Senin, Februari 22, 2010

PT Semen Gresik (Persero) Tbk: Kinerja Handal, Prestasi Maksimal

Perusahaan mencatat pertumbuhan yang luar biasa dalam setahun terakhir.

Menjadi perusahaan publik yang mampu meneguk keuntungan berlipat justru di saat sulit merupakan kebanggaan tersendiri. Begitulah dengan PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Perusahaan semen terdepan di Indonesia ini mampu mencatat kenaikan laba bersih sebesar 42,1% senilai Rp 2,5 triliun di tahun buku 2008. Laba ini melonjak secara signifkan dibanding tahun sebelumnya senilai Rp1,7 triliun. Kinerja di bidang keuangan lainnya pun mengagumkan. Earning before interest, taxes, depreciation and amortization (EBITDA) Semen Gresik mencapai Rp 3,9 triliun atau meningkat 35,8% dibanding tahun sebelumnya.

Dengan kondisi ini, keuangan Semen Gresik berada dalam posisi yang kuat, dengan cashflow yang sangat bagus dan fondasi keuangan yang begitu kuat. ”Komitmen kami terhadap prudent management, membuat Perseroan mampu mempertahankan kinerja perusahaan di saat krisis ekonomi sekaligus mempersiapkan diri untuk memenuhi potensi pertumbuhan konsumsi semen domestik ke depan,” Direktur Utama PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Dwi Soetjipto.

Capaian dalam setahun terakhir, menurut Dwi Soetjipto, Semen Gresik juga mencatat peningkatan volume penjualan sebesar 4,2% menjadi 17,7 juta ton dengan total nilai pendapatan sebesar Rp 12,2 triliun. Laba operasi juga mengalami peningkatan sebesar 41,3% menjadi Rp 3,4 triliun. Nilai harga saham dasar (Earning per Share) turut mencatat peningkatan hingga 42,4% menjadi Rp 426 per saham, melebihi target pasar yang memprediksi nilai harga saham dasar yang berkisar pada Rp 355 per saham.

Dampak krisis ekonomi global yang melanda Indonesia di pertengahan tahun 2008 sempat dirasakan Semen Gresik pada semester pertama 2009, yang mengakibatkan turunnya konsumsi semen domestik hingga minus 7%. Kendati demikian, Dwi memastikan bahwa Perseroan hanya mengalami minus 3%, dengan penurunan penjualan domestik sebesar 2,0% atau menjadi 3,78 juta ton. Lebih dari itu, Perseroan juga mampu meningkatkan kinerja dengan mencatat laba operasi sebesar Rp 704 miliar atau meningkat 23%.

Sampai saat ini, PT Semen Gresik bersama PT Semen Tonasa dan PT Semen Padang, memimpin pasar industri semen domestik dengan pangsa pasar sekitar 45%. Sinergi tiga perusahaan dan tiga merek di bawah naungan Semen Gresik Group (SGG) ini merajalela di pasar utama nusantara, mulai dari Pulau Jawa, Pulau Sumatera, dan Pulau Sulawesi. Dengan mensinergikan tiga merek yang kuat di bawah satu induk perusahaan, SGG menjelma menjadi produsen terbesar di industri semen domestik, dengan kapasitas mencapai 18 juta ton per tahun.

Diakui Dwi, panggilan kecil Dwi Soetjipto, sinergi tiga merek di bawah satu induk perusahaan ini memang menjadi salah satu keunggulan Perseroan. Masing-masing perusahaan memiliki basis pelanggan yang kuat dan loyal, mencakup beberapa segmen utama pasar semen domestik. ”Perseroan adalah pemain domestik yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sehingga memberikan peluang untuk meningkatkan efisiensi operasi,” lanjutnya.

***

Berkah dari Inovasi Tanpa Henti

Pertumbuhan signifikan yang didapat dalam setahun terakhir tak lepas dari sinergi dan inovasi yang dilakukan perusahaan

Tidak ada yang menafikan inovasi sebagai kunci utama dalam mendulang sukses. Babakan sejarah membuktikan, isu perubahaan maupun inovasi yang senantiasa digelorakan menjadi kekuatan dalam merengkuh keberhasilan dalam menggaet pasar. Sebagai bukti nyata, keberhasilan yang diraih PT Semen Gresik (Persero) Tbk. menunjukkan bahwa inovasi dan isu perubahan mutlak diperlukan guna menyongsong keberhasilan yang diinginkan.

Setelah membukukan keuntungan laba bersih senilai Rp 2,5 triliun di tahun buku 2008, naik sebesar 42,1% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 1,7 triliun, perusahaan bertekad untuk mempertahankan keberhasilan ini di masa-masa mendatang. Untuk mempertahankan pangsa pasar dan posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terdepan di Indonesia, Semen Gresik mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu. Misalnya dengan melakukan inovasi di berbagai sektor, khususnya yang berkaitan langsung dengan konsumen.

Berkenaan dengan produk dan layanan konsumen, sejumlah upaya terus dilakukan perusahaan untuk mencapai target perusahaan. Mulai dari menjaga kualitas produksi, menjamin pasokan, menetapkan harga bersaing, hingga after sales service. Dalam menjaga kualitas produksi, perusahaan menetapkan agar produk Semen Gresik memiliki kualitas lebih baik dari pesaing.

Layanan purna jual juga terus ditingkatkan. ”Kalau dulu kita berpikir, semen begitu lepas dari tangan kita, dianggap tugas selesai, maka sekarang kami berkomitmen untuk membuka layanan selama 1x24 jam,” kata Dirut PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Dwi Soetjipto. Kalau semen yang diterima mengecewakan, perusahaan akan menggantinya dengan yang baru. Begitu juga dengan aplikasi yang menemui ada masalah. ”Kita akan cari sebabnya. Kita menyiapkan tim untuk itu semua,” ujar Dwi.

Saat ini, lanjut Dwi, perusahaan tengah memfokuskan strategi pada pengembangan perusahaan khususnya untuk mengantisipasi potensi peningkatan konsumsi semen domestik yang diperkirakan akan tumbuh sekitar 6,5% pada tahun 2011. Sebagai persiapan untuk memenuhi permintaan tersebut sekaligus untuk mempertahankan pangsa pasar, perusahaan akan meningkatkan kapasitas produksi serta efisiensi operasional secara menyeluruh.

Untuk mempertahankan pangsa pasar dan posisi perusahaan sebagai produsen semen terdepan di Indonesia, Perseroan mengalokasikan belanja modal (Capex) sekitar US$ 1,2 miliar dalam lima tahun ke depan. Anggaran ini digunakan antara lain untuk membiayai pembangunan pabrik baru di Jawa dan di Sulawesi, pembangunan pembangkit tenaga listrik di Sulawesi, serta proyek peningkatan kapasitas dari peralatan yang ada saat ini (debottlenecking project). Selain itu, anggaran tersebut juga akan dialokasikan untuk meningkatkan efisiensi operasional perusahaan termasuk peningkatan sistem IT dan pengembangan sumber daya manusia.

”Dalam rangka pembangunan pabrik baru di Jawa dan Sulawesi, Perseroan baru saja menandatangani kesepakatan pembelian peralatan utama (main equipments) yang memiliki teknologi terkini dengan keunggulan lebih efisien dan ramah lingkungan,” kata Dwi. Peralatan ini, lanjutnya, termasuk Mesin Penggilingan Bahan Baku (Vertical Raw Mill) dengan kapasitas produksi 750 ton per jam dan Mesin Penggilingan Semen (Vertical Cement Mill), dengan kapasitas 2x250 ton per jam. Khusus untuk Vertical Cement Mill ini merupakan yang pertama digunakan di Indonesia dan teknologi terbaru di dunia.

”Pembelian peralatan tersebut membuktikan komitmen manajemen Perseroan dalam meningkatkan kapasitas produksi guna menyelesaikan pembangunan pabrik baru yang efisien dan ramah lingkungan ini tepat pada waktunya,” tutup Dwi. Dengan demikian, upaya Semen Gresik untuk mempertahankan produksi dan pangsa pasar mayoritas di domestik tinggal menunggu waktu untuk mewujudkan keberhasilannya.


Boks

Berbagai Penghargaan yang Diraih selama 2009

1. Best Managed Company Awards dari FinanceAsia

Dalam penyelenggaraan “Asia’s Best Companies Pool 2009”, FinanceAsia menobatkan PT Semen Gresik (Perseroan) Tbk. sebagai “Best Managed Company” di urutan ke-7, di bawah Astra International, Telkom Indonesia, Antam, Bank Mandiri, BCA, dan Bumi Resources. Sementara, di bawah Semen Gresik tercatat Unilever Indonesia, Adaro, dan Inco. Di tahun sebelumnya, Semen Gresik juga memperoleh penghargaan kategori “Most Committed To a Strong Devidend Policy” dari lembaga yang sama.

2. SWA 100 Indonesia’s Best Wealth Creators

Setelah mampu menempati peringkat 15 pada 2008, Majalah SWA yang bekerja sama dengan Internasional Stern Stewart & Co Konsultan Manajemen, kembali menobatkan Semen Gresik di urutan 9 dari 100 perusahaan terpilih. Semen Gresik dinilai sebagai perusahaan terbaik yang mampu memberikan peningkatan kekayaan secara berkelanjutan bagi shareholders-nya.

3. Solo Best Brand Index 2009

Survey Solo Best Brand Index 2009 yang meneliti produk terbaik berdasarkan pangsa pasar, popularitas iklan dan merek, citra produk, kepuasan konsumen dan loyalitas pada merek, menobatkan Semen Gresik di peringkat pertama. Perseroan terpilih dari survei yang dilakukan selama tiga bulan Maret – Mei 2009 dengan 17.313 responden untuk 58 kategori produk.

4. Tokoh Olahraga 2008

SIWO PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA Cabang JAWA TIMUR, menganugerahkan Semen Gresik sebagai Tokoh Olahraga 2009, pada Maret 2009.

5. Lembaga/Instansi Peduli Olahraga Jatim 2008

SIWO PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA Cabang JAWA TIMUR, juga memberikan penghargaan sebagai Lembaga/Instansi Peduli Olahraga Jatim 2008, pada Maret 2009.

***

Berjaya karena Efisiensi

Rencana dan target saja tak cukup. Diperlukan efisiensi dan fokus pada bisnis inti.

Di balik sukses pasti tersimpan rahasia. Demikian pula dengan raihan keberhasilan yang dibukukan SGG selaku induk tiga perusahaan dengan tiga merek berkualitasnya. Menurut Dwi Soetjipto, Dirut PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Setidaknya ada empat fokus manajemen yang menjadi kunci keberhasilannya selama empat tahun terakhir. Fokus ini, lanjutnya, senantiasa dilakukan secara konsisten guna memaksimal potensi dan target perusahaan.

Fokus manajemen, lanjutnya, antara lain manajemen penerimaan (revenue management), manajemen biaya (cost management), manajemen kapasitas (capacity management), dan manajemen perbaikan daya saing (improving competitive advantage). ”Dalam manajemen penerimaan, sebaran penjualan produk diutamakan pada daerah yang memberikan margin laba maksimal melalui program optimasi distribusi dan pola angkutan yang efisien,” tutur Dwi.

Di samping itu, peningkatan kapasitas produksi dilakukan secara seksama, baik dengan membangun pabrik baru maupun optimasi fasilitas produksi. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan kapasitas produksi Semen Gresik setahun terakhir yang mencapai 18 juta ton. Fokus manajemen ini, menurut Dwi, dilakukan seraya membangun sinergi antara perusahaan-perusahaan di bawah bendera SGG.

Setelah prestasi berhasil diraih, perusahaan pun bertekad untuk mempertahankan keberhasilan ini di masa-masa mendatang. Namun, di sinilah persoalannya. Mempertahankan prestasi jauh lebih mudah daripada meraihnya. Dwi juga meyakini hal itu. Karena itu, untuk mempertahankan pangsa pasar dan posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terdepan di Indonesia, Semen Gresik mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu. Salah satunya adalah melakukan efisiensi di berbagai sektor usaha.

Harap maklum, efisiensi menjadi kata kunci dalam pencapaian prestasi adalah efisiensi yang dilakukan perusahaan. Efisiensi terbesar perusahaan plat merah ini berasal dari distribusi. Cross-backing initiative, yaitu masuk ke wilayah pasar terdekat dengan sentra produksi dinilai sebagai strategi jitu mengantisipasi mampetnya distribusi.

”Dalam manajemen cost, kita berusaha mensinergikan sistem distribusi antara unit-unit usaha,” kata Dwi. Desain distribusi yang dimaksud adalah pembagian jalur distribusi berdasarkan cakupan suplai setiap unit produksi. Misalnya, Semen Padang menjamin kebutuhan di bagian barat, Semen Gresik di bagian tengah, dan Semen Tonasa di bagian timur. ”Dengan cara ini, sepanjang 2008 Semen Gresik mampu melakukan penghematan sebesar 15% dari ongkos total operasional, sekitar Rp 21 miliar,” kata Dwi.

Terkait dengan produk dan layanan konsumen, Dwi melanjutkan, sejumlah upaya terus dilakukan perusahaan untuk mencapai target perusahaan. Mulai dari menjaga kualitas produksi, menjamin pasokan, menetapkan harga bersaing, hingga after sales service. ”Dalam menjaga kualitas produksi, kami berusaha agar Semen Gresik punya kualitas lebih baik dari pesaing,” kata Dwi.

Kaitannya dengan distribusi, lanjut Dwi, perusahaan selalu berusaha untuk mempermudah akses distribusi oleh konsumen. Soal harga, saat ini harga Semen Gresik lebih baik dari harga pesaing. ”Lebih baik di sini bukan berarti lebih murah, tapi justru lebih tinggi dan menjadi prize leader,” tuturnya.

Sederet strategi ini mempertebak keyakinan Dwi untuk senantiasa menjaga dan mempertahankan raihan yang telah dicapai. ”Prioritas kami saat ini adalah mempertahankan pertumbuhan Perseroan secara berkelanjutan guna memberi nilai tambah bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya serta terus mempertahankan posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terdepan di Indonesia,” tuturnya. Karena itu, lanjutnya, SGG dituntut untuk lebih fokus pada bisnis intinya yaitu memproduksi semen untuk mendukung pembangunan nasional.

***

Wawancara

Dirut PT Semen Gresik (Persero) Tbk.

Dwi Soetjipto: “Menjadi Terdepan di Lokal maupun Regional”

Meretas sukses seperti yang dialami Semen Gresik Group (SGG) bersama unit-unit usaha lainnya ternyata tak semudah yang dibayangkan. Direktur Utama PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Dwi Soetjipto pun merasakan kerasnya perjuangan mewujudkan target-target yang ditetapkan perusahaan. Sejak penggabungan usaha dalam satu induk pada 1995 lalu, posisi perusahaan bukannya membaik, melainkan terus terpuruk akibat belum padunya sinergi dan konsolidasi yang dilakukan.

“Ada kecurigaan di kalangan internal, bahwa Semen Gresik akan membangkrutkan Semen Padang maupun Semen Tonasa,” kata Dwi. Belum lagi tuntutan ada spin off yang disuarakan kalangan internal. Yang membuat pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 54 tahun lalu ini merasa tertantang, adalah merubah mindset yang berkembang di jajaran karyawan. Bagaimanapun, lanjutnya, sejarah panjang dan fanatisme kelompok telah mengakar kuat sehingga unit-unit usaha bergerak sendiri-sendiri.

Long history yang dimiliki masing-masing kelompok memang tak bisa dihapus. Tapi kita bicara kepentingan korporat, bagiamana merubah mindset-nya for the best corporate,” tutur penyandang Magister Manajemen dari Universitas Andalas, Padang, yang memimpin Semen Gresik sejak 2005 lalu ini. Karena itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkan serta menghilang mindset dan syak wasangka negatif di benak para karyawan.

Karena itu, Sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, ini mendesain sistem, di samping membangun sinergi. Bapak empat anak ini juga merancang sistem informasi yang lebih terbuka. “Yang sangat penting dalam segala hal adalah aspek komunikasi. Sehingga yang tadinya terdikotomikan dalam kelompok, pelan-pelan bisa mencair,” tuturnya.

Walhasil, pertumbuhan kinerja perusahaan bergerak secara signifikan. Hanya dalam tempo empat tahun di bawah komandonya, Semen Gresik menjelma menjadi perusahaan publik dengan sederet prestasi membanggakan. Hal ini karena semua pihak merasakan bagaimana manfaatnya bersinergi. “Semua karyawan sekarang berpikir bahwa the only in the future is to be one company, tahapannya sudah jelas arahnya,” katanya. Berikut wawancara lengkapnya:

Kinerja dan pencapaian dalam setahun terakhir tampaknya mengembirakan. Apa pemicunya?

Alhamdulillah dengan kondisi terakhir setelah bisa konsolidasikan tiga perusahaan, kinerjanya cukup bagus. Kalau kita lihat di masa lalu, tiga perusahaan ini berjalan sendiri-sendiri, sarat dengan konflik internal, masing-masing dalam posisi mengemban persepsi berbeda mengenai holding ini. Bukannya persepsi positif membangun kinerja, bahkan saling mencurigai setiap kali policy yang mau dibangun selalu dimentahkan, dan sebagainya.

Namun, setelah semua pihak menyadari, tiga perusahaan dengan tiga merek ini merupakan sebuah keunggulan. Banyak yang bisa disinergikan, seperti fasilitas produksi, memasarkan, hingga soal strategi yang sifatnya jangka panjang. Salah satu senjata dalam bersaing di semen adalah persepsi masyarakat. Karena persepsi orang terhadap tiga perusahaan ini adalah satu perusahaan, maka orang tidak khawatir, kalau ada masalah di satu usaha, pasti akan dibantu oleh yang lain.

Perusahaan sempat terkendala karena krisis global. Apa jalan keluarnya?

Kalau merujuk pada kinerja dalam setahun terakhir, Semester I 2009, di saat krisis global, kita dihadapkan pada demand dalam negeri yang minus. Karena itu, kalau demand semen sampai zero, itu sebuah problem nasional karena menyangkut gambaran pembangunan di sektor yang lain, seperti infrastruktur, perumbahan, dan sebagainya. Tapi kalau kita bandingkan dengan kondisi di negara lain, ini masih bagus. Kita masih bisa fokus pada grand strategy yang sudah digariskan, sehingga alhamdulillah masih ada pertumbuhan laba 33%. Itu juga membuat para investor surprise. Karena itu di atas ekspektasi mereka. Dalam kondisi sulit ternyata masih bagus.

Inikah benefit lain dari sinergi yang Anda bangun?

Dampak dari upaya membangun sinergi tadi tidak hanya aspek laba saja, tapi juga dari sisi kapasitas. Awalnya 16,8 juta ton, sekarang meningkat menjadi 18 juta ton per tahun. Tahun ini kita targetkan menjadi 19 juta ton per tahun, dengan hanya bagaimana kita bisa bersinergi secara operasional. Sistem pemeliharaan kita sehingga utilisasinya menjadi naik.

Dulu, setiap usaha kalau punya suku cadang, akan simpan dan pakai sendiri, meskipun di tempat lain sedang mengalami masalah. Tapi, sekarang kita bisa koordinasikan unit lain agar membantu yang lain kalau di tempat lain lagi ada problem. Orang ahlinya langsung kita kerahkan. Jadi, kita berkonsolidasi sehingga bisa menambah kapasitas produksi menjadi naik. Saya sendiri yang tadinya harus masuk dan mencoba menggunakan konsep sinergi, juga surprise dengan pencapaian ini.

Ketiga perusahaan ini berbisnis dalam komoditi yang sama. Anda menjamin tidak akan saling “memangsa” satu sama lain?

Buat kami, persaingan itu wajar terjadi. Hanya bagaimana mereka bersaing secara sehat, tidak saling membunuh. Kalau ada kebutuhan, lalu sama-sama bersaing untuk menjual ke situ. Silakan saja masuk lalu di antara anggota ini bisa mendapatkan. Jadi, selama ini di pasar memang bersaing, sejauh kita bisa melakukan konsolidasi secara sehat. Kita nanti akan bicara dalam manajemen cost, bagaimana mensinergikan sistem distribusi. Mau disuplai untuk konsumen masa saja dan bersaing di pasar. Karena itu, siapa yang punya stok banyak, harus diberi kesempatan untuk menyalurkan ke mana-mana, sehingga mengganggu produksi.

Sekarang SGG menguasai pasar domestik sebanyak 45%. Apa resepnya?

Posisi di pasar dibangun oleh image. Pertama, tentu kita lakukan survei pasar. Image bagi semen yang dianggap sebagai komoditi yang bagus adalah kualitas. Maka, Semen Gresik mendesain kualitas produknya harus lebih baik dari pesaingnya. Jadi, kami ambil sample di pasar, lalu didesain. Survei yang dilakukan, antara lain menjadi kunci kita bertahan di sektor ini.

Kedua, sistem distribusi bagaimana masyarakat mudah dan merasa terjalin terhadap suplai. Karena itu kami memperbaiki sistem distribusinya sampai gudang. Tentu menyiapkan after sales service. Kalau dulu kita berpikir, semen begitu lepas dari tangan kita, dianggap tugas selesai, maka sekarang kami berkomitmen untuk membuka layanan selama 1x24 jam. Kalau semen yang diterima mengeras, kita akan ganti. Kalau dalam aplikasi ada masalah, kita akan cari sebabnya. Kita menyiapkan tim untuk itu semua.

Apa target perusahaan di tahun ini?

Ke depan, termasuk dimulai dari tahun ini, fokus utama perusahaan adalah capacity management. Saat ini, utilisasi peralatan produksi perusahaan sekarang sudah membaik. Kalau setelah krisis pertumbuhan naik, bisa kedodoran kalau tidak ada manajemen kapasitas yang baik. Tahun ini kami fokus menyelesaikan proyek pembangunan pabrik baru agar perusahaan dapat menjaga market yang 45%.

Kedua, membangun competitive advantage yang menjaga market share tadi. Kami menargetkan tahun ini informasi dan teknologi (IT) tuntas, sehingga perusahaan memiliki platform yang sama untuk IT. Sejalan dengan set up IT ini, kita membangun approach system untuk melanjutkan perubahaan. Problem of the company adalah mindset. Jadi, yang lalu kita lakukan pendekatan mindset dengan human. Saya targetkan integrasi sistem SDM harus selesai. Selanjutnya adalah corporate structure, pendekatan organisasi.

Apa harapan Anda pada momen ulang tahun Semen Gresik ke-52 kali ini?

Di ultah ke-52 ini, sinergi baik antargrup dan departemen harus makin kuat. Semen Gresik bukan berhadapan dengan perusahaan dalam negeri, tapi perusahaan asing, seperti Indocement, Holcim, dan sebagainya. Inilah perusahaan yang menjadi empat besar dunia. Jadi, saya berharap bahwa semangat bersaing atau fighting spirit dibangun untuk mengantarkan Semen Gresik masuk ke dalam era baru.

Semen Gresik harusnya bukan lagi industri atau pabrik semen yang hanya dikenal di Indonesia, tapi sudah bisa bermain di regional. Kita harap, ultah ini menjadi momentum bagi kita untuk menatap ke era baru. Bagaimana Semen Gresik yang leading di domestik melangkah ke level berikutnya, yaitu menjadi pemimpin regional, mungkin Asia Tenggara. Potensinya besar sekali. Saya optimis kita bisa.

KPLI, Sama Rasa Menebar Teknologi

Berawal dari minat dan ketertarikan bersama. Komunitas ini selanjutnya tak semata menyalurkan hobi, tapi juga mampu mendulang rezeki.

Kecepatan inovasi teknologi tak selamanya dibarengi dengan kemampuan mengaplikasikannya. Begitu pula gambaran mengenai perkembangan Linux di Indonesia. Pada 1998 lalu, software ini masih tergolong baru sehingga terasa asing bagi para penggunanya di Indonesia.

Terdorong untuk membantu para pengguna baru yang ingin belajar maupun melakukan riset tentang Linux, sekelompok orang mendirikan Komunitas Pengguna Linux Indonesia atau KPLI Jakarta, pada 31 Oktober 1998 lalu. Dimotori oleh Rusmanto, Made Wiryawan, Prihantoosa, serta penikmat teknologi lainnya, KPLI Jakarta lantas menjaring anggota dalam waktu cepat

“Berdirinya KPLI Jakarta diharapkan dapat membantu para pengguna baru yang ingin belajar atau pun riset tentang Linux dapat bersama-sama belajar,” kata Erick Saputra, Ketua KPLI. Dari hasil belajar tesebut atau biasa disebut dengan ngoprek, lanjutnya, akan dipublikasikan di website KPLI agar dapat dibaca sehingga bermanfaat bagi orang banyak.

Sejak berdiri, KPLI Jakarta mengemban visi dan misi mulia. Komunitas ini, lanjut Erick, bermaksud untuk menghimpun potensi berbagai pihak yang menggunakan Linux sebagai aplikasi pilihan. Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan kondisi yang saling melengkapi dan bersinergi dalam memanfaatkan, menyebarluaskan, meningkatkan kemampuan penggunaan Linux di Indonesia. “Kami juga memberikan support, serta mengembangkan Linux di kalangan masyarakat,” katanya.

Di samping itu, KPLI yang juga berupaya mengembangkan Linux sebagai salah satu alternatif alat pendidikan di universitas. Sebagai salah satu solusi yang murah, legal, dan bermanfaat bagi dunia bisnis, Linux juga diperkenalkan sebagai piranti yang dapat membantu kemudahan kerja. Erick menambahkan, “Kami juga turut membantu usaha-usaha dalam merubah cara manusia Indonesia dalam memandang teknologi, dari sebagai pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi.”

Sampai saat ini, KPLI Jakarta diminati berbagai lapisan masyarakat, mulai dari profesional bidang informasi dan teknologi, trainer independen, birokrat, dosen, guru, mahasiswa, sampai end user. Namun, di antara para penggemarnya, kalangan mahasiswa paling banyak yang meminati dan ingin tahu lebih banyak tentang Linux. “Yang pasti, kami tidak membatasi anggota dari golongan manapun,” kata Erick.

Dalam perkembangannya, KPLI berperan sebagai organisasi yang mewadahi para pengguna Linux yang ingin belajar, melakukan riset, dan mengembangkan Linux untuk kemajuan dunia open source di Indonesia. “KPLI berkontribusi memberikan support terhadap siapa saja yang memiliki permasalahan tentang Linux,” tuturnya. Dalam komunitas ini pula, ia bersama rekan-rekan mencoba memecahkan berbagai persoalan terkait dengan aplikasi Linux.

Kendati komunitas ini tidak didukung oleh vendor atau pun produsen Linux tertentu, KPLI tetap bergerak maju. “KPLI berdiri secara independen, karena di sini kami tidak terbatas dengan jenis distribusi Linux tertentu,” ujar Erick. Beragam aktivitas, seperti ngoprek atau mengutak-atik Linux untuk mengetahui apa saja yang bisa dilakukan dengan Linux sering kali dilakukan.

Ngoprek tersebut meliputi Linux dalam berbagai keperluan, antara lain mengembangkan aplikasi, networking atau jaringan komputer, perkantoran, serta untuk bidang usaha lainnya. Tak ketinggalan, KPLI juga mengadakan event-event berkaitan dengan pengenalan dan pemanfaatan Linux bagi para pengguna yang masih awam. Dalam ajang ini, para senior membantu memberikan solusi bagi rekan- rekan atau anggota yang memiliki permasalahan dengan Linux.

Fasilitas untuk belajar bersama, mengikuti pelatihan linux, mendapatkan support bila mengalami kesulitan atau masalah dengan Linux, merupakan manfaat yang dapat diperoleh anggota komunitas ini. Selain itu, para anggota juga bisa ikut serta dalam project-project milik KPLI, mendapat kartu keanggotaan KPLI, dan beragam fasilitas lainnya.

Hingga saat ini, KPLI sudah ada di 23 kota besar di seluruh Indonesia. “Untuk cabang, KPLI tidak mempunyai cabang, karena pada dasarnya KPLI ada di setiap daerah di Indonesia,” kata Erick. KPLI Jakarta, lanjutnya, sebenarnya bukan pusat dari KPLI, namun karena keberadaannya di Jakarta, sering kali orang mengasumsikannya sebagai pusatnya KPLI.

Tak dipungkiri, beragam fasilitas inilah yang kerap memotivasi anggota baru untuk bergabung dengan KPLI. Misalnya, Syahroni Aben, yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KPLI Jakarta. “Saya ingin sharing dengan sesama pencinta Linux, serta berkenalan dengan orang-orang dari berbagai kalangan,” tuturnya. Bahkan, tak jarang, dari kalangan ini pula ia bisa mendapatkan pekerjaan sampingan. “Biarpun uang yang didapatkan tidak terlalu banyak,” kata Aben, sumringah.

Pengalaman senada juga dialami Digit Oktavianto. “Sejak saya bergabung dengan KPLI, banyak manfaat yang saya peroleh, selain ilmu dan networking yang terus bertambah,” katanya. Bahkan, Digit yang sempat memimpin KPLI periode sebelumnya ini memetik pengalaman tak terduga, di antaranya mendapatkan pekerjaan, mengisi seminar, workshop, dan teman-teman baru dari beragam profesi.

Kegiatan rutin KPLI seperti ngoprek bareng, juga diikuti Digit. Dalam ajang tersebut, ia bisa berbagai dan mendapat pengetahuan baru dengan anggota KPLI lainnya. “Yang satu memberi materi, dan yang lainnya mencoba langsung, sehingga ada interaksi antar satu anggota dan lainnya,” katanya, menambahkan, “semua kegiatan sangat menyenangkan.”

Berbeda dengan Aben, selain ngoprek bareng, membuat stand pameran juga merupakan kegiatan yang menyenangkan. “Yang paling berkesan adalah saat mengisi stand di Balairung UI Depok. Di situ boleh dibilang stand KPLI yang paling ramai pengunjungnya,” katanya.

Semenjak bergabung dengan KPLI Jakarta, Erick mengaku mendapatkan banyak pengalaman, antara lain mengikuti Indonesia Linux Conference 2007, menjadi trainer Linux, serta mengisi seminar dan workshop di beberapa acara. Tak jarang, ia juga turut serta menjadi tim dalam migrasi perusahaan-perusahaan ke sistem operasi linux.

“Keuntungannya banyak sekali, mendapat teman baru, ilmu yang semakin bertambah, pengalaman, dan juga pekerjaan tentunya. Alhamdulillah, sejak menjadi anggota KPLI, saya banyak mendapat pekerjan yang berkaitan dengan Linux dan open source,” katanya.

Itulah sebabnya, kata Aben, mengapa pengguna Linux harus bergabung dengan KPLI. “Kalau orang sakit, maka harus ke dokter. Kalau motor rusak ya ke bengkal,” katanya berfilosofi. Begitu juga kalau orang ingin belajar Linux, bergabung dengan komunitas ini merupakan pilihan yang tepat. Mendapatkan ilmu secara gratis, banyak teman, dapat pekerjaan lagi.

“Setiap pengguna Linux butuh komunitas bernaung, di mana dia bisa bertanya jika ada kesulitan, memberikan pengalaman jika menemukan sesuatu yang baru,” kata Digit. Selain itu, lanjutnya, mereka bisa memperluas pengetahuan seputar Linux. Banyak hal-hal yang ternyata di luar dugaan tidak muncul di pikiran awan. Karena itu, tambahnya, biasanya hal-hal baru atau ide-ide baru tersebut justru muncul dari teman-teman sesama komunitas.

Sejauh ini, menurut Digit, peran dan kontribusi KPLI tak bisa dinafikan dalam membentuk masyarakat IT yang handal dan professional. Sebagai wadah kegiatan dan sarana untuk mencari pengetahuan dan pengalaman, KPLI bersama instansi pendidikan, lembaga kursus, dan pemerintahan untuk mengadakan seminar, kursus, maupun workshop.

Ajakan dari berbagai pihak, seperti universitas, sekolah, lembaga kursus, maupun instansi pemerintahan untuk mengadakan seminar, training, ataupun workshop membanjiri agenda KPLI. Biasanya dari pihak KPLI sebagai narasumber dan juga pembuat modul. Kegiatan ini, diakui Digit, merupakan peran aktif KPLI untuk
memperkenalkan Linux kepada masyarakat.

Untuk itu, ia berharap, komunitas ini semakin maju, banyak kegiatannya, dan terus berperan aktif dan terjun langsung ke masyarakat secara nyata. “Sehingga ilmu yang dimiliki oleh para aktivis Linux KPLI jakarta dapat ditularkan langsung kepada masyarakat,” katanya. Ia juga berharap, para anggota KPLI bisa mempraktekkan langsung apa yang mereka peroleh di dunia kerja tempat instansi mereka bernaung dan juga bisa mengabdi kepada masyarakat.

Pemerintah, melalui Departemen Riset dan Teknologi, memang senantiasa mendukung setiap kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan maupun inovasi teknologi. Karena itu, Erick berharap, pemerintah menyerukan setiap departemen untuk tidak menggunakan sistem operasi dan software bajakan dan melakukan migrasi ke Linux.

Erick juga meneguhkan komitmen KPLI untuk terus berperan dalam mengembangkan dunia open source di Indonesia. “Saya ingin KPLI menjadi organisasi yang solid dan tangguh di bidangnya,” katanya. Karena itu, ia pun akan disibukkan dengan sederet agenda, seperti gathering dengan para anggota, diskusi dan bertukar ide dan ilmu, serta melakukan sosialisasi ke sekolah, kampus, hingga instansi pemerintah. Begitulah.

Sekretariat Komunitas Pengguna Linux Indonesia (KPLI):

Mailinglist: linuxjak@googlegroups.com

Website: http://jakarta.linux.or.id

Pembangunan Infrastruktur, Potret Bangsa yang Terus Bekerja

Jam menunjukkan pukul 11.00. Lengking sirine memecah kesunyian, sekaligus menandakan peresmian Jembatan Suramadu, Juni 2009 lalu. Impian untuk memiliki jembatan yang menghubungkan Kota Surabaya dan Pulau Madura akhirnya terujud. Indonesia kembali mengukir sejarah karya anak bangsa dengan membangun jembatan terpanjang di nusantara yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Jembatan sepanjang 5,4 kilometer ini dirancang cukup kuat dan sanggup bertahan sekitar 100 tahun. Dikerjakan oleh 3.500 orang dari Indonesia dan Cina, sejak pertengahan 2002, mega proyek ini menghabiskan 28 ribu ton baja, serta 600 ribu ton campuran baja, dengan total anggaran Rp 4 triliun lebih. Suramadu menjelma menjadi jembatan terpanjang di Indonesia bahkan di kawasan Asia tenggara.

“Ini menjadi tonggak sejarah pembangunan prasarana perhubungan di Indonesia. Pembangunan infrastruktur ini memacu perluasan kesempatan kerja dan mendukung persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya. Didampingi Menteri Koordinator Perekonomian Sri Mulyani, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, serta Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Presiden juga menandatangani prasasti dan peluncuran prangko bergambar Jembatan Suramadu.

Jembatan Suramadu merupakan satu dari sekian mega proyek yang dikembangkan Indonesia. Pada 1960-an, Stadion Utama Senayan yang yang kini menjadi Stadion Gelora Bung Karno menjadi landmark Indonesia kala itu. Lalu 1980-an Indonesia membangun teknologi kedirgantaraan setelah membangun sarana komunikasi SKSD Palapa.

Di balik pembangunan Suramadu, sejatinya tersembunyi keinginan luhur “Madura akan tambah maju dengan catatan jangan sampai mengganggu karakter masyarakat Madura yang religius, dan beradat-istiadat tinggi,” kata Presiden. Ia juga berharap, sarana ini dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan potensi jembatan seluas-luasnya termasuk sektor pariwisata dan jasa.

Begitulah gambaran visi mengenai pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pembangunan infrastruktur merupakan hal penting, mengingat dalam realitas kehidupan keseharian tidak dapat terlepas dari kebutuhan tersedianya sarana yang memadai. Ketersediaan sarana ini sesungguhnya berkaitan erat dengan kebutuhan hajat hidup orang banyak.

Pembangunan sarana dan prasarana transportasi, pengadaan perumahan dan pemukiman penduduk, penyediaan fasilitas publik seperti pos dan telekomunikasi, serta ketersedian listrik maupun air merupakan salah satu contoh infrastruktur publik yang keberadaannya diperlukan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Karena itu, ketersediaan sarana ini merupakan salah satu kewajiban semua negara di dunia untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs) seperti yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.

Program inilah yang memicu pembangunan infrastruktur terus diintensifkan. Dalam berbagai kesempatan, intensifikasi pembangunan sarana dan prasarana di seluruh wilayan Tanah Air terus digelorakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebab, pembangunan infrastruktur bukan hanya penting untuk menggerakkan ekonomi daerah dan nasional, tapi juga meningkatkan pelayanan dan mewujudkan keadilan bagi masyarakat.

Secara geografis, Indonesia memiliki kondisi yang khas, meliputi delapan juta kilometer persegi dengan komposisi enam juta kilometer persegi lautan dan dua juta kilometer persegi daratan yang terdiri atas 17 ribu pulau. Dengan bentuk geografis seperti ini, Indonesia membutuhkan anggaran besar untuk membangun infrastruktur, termasuk sarana jalan dan transportasi.

Kebijakan pemerintah dalam pembangunan insfrastruktur pada tahun ini ditekankan pada peningkatan pelayanan dasar dan pembangunan pedesaan meliputi penyediaan air bersih, pembangunan jalan lintas pada pulau-pulau kecil dan kawasan perbatasan, penanganan kawasan kumuh, serta pembangunan rumah susun sewa (rusunawa).

Pemerintah, melalui Departemen Pekerjaan Umum (PU) juga menitikberatkan pembangunan infrastruktur pada penyediaan air minum dan sanitasi bagi daerah rawan air, pembangunan infrastruktur dasar untuk pemukiman desa tertinggal, terpencil, terluar maupun kawasan perbatasan. “Melalui peningkatan pelayanan dasar ini diharapkan akan menumbuhkan perekonomian di wilayah perkampungan atau pedesaan serta melancarkan arus barang dan jasa,” kata Menteri PU, Djoko Kirmanto.

Menempatkan pembangunan infrastruktur yang sifatnya mendasar, seperti jalan dan listrik, sebagai skala prioritas dimaksudkan untuk memperkecil kesenjangan ekonomi antardaerah. Ketimpangan Produk Domestik Bruto (PBD) riil per kapita antarprovinsi mengharuskan pemerintah untuk memberikan prioritas dan perhatian yang lebih besar lagi terutama bagi daerah yang PDB per kapitanya rendah

”Itu diperlukan agar dapat mengejar ketertinggalan dari daerah lainnya dengan melakukan pembangunan infrastruktur,” kata Ketua II Bidang Pembinaan Usaha Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Silmy Karim kepada Bisnis hari ini. Silmy menjelaskan, pembangunan infrastruktur akan berpengaruh besar terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Karena secara otomatis, lanjutnya, pembangunan infrastruktur akan membuka potensi ekonomi baru di daerah.

Pembangunan infrastruktur selama ini masih belum optimal karena alokasi anggaran yang masih terbatas. Deputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Bambang Susantono mengatakan, saat ini Indonesia memiliki anggaran infrastruktur sebesar 4-5 persen dari PDB, sedangkan alokasi anggaran infrastruktur yang ideal adalah 5-6 persen dari PDB, dan. Karena itu, banyak potensi daerah yang tidak dapat dipasarkan akibat tidak tersedianya sarana dan prasaran infrastruktur yang memadai.

Kendati demikian, pemerintah bertekad untuk terus mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur dalam lima tahun ke depan. Pemerintah mengambil kebijakan dual track strategy dalam pembangunan infrastruktur. Kebijakan ini membuka pintu terwujudkan kerja sama antara pemerintah dengan swasta. “Yang harus dibiaya negara, dalam hal ini pemerintah, kita biayai. Tapi banyak infrastruktur yang lebih tepat diserahkan kepada swasta,” kata Presiden. Yang penting, lanjutnya, kerja sama itu harus dilakukan dengan baik dan bertujuan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat dan negara Indonesia.

Presiden mengingatkan, program pembangunan sarana dan prasarana ini dilakukan dengan dengan perencanaan matang karena rencana yang baik merupakan separuh keberhasilan. Pembangunan juga harus dilakukan dengan terkoordinasi, terintegrasi, dan dalam sinergi. “Jangan masing-masing, nanti tumpang tindih dan hasilnya tidak optimal,” katanya.

Tak sekadar terencana dan terkoordinasi, perkembangan lingkungan strategis nasional dan global belakangan ini menuntut pembangunan infrastruktur juga disesuaikan dengan arah kebijakan pengelolaan lingkungan. ”Perubahan tata lingkungan alami telah membawa dampak perubahan yang cukup luas,” terang Menteri PU, Djoko Kirmanto. Karenanya, pembangunan berwawasan lingkungan merupakan konsep yang harus dikembangkan dan diiplementasikan dengan baik.

Kementerian Sosial, Terdepan dalam Menangani Persoalan Sosial

Pelaksanaan Program Kerja 100 Hari Kementerian Sosial mencapai target yang ditetapkan tanpa hambatan berarti.

Sebagai ujung tombak (leading sector) dalam mengatasi persoalan kesejahteraan sosial di Tanah Air, Kementerian Sosial menyusun Program Kerja 100 Hari yang mengacu pada isu kesejahteraan rakyat. Dalam menyusun program, Kementerian Sosial mengacu pada UU Kesos No. 11 Tahun 2009, yang antara lain menyebutkan, penyelenggaraan kesejahteraan sosial adalah upaya terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan oleh pemerintah, pemda dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, dan perlindungan sosial.


Menurut Menteri Sosial, Salim Segaf Al-Jufri, garis besar program kerja 100 hari ditekankan pada empat aspek. Pertama, upaya memperkuat dasar pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) sebagai bentuk meningkatkan aksesibilitas Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) terhadap pelayanan sosial dasar kesehatan dan pendidikan. Sasaran yang dituju berupa menyelesaikan penyaluran bantuan sosial PKH tahap III pada 2009 kepada 720.000 RTSM dan tahun 2010 kepada 50.000 RTSM.


Hingga saat ini, Menurut Salim, Kementerian Sosial telah menyalurkan dana PKH Tahan III pada 2009 sebesar Rp299.296.921 melalui PT Pos Indonesia kepada 726.000 RTSM di 13 provinsi. Kementerian Sosial juga mengidentifikasi data RTSM sebanyak 90.000 berdasarkan nama dan alamat di lima provinsi baru, yang terdiri dari 18 kabupaten dan 175 kecamatan.


Kedua, Kementerian Sosial juga memiliki agenda untuk menyelesaikan pemulangan pekerja migran yang bermasalah khususnya yang bekerja di Malaysia. Targetnya, antara lain memulangkan 29.818 orang pekerja migran bermasalah. Demikian juga penampungan dan penanganan psikososial pekerja migran bermasalah dari Timur Tengah sebanyak 259 orang.


Ketiga, memberikan bantuan kepada Lanjut Usia terlantar melalui Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) terlantar sebesar Rp. 300.000/orang/bulan di 31 provinsi, dengan target sasaran 10.000 orang. Selanjutnya, Kementerian Sosial juga memberikan bantuan sosial kepada penyandang cacat berat sebesar Rp.300.000/orang/bulan dengan target sasaran 17.000 orang.

Selain program tersebut di atas, terdapat pula penyaluran Bantuan Langsung Pemberdayaan Sosial (BLPS) kepada 3.907 Kelompok Usaha Bersama (Kube) di 80 kabupaten/Kota di 32 provinsi, Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni sebanyak 2.346 Unit serta sarana lingkungan (Sarling) 40 Unit di 13 provinsi, penyaluran dana stimulan program lanjutan KUBE-LKM di 15 Kab/Kota pada 11 provinsi.


Kementerian Sosial juga menyerahkan bantuan pemberdayaan keluarga anak jalanan di DKI Jakarta. Bantuan ini diberikan dalam rangka mendukung program Jakarta Bebas Anak Jalanan. Kegiatan ini merupakan program terbaru yang mulai dilaksanakan sejak awal Desember 2009, sebagai bentuk program perlindungan anak. Pada awal kegiatan akan diberikan bantuan sebesar Rp247.500.000 dan mencakup 165 KK.


Mensos, Salim Segaf Al Jufrie juga memfokuskan perhatiannya pada kesejahteraan ibu rumah tangga melalui program 100 hari kerjanya. “Program 100 hari kerja juga memerhatikan dan mewujudkan kesejahteraan pada ibu rumah tangga,” ujarnya. Menurut Salim, sudah sepatutnya pemerintah lebih memerhatikan kesejahteraan ibu rumah tangga. Pasalnya, para ibulah yang mengurusi segala keperluan keluarga, mulai dari pendidikan hingga kesehatan. "Yang membawa anak ke puskesmas adalah ibu. Kalau kesejahteraan ibu tidak diperhatikan, siapa yang akan memperhatikan keluarga," ucapnya.


Sampai saat ini, realisasi anggaran Tahun 2009 sampai dengan 17 Desember 2009 adalah Rp. 3.143.659.904.842. artinya, anggaran ini telah terserap 91,66% dari total anggaran yang dialokasikan pada Kementerian Sosial sebesar Rp. 3.429.518.569.000. Salim berharap, angggaran yang dimiliki kementerian yang dipimpinnya bisa meningkat setiap tahun. Sebab, “Program tak mungkin optimal kalau tidak di-back up oleh anggaran yang maksimal,” katanya.


Guna mengantisipasi persoalan sosial di kemudian hari, Salim juga memperkuat sumberdaya manusia menjadi petugas profesional, sehingga mampu mengendalikan keadaan. Kementerian Sosial juga memperkuat sistem penanggulangan bencana dengan mendistribusikan kendaraan operasional penanggulangan bencana dan penambahan alokasi buffer stock penanggulangan bencana alam untuk 33 provinsi.


“Kami akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, meningkatkan kemitraan, dan selalu membuka pintu untuk bekerja sama dengan siapapun. Kami akan menangani masalah kesejahteraan sosial secara holistik, tanpa diskriminasi,” katanya. Dengan demikian, diharapkan terjadi akselerasi percepatan pembangunan kesejahteraan sosial, dan tak menunggu waktu lebih lama lagi untuk mewujudkan Indonesia yang makmur dan berkeadilan.

UU Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesos, Solusi untuk Kesejahteraan Negeri

UU baru ini diharapkan bisa menyempurnakan pelaksanaan program-program kesejahteraan sosial yang selama ini masih belum optimal.

Persoalan kesejahteraan sosial kian hari semakin kompleks, seiring dengan maraknya Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Kemiskinan, keterlantaran, kecacatan, ketunaan sosial, keterbelakangan, hingga keterasingan merupakan gangguan sosial yang senantiasa menyertai proses pembangunan bangsa dan negara.

Oleh sebab itu, lahirnya Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (Kesos) menjadi solusi baru yang ke depannya diharapkan bisa mengakomodasi berbagai jenis persoalan kesejahteraan sosial menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda lagi. Pelayanan kesejahteraan sosial pun diharapkan dapat memulihkan fungsi sosial sehingga aksesibilitas terhadap pelayanan sosial dasar bisa lebih ditingkatkan.

Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah menyatakan bahwa dikeluarkannya UU No. 11 2009 tentang Kesos ini merupakan penyempurnaan dan sekaligus menganti UU Kesos Nomor 6 tahun 1974. UU lama ini dinilai belum mengakomodasi jenis permasalahan kesejahteraan sosial yang semakin kompleks. UU ini juga belum secara rinci mengatur penanganan permasalahan sosial secara menyeluruh dan komprehensif.

Perubahan mendasar UU Nomor 11 Tahun 2009 ini, menurut Bachtiar, terletak pada substansinya yang lebih luas dibanding UU Nomor 6 Tahun 1974. permasalahan sosial yang ditangani dalam UU Nomor 11 Tahun 2009 lebih luas, yaitu ditujukan kepada perseorangan, keluarga, kelompok, dan atau masyarakat, yang diprioritaskan kepada mereka yang memiliki kehidupan yang tidak layak bagi kemanusiaan.

Masalah sosial, seperti kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, keterpencilan, ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku, korban bencana, serta korban tindak kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi merupakan kelompok yang diprioritaskan dalam program kesejahteraan sosial di masa mendatang. Dengan demikian, lahirnya UU ini akan membawa perubahan yang lebih baik dan diharapkan bisa segera terwujud.

Menurut Bachtiar, dengan lahirnya UU ini pada 18 Desember 2008, pembangunan kesejahteraan sosial akan semakin berperan. “Karena, tanggung jawab tidak hanya dipikul oleh pemerintah pusat, tapi juga daerah setempat guna memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan berbangsa,” katanya. Ia menambahkan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dunia swasta, dan masyarakat luas juga memiliki tanggung jawab sosial ikut mengatasi permasalahan sosial di masyarakat.

Dalam pasal 27 disebutkan, tanggung jawab pemerintah daerah dalam menyelenggarakan kesejahteraan sosial harus mengalokasikan anggaran, memberikan bantuan kepada masyarakat penyandang masalah sosial, memelihara taman makam pahlawan, melestarikan nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan, dan kesetiakawanan sosial. “Kalau tidak melaksanakan, ya harus ada sanksi, yang akan diperinci di Peraturan Pemerintah (PP),” ucap Bachtiar.

Ia mengatakan, UU ini diarahkan untuk menanggulangi masalah kemiskinan yang hingga sekarangmenjadi persoalan utama bangsa ini. UU ini, lanjutnya, pada hakikatnya untuk menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui peningkatan taraf kesejahteraan, kualitas hidup, kemandirian, dan mendayagunakan sumber-sumber kesejahteraan sosial.

Menurut Bachtiar, pengesahan UU ini secara tidak langsung menjamin tidak dikuranginya anggaran Rp 70 triliun untuk pengentasan kemiskinan pada tahun 2009. “Hari ini jumlah warga miskin 35 juta jiwa, sekitar 15 persen dari total jumlah penduduk. Target kita 2009 bisa berkurang menjadi 12 persen. Tapi dengan adanya krisis, saya tidak tahu apakah itu bisa terwujud,” ujarnya.

Untuk mewujudkan cita-cita mensejahterakan bangsa, Bachtiar menegaskan, UU ini menjamin terselenggaranya program-program kesejahteraan sosial di masa mendatang. Ia mengamanatkan bahwa siapapun yang kelak memimpin Departemen Sosial, harus mengoptimalkan rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial dan perlindungan sosial demi hari esok yang lebih baik.

Taufiq Effendi: "Kapan Kita Berhenti Bodoh?"

Artikulasi maupun retorikanya menakjubkan. Begitu pula dengan ritme maupun permainan volume suaranya yang turun naik. Inilah yang membuat ucapannya terasa ringan dan enak didengar. Begitu juga tatkala ia berceramah di hadapan para ulama dan masyarakat di Gresik, Jawa Timur, pertengahan Juli 2009 lalu.

Seperti halnya Bung Karno, ia begitu menguasai cara berbicara di depan publik. Menguasai artikulasi dan mengekspresikannya. Menggunakan kata-kata yang baik. Harap maklum, Taufiq Effendi, pemilik suara itu adalah pemain teater, orator, sekaligus komunikator ulung.

Sewaktu melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Taufiq aktif dalam kegiatan teater maupun aktivitas kemahasiswaan. Suasana kota yang kondusif membuat naluri seni Taufiq turut bermekaran.

Ia pun berteman dengan sejumlah seniman, seperti Arifin C. Noer. Muhammad Diponegoro, Amaroso Katamsi, Chairul Umam, dan sebagainya. Ia pun bergabung dengan Teater Muslim dan menjadi pemimpin Sanggar Antasari di Yogyakarta, dengan mementaskan drama maupun monolog Ada Waktu dan I Want To Be The Best.

Menulis skenario, puisi, maupun naskah, menyutradari, bahkan menjadi cover majalah juga sempat dilakoni Taufiq. Sebagai seniman dan budayawan, di kalangan koleganya, Taufiq dikenal pandai bermain drama dan mahir menyusun naskah sandiwara.

Tak hanya penuh retoris, setiap ucap yang terlontar menyiratkan kedalaman pemikiran dan nilai holistik yang mendalam. Begitu juga saat ia menerima Tim Matra Indonesia untuk sebuah wawancara eksklusif. Selain dikenal sebagai birokrat yang reformis, pria kelahiran Barabai, Kalimantan Selatan, 12 April 1941 ini juga tergolong religius dan memiliki pemahaman agama yang kuat.

Kepada S.S. Budi Rahardjo dan Qusyaini Hasan dari Matra Indonesia yang mengikuti perjalanannya ke Gresik, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara ini berbicara banyak, mulai dari isu terorisme yang kembali meledakkan ibukota, sikap dan mentalitas bangsa, hingga isu reformasi birokrasi yang terus digelorakannya hingga akhir masa tugasnya. Berikut kutipan lengkapnya:

Bom kembali mengoyak ibukota. Apa yang ada di pikiran Anda?

Mengapa Noordin M Top dan Dr. Azahari ngebom Bali, mengacaukan Indonesia? Oh, mungkin dia ingin menghancurkan kebatilan, karena banyak orang berbikini di Bali, ada kedzaliman di sini. Tapi bukankah di depan rumahnya sendiri, di Genting Highland, Malaysia, ada tempat perjudian. Tapi, kok ngebom negara lain, kenapa? Tidak ada yang mempersoalkan hal ini.

Ada enggak korelasinya turisme kita tidak naik-naik, sementara pariwisata di negara lain makin pesat. Ada enggak korelasinya dengan anjloknya kunjungan wisatawan, sementara di Malaysia naik. Kapan kita berhenti bodoh? Apakah ini bukan persaingan? Kenapa tiba-tiba muncul Ahmadiyah, lalu kita sibuk dengan itu. Lupa dengan Noordin M Top.

Inilah akibatnya jika Pancasila diagung-agungkan?

Kenapa Pancasila ditaruh begitu tinggi? Siapa yang menaruhnya? Akhirnya jadi sasaran tembak. Kita malu bicara Pancasila. Jadi, orang yang menaruh Pancasila tinggi-tinggi bukan tanpa maksud. Tapi untuk dihancurkan.

Lalu kenapa anak kita kecil jatuh, lalu lantai atau meja yang dipukul-pukul, terus dibilang nakal? Kenapa di bangsa lain tak ada kebiasaan ini? Kok kita punya? Ini membentuk watak kita sejak bayi untuk menyalahkan orang lain di nomor satu. Blaming.

Adakah kaitannya peristiwa ini dengan kesalahan-kesalahan kita terdahulu?

Coba selidiki, mengapa Kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Kutai Kertanegara, Kalingga, Singosari, usianya pendek-pendek? Baca buku tentang Keris Empu Gandring, hancurnya kerajaan-kerajaan itu bukan karena serangan musuh, tapi karena pengkhianatan dan kebodohan bangsa ini.

Lihat kerajaan Belanda yang menjajah kita, sampai sekarang masih ada. Kerajaan Nippon juga masih ada sampai sekarang. Mengapa bangsa ini suka sekali bicara tanpa fakta dan bukti? Mengapa bangsa Jepang, yang 80% tanahnya adalah bebatuan, tidak ada hasil bumi maupun tambang, tapi menjadi negara terkaya nomor dua di dunia. Mengapa Swiss yang tak punya kebun coklat, bisa jadi Negara pengekspor coklat terbesar di dunia?

Menurut Anda, mengapa semua ini terjadi?

Kelemahan kita adalah karena kita tidak tahu peran. Ayah-ayahan, ibu-ibuan. Buktinya apa? Di sebuah pengadilan, seorang anak dihukum 8,5 tahun penjara karena narkoba. Ayah ibunya di situ menangis sejadi-jadinya karena buah hati dan belahan jantungnya divonis.

Tapi anak itu bilang, “Pak hakim, saya tidak dendam sama pak hakim. Dan saya pantas menerima hukuman ini. Saya tidak dendam sama pak jaksa. Pak jaksa telah bekerja dengan baik. Juga pada polisi yang menangkap saja hingga saya diadili sekarang ini. Tapi saya dendam kepada dua mahluk, yaitu ayah dan ibu saya. Karena mereka yang selalu bertengkar setiap hari. Mempertahankan egonya masing-masing, hanya mau menang sendiri. Yang ada piring atau pintung yang dibanting. Tidak ada salat berjamaah di rumah.”

Apakah pemikiran ini lahir karena Anda terbiasa berpikir out of the box?

Jangan berpikir yang kecil. Saya suka baca buku autobiografi. Ketika orang menegur Thomas alfa Edison, “Hei, kau seribu kali salah dalam percobaan itu.” Kata Thomas, “Saya tidak rugi, karena saya sudah tahu, seribu hal yang tidak boleh saya lakukan. Karena itu tinggal sedikit lagi saya akan mencapai keberhasilan.”

Baca Kolonel Sanders, ribuan toko ia masuki untuk tahu ayam gorengnya. JK Rowling juga sama, hampir puluhan penerbit menolak karya Harry Potter-nya. Nothing is easy. Tidak ada yang mudah. You must be sweat, harus berkeringat. Kita terlalu manja, bangsa ini tak boleh manja. Kita takut bersaing dan minta proteksi terus.

Kenapa kita tak punya siapa-siapa yang patut dibanggakan dalam sejarah?

Kenapa bangsa ini tidak punya Nelson Mandela? Tidak punya Kemal Attaturk, tidak punya Jose Sizal atau Thomas Jefferson. Tapi dulu kita punya Bung Karno, kita bikin baleho besar-besar buat dia. Kita elukan, teriakkan dan nyanyikan buatnya. Lalu, mulut ini juga yang memaki-maki Bung Karno. Tangan ini juga yang meruntuhkan balehonya. Tangan apa ini? Mulut apa ini?

Hal yang sama dialami oleh Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, mungkin juga SBY. Lalu kenapa kita tidak punya siapa-siapa? Mengapa kita menghancurkan sendiri pahlawan-pahlawan kita? Lihatlah Thomas Jefferson, hidupnya tidak bagus-bagus amat. Kenapa orang harus bersih, suci, kusuma wardhani? We are human.

Anda pernah mengatakan, bangsa ini suka bikin penjara bagi dirinya sendiri. Apa maksudnya?

Di zaman Orla, apa-apa harus Nasakom. Sekarang kita hancurkan musyawarah dan mufakat, kemudian menggantinya dengan reformasi. Kita bikin penjara yang namanya reformasi. Perilaku bangsa Indonesia yang suka bikin penjara bagi dirinya sendiri, karena tidak tahu apa yang ingin diraihnya dan hanya tahu kulitnya. Hanya orang bodoh yang suka bikin penjara bagi dirinya sendiri.


Bangsa Indonesia juga mengidap sikap ambivalen dalam bersikap dan berperilaku. Maunya demokrasi, tetapi hanya mau menang, dan tidak mau kalah. Kalau mau menerapkan demokrasi, semua orang harus tahu akan konsekuensinya, sehingga bila sistem tersebut diterapkan harus dibarengi sikap berani menang dan mau kalah. Bila sudah menetapkan menjadi negara demokrasi, menetapkan sistem otonomi, menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan menjalankan reformasi, harus tahu persis segala konsekuensinya.


Apa contoh konkretnya?

Presiden bisa mengendalikan secara baik Mendagri, namun Mendagri kesulitan mengatur gubernur, karena mereka berasal dari partai politik (parpol). Mendagri juga tidak mudah mengendalikan bupati/walikota karena mereka juga dari parpol. Bupati juga tidak mudah mengatur para kepala desa, karena kades dipilih langsung oleh rakyat. Jika ingin berhasil mencapai cita-cita harus memiliki konsep yang jelas dan bisa dilaksanakan. Jangan bikin konsep yang tidak bisa dilaksanakan. Itu namanya `dakik-dakik` (mengawang-awang, Red.)

Anda juga menyatakan, keberhasilan kita juga dihambat oleh peninggalan-peninggalan kolonial. Bisa dijelaskan?

Pola-pola korupsi yang dilakukan sama persis dengan yang dilakukan VOC. Ketika berpidato di Universitas Leiden, Belanda, saya katakana kepada para petinggi di kampus itu, Indonesia kini menjadi salah satu negara terkorup, karena belajar dari kompeni zaman penjajahan Belanda (VOC) sejak 1602.

Termasuk soal hari libur pegawai negeri yang mencapai 130 hari dalam setahun?

Contoh, dalam editorial surat kabar, ditulis hari libur pegawai negeri 130 hari. Apa yang terjadi begitu orang tahu pegawai negeri liburnya sebanyak itu? Edan. Maunya naik pangkat, gaji besar, tapi maunya libur terus.

Mohon maaf, saya tanya seorang profesor, itu kebanyakan enggak 130 hari? Kebanyakan, katanya. Dia bawa sekretaris waktu itu. Saya bilang, tulis! Sabtu dan Minggu libur. Setahun berapa minggu? 104. tambahkan libur nasional 14 hari. Cuti 12 hari. Totalnya berapa? 130 hari. Saudaraku, ini jahat. Dalam ilmu komunikasi, ini namanya insinuasi. Menghasut ini.

Anda juga menyoal tentang lima kelemahan bangsa yang perlu dibenahi. Bisa dijelaskan?

Ada lima kelemahan bangsa Indonesia yang mesti kita benahi. Pertama, kita harus tahun peranan yang harus dilakoni setiap individu. Misalnya, seorang suami, istri, guru, pejabat mesti tahu apa yang harus mereka lakukan. Kedua, kebersamaan, yang sekarang tampaknya menjadi barang langka. Kebersamaan yang saat ini sering diartikan sempit, sehingga setiap perbedaan yang muncul tidak dicoba dicarikan solusi atau penyelesaiannya, yang terjadi justru sebaliknya. Setiap perbedaan yang muncul malah dipertajam sehingga tidak jarang timbul konflik yang berkepanjangan.

Ketiga, jati diri. Kita sebagai bangsa belakangan ini seolah-olah telah kehilangan jati diri. Bangsa yang dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah, sekarang telah berubah menjadi bangsa yang beringas, mudah marah, dan mudah melakukan perbuatan yang kadangkala melampaui akal sehat kita. Keempat, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mestinya menjadi alat pemersatu yang menyatukan semua perbedaan yang ada menjadi suatu kekuatan membangun bangsa.

Kelima, atau yang terakhir adalah keimanan. Kalau semua persoalan dikupas dan diselesaikan dengan dasar keimanan, bekerja juga didasarkan dengan keimanan, pengabdian demikian pula; pastilah segala macam persoalan yang terjadi dan melanda bangsa ini akan dengan mudah diselesaikan tanpa menimbulkan persoalan baru.

Power, Gas, and Facilities Department, Divisi Tersibuk dalam Operasi

Departemen apa yang paling sibuk dalam kegiatan operasi dan eksploitasi? Jawabannya adalah Power, Gas, and Facilities (PGF) Department. Departemen ini memiliki tanggung jawab dalam menyiapkan efektivitas biaya, persediaan energi pembangkit (power), memproses gas, dan menyiapkan berbagai fasilitas produksi pada kostumer, khususnya Business Unit. Selain itu, departemen ini juga mendukung kelancaran dan kekuatan produksi dengan performa maupun kualitas yang prima melalui integritas aset dan pengembangan sumber daya manusia.

Departemen PGF juga bertanggung jawab atas penyediaan pembangkitan energi dan sistem distribusi untuk mendukung fasilitas produksi minyak dan manfaat lain di lokasi offshore CNOOC SES. “Kami juga harus bertanggung jawab dalam mengelola “Gas plant” di Pabelokan dan menyalurkan gas ke Gas Metering System (GMS) di Cilegon sebagai supply bahan bakar gas turbin milik PLN sesuai dengan Gas Sales Agreement (GSA) antara CNOOC dengan PLN,” kata Manajer PGF Department, Tan Gong.

Tan Gong menambahkan, departemen ini juga bertanggung jawab terhadap penyediaan maupun pembangunan platform baru, pipa penyalur, kabel bawah laut, dan fasilitas baru lainnya sesuai kebutuhan. PGF juga terlibat langsung terhadap kegiatan modifikasi kritis, perawatan, dan servis. Oleh karena itu, departemen ini memiliki peranan penting dalam setiap kegiatan operasi maupun eksplorasi. “Semua departemen juga penting. Tapi, departemen ini termasuk yang paling sibuk dalam kegiatan operasi setiap hari,” tutur Tan Gong.

Mengingat pentingnya tugas dan tanggung jawab yang diemban PGF, departemen ini senantiasa melakukan koordinasi dengan departemen lain. Departemen ini pun tergolong besar karena melibatkan sekitar 112 karyawan yang menggarap berbagai proyek di lapangan, 400 kontraktor, termasuk 150 kontraktor yang bekerja di lapangan.

Tugas lain departemen ini adalah melakukan kegiatan operasional secara efisien dan efektif. “Kita tak mungkin menghabiskan uang banyak dalam kegiatan operasional. Seperti pipa penyalur bawah laut, kabel-kabel bawah laut, begitu susah untuk dilindungi maupun merawatnya. Jadi, setiap periode tertentu, kami harus mengganti kabel-kabel ini dengan yang baru dan melakukan inspeksi pipa bawah laut secara berkala. Ini merupakan pekerjaan yang berat,” katanya.

Oleh sebab itu, PGF selalu berusaha mengoptimalkan pemakaian teknologi yang ada maupun baru di CNOOC SES. Departemen ini, menurut Tan Gong, selalu meng-up date berbagai teknologi baru berkaitan dengan kegiatan operasi perminyakan, guna mengoptimalkan fasilitas produksi. “Kita siapkan peralatan baru yang siap pakai, melakukan improvisasi terhadap berbagai fasilitas,” katanya.

Di masa mendatang, PGF memiliki program dan target lanjutan, antara lain optimalisasi pemanfaatan anggaran, penyediaan produk dan layanan yang memuaskan, serta mempersiapkan fasilitas pembangkit khususnya di daerah Utara yaitu relokasi power plant dari Widuri Tanker ke tanker yang baru.

Divisi ini juga menjadi ujung tombak, mengimplementasikan kualitas Health and Safety Environment (HSE), serta melakukan pengembangan tehadap kesadaran kualitas HSE. Improvisasi dan inovasi teknik, meneliti dan mematuhi regulasi yang berlaku, meningkatkan kompetensi karyawan, serta menjaga aturan dan tata nilai yang dikembangkan perusahaan juga terus dikembangkan. “Kami berkomitmen untuk terus beroperasi di sini,” kata Tan Gong.

Departemen PGF senantiasa meletakkan HSE sebagai prioritas utama dan menjaga peningkatan performanya secara terus menerus pada setiap departemen. Sebagai kontribusi pada CNOOC SES secara keseluruhan, departemen ini juga memprakarsai peningkatan HSE dengan baik dan diaplikasikan di seluruh perusahaan, seperti pengawasan terhadap kualitas kartu STOP, konsep L8MM (Last 8 minutes meeting), dan sebagainya.