduki urutan ke-10 dunia, dan berada di peringkat pertama di Indonesia.

Sejak awal, bekas National Costumer Development PT Pepsi Cola Indobeverages, ini, berprinsip tak mau mengecewakan atasannya. “Kalau sudah begini, ‘harga’ saya bisa lebih tinggi lagi kalau dibajak orang,” katanya sambil tergelak.

Kini, Tina yang memendam obsesi memiliki perusahaan sendiri, mengaku lebih enjoy dalam bekerja. “Saya bisa olahraga, senang-senang, masuk gym, golf, liburan bareng keluarga, dan shopping around sekarang,” ujarnya dengan senyum merekah. Rona optimisme bertaburan di pelataran wajahnya.

Adita Irawati, Profesionalitas yang Mengalir

Tanggung jawab menggunung mesti ia pikul semenjak dipromosikan menjadi Vice President Public Relations PT Indosat, sejak setahun lalu. “Saya mesti meng-cover kehumasan Indosat di seluruh Indonesia,” kata Adita Irawati. Tentu tak semata membangun citra korporat, tapi juga produk dan layanannya.

Sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di tanah air, urusan citra memang tidak sepele bagi Adita, panggilan perempuan kelahiran Yogyakarta, 15 Februari 1971 ini. Ia sadar, sebagai perusahaan retail yang bersinggungan dengan kebutuhan publik, pelayanan merupakan hal yang diagung-agungkan.

Tugas Adita berfokus pada isu yang mendapat perhatian khusus dari media massa. Semuanya, menjaga citra lembaga dari segala aspek. Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, ini, merinci, tugasnya melingkupi citra dari sisi produk, pelayanan, infrastruktur, karyawan, hingga performa perusahaan itu sendiri.

Termasuk menyampaikan bad news dengan good news? “Masyarakat sekarang lebih pintar. Kita harus bisa lebih jujur pada publik, selama hal itu tidak merugikan perusahaan,” kilah perempuan yang telah berkarier selama 12 tahun ini. Kalau memang layanan kita buruk, lanjutnya, kita mesti berbesar hati menerima dan meminta maaf. “Tentu, dengan memberikan penjelasan langkah-langkah yang mesti dilakukan perusahaan agar terus membaik.”

Sikap profesionalitas juga menjadi prinsip yang ia pegang teguh. Sebagai divisi yang berhubungan dengan respon konsumen, Adita memiliki aksesibilitas yang tinggi. Piranti telekomunikasi, seperti ponsel, mesti ia hidupkan selama 24 jam. Bahkan di hari libur sekalipun, penggemar nyanyi, baca, dan musik ini, mesti rela diganggu urusan kantor. “Ini memang komitmen saya,” tuturnya, mantap.

Bila nilai-nilai profesionalisme tersebut ia jalankan, Adita yakin, karier atau jabatan akan datang dengan sendirinya. “Saya tak punya target mesti jadi apa selanjutnya. Mengalir saja. Yang penting, kalau sudah diberi target, kejarlah target itu. Kalau perlu overtarget,” tandas sang ibu dua anak, dengan wajah serius.

Profesional dan proporsional, begitu istilah tepatnya. Kalau terlalu berambisi mengejar target yang muluk-muluk, Adita menambahkan, pasti ada salah satu yang jadi korban. “Yang penting berjalan secara proporsional, termasuk dalam berbagi waktu antara kerja dan keluarga,” imbuhnya.

Kini, ia berencana mengembangkan jiwa entrepreneurship-nya dengan membuka biro konsultan, atau agensi kehumasan. Faktanya, sesibuk apapun tugas menjerat, ia tetap mampu membagi waktu bersama keluarga.

Kamis, Juli 17, 2008

Terdongkrak Air ke Puncak

Muda, keren, dan berprestasi. Di Indonesia, Alino Sugiantoia termasuk sosok di balik merjer dua perusahaan asing kakap, Sony dan Ericsson. Dalam hitungan tahun, ia sukses mengantarkan Sony Ericsson ke tangga urutan dua dalam percaturan ponsel di tanah air. Apa kiatnya?

Komunikasi menjadi hajat hidup orang banyak, kini. Buktinya, industri telekomunikasi, lebih-lebih handphone, seperti tak pernah mengenal kata henti dalam berinovasi. Saban waktu, produk-produk baru beragam gaya yang dikeluarkan vendor-vendor terkemuka kerap menggerojoki pasar. Bahkan, sekarang telepon selular (ponsel) menjadi cermin gaya hidup masyarakat.

Fenomena tersebut juga tak pernah disia-siakan oleh Alino Sugianto. Sebagai Country Manager Sony Ericsson Indonesia, instink untuk mencari inovasi baru harus dimekarkan agar tak ditinggalkan pasar. “Visi kami adalah menjadi pemain terdepan di Indonesia, khususnya di industri multimedia bergerak,” ucap Alino, tegas.

Obsesi itu tak mengada-ada. Pasalnya, baru dua tahun dua perusahaan asing raksasa ini bergabung, produk-produknya mendapat respon positif di pasar. Bahkan, berkat kerja keras alumnus University of Illinois, Amerika Serikat, ini sekarang ponsel berbendera Sony Ericsson berada kukuh di posisi dua sebagai merek ponsel ternama di Indonesia.

Bukan kali ini saja lajang kelahiran Manado, 25 Septembet 1970 itu menuai sukses. Di awal penggabungan dua perusahaan asing, Sony Electronics Inc. asal Jepang dan Ericsson Mobile Telecommunications dari Swedia, dua tahun silam, bayang-bayang kegagalan acap menghantuinya. “Penggabungan ini tidak mudah, karenya menyangkut dua kultur perusahaan berbeda,” katanya dia sebelum menyahuti ponselnya yang berdering.

Namun, kelihaiannya dalam mengatasi segala medan tantangan membuktikan hal sebaliknya. Eksekutif yang gemar memakai pakaian kasual ini berkata, “Saya bisa diterima di dua kutub berbeda itu.” Produk-produk yang diluncurkannya pun mendapat respon positif di pasar domestik. Malah, sanggup memburu ketertinggalan dengan vendor terkemuka lainnya.

Bila ditelisik, buah suksesnya ini tak lepas dari prinsip kerjanya yang berpantang menyerah. Kendati bukan termasuk sosok yang punya kemauan keras, penggemar warna biru itu tak mengenal kata diam dalam menghasilkan sesuatu yang berbeda dan berkarakter.

“Mengalir saja bagai air,” tuturnya tentang prinsip kerja, sembari mengurai senyum, ramah. Alino yakin, kemana alur menghampar, air akan mengalir terus. Tak peduli dengan bendungan sekuat apa pun. Yang penting, tidak hanyut atau tenggelam saja, kan?

Boks

Lika-Liku Karier Alino


2002 - sekarang: Country Manager PT Sony Ericsson Indonesia

2000 - 2002 : General Manager - Vice President - Marketing PT

1999 - 2000 : Marketing Manager

1998 - 1999 : Brand Manager - Senior Brand Manager PT British American Tobacco (BAT) Indonesia

1997 - 1998 : Duty Fee Manager

1996 - 1997 : Brand Executive

1995 - 1996 : Brand Assistant