Buku Soeyono "Bukan Puntung Rokok" Kasus 27 Juli, Puncak Pertarungan Dua Srikandi
Judul: Soeyono: Bukan Puntung Rokok Penulis: Benny S. Butarbutar Tim Riset/Pewawancara: Qusyaini Hasan Penerbit: Ridma Foundation, Jakarta Cetakan: I, 2003 Tebal: 334 halaman
JAKARTA — Misteri kasus 27 Juli 1996 makin terkuak ketika para pelaku yang terkait dengan insiden pengambilalihan kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat yang berlanjut dengan kerusuhan dan pembakaran, mulai berani angkat bicara. Mantan Kepala Staf Umum (Kasum) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) Letjen (Purn) Soeyono yang dicopot dari jabatannya akibat kasus tersebut, menulis sebuah biografi yang intinya menjelaskan bahwa kasus 27 Juli adalah blunder politik Orde Baru.
Dalam buku berjudul ”Bukan Puntung Rokok” yang diluncurkan berbarengan dengan hari jadinya yang ke-60 di Jakarta, Kamis (13/3) malam, Soeyono mengungkapkan bahwa kasus 27 Juli merupakan puncak pertarungan dua srikandi dalam panggung politik Indonesia. Sekiranya tidak ada peristiwa 27 Juli 1996, mustahil Megawati Soekarnoputri bisa populer dan menjadi presiden seperti sekarang ini.
"Alih-alih menggembosi Megawati dan mengorbitkan Tutut (Siti Hardiyanti Indra Rukmana -- putri mantan Presiden Soeharto-red) pengambilalihan kantor DPP PDI di Jl. Diponegoro merupakan blunder politik Orde Baru sebagaimana kasus penembakan tokoh oposisi Benigno Aquino pada tahun 1983 yang akhirnya mendudukkan sang ibu rumah tangga, Corazon Aquino menjadi Presiden Filipina,” tegas Soeyono dalam buku setebal 350 halaman itu.
Buku yang ditulis oleh Benny S. Butarbutar, Akhmad Kusaeni dan Budi Rahardjo itu dibedah oleh pengamat politik dari Centre for Strategis and International Studies (CSIS) J. Kristiadi dan pengamat ekonomi Rizal Ramli, serta dihadiri para jenderal angkatan AMN 1965 yang adalah teman-teman seangkatan Soeyono.
Dua srikandi ”kembar” tersebut adalah Siti Hardiyanti Indra Rukmana (Tutut) dari Golkar dan Megawati Soekarnoputri dari PDI. Pada akhir Desember 1993, kedua srikandi Indonesia itu bertemu muka di kediaman Tutut di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Tutut ketika itu belum genap dua bulan menjadi salah satu Ketua Golkar, sementara Megawati baru saja meraih ”pengakuan publik” sebagai Ketua Umum PDI.
Dua Mawar Mekar Setelah pertemuan itu, kedua srikandi itu bersaing dan saling berebut pengaruh. Inilah yang mengakibatkan pejabat pemerintah dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) terlibat dalam intrik-intrik pro dan kontra serta friksi-friksi yang tajam. Secara moral, ketika itu Megawati jelas lebih unggul. Tetapi politik kekuasaan lebih banyak berpihak kepada Tutut.
"Yang pasti, tidak mungkin bila ada dua mawar yang mekar bersamaan. Tidak boleh ada dua srikandi yang mentas bersamaan di panggung politik Indonesia,” kata Soeyono.
Pengambilalihan kantor PDI pada 27 Juli 1996, menurut Soeyono, merupakan klimaks dari upaya menggembosi pamor Megawati dan menaikkan popularitas Tutut. Sejumlah pejabat tinggi militer jelas terlibat dalam kasus ini. Mereka ini, menurut istilah mantan Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA) Mayjen Syamsir Siregar, berlomba-lomba mau mendekati Cendana supaya dapat jabatan, baik itu melalui Pak Hartonya langsung, maupun melalui anak-anaknya, khususnya Tutut yang waktu itu sangat besar pengaruhnya di Cendana.
Menurut Syamsir dalam buku tersebut, sejumlah perwira tinggi dan menengah ABRI saling sikut untuk mendapat pengaruh di Cendana. Soeyono, mantan ajudan (ADC) Presiden Soeharto selama sekitar empat tahun yang dekat dengan keluarga Soeharto kecuali dengan Prabowo (menantu Soeharto) itu, menjadi sasaran untuk disingkirkan. Soeyono dan sejumlah perwira angkatan AMN 1965 dianggap sebagai penghalang.
Dalam upaya menggalang pengaruh terhadap Soeharto dan anak-anak keluarga Cendana, khususnya Tutut yang menjadi Ketua Golkar, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) R. Hartono habis-habisan mendukung Golkar. Dalam kesempatan mendampingi kunjungan kerja ke daerah-daerah, Hartono tidak segan-segan mengenakan jaket kuning.
Orang tak bisa melupakan bagaimana seorang jenderal bintang empat mengenakan jaket kuning Golkar dan dengan gagah berani mengatakan bahwa ABRI adalah kadernya Golkar. Suatu pernyataan, yang menurut J. Kristiadi, sangat merendahkan martabat ABRI pada waktu itu.
Bahkan kabarnya Hartono memerintahkan agar semua Pangdam sampai Danrem setelah apel pagi mengenakan jaket Golkar. Semua perilaku politik Hartono ini tidak lepas dari ambisinya untuk menjadi Panglima ABRI menggantikan Jenderal Feisal Tanjung.
Kerusuhan massa sebagai akibat pengambilalihan kantor PDI pada 27 Juli 1996 yang menewaskan sedikitnya lima orang dan 149 luka-luka itu memang terkait dengan masalah Megawati yang sedang naik popularitasnya dan Mbak Tutut yang juga sedang diusung popularitasnya, antara lain oleh Hartono dan kawan-kawannya.
Operasi Naga Merah Keberadaan Megawati sebagai Ketua Umum PDI, seperti dikemukakan oleh pengamat politik dari CSIS, J. Kristiadi, membuat gerah Soeharto yang waktu itu menunjukkan gejala-gejala ingin mengorbitkan Tutut sebagai putera mahkota melalui jalur Golkar.
Soeharto khawatir popularitas Megawati akan menggoyahkan pemerintahan Orde Baru. Soeharto makin cemas setelah aktivis PDI, Aberson Sihalolo, menyebarkan formulir berisi dukungan terhadap Megawati untuk menjadi presiden serta ramalan politik Permadi bahwa Megawati akan menjadi Presiden ketiga menggantikan Soeharto. Maka, keluarlah instruksi Soeharto untuk mengganjal gerakan Megawati.
Titah ini, menurut investigasi majalah Tempo edisi Desember 2000, diterima oleh Pangab Jenderal Feisal Tanjung dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Yogie SM. Sebuah operasi pun dirancang. Nama sandinya: Operasi Naga Merah. Salah satu skenarionya adalah menyelenggarakan Kongres Medan pada 20 Juni 1996 untuk memilih kembali Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.
Persoalan menjadi runyam ketika massa PDI proMegawati yang menolak Soerjadi melakukan demonstrasi dan membanjiri jalanan Jakarta. Sejak aparat memperlakukan mereka dengan buruk dalam Insiden Gambir, akhir Juni 1996, massa kemudian terkonsentrasi di kantor PDI Jalan Diponegoro 58, Jakarta. Mimbar bebas yang hingar bingar pun digelar di sana setiap hari.
Aksi itu, menurut Syamsir Siregar, membuat geram sejumlah pejabat Orde Baru dan kelompok tertentu di ABRI. Eskalasi kegiatan dan dukungan rakyat terhadap Megawati menimbulkan persepsi di kalangan Istana dan inner circle-nya bahwa kantor PDI di Jl. Diponegoro 58 sebagai lambang perlawanan terhadap penguasa.
”Dikhawatirkan Megawati akan mendongkel Soeharto, begitulah ekstrimnya. Bagaimana pun, kharisma bapaknya sangat kuat. Karena terjadi ketidakadilan, terus karena dia wanita, akhirnya mengundang simpati,” demikian Syamsir Siregar menganalisa.
Meskipun upaya mengganjal Megawati begitu kuat dari aparat dan pejabat pemerintah, bukan berarti tidak ada jenderal yang bersimpati terhadap puteri proklamator Soekarno itu. Pangdam Jaya Mayjen A.M. Hendropriyono, Direktur A BAIS Mayjen Agum Gumelar dan mantan Pangdam Udayana Letjen Theo Syafei, merupakan jenderal yang dekat dengan kandang banteng. Dalam sebuah pertemuan dengan Panglima Kodam Jaya menjelang Munas PDI di Jakarta, Hendropriyono sempat memberikan jaminan kepada Megawati. ”Mbak pasti menjadi Ketua Umum PDI,” kata Hendropriyono yang kini menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu. (SH/emy kuswandari)
Bertekad menjadi pusat perdagangan dan pelayanan jasa yang nyaman, maju, sejahtera, dan berbudaya
Sebuah visi jangka panjang guna mengantarkan Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara sebagai kota modern telah ditetapkan. Kota budaya yang produktif dan nyaman, melalui optimalisasi sumberdaya lokal secara profesional dan amanah, menuju masyarakat sejahtera, bermartabat, dan religius. Begitulah gambaran umum mengenai Bau Bau masa depan. Sebuah paradigma yang diyakini akan membuat Kota Bau-Bau makin berkembang di kemudian hari.
Guna mewujudkan visi tersebut, berbagai langkah dilakukan. Di bidang ekonomi, ditekankan optimalisasi sumberdaya lokal, yakni dengan pengelolaan sesuai kapasitas, sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya budaya, sumberdaya buatan/teknologi, dan sumber-sumber penerimaan daerah. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan peran dan posisi Kota Bau-Bau sebagai simpul perdagangan dan pelayanan jasa yang berorientasi pada produktivitas.
Terbukti, perekonomian Bau-Bau selama beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang dinamis. Selama kurun waktu 2006-2007, nilai PDRB Atas Dasar Harga Berlaku meningkat dari Rp1.058,54 miliar pada tahun 2006 menjadi Rp1.254,49 miliar pada tahun 2007 atau naik sebesar Rp195,95 miliar. Sementara nilai PDRB adalah sebesar Rp586,32 miliar pada tahun 2007 atau naik sebesar Rp42,49 miliar dibandingkan tahun 2006 yang hanya mencapai Rp543,83 miliar.
Menurut Walikota Bau-Bau, Drs MZ Amirul Tamim, M.Si, dilihat berdasarkan laju pertumbuhannya, selama kurun waktu 2006-2007 masing-masing tumbuh sebesar 7,35 persen dan 7,8 persen. Angka tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya mencapai 5,50 persen dan 6,30 persen dalam kurun waktu yang sama.
Secara sektoral, tingginya laju pertumbuhan ekonomi Kota Bau-Bau selama periode ini tidak terlepas dari kinerja sektor-sektor pembentukannya yang mengalami pertumbuhan positif, kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi sebesar 7,89
persen. Sektor listrik, gas, dan air bersih tercatat sebagai yang paling tinggi mengalami peningkatan pada tahun 2007 dengan laju pertumbuhan sebesar 44,63 persen atau meningkat 35,29 persen dibandingkan tahun 2006.
Seiring dengan meningkatnya pembangunan fisik, seperti rumah toko (ruko), menempatkan sektor konstruksi/bangunan sebagai sektor kedua yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada tahun 2007 dengan laju pertumbuhan sebesar 12,25 persen atau meningkat 2,51 persen dibandingkan tahun 2006. Selanjutnya, meskipun pada tahun 2007 laju pertumbuhan sektor keuangan, persewaan bangunan dan jasa perusahaan mengalami penurunan sebesar 13,54 persen dibandingkan tahun 2006, akan tetapi secara umum laju pertumbuhan sektor tersebut cukup tinggi, yaitu mencapai 9,25 persen.
"Tingginya laju pertumbuhan sektor ini adalah tidak terlepas dari makin berkembangnya sub-sektor keuangan dan lembaga keuangan lainnya. Salah satunya adalah beroperasinya bank berskala nasional seperti Bank Muamalat, Panin Bank, dan Bank Mandiri di Kota Bau-Bau,” kata Amirul. Hanya saja, tambah Amirul, meskipun angka-angka indikator makro ekonomi dan sosial yang telah menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, namun ditahun 2009 perlu mewaspadai ketidakpastian dinamika ekonomi global yang tentunya juga akan berimbas pada dinamika perkembangan ekonomi daerah.
Di sisi lain, lanjut Amirul, Bau-Bau lahir sebagai lokomotif pembanguan perekonomian, khususnya perdagangan dan jasa bagi kabupaten-kabupaten maupun pulau-pulau sekitar. Bahkan, Bau-Bau yang berada di posisi strategis di lintas antara kawasan barat dan timur, daya layanannya dalam penyaluran berbagai kebutuhan sampai ke Maluku, Sulawesi Tengah, bahkan ke Papua.
Pelabuhan Bau-Bau selama ini berperan sebagai simpul dalam jaringan transportasi nasional, terutama bagi armada penumpang milik PT Pelni (Persero). Bau-Bau menjadi pelabuhan transit dalam pelayaran dari kawasan barat ke kawasan timur dan sebaliknya, dan frekuensi kunjungan kapal ke Bau-Bau jauh lebih padat dibanding pelabuhan lainnya di Sultra. Pelabuhan Bau-Bau pun sangat berpotensi menjadi pintu gerbang ekonomi Sultra di masa depan.
Begitu pula dengan Lapangan Terbang Betoambari, Bau-Bau, yang memiliki peran strategis dalam lalu lintas perekonomian Bau-Bau maupun kawasan sekitarnya. Amirul Tamim sangat yakin, lapangan terbang ini layak dikembangkan menjadi lapangan terbang komersial maupun untuk kepentingan pertahanan dan keamanan.
Perekonomian daerah ini terus berkembang dan menciptakan lapangan kerja sebagai sumber kesejahteraan bagi penduduknya. Banyak potensi maupun kekayaan alam yang kini sudah dikelola secara profesional dalam rangka memanfaatkan peluang di era otonomi daerah. Inilah modal awal bagi Bau-Bau untuk menjadi kota dagang dan pariwisata di kawasan timur Indonesia, di masa mendatang.
***
WAWANCARA
WALI KOTA BAU BAU
DRS MZ AMIRUL TAMIM, M.SI
”SEKTOR RIIL HARUS TERUS BERKEMBANG”
Sejak Oktober 2001, Kota Bau-Bau telah berdiri sendiri sebagai kota otonom, terpisah dari induknya Kabupaten Buton. MZ Amirul Tamim, yang terpilih sebagai wali kota pertama setelah Bau-Bau menjadi kota otonom, melakukan berbagai terobosan baru dalam kebijakannya guna mengembangkan perekenomian Bau-Bau, khususnya di bidang jasa dan perdagangan.
Secara geografis, Bau-Bau diuntungkan dengan letaknya yang strategis. Di masa lalu, kota ini juga memiliki peran yang strategis di berbagai sektor kehidupan, khususnya bagi daerah-daerah di sekitarnya. Untuk mengoptimalnya pembangunan perekonomian, Amirul mengatakan, sentuhan kebijakan tidak hanya berskala lokal, tapi juga harus membaca bagaimana layanan Bau-Bau dan kondisi daerah di sekitarnya. Berikut wawancara lengkapnya:
Apa prioritas Anda dalam merancang kebijakan di bidang perekonomian?
Yang diprioritaskan adalah bagaimana mengoptimalkan sumber daya alam yang ada. Maka diperlukan pembangunan infrastruktur yang memberikan kemudahan dan aksebilitas dalam perekonomian masayrakat. Memberikan kemudahan dan minimalkan risiko biaya kepada masaryakat, sehingga mereka punya daya saing. Apalagi, Bau-Bau memiliki peran strategis dan memberikan layanan, pintu masuk bagi 4-5 kabupaten di sekitarnya. Itu yang harus dihitung juga. Sehingga daya layanan kota kita juga memberikan layanan besar tidak hanya terhadap warga Bau-Bau, tapi juga masyarakat di sekitar Kota Bau-Bau.
Apa persoalan yang dihadapi di bidang infrastruktur?
Lapangan udara dan pelabuhan di Bau-Bau masih terbatas. Padahal, dalam setaun, sekitar 7.000 kapal mampir di Bau-Bau. Lapangan terbang baru panjangnya 1.500 meter, dari konsep awal 2.200 meter. pembangunannya masih banyak yang dibiayai dari APBD sendiri. Itulah persoalan yang terjadi dan dirasakan.
Antisipasinya?
Memberikan dispensasi terhadap beberapa pungutan. Tentu ada yang di luar kapasitas kita. Memperbesarkan pelabuhan daerah, termasuk jalan negara yang harusnya dibiayai negara, tapi karena jadi urat nadi, kita tidak menunggu anggaran dari pusat. Terpaksa kami biayai sendiri dari APBD. Karena ketika kita tunggu, bebannya akan dipikul oleh masyarakat dan mempengaruhi harga-harga. Terpaksa kita kerjakan lewat APBD, agar perekenomian punya daya saing.
Selama ini, sektor apa saja yang berkembang di Bau-Bau?
Kita adalah kota jasa dan perdagangan. Dari sejarahnya Bau-Bau punya peran masa lalu yang merupakan daerah lintas yang dekat dengan Maluku. Dari posisi geografis sangat strategis, sehingga Bau-bau dengan beberapa kebijakan yang tidak hanya lokal, tapi juga kebijakan secara nasional, dengan melihat posisi strategis dan peran, serta potensi yang ada, sehingga bau-bau menjadi motor penggerak untuk kawasan sekitarnya.
Secara potensi, yang bergerak memang perikanan. Kalau dilihat dari potensi pertambangan, di sekitar kita ada aspal, nikel, mangan, besi, sementara survei minyak. Tentu mencermati potensi daerah belakang, sebagai outlet-nya kawasan ini adalah bagaimana menjadi daerah kota yang bisa mendukung pemanfaatan potensi daerah di sekitarnya. Kalau hanya berpikir mau membangun Bau-Bau, bisa salah. Jadi, perencanaan kota Bau-Bau didasarkan pada potensi yang dimiliki, melihat peran Bau-Bau yang bisa dioptimalkan, serta berdasarkan kebutuhan dan layanan terhadap daerah sekitarnya.
Apakah Anda juga membuka ruang investasi dari luar?
Kami welcome untuk investasi. Silakan, kemudahan apa yang diharapkan dari kami, tentu dengan kapasitas dan batas kewenangan yang kami miliki. Sebagai bagian dari sistem, kalau terkait dengan kapasitas daerah, kami memberikan kemudahan sesuai dengan yang diharapkan. Tentu, jangan sampai merusak tatanan yang ada. Kita akan kaji dulu kemudahan apa yang diinginkan.
Bagaimana dengan kebijakan maupun proyeksi perekonomian di tahun ini?
Pertama, kita meyakinkan semua komponen masyarakat dan pelaku ekonomi, bahwa pemerintah kita kuat. Tak perlu pesimis dengan kondisi dan gejolak ekonomi. Tim ekonomi pemerintah kita kuat untuk mengawal kondisi masyarakat. Kedua, sektor riil harus tetap kita jaga. Tentu banyak terkait dengan prosedur, mekanisme, serta kebijakan yang menjadi rujukan kita dalam mengambil langkah. Perlu ada kebijakan yang harus direvisi supaya memudahkan daerah untuk mengambil kebijakan yang lebih baik.
Ketiga, kita tetap memberikan kebijakan terhadap yang sifatnya padat karya. Memberikan peluang pada masyarakat untuk melakukan aktivitas. Yang harus kita jaga adalah bagaimana masyarakat yang punya sandaran hidupnya dari upah harian. Harus diingat, masyarakat yang punya sandaran hidup seperti ini tidak sedikit. Kalau kita putus, dampaknya besar, dengan indikasi tingkat kriminalitas yang mulai naik. Jadi, harus ada kebijakan yang arif.
Apa target pertumbuhan ekonomi atau pendapatan daerah?
Menjaga saja apa yang sudah ada. Kita tidak mau mengambil risiko di tengah kondisi perekonomian yang secara global masih krisis. Strategi kita menjaga saja. Yang penting stabil. Sebagaimana pesan Presiden, hindari PHK, kembangkan sektor riil, jaga stabilitas harga, pertahankan daya beli masyarakat, mengentaskan kemiskinan dengan mendukung program PNBM Mandiri, melakukan kebijakan di bidang pangan dan energi, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Saya pikir, jika antara keibijakan pusat dan daerah sinkron, bisa running. Persoalan yang sering terjadi, lain pusat, lain daerah. Padahal daerah aplikasinya.
Apakah kondisi krisis global juga berpengaruh bagi perekonomian Bau-Bau?
Pengaruhnya pada psikologis saja. Ekonomi tetap saja bergerak, dengan tingkat pertumbuhan yang cukup mengembirakan, sekitar 7,83%. Namun, yang perlu ditekankan, bagaimana pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap daerah yang punya kemampuan atau posisi yang bisa menggerakkan kawasan. Bau-Bau, misalnya. Ketika Bau-Bau disentuh, maka dampaknya tak hanya dirasakan Bau-Bau, tapi juga daerah lain.
Berkat kerja keras, pemulihan Kota Ambon pasca konflik berlangsung cepat, dan terus menunjukkan perbaikan.
Setelah bertahun-tahun didera konflik, Ambon kembali berdenyut. Masyarakat setempat maupun pendatang kembali beraktivitas seperti sedia kala. Aktivitas sosial maupun ekonomi di sejumlah titik yang sebelumnya dikenal rawan terus menampakkan gairahnya.
Di sepanjang Jalan Pantai Mardika tumbuh puluhan pedagang kaki lima yang setiap hari melayani pembeli. Aktivitas perdagangan kaki lima di kawasan yang dikenal sebagai daerah bakubae atau persaudaraan, yakni pertemuan perdagangan komunitas Kristen dan Muslim, saling interaksi dengan damai di Kota Ambon. Makin hari, kawasan bakubae ini terus tercipta.
Itulah gambaran geliat bangkitnya ekonomi rakyat di Kota Ambon pasca konflik kemanusiaan. Setiap orang kini leluasa bepergian kapan saja, siang maupun malam hari. Ini semata tak hanya lalu lintas angkutan kota sudah pulih, tetapi faktor keamanan sudah mantap.
Semua ini merupakan kerja keras Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon dan partisipasi aktif berbagai pihak. Keseriusan pemerintah setempat terlihat dari kinerja pasca konflik yang memprioritaskan pada program menyelesaikan masalah hati, dengan melakukan rekonsiliasi sosial dengan instrumen budaya. Hal ini dimaksudkan untuk menyambung kembali tali silaturrahmi sesama orang Ambon yang tercerai berai akibat konflik.
”Tema yang diusung adalah ”Kembalikan Ambonku”. Kami kesampingkan soal isu agama, dan menggunakan isu kultural,” kata Walikota Ambon, Marcus Jopie Papilaya. Menurutnya, program rehabilitasi tak semata soal keamanan secara fisik, tapi juga menata hati masyarakat yang trauma akibat konflik berkepanjangan. ”Hati harus beres dulu. Kalau hati beres, selesai. Kalau tidak, ya susah. Tentara ada, orang berdamai. Tapi kalau tentara pergi, orang berkelahi,” katanya.
Karena itu, ia pun keluar masuk kampung guna membangun kembali persatuan bagi warga Ambon. Berbagai pagelaran seni maupun budaya yang melibatkan tokoh setempat maupun kalangan pelajar pun digalakkan agar komunikasi antar elemen masyarakat kembali terjalin. ”Saya menggugah orang dengan cara-cara seperti itu,” kata Jopie.
Upaya membangun citra bahwa Kota Ambon sudah aman dan kembali normal terus gencar dilakukan. Salah satunya dengan menggelar pesta besar setiap peringatan Hari Ulang Tahun Kota Ambon dilangsungkan. Begitu juga dengan penyelenggaraan event-event olahraga yang melibatkan orang-orang di luar Ambon, bahkan negara-negara tetangga.
Hasilnya, kampanye Ambon kembali manise begitu dirasakan, baik di dalam maupun luar negeri. ”Ini mulai kelihatan dampaknya. Frekuensi penerbangan sudah mulai bertambah. Yang sekali sehari, sekarang dua kali sehari,” kata Jopie. Para pengunjung terus berdatangan untuk menyaksikan kembali keindahan maupun potensi yang dimiliki Ambon.
Dari program pemulihan (recovery) keamanan maupun perasaan traumatik yang telah digalakkan Pemkot Ambon, kini masyarakat dapat merasakan hasilnya. Berkat dukungan dan kepedulian semua pihak, tujuan menjadikan Ambon kembali Manise bukan lagi sebatas mimpi. Karena itu, Jopie mengajak warga untuk hidup lebih tertib demi terciptanya lingkungan kota yang semakin nyaman. Pemerintah pun akan berusaha untuk lebih meningkatkan layanan kepada masyarakat.
Ke depan, Jopie bertekad untuk terus menggiatkan pemberdayaan masyarakat. Titik sentral dalam menghilangkan traumatik masyarakat akibat konflik adalah bagaimana mengeluarkan mereka dari penderitaan yang dialami.
"Trauma psikologis yang dialami masyarakat Kota Ambon, tidak bisa hanya ditangani dengan suasana aman saja. Harus ada tindakan nyata dengan memberi peluang dan kesempatan mereka bisa bekerja di bidang apa saja untuk mendapatkan uang. Mereka perlu kerja," kata Jopie. Oleh karena itu, Pemkot Ambon kembali bergiat untuk menyelesaikan pekerjaan baru yaitu pemulihan ekonomi.
***
Ambon, Kawasan Investasi Potensial
Kota Ambon membuka diri dengan masuknya investasi di berbagai sektor andalan
Setelah sukses dengan program pemulihan keamanan dan perasaan traumatik, Walikota Ambon, Marcus Jopie Papilaya mencanangkan program pemulihan ekonomi dan penataan sarana perkotaan sebagai program lanjutan Kota Ambon. Pemulihan ekonomi diprioritaskan pada dua hal, yakni mengembalikan kawasan perdagangan yang porak-poranda dan membangkitkan kembali usaha kecil dan menengah di bidang industri perikanan, perdagangan, pariwisata, dan fasilitas umum.
Membangun kembali Ambon, yang selama ini juga dikenal sebagai Hongkong-nya Indonesia, memang butuh kerja keras. Kota Ambon, yang memiliki luas 377 kilometer itu memang memiliki potensi dan kekayaan alam yang melimpah. Bila Kota Ambon bisa terlepas dari konflik, ditunjang pembangunan yang pesat, bukan tidak mungkin kota kecil ini sama majunya dengan Hongkong.
Sejalan dengan program pembangunan ekonomi, Jopie Papilaya bertekad untuk memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat dengan membangun sentra-sentra ekonomi baru, karena sentra ekonomi lama tak mampu lagi menampung kebutuhan warga. Sejumlah pusat ekonomi baru pun mulai dikembangkan pemerintah untuk mengurangi kepadatan di pusat kota, seperti pembangunan pasar tradisional Nania maupun sentra ekonomi baru di Paso.
Berbagai peluang investasi terus dikelola dan dikembangkan. Oleh sebab itu, Kota Ambon membuka diri terhadap datangnya investasi dari berbagai pihak. Perikanan, peternakan, perhotelan, ekspor cengkeh dan pala, pertambangan, perkebunan, hingga pariwisata merupakan andalan yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Ambon, dan sangat potensial bagi investasi jangka panjang yang sifatnya saling menguntungkan.
Selama ini, ikan laut menjadi andalan pengembangan ekonomi rakyat di Ambon. Kegemaran masyarakat yang begitu tinggi terhadap ikan menjadikannya sebagai makanan khas yang mendominasi sejumlah rumah makan di Kota Ambon. Dari usaha ini saja, telah tumbuh usaha industri pengolahan ikan skala rumah tangga cukup besar, mencapai 3.289 unit usaha yang memerlukan bantuan modal maupun peningkatan sarana pengolahan.
Begitu juga dengan sektor peternakan. Bila dibandingkan dengan semakin tingginya kebutuhan komsumsi masyarakat terhadap daging setiap tahun, maka sangat terbuka peluang investasi untuk mengembangkan sektor peternakan di Kota Ambon. Investasi ini dapat dilakukan pada bagian hulu dan bagian hilir, seperti usaha peternakan atau penggemukan, serta pengolahan dalam bentuk industri pengolahan daging abon atau dendeng. Untuk ternak unggas, usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha peternakan perdagangan pakan ternak pada bagian hulu dan pada bagian hilir adalah usaha rumah makan/restoran.
Beberapa waktu lalu, sejumlah pengusaha nasional yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Kadin pusat, telah menjajaki peluang investasi di Kota Ambon. Para pengusaha nasional ini berniat ingin membantu mengembangkan investasi di Kota dan Pulau Ambon sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang baru terbebas dari konflik.
Jopie Papilaja, mengatakan, kehadiran para pengusaha nasional itu akan berdampak dalam peningkatan bisnis dan investasi skala besar di Kota dan Pulau Ambon di masa mendatang. Kehadiran mereka pun diharapkan akan meningkatkan kepercayaan kalangan pebisnis dalam dan luar negeri untuk berinvestasi di Ambon maupun kabupaten lainnya. ”Pemkot siap memberikan berbagai kemudahan yang dibutuhkan, termasuk penyediaan lahan, kemudahan pengurusan ijin serta memangkas berbagai pungutan yang memberatkan,” kata Jopie.
Pihaknya juga tak menutup peluang bagi investor asing yang ingin menanamkan modalnya di Ambon. Untuk itu, ia melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Elmar Bouma Perwakilan dari Indonesian Nederland Assosiasion (INA), mengenai kerja sama investasi dan asistensi teknis lainnya. Dengan penandatangan MoU tersebut, INA akan menjadi komunikator bagi kerjasama pengusaha menengah di kedua negara.
Jopie berharap, peluang investasi dapat dimanfaatkan para investor. Dengan demikian, investasi ini akan berdampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, mengatasi tingginya angka pencari kerja dan pengangguran di Kota Ambon, di masa mendatang.
***
Mari Berinvestasi di Ambon
Pemerintah memberikan kemudahan dan insentif bagi setiap investor yang menanamkan modalnya di sektor-sektor andalan.
Setelah bertahun-tahun didera konflik, kehidupan di Ambon kembali pulih. Tak ada lagi rasa trauma maupun rasa benci antar kelompok. Masyarakat setempat maupun pendatang kembali beraktivitas seperti sedia kala. Aktivitas sosial maupun ekonomi di sejumlah titik yang sebelumnya dikenal rawan terus menampakkan gairahnya.
Dinamika perekonomian terus membaik dalam tiga tahun terakhir ini. Rata-rata pertumbuhan perekonomian meningkat sekitar 5 persen per tahun dan tingkat inflasi berkisar 6 persen hingga 7 persen. Jauh berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya saat Ambon diimpit gejolak. Angka kemiskinan mulai turun. Begitu pula dengan pengangguran seiring dengan mulai dibukanya peluang usaha dan kesempatan kerja.
Di sepanjang Jalan Pantai Mardika tumbuh puluhan pedagang kaki lima yang setiap hari melayani pembeli. Aktivitas perdagangan kaki lima di kawasan yang dikenal sebagai daerah bakubae atau persaudaraan, yakni pertemuan perdagangan komunitas Kristen dan Muslim, saling interaksi dengan damai di Kota Ambon. Makin hari, kawasan bakubae ini terus tercipta.
Itulah gambaran geliat bangkitnya ekonomi rakyat di Kota Ambon pasca konflik kemanusiaan. Setiap orang kini leluasa bepergian kapan saja, siang maupun malam hari. Ini semata tak hanya pulihnya lalu lintas angkutan kota, tetapi faktor keamanan yang telah dirasakan seluruh warga Ambon.
Kini, pemerintah setempat bergegas dengan pekerjaan baru, yaitu memulihkan perekonomian. "Trauma psikologis yang dialami masyarakat Kota Ambon, tidak bisa hanya ditangani dengan suasana aman saja. Harus ada tindakan nyata dengan memberi peluang dan kesempatan mereka bisa bekerja di bidang apa saja untuk mendapatkan uang. Mereka perlu kerja," kata Walikota Ambon, Marcus Jopie Papilaya.
Oleh karena itu, ia mencanangkan program pemulihan ekonomi dan penataan sarana perkotaan sebagai program lanjutan Kota Ambon. Pemulihan ekonomi diprioritaskan pada dua hal, yakni mengembalikan kawasan perdagangan yang porak-poranda dan membangkitkan kembali usaha kecil dan menengah di bidang industri perikanan, perdagangan, pariwisata, dan fasilitas umum.
Jopie Papilaya bertekad untuk memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat dengan membangun sentra-sentra ekonomi baru, karena sentra ekonomi lama tak mampu lagi menampung kebutuhan warga. Sejumlah pusat ekonomi baru pun mulai dikembangkan pemerintah untuk mengurangi kepadatan di pusat kota, seperti pembangunan pasar tradisional Nania maupun sentra ekonomi baru di Paso.
Berbagai peluang investasi terus dikelola dan dikembangkan. Karena itu, Kota Ambon membuka diri terhadap datangnya investasi dari berbagai pihak. Perikanan, peternakan, perhotelan, ekspor cengkeh dan pala, pertambangan, perkebunan, hingga pariwisata merupakan andalan yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Ambon, dan sangat potensial bagi investasi jangka panjang yang sifatnya saling menguntungkan.
Selama ini, ikan laut menjadi andalan pengembangan ekonomi rakyat di Ambon. Kegemaran masyarakat yang begitu tinggi terhadap ikan menjadikannya sebagai makanan khas yang mendominasi sejumlah rumah makan di Kota Ambon. Dari usaha ini saja, telah tumbuh usaha industri pengolahan ikan skala rumah tangga cukup besar, mencapai 3.289 unit usaha yang memerlukan bantuan modal maupun peningkatan sarana pengolahan.
Sektor perikanan laut menarik minat investor karena potensi ikan tangkapan di Maluku mencapai 1.627.500 ton per tahun. Sesuai dengan ketentuan, ikan yang boleh ditangkap sekitar 1,3 juta ton per tahun. Sektor ini pun membuka peluang industri ikutan, seperti proses penangkapan, pengepakan, cold storage, hingga penyediaan kemasan.
Ambon juga memiliki potensi alam yang tidak kalah indah bila dibandingkan dengan Bali. Hanya saja, kekayaan alam ini belum dikelola dengan baik untuk menjadi wisata alam potensial. Sektor pariwisata juga menggiurkan bagi investor karena okupansi hotel-hotel di Ambon pasca konflik sangat tinggi.
Begitu juga dengan sektor peternakan. Bila dibandingkan dengan semakin tingginya kebutuhan komsumsi masyarakat terhadap daging setiap tahun, maka sangat terbuka peluang investasi untuk mengembangkan sektor peternakan di Kota Ambon. Investasi ini dapat dilakukan pada bagian hulu dan bagian hilir. Sedangkan untuk ternak unggas, usaha yang dapat dikembangkan adalah usaha peternakan perdagangan pakan ternak pada bagian hulu dan pada bagian hilir adalah usaha rumah makan/restoran.
Dalam perkembangan, sektor perikanan menarik minat enam perusahaan di bidang pengemasan ikan, dengan nilai investasi sekitar Rp 5 miliar. Sedangkan di sektor pariwisata segera dibangun dua hotel berbintang, hasil investasi seorang investor berasal dan Amerika Serikat, dengan investasi senilai 5 juta dolar. Nilai investasi ini, kata Jopie, memang tidak besar. Tetapi, ia berharap investasi ini menjadi pemicu masuknya investasi lainnya.
Terbukti, peluang investasi ini menarik minat sejumlah pengusaha nasional yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Kadin pusat. Mereka berminat untuk menjajaki peluang investasi di Kota Ambon, dan membantu mengembangkan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang baru terbebas dari konflik.
Kehadiran para pengusaha nasional itu diharapkan berdampak dalam peningkatan bisnis dan investasi skala besar di Kota dan Pulau Ambon di masa mendatang. Kehadiran mereka pun diharapkan akan meningkatkan kepercayaan kalangan pebisnis dalam dan luar negeri untuk berinvestasi di Ambon maupun kabupaten lainnya.
Menurut Jopie, Pemkot Ambon siap memberikan berbagai kemudahan yang dibutuhkan, termasuk penyediaan lahan, kemudahan pengurusan ijin serta memangkas berbagai pungutan yang memberatkan. Selain itu, pemberian insentif, berupa dispensasi di bidang perpajakan juga dilakukan. ”Yang penting dia punya komitmen jelas. Kalau sudah jelas, akan kami fasilitasi. Ijin bisa belakangan, yang penting jalan dulu,” katanya.
Guna menyambut kedatangan para investor, kini tengah dibangun sistem pelayanan baru yang memungkinkan para investor mengurus berbagai keperluan usaha dengan mudah dan cepat. Januari 2009, organisasi, sistem, maupun kantor baru dimaksud direncanakan dapat dioperasikan untuk memudahkan para investor.
Pemerintah Kota (pemkot) Ambon juga membuka peluang bagi investor asing yang ingin menanamkan modalnya di Ambon. Berbagai fasilitas maupun jaminan keamanan bagi setiap warga negara asing yang datang pun disiapkan. Guna merambah investor di Eropa, dirintislah kerja sama investasi dan asistensi teknis dengan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) bersama Elmar Bouma Perwakilan dari Indonesian Nederland Assosiasion (INA). Dengan penandatangan MoU tersebut, INA akan menjadi komunikator bagi kerjasama pengusaha menengah di kedua negara.
Jopie berharap, berbagai peluang, kemudahan, dan insentif investasi ini dapat dimanfaatkan para investor. Dengan demikian, investasi ini akan berdampak bagi laju perekonomian, peningkatan kesejahteraan masyarakat, mengatasi tingginya angka pencari kerja dan pengangguran di Ambon, di masa mendatang. Untuk itu, saatnya mengalihkan investasi Anda ke Kota Ambon yang memiliki peluang dan keuntungan investasi yang menjanjikan.
***
Wawancara Walikota Ambon
Drs Marcus Jopie Papilaya
”Kami Berikan Kemudahan dan Insentif Bagi Investor”
Setelah berkutat dengan upaya pemulihan keamanan dan persoalan hati akibat perasaan trauma pasca konflik, Pemerintah Kota Ambon dihadapkan pada tugas baru, yaitu pemulihan ekonomi. ”Saya harus menyelesaikan masalah perut. Untuk mengatasi masalah kemiskinan, membuka lapangan kerja, serta peluang usaha baru, perlu investasi, ” kata Walikota Ambon, Marcus Jopie Papilaya.
Untuk itu, Ambon membuka investasi modal dalam negeri dan asing. Dalam perkembangan, sektor perikanan menarik minat enam perusahaan di bidang pengemasan ikan, dengan nilai investasi sekitar Rp 5 miliar. Sedangkan di sektor pariwisata segera dibangun dua hotel berbintang salah satu investor berasal dan Amerika Serikat, dengan investasi senilai 5 juta dolar. Nilai investasi ini, kata Jopie, memang tidak besar. Tetapi, ia berharap investasi ini menjadi pemicu masuknya investasi lainnya. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana dinamika perekonomian di Ambon belakangan ini?
Dinamika perekonomian terus membaik dalam tiga tahun terakhir ini. Rata-rata pertumbuhan perekonomian meningkat sekitar 5 persen per tahun dan tingkat inflasi berkisar 6 persen hingga 7 persen. Jauh berbeda dibanding tahun-tahun awal ketika saya menjabat di periode sebelumnya, tahun kedua minus 27 persen. Tahun ketiga minus 1 persen. Sekarang rata-rata 6-7 persen kenaikannya. Angka kemiskinan juga turun.
Kalau mengenai pertumbuhan investasi, bagaimana?
Sektor perikanan laut menarik minat investor karena potensi ikan tangkapan di Maluku mencapai 1.627.500 ton per tahun. Sesuai dengan ketentuan, ikan yang boleh ditangkap sekitar 1,3 juta ton per tahun. Sektor ini pun membuka peluang industri ikutan, seperti proses penangkapan, pengepakan, cold storage, hingga penyediaan kemasan.
Itu semua harus diurus dan dari semua itu, bagian yang menjadi hambatan di infrastruktur atau di peraturan dan itu kita harus memberikan kemudahan untuk menarik investor. Kami juga memiliki potensi alam yang tidak kalah indah bila dibandingkan dengan Bali. Kelemahan kami adalah belum adanya pengelolaan yang baik terhadap potensi wisata alam itu. Sektor pariwisata juga menggiurkan bagi investor karena okupansi hotel-hotel di Ambon pasca konflik sangat tinggi.
Apa kendala yang dihadapi para investor?
Beberapa investor, terutama sektor perikanan, ada yang mau masuk. Mereka menemukan persoalan, seperti kepemilikan tanah, tunggakan PBB, dan sebagainya. Pemilik tanah tidak pernah bayar PBB. Jadi, Kalau dibeli, investor harus bayar tunggakan PBB itu. Saya butuh investor, tapi saya tak boleh melanggar peraturan maupun UU. Jadi, kita cari jalan tengah yang tidak melanggar UU maupun peraturan.
Apa ada pemberian insentif pada investor yang masuk?
Ada. Kemudahan dalam perijinan, pajak, dan retribusi. PBB yang lalu tak usah bayar, ada pemutihan. Selanjutnya harus bayar. IMB, sekarang sudah murah, dan bisa dicicil, bikin pernyataan cicil berapa kali. Yang penting dia punya komitmen jelas. Kalau sudah jelas, akan kami fasilitasi. Ijin bisa belakangan, yang penting jalan dulu.
Dari sisi peraturan, ada hambatan dari legislatif?
Ada. Ini sebetulnya umum, para bupati berpikir bahwa yang dikejar adalah PAD (Pendapatan Asli Daerah, Red.). Saya tidak setuju. Yang harus kita kejar adalah pertumbuhan ekonomi. Kalau pertumbuhan ekonomi bagus, dinamika bagus, PAD kan otomatis meningkat. Tapi, kalau PAD yang menjadi target, kadang kita menghambat. Itu yang kadang tidak dipahami. Kita kejar PAD, tapi justru menghambat investasi. Itu artinya, kita menutup ruang bagi kesempatan kerja dan berusaha. Daya beli akan turun, dan dinamika tidak akan jalan.
Upaya mengkomunikasikannya bagaimana?
Saya berusaha menjelaskan, mengajak pakar, dosen, sikat saja. Sekarang tinggal pilih, memilih uang yang tak seberapa masuk kas daerah, atau investasi masuk, baru kemudian timbul kesempatan usaha baru, PAD baru dapat. Tapi kalau saya akan pilih yang kedua.
Ada peraturan baru yang membuka ruang investasi?
Ada, dalam arti, perda-perda membuka ruang di mana walikota punya kewenangan. Itu saya lakukan. Ada komitmen, kesempatan kerja berapa orang. Saya kasih keringanan berapa persen. Tapi, saya juga tidak memaksa harus menampung sekian banyak orang, berdasarkan keahlian. Selama ini jalan, walau dalam skala kecil. Di perikanan tumbuh cold storage, pabrik steoroform, untuk mendukung pengemasan.
Sistem pelayanan yang diterapkan, bagaimana?
Kita sedang membangun sistem pelayanan baru. Saya tidak menganut model pelayanan satu atap seperti di tempat lain. Tapi saya mengembangkan satu kantor pelayanan publik. Seperti di perbankan, orang datang bisa urus ijin usaha, masukkan di situ. Berapa hari urusan selesai. Jadi, orang hanya berurusan di situ saja, tidak usah ke kantor dinas lainnya. Unit pelayanan khusus ini seperti costumer services-nya. Urusannya apa, diselesaikan di situ.
Prosesing perijinan secara online. Sekarang sedang dibuat sistemnya. Lalu, organisasinya sedang dibahas di DPRD, tempat fisiknya sedang dibangun. 1 Januari 2009 harus jalan. Organisasi baru, kantor baru, sistem baru. Itu cara orang untuk lebih mudah. Saya minta pada yang desain sistem, bagaimana orang harus dijanjikan tiga hari, tapi belum selesai, bagaimana orang diberi tahu lewat telepon atau sms, dan ada kepastian kapan selesai. Jadi, orang tak perlu datang.
Apa target Anda dari investasi ini?
Sentra ekonomi baru harus running. Sebab itu simbol kesempatan kerja dan berusaha. Semua harus jalan. Sistem pelayanan publik harus sudah mapan. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat bisa terwujud.
Aroma wewangian dapat juga memberikan rasa nyaman, bersemangat, dan menghilangkan stres.Wewangian berasal dariMesir. Sejak dahulu, wewangian telah menjadi bagian kecantikan seorang wanita dan menjadi pelengkap upacara ritual, mulai dari kelahiran hingga kematian. Beragam bahan dari alam dimanfaatkan sebagai bahan dasar wewangian yang diolah dengan bermacam cara. Seperti kayu manis, dupa, serta ekstrak tumbuh-tumbuhan seperti kelopak bunga, buah, akar, kulit kayu. Bahan ini diolah dengan cara digiling, diparut, atau diremukkan. Dan hasilnya berupa bahan halus yang ditaburkan.
Dalam perkembangan, para pencipta parfum mulai hadir dengan deretan mahakarya yang menakjubkan. Proses penciptaannya dilalui dengan beragam upaya, mulai dari yang sederhana hingga melahirkan inspirasi dengan wewangian yang kaya akan cita rasa mewah. Parfum adalah sebuah karya seni yang lahir dari imajinasi, kepekaan, dan keterampilan para penciptanya. Tentu diawali dengan kesederhanaan dan niat menyajikan suatu karya yang indah dan menyenangkan.
Perfumer, sebutan para pencipta wewangian ini adalah orang-orang yang indra penciumannya lebih sensitif dari pada orang biasa. Selain memiliki bakat alami, seorang perfumer juga memiliki rasa ketertarikan yang besar dengan wewangian. Layaknya seorang seniman, mereka juga memerlukan imajinasi untuk menciptakan wewangian. Mereka pun mampu untuk berpikir, menulis, atau melukis menggunakan wewangian, serta memiliki pemahaman yang tinggi akan tren, gaya hidup, dan budaya suatu bangsa.
Imajinasi mereka pun bisa datang dari mana saja. Aroma kayu yang khas, wangi bunga yang semerbak, buah segar, atau ekstrak tumbuh-tumbuhan memberikan inspirasi bagi para pencipta parfum untuk melahirkan parfum dengan wangi yang lembut, manis, segar, atau kuat. Beberapa perfumer, sebutan lain pembuat parfum, juga diilhami oleh kecintaannya pada seni. Air, laut, udara, atau lingkungan sekitar juga turut menunjang lahirnya penemuan-penemuan baru aroma parfum.
Wangi asli parfum sering kali menjadi ciri khas daerah asalnya. Misalnya, rose atau mawar yang menjadi keharuman asli di Persia dan berkembang hingga ke seluruh Timur Tengah, serta jasmine atau melati terbaik yang ditemukan di Mesir dan India. Jika mencari dupa, sebagai sari wewangian tertua, maka datanglah ke sabana di Somalia, Etiopia, dan Sudan.
Namun, kebanyakan orang mengagumi parfum produk-produk Perancis yang memang sangat terkenal dan menjadi pusat parfum dunia. Kata Paris bahkan menjadi nilai jual tersendiri agar pembeli percaya produknya bermutu, sekalipun mereknya asing. Wewangian dari negara ini dihasilkan dari penggunaan bahan baku pilihan dengan proses pembuatan yang bercita rasa tinggi. karena itu, parfum buatan Perancis menjadi sangat terkenal meskipun berdasarkan sejarah, wewangian tidak berasal dari Negeri Mode itu.
Salah satu kegunaan parfum adalah penyembuhan. Wangi dan asap yang keluar dari dupa yang dibakar menjadi terapi yang membawa pada suasana yang tenang. Di masa lalu, wewangian ini juga diyakini dapat menjadi perantara bagi yang masih hidup dan ada di dunia untuk memperoleh perlindungan dari penguasa seluruh alam semesta. Dengan wanginya yang memikat, parfum telah menjadi bagian dari ritual kecantikan maupun pelengkap penampilan kita sehari-hari. Cairan bening dengan wangi yang khas ini diekstrak secara alami dari tumbuhan, buah, bunga, rempah-rempah, ataupun dibuat secara sintetis ini pun digemari seluruh lapisan masyarakat.
Aneka produk pewangi tubuh kini bisa dipilih sesuai dengan mood dan kepribadian. Seperti busana, minyak wangi pun bisa mencerminkan kepribadian dan mood seseorang. Kenali ragam aroma minyak wangi. Pilihan wewangian yang tepat akan memancarkan kepribadian Anda. Jadi, parfum apa yang paling sesuai dengan kepribadian Anda?
Pria bertanggal lahir 6 Juli 1978 ini melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta. Pada 2001 lalu ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik di fakultasnya dengan skripsi berjudul, Politik Media di Balik Berita, Suatu Analisis Isi Pemberitaan Kompas, Antara, dan Republika tentang Presiden Abdurrahman Wahid.
Karier jurnalistik profesional bermula dengan menjadi wartawan Majalah Matra. Sempat menjadi Redaktur Majalah Men’s Obsession (MO), konsultan public relations, dan copy writer. Ia juga dipercaya mengelola majalah internal sejumlah perusahaan sewaktu bekerja di Origomedia. Ia pun menjadi penulis dan editor beberapa buku, seperti Pengadilan HAM Ad Hoc Tanjung Priok, (2005), Catatan dari Senayan (2004), Tomy Winata dalam Citra Media (2003), Galeri Dalam Kota Budaya (2003), Dari Cipinang ke Senayan (2003). Di samping itu, ia pernah menjadi anggota tim riset penulisan buku biografi Letjend (Purn) Soeyono, Bukan Puntung Rokok (2003).