Tampilkan postingan dengan label Mancanegara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mancanegara. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 25, 2008

Kepak Sayang Negeri Sakura

Tak ada sumber daya alam yang dapat diandalkan. Namun, Jepang tidak menjadikan keadaan geografis yang kurang menguntungkan sebagai alasan tidak bisa maju. Hasil pertaniannya merupakan yang tertinggi di dunia. Meski terkenal sebagai negara industri maju, pertanian tetap menjadi sektor utama. Kini, banyak negara di Asia yang menjadikan keberhasilan Jepang sebagai sumber inspirasi baru.

Berbeda dengan negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, Jepang justru bergantung pada sumber-sumber dari negara lain. Negara tersebut tidak hanya mengimpor minyak bumi, biji besi, batu arang, kayu, dan sebagainya. Bahkan, hampir 85 persen sumber tenaganya berasal dari negara lain. Selain itu, Jepang juga mengimpor 30 persen bahan makanan dan negara lain untuk memenuhi konsumsi makanan penduduknya. Namun, di Jepang, pertanian tetap menjadi sektor utama meskipun telah menjadi negara maju.

Keadaan negara yang sedemikian rupa mendorong bangsa Jepang untuk menggunakan sumber yang sedikit untuk mendapatkan hasil yang banyak. Persaingan penggunaan tanah di Jepang sangat tinggi dan ketat. Karena permukaan yang bergunung gunung para petani harus memaksimalkan penggunaan tanah untuk menghasilkan makanan secara produktif. Mereka memanfaatkan waktu dan sumber daya alam sebaik-baiknya. Semuanya digunakan secara maksimal dengan tahapan yang maksimal pula. Coba bayangkan mereka menanam padi di halaman rumah mereka dan tidak menyia-nyiakan sejengkal tanah pun tanpa menghasilkan sesuatu.

Bangsa ini pun berhasil membuktikan diri dapat menciptakan keajaiban dalam bidang ekonomi dalam keadaan yang serba kekurangan dan dengan sumber daya alam terbatas. Akan tetapi, keajaiban dalam bidang ekonomi itu tidak muncul tiba-tiba dan diperoleh dalam sekejap. Keajaiban itu datang dari hasil kerja keras dan komitmen penduduknya selama beratus-ratus tahun. Tanpa kesungguhan dan keyakinan, mustahil negara ini dapat membangun kembali negaranya yang hancur akibat Perang Dunia II dan mampu berada dalam posisi seperti saat ini.

Begitulah Jepang. Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat Negeri Sakura ini kehilangan tradisi dan budayanya. Sebagai negara maju, Jepang tetap menganggap pertanian sebagai tradisi leluhur dan aset penting bagi negara. Pertanian yang merupakan sektor ekonomi yang kecil mempunyai subsidi yang tinggi dan menjadi satu sektor yang dilindungi. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian.

Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada pertanian yang melibatkan beras. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah setempat untuk melindungi para petaninya. Petani padi di Jepang amat dimanjakan pemerintahnya. Proteksi impor dengan pengetatan standar dan tarif dilakukan. Beras yang diimpor dikenakan pajak sebanyak 490 % dan pemerintahan hanya membolehkan kuota sebanyak 30 % jumlah beras yang ada di pasaran beras.

Hasil utama pertanian Jepang memang bahan pangan, meliputi padi, kentang, jagung, gandum, kacang, kedelai, teh, susu, peternakan babi, ayam, dan telur. Sayur-sayurannya berupa lobak, kol, ketimun, tomat, wortel, bayam, dan selada. Sedangkan buah-buahan yang banyak ditanam adalah jeruk dan apel. Walaupun hanya 16 % dari luas daratan yang dipergunakan untuk pertanian, namun hasilnya termasuk memuaskan. Besarnya hasil pertanian ini didukung oleh kesuburan lahan pertaniannya karena tanahnya mengandung abu vulkanis. Di samping itu, penggarapan lahan pertanian dilakukan secara intensif dengan didukung teknologi yang maju.

TANAMAN YANG COCOK: Di antara tanaman pangan lainnya, padi dinilai paling cocok ditanam dalam kondisi cuaca Jepang, dan mendapat tempat istimewa sebagai bahan makanan suci bagi rakyat setempat. Dengan tradisinya yang panjang, budidaya padi bukanlah sekadar kegiatan pertanian lazimnya, melainkan menjadi kegiatan budaya daengan beragam corak keagamaan.

Menurut mitos yang diyakini masyarakat Jepang, padi dianugerahkan kepada rakyat Jepang oleh dewi nenek-moyang bangsa Jepang, Amaterasu Omikami. Kaisar Jepang, Tenno, yang merupakan tokoh kepala simbolis bagi Jepang, juga melakukan kegiatan menanam padi dengan tangannya sendiri di kebun istana Fukiage dan mempersembahkan hasil panennya kepada Dewi Amaterasu serta dewa-dewi lainnya. Pada upacara naik tahta Kaisar, diadakan serangkaian ritual Daijosai. Untuk itu dipilih dua petak sawah -disebut Yukiden dan Sukiden- dari dua lokasi di Jepang. Berbagai upacara dan ritual itu merupakan perwujudan agama asli Jepang, Shinto.


Di masa lalu, Jepang dinamai Toyoashihara no Mizhuho no Kuni atau "Negeri Untaian Makmur Padi pada Dataran yang Kaya akan Tanaman Padi”. Dengan nama demikian, tersirat bahwa beras atau padi melambangkan karakter esensial negeri Jepang. Orang Jepang percaya bahwa budidaya padi merupakan sebuah kegiatan suci yang diberikan kepada mereka oleh para dewa.

Hingga kini pun di berbagai daerah orang masih menyelenggarakan berbagai festival (berupa tarian, musik, dan lain-lain yang dilakukan secara beramai-ramai) yang terkait dengan budidaya padi, pemujaan kepada dewi padi, serta permohonan akan panen yang melimpah dan syukuran atas panen yan berhasil. Sistem keluarga besar orang jepang di masa lampau mencerminkan keterkaitannya dengan budidaya padi yang memerlukan banyak tenaga, pembinaan sistem irigasi, serta kerjasama komunal.

Dewasa ini jumlah orang Jepang yang berkecimpung dalam budidaya padi khususnya, dan pertanian pada umumnya, telah banyak berkurang. Sementara itu, pengelolaan sawah telah mengalami mekanisasi sejak tahun 1960-an. Berbagai aktivitas pertanian mulai dari penanaman hingga penyosohan padi dilakukan dengan mesin sehingga tercapai efisiensi tinggi.

Penelitian juga banyak dilakukan oleh para ahli untuk mendapatkan jenis padi yang unggul, tahan terhadap penyakit, produktivitas tinggi, masa tanam lebih singkat, rasa yang lebih enak dan lain-lain. Upaya penanaman padi Jepang, seperti juga di berbagai tempat lainnya di dunia, juga menghadapi berbagai gangguan seperti serangan hama dan penyakit, gangguan angin topan, dan lain-lain. Untuk penanggulangannya telah dilakukan berbagai usaha dan penelitian.


Konsumsi beras di Jepang telah merosot secara dramatis sejak awal tahun 1960-an. Sebagai gantinya terjadi peningkatan konsumsi roti dan produk pangan hewani lainnya. Meskipun lahan persawahan makin berkurang, Jepang masih mengalami kelebihan produski beras. Dengan luas daratan 378.000 km2, menurut data Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, pada tahun 1996 Jepang menghasilkan 10.344.000 ton beras, sedangkan konsumsi berasnya 10.189.000.


Di Jepang, beras tak hanya diolah menjadi makanan, tapi juga menjadi berbagai penganan, bahkan minuman, seperti arak beras sake, cuka beras, dan arak untuk masak (mirin). Ditambah dengan zat ragi koji, beras dapat dibuat menjadi minuman fermentasi yang manis rasanya (amazake) yang juga dapat dipakai untuk acar. Adonan tepung beras dapat dibuat menjadi kripik o-sembei (dipanggang dan dilumuri kecap asin). Kripik arare dibuat dari irisan adonan mochi yang dibuat dari nasi ketan putih yang ditumbuk. Kue mochi adalah salah satu penganan pokok untuk tahun baru. Dango adalah kue yang juga terbuat dari tepung beras.

TERUS BERINOVASI: Meski memiliki lahan terbatas, pemerintah Jepang sempat membuat kebijakan untuk mengurangi areal tanaman padi beberapa waktu lalu. Kementerian Pertanian Jepang memutuskan untuk mengurangi areal tanaman padi dalam tahun fiskal 2003 karena menurunnya permintaan beras. Sejak tahun 1971, pemerintah Jepang memang mengontrol produksi padi dan secara bertahap terus mengurangi areal tanaman padinya dalam upaya mengurangi kelebihan suplai dan mencegah anjloknya harga beras akibat menurunnya permintaan.

Kendati demikian, Jepang tak pernah berhenti untuk melakukan inovasi dalam mengembangkan pertaniannya. Dalam catatan sejarah, Jepang sempat menjadi trendsetter di bidang pertanian organic (nature farming). Adalah International Nature Farming Research Center (INFRC) di Atami, Jepang, yang menjadi motornya. Program mereka terus berlanjut dengan riset-riset dan promo pertanian organik, yang kemudian lebih dikenal sebagai Kyusei Nature Farming.



Nature farming ini sejatinya dirintis sejak sejak 1985 oleh INFRC sebagai lembaga yang diresmikan pemerintah Jepang untuk meneliti dan mengembangkan pertanian organik. Komoditas pertanian yang diaplikasikan antara antara lain padi, palawija, buah-buahan dan teh. Makin meluasnya gema pertanian organik ke seluruh dunia sebagai bukti bahwa teknologi berbasis organik sukses diterapkan di setiap lini kehidupan umat manusia.


Jepang juga menerapkan teknologi dalam mengelola pertaniannya sejak lama. Pada tahun 1948, misalnya, negara ini telah mengadopsi teknologi informasi untuk mengembangkan difusi inovasi teknologi yang diperoleh dari Lembaga Penelitian Pertanian untuk diteruskan kepada para petani agar mengadopsi dan mengadaptasikannya pada kondisi usaha tani pada wilayah-wilayah pengembangan pertanian. Tujuan penyuluhan terfokus pada penerapan inovasi teknologi guna meningkatkan ketersediaan pangan dalam
jangka panjang. Kini kegiatan penyuluhan lebih diperluas, mencakup subsektor pendukungnya berupa teknologi maju, pengelolaan kesuburan tanah, pemenuhan kebutuhan finansial usaha tani, dan lainnya.


Berkaitan dengan keterbatasan personalia Penyuluh Pertanian dan keterbatasan
finansial pemerintah pusat dan wilayah, maka kini komunikasi bertumpu pada penggunaan komputer dan teknologi informasi yang lebih efektif dan efisien. Materi informasinya bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga inovasi kelembagaan, metode penyelenggaraan peenyuluhan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya. Pemeran utama dalam hal ini justru bukan semata dari kelembagaan Pemerintah Jepang, melainkan juga dari organisasi swasta dan nirlaba.

Dengan perangkat teknologi informasi, para Pemandu Penyuluhan petanian dapat
dengan cepat mempertukarkan informasi spesfik lokasi ke wilayah pengembangan
lainnya.
Perangkat yang digunakan berkembang seiring waktu. Jika pada tahun 1975
sebagai, awal penerapannya menggunakan “Surat Berantai” (Snail Letter), maka pada
tahun 1985 beralih dengan menggalakkan penggunaan faksimili.

Pada tahun 1990 diramaikan dengan penggunaan jaringan komunikasi personal yang diberi nama Nilai Tambah Jaringan Kerja Penyuluhan (Fukyu/Extemion Value Added). Jaringan komunikasi yang paling populer diterapkan pada tahun 2000 sampai saat ini, sistem diberi nama Jaringan Kerja Informasi Penyuluhan (Extension Information Network) atau disingkat El-Net, dipadukan dengan internet, home page, dan dioperasikan oleh Pusat Teknologi Informasi Jepang.

Selain lembaga tersebut diatas, dijumpai pula Jaringan Kerja Lokal yang bersifat
tertutup, dioperasikan oleh pemerintah wilayah dan Pusat Penyuluhan Petanian
dengan sasaran utama para petani. Hal ini melibatkan lembaga pemerintahan wilayah, pusat penyuluhan, lembaga penelitian pertanian wilayah, koperasi pertanian, serta petani, dengan ruang lingkupnya wilayah.

Informasi terbaru, sebagai reaksi atas pemanasan global, Jepang mulai mengembangkan pertanian padi yang yang dapat bertahan terhadap panas dan berkurangnya air. Kementerian terkait juga berencana mengungkap upaya untuk mengatasi dampak dari pemanasan global, termasuk padi jenis baru, serta upaya untuk produksi buah dan sayuran.

Jepang senantiasa terus berbenah. Mereka tak terbiasa menunggu peluang datang, tetapi mencari dan menciptakan sendiri peluang tersebut. Mereka tidak mudah tunduk pada kekalahan dan kegagalan. Mereka juga tidak mudah putus asa dan menyerah begitu saja. Bagi bangsa Jepang, kalah dan gagal setelah berjuang lebih mulia daripada mati sebelum berperang atau mencoba. Tidak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa curahan keringat dan pengorbanan. Dengan kesungguhan, disiplin, kerja keras, dan semangat Bushido yang diwarisi secara turun-temurun, akhirnya Jepang menjadi salah satu penguasa perekonomian dunia.

Sabtu, September 06, 2008

Dari Chang Jiang ke Pentas Dunia

Tidak ada yang meragukan kedahsyatan kemajuan sektor pertanian yang dimiliki Cina. Karena itu, berbagai penelitian berikut temuan teknologi baru secara rutin diluncurkan. Hal ini ditunjang oleh komitmen kuat pemerintah setempat dalam meningkatkan sektor ini. Tidak mengherankan jika Cina tetap diperhitungkan sebagai penghasil beras terbesar di dunia.


“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” begitu kata pepatah lawas. Berbagai kemajuan pembangunan di berbagai sektor yang dimiliki Cina memberikan konfirmasi bahwa pepatah ini tetap benar adanya. Di Cina, kemajuan berbagai pengetahuan maupun bidang kehidupan begitu nyata hasilnya. Hal ini mengantarkan negeri Tirai Bambu ini sebagai negara maju dan kuat di mata dunia.



Di sektor pertanian, Cina tidak ada bandingannya sebagai penghasil beras nomor satu di dunia. Saat ini saja 35 persen beras dunia dihasilkan oleh negeri dengan penduduk lebih dari satu miliar itu. Belum lagi kalau tiga dam besar di Sungai Yangtze, yang dibangun sejak tahun 1994 akan selesai pada tahun 2009. Bukan saja irigrasi teknis yang krusial, tiga dam besar ini meningkatkan produktivitas pertanian, kapasitas transportasi dan menyediakan listrik setara dengan 18 pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Masyarakat sekitar menyebutnya Chang Jiang yang berarti sungai panjang. Seperti julukannya, Sungai Yangtze merupakan sungai terpanjang di Cina, dan sungai nomor tiga terpanjang di dunia setelah Sungai Amazon di Amerika Selatan, dan Sungai Nil di Afrika. Panjangnya sekitar 6.380 kilometer, atau setara dengan enam kali panjang Pulau Jawa. Di samping sebagai irigrasi, setiap tahun sungai ini membawa berkah endapan tanah lumpur subur yang bermanfaat bagi pertanian.


Sebagai sentra produksi beras, pemerintah Cina menggenjot produksi beras setiap tahunnya. Belum lagi upaya intensif dari pemerintah meningkatkan teknologi, termasuk di bidang pertanian. Sekarang saja, Cina sudah sedemikian digdaya dalam sektor pertanian, khususnya perberasan. Tak pelak, Cina dijadikan rujukan banyak negara untuk mengembangkan sektor pertanian.


Kendati dikenal sebagai penghasil besar terkemuka, Cina berhasil menerapkan program diversifikasi pangan. Mereka tidak malu menyuguhkan ubi atau talas pada setiap tamu yang berkunjung, bahkan kepada tamu kenegaraan sekalipun. Hasilnya, setiap penduduk Cina hanya mengonsumsi beras 92 kilogram per tahunnya. Bandingkan dengan penduduk Indonesia, yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap beras dengan 135 kilogram per orang tiap tahunnya.


Di samping soal program kerja efektif, penerapan teknologi, maupun diversifikasi pangan, hal lain yang turut menunjang keberhasilan Cina sebagai negara maju adalah

etos kerja yang dimiliki penduduknya, terutama di sektor pertanian ini. Salah satu contoh, di kala bekerja, mereka bekerja tanpa lelah. Sebaliknya, kalau istirahat, mereka menggunakan waktu yang ada betul-betul untuk beristirahat.

FOKUS PADA KUALITAS: Sejak tahun 2005, Cina memproklamirkan sebuah pusat penelitian baru untuk meningkatkan kualitas varietas padinya dan meningkatkan kandungan nutrisinya. Pusat Kualitas dan Nutrisi Beras (Rice Quality and Nutrition Center), namanya. Lembaga ini berada di bawah naungan Institut Penelitian Beras Nasional Cina (CNRRI) di Hangzhou.

“Kualitas dan nutrisi adalah dua bidang penelitian beras yang paling menantang,” kata Robert S Zeigle, Direktur Jenderal International Rice Research Institute (IRRI), dalam acara peresmian pusat penelitian baru itu, “Bukan hanya memiliki piranti dan pengetahuan sains saja untuk mendapatkan beras varietas baru berkualitas tinggi, tetapi kami juga sekarang berupaya meningkatkan nilai nutrisi dari varitas-varitas ini dengan menambahkan nutrisi seperti besi, seng, dan vitamin A.”

Dr Zeigler mengatakan, ia senantiasa memfokuskan penelitian untuk meningkatkan produktivitas beras untuk mengejar pertumbuhan penduduk. Dengan demikian, penduduk Cina semakin meningkat kemakmurannya, karena kualitas dan nutrisi makanan telah menjadi prioritas utama. Ia menekankan bahwa meningkatkan kualitas biji-bijian juga akan mendorong harga beras di pasar dan berarti membantu petani Cina meningkatkan pendapatan mereka.

Dalam pertemuan yang digelar IRRI-Cina dan dan Forum Ilmu Perberasan di Hangzhou, Oktober 2005 lalu, ditetapkan empat persoalan prioritas yang dihadapi produksi beras Cina dalam jangka waktu lima tahun ke depan, yaitu: pemuliaan dan pengembangkan padi generasi baru yang disebut padi “super” atau varitas padi berproduksi tinggi, berkualitas tinggi; asupan terutama pupuk yang lebih efisien; kualitas dan nutrisi beras menggunakan bioteknologi; dan pengembangan teknologi padi yang lebih efisien dalam menggunakan air.

Jumlah populasi negeri ini mencapai 1,3 miliar orang, sehingga kemanan makanan merupakan isu yang penting bagi pemerintah Cina. Dalam memproduksi beras, tidak dipungkiri, Cina menghadapi sejumlah tantangan, khususnya bagaimana menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ketersediaan sumber daya dan kebutuhan terus meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan. Atas dasar itulah, pemerintah setempat senantiasa menggalakkan lahirnya pusat-pusat penelitian maupun inovasi baru di bidang pemuliaan padi.

Simak saja, Cina bisa jadi merupakan negara pertama yang menghasilkan beras dalam jumlah yang sangat banyak, yang diproduksi dari beras hasil modifikasi secara genetik. Terobosan baru ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas panen.


Memang ada kekhawatiran, teknologi modern dapat menggantikan tanaman alami. Namun, menurut para pendukung teknologi ini, benih tersebut bisa mengurangi penggunaan pesitisida dan meningkatkan produktivitas. Kini, Cina berhasil memasarkan beras hasil modifikasi ini ke berbagai negara di dunia.


Begitu juga dengan temuan seorang ilmuwan Cina tentang padi hibrida pada tahun 1974 lalu. Dalam pembudidayaan tanaman, penggunaan vigor hibrida pada benih generasi pertama (F1) sudah dikenal dengan baik. Padi ini berawal dari transfer gen jantan mandul dari padi liar untuk menghasilkan galur mandul jantan (GMJ) atau galur A atau cytoplasmic genetic male-sterile (CMS) line dan kombinasi hibrida. Generasi pertama varietas padi hibrida terdiri dari tiga galur dan produksi panennya mencapai 15-20 persen lebih tinggi daripada produksi tertinggi dari varietas inbrida (konvensional) pada masa pertumbuhan yang sama.


Di Cina, kini terdapat sekitar 15 juta hektar areal tanaman padi hibrida dan jumlah tersebut lebih dari 50 persen dari total area tanaman padi yang ada di negara tersebut. Tidak hanya itu, sukses komersial produksi padi hibrida telah memungkinan Cina melakukan diversifikasi produksi pertanian pada jutaan hektar lahan mereka. Meski lahan pertanian Cina mengalami penurunan luas dari 36,5 juta hektar pada tahun 1975 menjadi 30,5 juta hea.Tentu saja, salah satunya harus berterima kasih kepada program padi hibrida yang mampu menaikkan hasil rata-rata hasil panen dari 3,5 ton/hektar menjadi 6,2 ton/hektar.

AKHIRI BOIKOT: Kabar terbaru yang beredar, Cina telah mengakhiri boikotnya terhadap Komisi Beras Internasional (IRC-International Rice Commission) dengan berharap untuk mempengaruhi berbagai masalah global menyangkut produk makanan utama. Terbukti, Kementrian Pertanian China menyampaikan aplikasi kepada Organisasi Pertanian dan Pangan PBB (FAO) pada Juli tahun lalu, di mana disambut baik oleh anggota IRC dan secara resmi disetujui oleh FAO, dua bulan selanjutnya.

Didirikan pada 1949, IRC merupakan komisi profesional di bawah FAO, dengan lebih dari 60 negara dan kawasan menjadi anggotanya sampai saat ini. Organisasi itu menyerahkan untuk meningkatkan kerjasama di antara negara-negara anggota dalam produksi beras, distribusi, dan konsumsi. Meskipun demikian, kewenangan IRC tidak sampai mengurusi perdagangan internasional.


IRC juga mendiskusikan teknologi dan ilmu pengetahuan yang terkait dengan beras serta berbagai masalah ekonomi, mendorong kordinasi terkait dengan kerjasama riset, memainkan peranan penting dalam aplikasi teknologi beras, pelaksanaan proyek-proyek kooperatif, dan komunikasi informasi.


Ihwal menjauhnya Cina dengan IRC untuk beberapa tahun, menurut Kantor Berita Xinhua, karena alasan historis. Namun, tidak disebutkan keterangan lebih rinci mengenai alasan tersebut.


Pada tahun 2002, Direktur Institut Beras Cina (CRI-China Rice Institute), Dr.Cheng Shinhua, menghadiri kongres ke-20 IRC sebagai peninjau. Selama itu, ia dan para pejabat IRC mendiskusikan berbagai masalah antara lain keanggotaan Cina. Akhirnya, Kementrian Pertanian meratifikasi usulan CRI untuk bergabung dengan IRC dan menyatakan institusi tersebut menjadi unit penghubung setelah Cina bergabung ke dalam IRC.

Pesatnya perkembangan perekonomian Cina ternyata sempat mengganggu produksi beras negara ini. Dalam beberapa tahun terakhir, jutaan petani Cina pindah ke kota-kota besar dengan meninggalkan lahan pertanian untuk mencari pekerjaan lain. Sementara kota-kota sendiri juga berkembang dengan banyaknya pembangunan fisik, yang di antaranya dibangun di atas areal persawahan.


Profesor Cai Dianxiong dari Akademi Pertanian Cina, mengatakan, kekurangan air di Cina merupakan ancaman terbesar bagi persediaan pangan di negara itu. 90 persen air minum di Cina digunakan untuk pertanian dan sebagian besar air pertanian digunakan untuk irigasi sawah. “Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini adalah meningkatkan teknologi efisiensi air, untuk mendorong petani menggunakan air dengan hemat namun dapat mendorong panen," katanya.


Tahun 2004 lalu pemerintah Cina sempat menawarkan 10 miliar Yuan untuk subsidi bagi petani yang bersawah dan tanaman biji-bijian lain. Subsidi itu memberikan insentif besar, dan tentu saja bantuan uang bagi para petani untuk menerapkan teknologi hemat air.

Sampai sekarang, Cina menguasai teknologi yang dapat meningkatkan produksi beras. Tidak hanya itu, Cina juga telah menguasai teknologi irigasi, pembenihan hibrida, bahkan sampai teknologi penyimpanan beras pasca panen. Berbagai temuan teknologi ini kini sudah diterapkan negara-negara topis, seperti Vietnam, Filipina, dan rencananya juga Indonesia.

Pelajaran dari Sungai Gangga

Jumlah penduduk terbesar kedua di dunia tentu menjadi beban berat bagi India khususnya dalam menghadapi persoalan pangan dalam negerinya. Namun, urusan pangan tertangani dengan kebijakan yang fokus serta langkah-langkah yang nyata. Hasilnya, negara ini pun terhindar dari ancaman masalah pangan. Sebuah pelajaran dari negara tetangga.


"Segalanya bisa menunggu, kecuali pertanian," kata pendiri India sekaligus Perdana Menteri Jawaharlal Nehru beberapa hari setelah India merdeka pada tahun 1947. Ucapan ini meneguhkan persepsi dunia tentang India sebagai negara pertanian. Ya, fokus maupun perhatian Pemerintah India melihat masalah pangan, khususnya beras, memang tidak diragukan lagi. Menyimak ucapakn Nehru di atas, komitmen para pengambil kebijakan, hingga para peneliti India, merupakan bukti nyata betapa betapa mereka melihat masalah produksi padi sebagai persoalan serius.


Sebetulnya, India dapat digolongkan sebagai negara yang padat penduduk. Bahkan, beberapa kota di sana dicitrakan sebagai kawasan yang kumuh dan tak terawat. Moda transportasi yang digunakan pun begitu beragam, mulai dari transportasi modern sejenis pesawat terbang atau kereta bawah tanah, hingga transportasi tradisional seperti gajah, unta, dan keledai.


Begitulah India. Membayangkan India secara sepintas dengan populasi penduduknya yang padat, terlintas betapa Negara ini tengah menghadapi kesulitan besar, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pangan maupun ekonomi para penduduknya. Namun, bayangan ini akan sirna seketika jika kita melihat berbagai langkah nyata dan keberhasilan yang dilakukan pemerintah, petani, dan swasta dalam menangani persoalan pangan. Tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, India pun menjelma sebagai pengekspor beras potensial.


Hingga zaman berganti, keseriusan mereka menangani masalah padi sudah sejak lama, dan telah teruji. Direktur Lembaga Riset Pertanian India Mangala Rai mengatakan, India melakukan perbaikan kualitas tanaman padi sejak tahun 1911. Perbaikan ini merupakan usaha yang berkesinambungan dari generasi ke generasi. Tak peduli siapa yang berkuasa maupun partai mana yang memenangi pemilu.


Simak sebuah proyek bernama All India Coordinated Rice Improvement Project di mana Pemerintah India memfasilitasi pengembangan penelitian benih pada tahun 1965. terobosan ini dilakukan tentu dengan tetap memerhatikan berbagai kondisi lokasi tanam padi dari mulai sawah hingga daerah yang kering. Patut diketahui bahwa saat ini India memiliki areal tanaman padi secara bervariasi, mulai dari lahan beririgasi, lahan dataran rendah, lahan kering, hingga lahan dengan rendaman air yang dalam. Hasilnya, upaya ini menuai setidaknya 739 varietas padi yang siap diluncurkan. Varietas ini biasa ditanam di berbagai tempat, mulai dari rawa, sawah, dan juga lahan kering.


Sebelum Revolusi Hijau pada tahun 1960, India hanya memiliki dua kawasan yang mengembangkan varietas tanaman padi dengan kemampuan produksi dua ton per hektar. Namun, dalam perkembangan, produksi ini bahkan telah merambah hingga 103 distrik dengan produktivitas yang sama. Di samping itu, terdapat 46 distrik dengan produksi di atas tiga ton per hektar.


Tatkala India meraih swasembada padi sejak tahun 1977, produksinya selalu surplus. Pada mulanya, negara ini hanya memproduksi padi dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk saja. Namun, kini mereka telah mengembangkan padi berkualitas tinggi, antara lain padi untuk keperluan medis dan aromatik. Salah satu beras berkualitas yang lahir di bumi India dan dikenal di seluruh dunia adalah beras basmati. Beras ini merupakan salah satu padi jenis aromatik.


PELOPOR HIBRIDA KEDUA: Pada dekade 80-an, Pemerintah India membuat langkah maju dengan keputusannya untuk membuka peluang ekspor. Keputusan ini pun langsung ditangkap kalangan swasta sebagai peluang baru untuk meningkatkan produksi basmati. Tidak hanya itu, para petani juga mulai membudidayakan beras yang bermanfaat untuk kepentingan kesehatan, seperti beras yang dapat dikonsumsi untuk para penderita diabetes. Sekarang, beras jenis ini dapat dinikmati di Indonesia dengan merek Taj Mahal.


Cukupkah prestasi ini bagi India? Tidak, ternyata. Walaupun mereka mampu mengekspor beras ke berbagai negara dan memproduksi padi sekitar 128 juta ton per tahun, India tidak melupakan kepentingan dirinya. Terbukti, mereka masih terus berupaya meningkatkan produksi padi dengan berbagai macam cara agar kebutuhan komoditas ini bisa dipenuhi dari dalam negeri.


India tak pernah mengenal kata henti dalam berproduksi. Saat ini India pun tergolong progresif dalam mengembangkan padi hibrida. Budidaya benih padi hibrida ini kini telah memakan lahan seluas 1,2 juta hektar dari 44 juta hektar lahan yang ada. Tidak mengherankan jika India kini menjadi Negara kedua setelah Cina yang memelopori padi hibrida dengan areal penamanan yang begitu luas. Dalam dua tahun mendatang, mereka memproyeksikan penggunaan padi hibrida mencapai 10 juta hektar atau sekitar 25 persen dari areal yang ada.


Keuntungan yang didapatkan para petani yang baru pertama kali mencoba benih padi hibrida begitu nyata dirasakan. Sebagian besar di antara mereka menyatakan bahwa hasil produksi meningkat sekitar 20 persen dan penggunaan pupuk bisa berkurang. Tanaman padi juga terlihat lebih kuat dan tumbuh lebih baik. Oleh sebab itu, mereka makin termotivasi untuk menggunakan beni padi hibrida ketika menyadari produktivitasnya yang begitu tinggi.


Melihat India, kita seperti berkaca pada sebuah negara yang betul-betul melindungi dan memanjakan rakyat petaninya. Selain pembudidayaan padi hibrida, India juga terus memperbaiki peramalan iklim guna menunjang usaha yang dilakukan para petaninya.

Peramalan ini menjadi sangat penting di tengah iklim dunia yang tengah berubah serta kondisi iklim mikro yang juga sulit diprediksikan.


Beberapa tahun silam, kita sempat mendengar bahwa India menginvestasikan kekuatan modal yang dimilikinya di bidang peramalan cuaca. India bahkan diberitakan membeli satelit untuk peramalan cuaca sehingga makin memungkinkan mereka meramalkan cuaca lebih tepat. Yang pasti, upaya itu diyakini akan mengurangi kerugian petani akibat perubahan iklim. Dengan satelit ini peramalan cuaca dapat berjalan dengan baik sehingga penentuan musim hujan dan musim kering lebih akurat. Petani pun bisa menanam tepat waktu.


India juga senantiasa terus melahirkan tenaga-tenaga ahli yang mumpuni di bidang pertanian, khususnya tanaman padi. Ketika berkunjung ke sana, kita dengan mudah menemukan peneliti tanaman padi dengan berbagai keahlian. Tidak hanya di India, tetapi juga di luar negeri, karena sejumlah tenaga ahli pertanian India juga ada yang bekerja dan pernah bekerja di belahan dunia lainnya, seperti International Rice Reserach Institute (IRRI) di Filipina.

HASIL PANEN TURUN: Pada masa Revolusi Hijau, hasil panen padi di India mengalami peningkatan yang drastis. Namun, sejak pertengahan tahun 1980, hasil panen padinya mulai menurun. Populasi penduduk India terus bertambah setiap saat. Sementara kondisi ekonomi negara yang tidak mengalami peningkatan membawa pada kekhawatiran akan terjadinya rawan pangan di masa depan.

Selama ini, memang muncul berbagai informasi tentang penyebab menurunnya hasil panen di India. Namun, belum ada yang secara spesifik mengaitkan penurunan tersebut dengan perubahan iklim, misalnya karena awan polusi atmospheric brown clouds (ABCs). Polusi yang diyakini mengandung aerosol dan gas karbon dioksida penyebab efek rumah kaca memang disebut-sebut sebagai pemicu timbulnya pemanasan global.


Penelitian dilakukan Maximillian Auffhammer, dari UC Berkeley's College of Natural Resources, V. “Ram” Ramanathan, dan Jeffrey Vincent, peneliti dari UC San Diego. Mereka melakukan analisis historis terhadap panen padi di India. Selain itu, mereka juga memerikasa efek kombinasi akibat ABCs dan peningkatan gas karbon dioksida.

Hasilnya, para peneliti menemukan bukti adanya efek kombinasi negatif yang dampaknya semakin besar setelah medio 1980. apabila dampak negatif tersebut tidak pernah terjadi di India, sebuah prestasi besar akan ditorehkan India di pentas dunia. Sebab, para ilmuwan ini memperkirakan bahwa hasil panen sesungguhnya bisa 20-25 persen lebih tinggi dari kondisi yang ada pada tahun 1990-an.

Sebelumnya, tim peneliti internasional yang dipimpin Ramanathan menemukan bukti bahwa ABCs atau awan polusi telah membuat iklim India menjadi lebih kering dan lebih dingin. Oleh karena itu, pengurangan kedua jenis polutan, aerosol dan gas rumah kaca, akan menguntungkan petani. Pengurangan aerosol akan merangsang terjadinya hujan, sedangkan pengurangan gas rumah kaca dapat menurunkan temperatur udara yang tinggi pada malam hari yang berefek negatif pada pertumbuhan padi.

Gas rumah kaca dan aerosol yang terdapat dalam dalam awan polusi dikenal sebagai faktor yang saling berlomba menyebabkan pemanasan global. Selain itu, temuan penting lainnya dalam studi interdisipliner ini menunjukkan bahwa efek yang terjadi pada produksi padi bersifat aditif. Suatu penemuan yang selain mengejutkan, juga tidak menyenangkan.

Center for Global Development, sebuah lembaga non profit di Washington, Amerika Serikat, memaparkan hasil penelitian yang lain. Studi ini menghubungkan antara metode mutakhir dalam pertanian di India dan kaitannya dengan iklim dan polusi. Penemuan ini secara signifikan menunjukkan bahwa awan polusi telah merugikan India jutaan ton produksi makanan.

Penelitian ini makin memberikan dorongan untuk pelaksanaan program pengendalian polusi udara di Asia. Aufhammer, Asisten Profesor Pertanian dan Sumberdaya Ekonomi, Universitas California Berkeley, menambahkan, “Meski studi ini terfokus pada kondisi di India, ABCs juga terdapat di negara-negara produsen beras di seluruh Asia.” Bahkan, banyak diantaranya telah mengalami penurunan hasil panen.

Berpijak pada riset maupun penelitian ini, India terus berbenah. Lembaga penelitian dan juga perguruan tinggi pertanian juga banyak terdapat di berbagai negara bagian. Setidaknya, terdapat 53 lembaga di India yang bekerja sama dengan IRRI untuk melakukan penelitian tanaman padi. Adanya penemuan bahwa polusi udara berpengaruh pada hasil pertanian penting sebagai pertimbangan dalam upaya memastikan ketahanan pangan.

Hasilnya, di tengah berbagai pihak yang sibuk meributkan soal rekayasa genetika, India telah melakukan penelitian rekayasa genetika untuk tanaman padi. Mereka melakukan hal ini karena melihat prospek pengembangan tanaman padi ke depan melalui rekayasa genetika. Salah satu rekayasa genetika yang akan dimunculkan adalah beras dengan kandungan provitamin A untuk beberapa varietas tanaman padi.

Hingga kini, fokus dan konsentrasi Pemerintah India, kalangan swasta, maupun para petaninya tak pernah memudar, bahkan terus meningkat. Upaya ini tidak lepas dari semangat awal para bapak pendiri India, yang senantiasa dipegang teguh dari generasi ke generasi. India dapat menjadi contoh tentang adanya upaya serius dari sebuah pemerintahan yang memihak sektor pertanian dengan penuh totalitas.

Jumat, September 05, 2008

Jepang Yang Mendunia

Tak ada sumber daya alam yang dapat diandalkan. Namun, Jepang tidak menjadikan keadaan geografis yang kurang menguntungkan sebagai alasan tidak bisa maju. Hasil pertaniannya merupakan yang tertinggi di dunia. Meski terkenal sebagai negara industri maju, pertanian tetap menjadi sektor utama. Kini, banyak negara di Asia yang menjadikan keberhasilan Jepang sebagai sumber inspirasi baru.

Berbeda dengan negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, Jepang justru bergantung pada sumber-sumber dari negara lain. Negara tersebut tidak hanya mengimpor minyak bumi, biji besi, batu arang, kayu, dan sebagainya. Bahkan, hampir 85 persen sumber tenaganya berasal dari negara lain. Selain itu, Jepang juga mengimpor 30 persen bahan makanan dan negara lain untuk memenuhi konsumsi makanan penduduknya. Namun, di Jepang, pertanian tetap menjadi sektor utama meskipun telah menjadi negara maju.

Keadaan negara yang sedemikian rupa mendorong bangsa Jepang untuk menggunakan sumber yang sedikit untuk mendapatkan hasil yang banyak. Persaingan penggunaan tanah di Jepang sangat tinggi dan ketat. Karena permukaan yang bergunung gunung para petani harus memaksimalkan penggunaan tanah untuk menghasilkan makanan secara produktif. Mereka memanfaatkan waktu dan sumber daya alam sebaik-baiknya. Semuanya digunakan secara maksimal dengan tahapan yang maksimal pula. Coba bayangkan mereka menanam padi di halaman rumah mereka dan tidak menyia-nyiakan sejengkal tanah pun tanpa menghasilkan sesuatu.

Bangsa ini pun berhasil membuktikan diri dapat menciptakan keajaiban dalam bidang ekonomi dalam keadaan yang serba kekurangan dan dengan sumber daya alam terbatas. Akan tetapi, keajaiban dalam bidang ekonomi itu tidak muncul tiba-tiba dan diperoleh dalam sekejap. Keajaiban itu datang dari hasil kerja keras dan komitmen penduduknya selama beratus-ratus tahun. Tanpa kesungguhan dan keyakinan, mustahil negara ini dapat membangun kembali negaranya yang hancur akibat Perang Dunia II dan mampu berada dalam posisi seperti saat ini.

Begitulah Jepang. Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat Negeri Sakura ini kehilangan tradisi dan budayanya. Sebagai negara maju, Jepang tetap menganggap pertanian sebagai tradisi leluhur dan aset penting bagi negara. Pertanian yang merupakan sektor ekonomi yang kecil mempunyai subsidi yang tinggi dan menjadi satu sektor yang dilindungi. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian.

Hal ini dapat dilihat dengan jelas pada pertanian yang melibatkan beras. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah setempat untuk melindungi para petaninya. Petani padi di Jepang amat dimanjakan pemerintahnya. Proteksi impor dengan pengetatan standar dan tarif dilakukan. Beras yang diimpor dikenakan pajak sebanyak 490 % dan pemerintahan hanya membolehkan kuota sebanyak 30 % jumlah beras yang ada di pasaran beras.

Hasil utama pertanian Jepang memang bahan pangan, meliputi padi, kentang, jagung, gandum, kacang, kedelai, teh, susu, peternakan babi, ayam, dan telur. Sayur-sayurannya berupa lobak, kol, ketimun, tomat, wortel, bayam, dan selada. Sedangkan buah-buahan yang banyak ditanam adalah jeruk dan apel. Walaupun hanya 16 % dari luas daratan yang dipergunakan untuk pertanian, namun hasilnya termasuk memuaskan. Besarnya hasil pertanian ini didukung oleh kesuburan lahan pertaniannya karena tanahnya mengandung abu vulkanis. Di samping itu, penggarapan lahan pertanian dilakukan secara intensif dengan didukung teknologi yang maju.

TANAMAN YANG COCOK: Di antara tanaman pangan lainnya, padi dinilai paling cocok ditanam dalam kondisi cuaca Jepang, dan mendapat tempat istimewa sebagai bahan makanan suci bagi rakyat setempat. Dengan tradisinya yang panjang, budidaya padi bukanlah sekadar kegiatan pertanian lazimnya, melainkan menjadi kegiatan budaya daengan beragam corak keagamaan.

Menurut mitos yang diyakini masyarakat Jepang, padi dianugerahkan kepada rakyat Jepang oleh dewi nenek-moyang bangsa Jepang, Amaterasu Omikami. Kaisar Jepang, Tenno, yang merupakan tokoh kepala simbolis bagi Jepang, juga melakukan kegiatan menanam padi dengan tangannya sendiri di kebun istana Fukiage dan mempersembahkan hasil panennya kepada Dewi Amaterasu serta dewa-dewi lainnya. Pada upacara naik tahta Kaisar, diadakan serangkaian ritual Daijosai. Untuk itu dipilih dua petak sawah -disebut Yukiden dan Sukiden- dari dua lokasi di Jepang. Berbagai upacara dan ritual itu merupakan perwujudan agama asli Jepang, Shinto.


Di masa lalu, Jepang dinamai Toyoashihara no Mizhuho no Kuni atau "Negeri Untaian Makmur Padi pada Dataran yang Kaya akan Tanaman Padi”. Dengan nama demikian, tersirat bahwa beras atau padi melambangkan karakter esensial negeri Jepang. Orang Jepang percaya bahwa budidaya padi merupakan sebuah kegiatan suci yang diberikan kepada mereka oleh para dewa.

Hingga kini pun di berbagai daerah orang masih menyelenggarakan berbagai festival (berupa tarian, musik, dan lain-lain yang dilakukan secara beramai-ramai) yang terkait dengan budidaya padi, pemujaan kepada dewi padi, serta permohonan akan panen yang melimpah dan syukuran atas panen yan berhasil. Sistem keluarga besar orang jepang di masa lampau mencerminkan keterkaitannya dengan budidaya padi yang memerlukan banyak tenaga, pembinaan sistem irigasi, serta kerjasama komunal.

Dewasa ini jumlah orang Jepang yang berkecimpung dalam budidaya padi khususnya, dan pertanian pada umumnya, telah banyak berkurang. Sementara itu, pengelolaan sawah telah mengalami mekanisasi sejak tahun 1960-an. Berbagai aktivitas pertanian mulai dari penanaman hingga penyosohan padi dilakukan dengan mesin sehingga tercapai efisiensi tinggi.

Penelitian juga banyak dilakukan oleh para ahli untuk mendapatkan jenis padi yang unggul, tahan terhadap penyakit, produktivitas tinggi, masa tanam lebih singkat, rasa yang lebih enak dan lain-lain. Upaya penanaman padi Jepang, seperti juga di berbagai tempat lainnya di dunia, juga menghadapi berbagai gangguan seperti serangan hama dan penyakit, gangguan angin topan, dan lain-lain. Untuk penanggulangannya telah dilakukan berbagai usaha dan penelitian.


Konsumsi beras di Jepang telah merosot secara dramatis sejak awal tahun 1960-an. Sebagai gantinya terjadi peningkatan konsumsi roti dan produk pangan hewani lainnya. Meskipun lahan persawahan makin berkurang, Jepang masih mengalami kelebihan produski beras.
Dengan luas daratan 378.000 km2, menurut data Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, pada tahun 1996 Jepang menghasilkan 10.344.000 ton beras, sedangkan konsumsi berasnya 10.189.000.


Di Jepang, beras tak hanya diolah menjadi makanan, tapi juga menjadi berbagai penganan, bahkan minuman, seperti arak beras sake, cuka beras, dan arak untuk masak (mirin). Ditambah dengan zat ragi koji, beras dapat dibuat menjadi minuman fermentasi yang manis rasanya (amazake) yang juga dapat dipakai untuk acar. Adonan tepung beras dapat dibuat menjadi kripik o-sembei (dipanggang dan dilumuri kecap asin). Kripik arare dibuat dari irisan adonan mochi yang dibuat dari nasi ketan putih yang ditumbuk. Kue mochi adalah salah satu penganan pokok untuk tahun baru. Dango adalah kue yang juga terbuat dari tepung beras.

TERUS BERINOVASI: Meski memiliki lahan terbatas, pemerintah Jepang sempat membuat kebijakan untuk mengurangi areal tanaman padi beberapa waktu lalu. Kementerian Pertanian Jepang memutuskan untuk mengurangi areal tanaman padi dalam tahun fiskal 2003 karena menurunnya permintaan beras. Sejak tahun 1971, pemerintah Jepang memang mengontrol produksi padi dan secara bertahap terus mengurangi areal tanaman padinya dalam upaya mengurangi kelebihan suplai dan mencegah anjloknya harga beras akibat menurunnya permintaan.

Kendati demikian, Jepang tak pernah berhenti untuk melakukan inovasi dalam mengembangkan pertaniannya. Dalam catatan sejarah, Jepang sempat menjadi trendsetter di bidang pertanian organic (nature farming). Adalah International Nature Farming Research Center (INFRC) di Atami, Jepang, yang menjadi motornya. Program mereka terus berlanjut dengan riset-riset dan promo pertanian organik, yang kemudian lebih dikenal sebagai Kyusei Nature Farming.



Nature farming ini sejatinya dirintis sejak sejak 1985 oleh INFRC sebagai lembaga yang diresmikan pemerintah Jepang untuk meneliti dan mengembangkan pertanian organik. Komoditas pertanian yang diaplikasikan antara antara lain padi, palawija, buah-buahan dan teh. Makin meluasnya gema pertanian organik ke seluruh dunia sebagai bukti bahwa teknologi berbasis organik sukses diterapkan di setiap lini kehidupan umat manusia.


Jepang juga menerapkan teknologi dalam mengelola pertaniannya sejak lama. Pada tahun 1948, misalnya, negara ini telah mengadopsi teknologi informasi untuk mengembangkan difusi inovasi teknologi yang diperoleh dari Lembaga Penelitian Pertanian untuk diteruskan kepada para petani agar mengadopsi dan mengadaptasikannya pada kondisi usaha tani pada wilayah-wilayah pengembangan pertanian. Tujuan penyuluhan terfokus pada penerapan inovasi teknologi guna meningkatkan ketersediaan pangan dalam
jangka panjang. Kini kegiatan penyuluhan lebih diperluas, mencakup subsektor pendukungnya berupa teknologi maju, pengelolaan kesuburan tanah, pemenuhan kebutuhan finansial usaha tani, dan lainnya.


Berkaitan dengan keterbatasan personalia Penyuluh Pertanian dan keterbatasan
finansial pemerintah pusat dan wilayah, maka kini komunikasi bertumpu pada penggunaan komputer dan teknologi informasi yang lebih efektif dan efisien. Materi informasinya bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga inovasi kelembagaan, metode penyelenggaraan peenyuluhan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya. Pemeran utama dalam hal ini justru bukan semata dari kelembagaan Pemerintah Jepang, melainkan juga dari organisasi swasta dan nirlaba.

Dengan perangkat teknologi informasi, para Pemandu Penyuluhan petanian dapat
dengan cepat mempertukarkan informasi spesfik lokasi ke wilayah pengembangan
lainnya.
Perangkat yang digunakan berkembang seiring waktu. Jika pada tahun 1975
sebagai, awal penerapannya menggunakan “Surat Berantai” (Snail Letter), maka pada
tahun 1985 beralih dengan menggalakkan penggunaan faksimili.

Pada tahun 1990 diramaikan dengan penggunaan jaringan komunikasi personal yang diberi nama Nilai Tambah Jaringan Kerja Penyuluhan (Fukyu/Extemion Value Added). Jaringan komunikasi yang paling populer diterapkan pada tahun 2000 sampai saat ini, sistem diberi nama Jaringan Kerja Informasi Penyuluhan (Extension Information Network) atau disingkat El-Net, dipadukan dengan internet, home page, dan dioperasikan oleh Pusat Teknologi Informasi Jepang.

Selain lembaga tersebut diatas, dijumpai pula Jaringan Kerja Lokal yang bersifat
tertutup, dioperasikan oleh pemerintah wilayah dan Pusat Penyuluhan Petanian
dengan sasaran utama para petani. Hal ini melibatkan lembaga pemerintahan wilayah, pusat penyuluhan, lembaga penelitian pertanian wilayah, koperasi pertanian, serta petani, dengan ruang lingkupnya wilayah.

Informasi terbaru, sebagai reaksi atas pemanasan global, Jepang mulai mengembangkan pertanian padi yang yang dapat bertahan terhadap panas dan berkurangnya air. Kementerian terkait juga berencana mengungkap upaya untuk mengatasi dampak dari pemanasan global, termasuk padi jenis baru, serta upaya untuk produksi buah dan sayuran.

Jepang senantiasa terus berbenah. Mereka tak terbiasa menunggu peluang datang, tetapi mencari dan menciptakan sendiri peluang tersebut. Mereka tidak mudah tunduk pada kekalahan dan kegagalan. Mereka juga tidak mudah putus asa dan menyerah begitu saja. Bagi bangsa Jepang, kalah dan gagal setelah berjuang lebih mulia daripada mati sebelum berperang atau mencoba. Tidak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa curahan keringat dan pengorbanan. Dengan kesungguhan, disiplin, kerja keras, dan semangat Bushido yang diwarisi secara turun-temurun, akhirnya Jepang menjadi salah satu penguasa perekonomian dunia.