Selasa, Agustus 12, 2008

Sutanto, Berjaya di Daerah, Berkuasa di Pusat

Karakteristik jenderal bintang empat ini memang cocok untuk memimpin Polri yang sedang berupaya keras menaikkan citranya di mata publik. Selama berkarier, Sutanto dikenal sebagai aparat yang bersih dan teruji di berbagai macam tantangan. Sewaktu menjadi Kapolda Sumatera Utara dan Jawa Timur, ia pernah membuat gebrakan pemberantasan judi dan dikenal sebagai jenderal yang tidak bisa dipengaruhi mafia perjudian.

Mantan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Metro Kebayoran Lama ini sekarang sudah menjadi Kepala Polisi Republik Indonesia (Kapolri). Pria kelahiran Pemalang, Jawa Tengan, 30 September 1950 ini adalah lulusan terbaik Akabri Kepolisian tahun 1973, satu angkatan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga merupakan lulusan terbaik Akabri Angkatan Darat.

Begitu lulus dari Magelang, Sutanto malang melintang di berbagai pelosok nusantara guna menjalani tugas kedinasannya. Ia dikirim ke Sumenep untuk ditugaskan sebagai Kepala Polisi Resor (Kapolres) Sumenep, Jawa Timur. Selama tahun 1992 hingga 1994, Sutanto mengemban amanah sebagai Kapolres Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam perkembangan selanjutnya, karier Sutanto mulai benderang.

Pada tahun 1999, ia memangku jabatan sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Metro Jaya. Gemblengan singkat sebagai Wakapolda ini memantapkan langkah karier Sutanto selanjutnya. Secara berturut-turut, suami Henny ini memimpin Polda Sumatra Utara (Sumut) selama setahun dan Jawa Timur (Jatim) selama dua tahun.

Selain karena pertemanan dengan presiden, selama kariernya di kepolisian, Sutanto juga dinilai bersih. Dia juga dikenal konsisten dan dekat dengan bawahan. Ayah dari empat anak ini dikenal jujur, bersih, dan punya komitmen tinggi memberantas kejahatan. Saat menjabat Kapolda Sumut (2000), dia berupaya secara gigih memerangi perjudian, premanisme, dan peredaran narkoba di provinsi itu.

Mantan ajudan Presiden Soeharto ini menghadapi segala bentuk risiko, baik dari para bandar judi dan internal Polri sendiri. Kalangan yang tidak senang dengan pemberantasan judi diberantas di daerah itu tidak mau Sutanto bertugas di Medan dalam waktu yang panjang. Entah apa yang terjadi, tanggung jawab sebagai Kapolda Sumut ini hanya dijalaninya dalam kurun tujuh bulan.

Dia dipindah menjadi Kapolda Jawa Timur. Di wilayah ini, Sutanto langsung menyatakan perang terhadap terhadap illegal logging, praktik BBM oplosan, judi, dan narkoba. Salah satu gebrakannya adalah menangkap dan menahan Sundono alias Jhonson Limuel Lim, bos kayu ilegal nomor satu di Jatim yang sebelumnya tak tersentuh hukum. Dia juga mengusir dan menampik utusan Sundono yang hendak menyuapnya Rp 2 miliar agar Sundono bisa ditahan luar. Dia tetap bergeming dengan keputusannya. Sundono tetap menjalani kurungan hingga kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan.

Setelah menuntaskan tugasnya sebagai Kapolda Jatim, ia dimutasi menjadi Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri dalam kurun waktu 2002 - 2005. Setelah SBY jadi presiden, nama Sutanto kembali bersinar. SBY mengangkatnya menjadi kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN) pada awal Maret 2005. Dia pun naik pangkat dari Irjen menjadi Komjen Pol.

“Jenis narkoba yang menjadi prioritas dalam penanganan adalah ganja, ekstasi, heroin berikut sabu. Mengapa ganja, ya karena ternyata jenis narkoba inilah yang terbanyak dipakai, yaitu menurut survei kita, 71 persen pengguna narkoba di Indonesia memakai ganja,” tutur Sutanto.

Ia menyadari, kasus ini melibatkan bandar kakap yang bermain dengan modal yang besar. Namun, nyaris tidak ada rasa gentar di hatinya. “Terus kenapa? Kenapa lantas enggak berani? Judi dan narkoba ini kan menjadikan anak bangsa sebagai korban,” katanya, dengan penuh semangat. Sutanto berharap bangsa ini secepatnya bangkit dan melakukan perlawanan terhadap judi dan narkoba.

“Ya kita harus bangkit. Tolong sampaikan kepada publik agar jangan terus terlena dengan keadaan ini,” ucapnya tegas. Kendati sebentar di BNN, dia telah melakukan gebrakan besar dalam menangkap anggota sindikat peredaran narkoba internasional. Selain itu, ia berhasil menggerebek dan menemukan sejumlah pabrik narkoba besar di sekitar Jakarta.

Hingga saat ini, penegakan hukum serta berbagai hal yang terkait narkoba juga menjadi prioritas utama kebijakannya. “Narkoba sekarang sudah merambah ke mana-mana. Jadi saya berharap supaya daerah-daerah serius menangani masalah ini. Tentu tidak bisa Polri sendiri yang mengatasi, tetapi juga aparat hukum yang lain. Ini penting, agar terhadap tersangka yang kita tangani diberikan sanksi yang seberat-beratnya,” katanya.

Untuk mengantisipasi gencarnya peredaran narkoba, kita terus berupaya melakukan sinergi dengan seluruh jajaran terkait. “Untuk ekstasi, kita terus cari pabrik-pabrik gelapnya. Termasuk tempat peredarannya di diskotek-diskotek. Saya akan memerintahkan agar diskotek terus dirazia, terutama untuk yang disinyalir di dalamnya ada peredaran ekstasi,” katanya.

Demikian pula dengan ladang ganja yang bisa ditemui di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Berdasarkan survei di kepolisian, ada belasan titik pembudidayaan ganja di NAD. Untuk itu, Sutanto terus berupaya agar tidak ada lagi tanaman ganja di sana. “Jadi kita tidak hanya mencari atau mengoperasi ganja yang didistribusikan ke Jawa, misalnya. Ya kita harus basmi sejak dari ladangnya, harus di Aceh-lah,” tuturnya.

Sedangkan untuk heroin, lanjut Sutanto, pihak akan memperketat jalur-jalur masuknya, melalui udara maupun laut dengan mengintensifkan kerja sama tukar-menukar informasi dengan negara-negara produsen narkoba. Ia berkata, “Kita tidak hanya menunggu kemungkinan narkoba yang datang ke sini. Kalau hanya menunggu, yang kita tangkap paling ”hanya” sepuluh kilogram.”

Saban hari, pria berkumis tipis ini terus berkuat dengan tantangan dan tanggung jawab yang tidak ringan. Namun, bukan berarti ia tidak lagi memiliki waktu luang untuk mengendurkan urat saraf. Selain lari pagi, hobinya adalah adalah memelihara burung. Di rumah yang ditempatinya sejak 1997 itu terlihat beberapa burung dalam sangkar yang digantung di berbagai tempat. Kicau burung kakatua, beo, dan nuri terus terdengar sepanjang waktu. Seakan-akan menjadi penyambut setiap tamu yang berkunjung.

Togar Manatar Sianipar, Lain di Wajah, Lain di Hati

Bicaranya meledak-ledak dan penuh semangat, seperti lazimnya orang Batak. Kelihaiannya dalam berkomunikasi inilah yang mencuatkan namanya, ketika dipercaya memangku jabatan strategis Kepala Dinas Penerangan Polri pada 1998 lalu. Waktu itu, sebagai juru bicara utama Polri, Togar Manatar Sianipar dikenal terbuka serta mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan berbagai macam elemen masyarakat.

Tak pelak, hubungan harmonis itu menjadikan citra Polri terangkat. Salah satunya, disebabkan mudahnya masyarakat, khususnya kalangan media, memperoleh informasi secara jelas, akurat, dan terbuka. Sekitar satu tahun bertugas sebagai Kadispen Polri, pria kelahiran Rantau Prapat, 8 Maret 1948 ini dipercaya pimpinan Polri dan dipromosikan untuk jabatan teritorial sebagai kepala kepolisian daerah (kapolda).

Saat menjadi kapolda, Togar tercatat salah satu perwira tinggi (Pati) Polri, yang pernah dipercaya menjabat kapolda sebanyak tiga kali, di tiga tempat berbeda, antara lain di Bali (1999), Sumatra Selatan (2000), dan Kalimantan Timur (2000). Tugas dan tanggung jawabnya sebagai kapolda dilaluinya dengan mulus. Semuanya berkat ketekunan bekerja sebagai sosok profesional.

Enam bulan menjabat sebagai Ses Deops Kapolri pada 2001, ia mendapat tugas dan dipercaya pimpinan Polri memegang jabatan strategis yang memang sesuai dengan bidang yang ditekuninya, yakni jabatan Waka Lakhar (Wakil Kepala Pelaksana Harian) Badan Narkotika Nasional (BNN). Sejak itu, ketegasan dan keberanian Togar benar-benar mendapat ujian.

“Penyalahgunaan narkoba sudah sampai ke anak-anak, mulai umur 8 - 10 tahun. Daerah sebaran juga tidak hanya di kota-kota, tetapi juga ke desa-desa. Di lingkungan pendidikan tidak terkecuali. Mulai dari SD, SLTP, SLTA. Perguruan tinggi apalagi,” katanya prihatin. Namun, lanjutnya, “Yang paling memedihkan hati saya, ketika saya tahu pejabat, wakil rakyat atau bapak rakyat terlibat kasus narkoba. Seharusnya mereka itu jadi contoh bagi masyarakat.”

Komitmennya dalam memberantas penyalahgunaan narkoba begitu kuat. Terbukti, pada 2002, ia diberi mandat menjadi Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BNN, setelah Kalakhar Komjen Pol Nurfaizi memasuki pensiun. “Kalau melihat jumlah korban yang meningkat, saya akui, yang kita (BNN) lakukan belum menunjukkan hasil,” katanya, dalam sebuah kesempatan. Namun, ia senantiasa memegang amanah yang dipercayakan padanya.

Dalam melihat kinerja BNN, lanjutnya, orang lebih banyak berorientasi pada hasil. Padahal sebetulnya proses itu penting. “Masyarakat ingin melihat, ada enggak pengurangan, ada nggak sih penurunan kasus-kasus narkoba, baik itu korban jatuh maupun korban penyalahgunaannya. Saya kira itu mungkin indikator yang bisa kita gunakan,” katanya, dengan berapi-api.

Tetapi, Togar menambahkan, “Tolong catat baik-baik bahwa seharusnya kalau bertanya soal pemberantasan narkoba ini tidak mesti kepada pemerintah. Karena pemerintah seharusnya menjadi fasilitator dan paling bertanggung jawab dalam permasalahan ini,” tuturnya, “karena pemerintah yang paling bertanggung jawab. Justru dengan pembentukan BNN ini merupakan petunjuk bahwa pemerintah paling bertanggung jawab. Tetapi, harus kerja sama pemerintah dengan masyarakat.”

Begitulah. Ketegasan dan kejujuran menjadi spirit sekaligus prinsip kerja Togar selama berkarier di kepolisian. Jiwa seorang pengabdi, pendidik, sekaligus pelayan masyarakat begitu terpatri dalam setiap tingkah laku maupun kebijakan yang dibuatnya. Sebagai abdi Negara, ia pun menabuh genderang perang terhadap narkoba.

Namun, siapa sangka, profesi ini ternyata tak pernah ada dalam angan-angannya di waktu kecil. Ia mengaku secara jujur tidak pernah bercita-cita menjadi polisi. Setamat SMA, sebenarnya ia ingin melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung, karena sejak kecil ia bercita-cita menjadi insinyur. Apalagi, di kampung halamannya, nama ITB telah menjadi simbol prestasi dan kebanggaan diri. Terbukti, cukup banyak teman-teman sekolahnya yang melanjutkan pendidikan ke sana.

Namun, keinginan menjadi insinyur itu serta merta kanda ketika ia kondisi ekonomi keluarga. "Kebetulan di sekolah, saya agak pintar. Dan saya merasa mampu masuk ke ITB. Tetapi saya menyadari karena ayah saya sudah meninggal ketika saya berumur enam bulan, kami bertiga bersaudara hanya dibesarkan oleh ibu," ujarnya.

Suatu malam, ia masuk ke kamar ibunya yang sudah terlelap tidur. Tak terasa, muncul rasa iba dalam sanubarinya. "Waduh, ibu saya sudah berjuang membesarkan kami sejak kecil. Berarti ibulah yang mati-matian. Kalau saya menuntut kuliah di ITB sama juga saya menyulitkan ibu saya,” katanya membatin.

Mulai saat itu, Togar berpikir keras mencari-cari sekolah yang tak memungut biaya atau gratis. Ketika besoknya ke sekolah, ia melihat banyak teman sebayanya yang mendaftar ke Akabri. Kebetulan di kampungnya terdapat seorang taruna AMN yang sudah lulus. Dari seoran taruna inilah Togar mendapatkan kejelasan informasi tentang Akabri. “Nah, dalam batin saya, ini dia sekolah gratis yang saya cari," kata Togar dalam hati.

Togar pun memberanikan diri mendaftar dan mengikuti seleksi di Akabri. Ternyata semua tahapan dapat dilaluinya dengan lancar sehingga dinyatakan lulus. "Saya tidak punya backing. Dari mana saya kenal backing, saya anak seorang janda, kok," ujarnya, dengan senyum bangga. Ia pun dapat menyelesaikan pendidikannya tanpa hambatan berarti.

Di tengah tugas dan tanggung jawab yang tak ringan, Togar dikenal tegas dan memiliki kedisiplinan yang tinggi. Namun, situasi yang bertolak belakang dapat kita jumpai ketika ia melepaskan baju dinasnya. Di rumah, gitar tidak lepas dari tangannya. Talenta bermusik dan menyanyi dibuktikan dengan album rekaman berjudul “Suara Hati” yang diluncurkannya bekerja sama dengan pencipta dan penyanyi terkenal Rinto Harahap. “Tetapi saya tidak mau disebut penyanyi. Sebut saja saya orang yang punya hobi menyanyi,” katanya dengan wajah ceria.

Da’i Bachtiar, Memikul Citra Menompa Prestasi

Terungkapnya pelaku kasus peledakan bom di Bali, 12 Oktober 2002, dan di Hotel JW Marriott, Jakarta, 5 Agustus 2003 lalu merupakan prestasi kepolisian yang membanggakan. Namun, keberhasilan ini dirasakan masih belum cukup bagi Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar, untuk meningkatkan performa aparat di mata publik. berbagai tugas berat untuk lebih meningkatkan citra kepolisian rupanya masih ada yang mengganjal dalam benaknya

Sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, waktu itu, alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1972, ini dinilai sangat menguasai lapangan tugasnya. Ia tiga kali menjabat Kapolres, yakni Kapolres Blora (1987), Kapolres Boyolali (1989) dan Kapolres Klaten (1990). Kemudian menjadi Sesdit Serse Polda Jatim (1992) dan Kapoltabes Ujungpandang (1993).

Setelah mengikuti Sesko ABRI, ia dipercaya memegang jabatan sebagai Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Polri pada 1998. Sejak itu, kariernya terus melejit. Tak sampai satu tahun menjabat Kadispen Polri, ia diangkat menjabat Dankorserse Mabes Polri. Jabatan Kapolda Jawa Timur pun disandangnya pada tahun 2000.

Setahun kemudian, secara berturut-turut ia dipercayakan menjabat Gubernur Akpol dan Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN), menggantikan Komjen Pol. Nurfaizi. Ia mengemban tugas yang tak ringan, yaitu menangkal semakin merajalelanya sindikat narkotika internasional beroperasi di Indonesia. Tidak hanya memantau, lembaga yang dipimpinnya ini juga bertugas memberantas peredaran dan penggunaan narkotika di seluruh Indonesia.

Selama setahun menjadi Kalakhar BNN, kinerja pria kelahiran Indramayu, 25 Januari 1950 ini, cukup inovatif dengan sejumlah terobosan. Terobosannya antara lain, kampanye keluarga antinarkoba sejak dini, penyebaran brosur antinarkoba, dan pembuatan buku mengulas tentang seputar bahaya narkoba kelas nasional dan internasional. Ada juga berbagai aktivitas terkait kampanye narkoba, seperti seminar, diskusi, sampai strategi pengadangan benda haram itu di peredaran.

Jabatan di BNN sebelumnya sempat dinilai bukan posisi jabatan idola oleh petinggi Polri. Bahkan sempat dicap sebagai tempat "buangan" karena tugasnya hanya biasa-biasa saja yakni, terkesan teoritis, tidak strategis. Namun, berdasarkan fakta yang ada, justru di lembaga BNN itulah, para petinggi polri itu menunjukkan kualitasnya.

Perjalanan karier Da’i membuktikan bahwa BNN diibaratkan sebagai kawah candradimuka menuju Trunojoyo I. Ia dipilih oleh Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai calon tunggal Kapolri. Namun, apa yang tampak di depan mata belum tentu mudah diraih. Da'i pun tidak serta merta menjadi Kapolri. Ia harus melewati ujian dari kalangan DPR yang terbelah dalam berbagai suara pro dan kontra.

Salah satunya, Da’i dianggap turut bertanggung jawab dalam kasus bentrokan berdarah di Bondowoso Jawa Timur, November 2000, yang menelan sejumlah korban tewas. Ketika itu Da'i menjabat Kapolda JawaTimur. Bahkan, Fraksi Kebangkitan Bangsa getol menolaknya. Partai Bulan Bintang mengkritik kinerjanya.

Beberapa aktivis yang menamakan diri Pro Demokrasi, menolak sosok Da'i karena mereka anggap pernah melakukan kebohongan publik di era Soeharto dan prestasinya dianggap tidak terlalu menonjol baik ketika menjabat Kapolda Jatim maupun Kalakhar BNN.

Namun, sebagian besar fraksi di DPR justru welcome dengan sosoknya. Akhirnya, pada Rapat Paripurna DPR ke-20, Kamis, 29 November 2001, DPR secara aklamasi menyetujui usulan Presiden Megawati Soekarnoputri untuk mengangkat Komjen Pol Da’i Bachtiar menjadi Kapolri. Pelantikan dilakukan pada sore harinya. Pangkatnya pun naik menjadi jenderal penuh.

Tugas besar telah menghadang. Seperti diamanatkan DPR melalui komisi gabungan—yang membahas pengangkatan Da’i—masalah penuntasan perjudian, kasus 27 Juli, narkoba, dan pengeboman menjadi prioritasnya. Selain itu, sebagai Kapolri, ia dituntut memiliki komitmen meningkatkan profesionalisme Polri.

Da’i menepis semua tudingan dan keraguan itu dengan kinerjanya setelah menjabat Kapolri. Secara jujur harus diakui bahwa ia menunjukkan prestasi yang mampu mengangkat harkat dan citra Kepolisian Republik Indonesia di mata dunia. Keberhasilannya mengungkap kasus ledakan bom di Bali memperlihatkan bahwa ia seorang Kapolri yang patut diacungi jempol.

Berbagai prestasi lain yang dibukukan oleh Da’i adalah pembangunan internal yang hasilnya baik dan telah dirasakan manfaatnya oleh semua kalangan. Contohnya, pembangunan sarana dan prasarana, peningkatan profesionalitas, peningkatan kemampuan dan kesiagaan Polri untuk bertugas setiap saat di seluruh wilayah tanah air. Di samping itu, kerja sama internasional dalam rangka penanganan kejahatan trans nasional, pemberantasan terorisme, serta penindakan terhadap penyalahgunaan maupun kejahatan narkoba juga berjalan dengan baik dengan sejumlah prestasi.

Pada Juli 2005, ia merampungkan tugasnya, dan digantikan oleh Jenderal Polisi Sutanto. Namun, jiwa pengabdian Da’i tak berhenti sampai di sini. Ia membidani lahirkan Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) dan menjabat sebagai ketua presidium. Melalui lembaga ini, ia mengajak seluruh komponen bangsa untuk ikut berperan aktif dalam pencegahan dan kepedulian terhadap hak-hak anak agar tidak muncul tindak kekerasan terhadap anak-anak.

"Kita ingin ada suatu gerakan atau apalah namanya yang harus mengalir komunikatif sehingga masing-masing komponen bangsa ikut berpartisipasi dalam menyosialisasikan hak-hak anak," katanya. Menurutnya, kekerasan terhadap anak saat ini masih banyak terjadi di kalangan masyarakat level bawah dengan berbagai alasan diantaranya alasan ekonomi. Oleh karena itu, lanjutnya, sudah saat seluruh masyarakat peduli, turut mencegah, dan memberikan kontribusi positif terhadap persoalan ini.

Ahwil Lutan, Diplomasi Tanpa Seragam

Tidak seperti pejabat pada umumnya, gayanya terlihat lebih santai. Daripada tampil dengan setelan jas, seragam dinas, atau safari, Ahwil Lutan lebih memilih busana yang kasual dalam kesehariannya. Bahkan, seringkali kita melihatnya berpenampilan jauh lebih muda dari usianya tatkala ia berbalutkan kaus dan celana jins.

Penampilan maupun gaya bicaranya yang cakap, luwes, dan tegas persis layaknya seorang diplomat. Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki jenderal bintang tiga ini pun sempat mengantarkannya menjadi Duta Besar RI untuk Meksiko merangkap Panama, Kosta Rika, dan Honduras, pada 2000 lalu. Sebuah tugas yang tak ringan, memang.

Salah satu tugas lulusan Akademi Kepolisian termuda di Indonesia, pada 1968 ini adalah meningkatkan hubungan diplomatik dan perdagangan antara Indonesia serta Meksico. Saat itu, perdagangan Indonesia ke negara-negara Amerika latin sebesar 600 juta dolar. Nilai ini menurut Deperindag masih dinilai kecil. Sebelum ditunjuk sebagai dubes,

Penugasan ini bukan kali pertama ia bertugas sebagai delegasi Negara. Sebelumnya, Ahwil memang sering kali meengeyam pendidikan di luar negeri, sehingga dirinya memiliki banyak pengalaman internasional. Kesempatan ini tidak banyak dimiliki oleh anggota Polri. Dalam mengeyam pendidikan di luar negeri, dirinya tidak segan-segan menjalin hubungan internasional dengan Perwira dari negara lain.

Hubungan ini pula yang dimanfaatkanya saat menjabat sebagai Sekertaris Nasional Central Bureau Interpol Indonesia. Prestasi yang diraih dalam jabatan ini antara lain mengembalikan sejumlah koleksi lukisan museum nasional dari Singapura dan mengembalikan para tersangka yang lari keluar negeri ke Indonesia walaupun Indonesia belum mempunyai perjanjian ekstradisi dengan negara yang bersangkutan.

Selama bertugas di kepolisian, pria kelahiran Pemantang Siantar,1 Juni 1947 ini dikenal aparat yang bersih dan memiliki komitmen yang tinggi. Walaupun namanya tidak terlalu menonjol, Ahwil, begitu panggilan akrabnya, lebih dikenal sebagai konseptor dan pemikir Polri yang memiliki visi ke depan, daripada sebagai komandan pasukan di lapangan. Berbagai jabatan penting yang memerlukan pemikiran dan strategi serta jaringan internasional sering diembannya. Seperti Staf Ahli Kapolri dan memimpin jajaran Reserse, Interpol, PTIK.

Sebagai anggota kepolisian yang menghabiskan sebagian hidupnya mengabdi pada negara, pemegang 10 satya lencana RI dan dua penghargaan dari luar negeri ini memiliki kesan yang begitu membekas dalam benaknya. Terlebih selama menjadi polisi ia lebih banyak bertugas pada kesatuan polisi yang tidak berseragam. Ternyata, pria yang selalu tampil berkacamata ini begitu menikmati hari-harinya sebagai petugas yang tidak berseragam ini.

Polisi berpangkat terakhir Komisaris Jerderal Polisi ini memant tergolong sosok polisi yang langka dengan komitmen tegas. Dalam dunia politik, misalnya, ia tidak pernah memperlihatkan keberpihakannya. “Saya menjadi seorang polisi bukan untuk berpolitik,” ujar Ahwil. Hal ini pula yang membuat dirinya selalu dipilih untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan internal Polri, seperti sebagai ketua tim penyelidikan kasus korupsi di tubuh Polri (1999) dan kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan mantan Kapolda Metro Jaya, Sofjan Jacoeb.

Ketika berpangkat Kapten, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan Drugs Enforcement (DEA) School di Amerika. Jenjang pendidikan inilah yang pada akhirnya membawa ia menduduki jabatan sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan Kordinasi Narkotika Nasional (Kalakhar BKNN). Sebuah tugas yang membuatnya makin matang sebagai sosok aparat sekaligus pengabdi pada Negara. “Sebagai seorang aparat, saya siap ditugaskan di mana saja, dalam maupun di luar negeri,” ujar Sarjana Hukum Universitas Pancasila, Jakarta, ini mantap.

Sebagai Kalakhar BKNN, ia prihatin kalau melihat para pemuda yang terjerumus barang haram tersebut. Dari tahun ke tahun korban dan pemakai juga meningkat, bahkan penangkapan terhadap pelaku juga meningkat. "Tapi ini tidak terjadi pada negara kita saja, tapi di negara lain juga terjadi hal yang sama. Karena masalah narkotika ini merupakan masalah yang sangat mengglobal," kata suami dari Kemala Anggraini ini.

Keberhasilannya sebagai anggota kepolisian ternyata juga dibarengi dengan kesuksesannya sebagai jenderal rumah tangga. Pemimpin Redaksi Majalah HealthNews ini pun sukses membesarkan anak-anaknya dengan pendidikan yang bermutu. "Meskipun saya ini seorang polisi, tapi bukan berarti saya harus menerapkan disiplin militer dalam kehidupan mereka," kata Kepala Project Alternative Development BNN, ini.

Sebagai orang tua, ayah tiga anak ini mampu membentuk dasar kepribadian sang anak dengan gemilang. Ia mengajarkan tentang kedisiplinan di lingkungan rumah dengan memulai dari hal-hal yang kecil. "Ketika anak-anak masih di sekolah dasar, saya harus sudah berada di dalam rumah pukul 18.00. Jadi saya mendidik anak dengan sistem militer hanya ketika anak itu masih di bangku sekolah dasar," jelas ayah tiga anak ini.

Setelah sekolah lanjutan, Magister Business Administration, Program Greggorio Universitas Areneta, Filiphina, ini memperlakukan anak dengan cara berbeda. Ahwil menghadapi mereka sebagaimana layaknya dengan seorang teman atau sahabat. Mereka bisa berdiskusi bahkan bisa adu pendapat. "Jadi yang timbul kita akan saling terbuka," ungkap pria yang mempunyai motto hidup 'pertamakali yang dipikirkan setelah jatuh adalah berdiri.

Hingga kini, gaya berbicaranya yang luwes dan terbuka ini terus dipertahankan. Pemilik VW kodok limited edition warna abu-abu ini tetap lurus dan tak neko-neko. Satu hal yang pasti, penampilannya tetap segar, energetik, dan penuh gaya. “Harus tetap segar dong,” kata mantan Wakil Kepala Sub Direktorat Reserse Narkotika Dit Serse Polri, ini dengan senyum berkembang.

Melawan Hegemoni Kekuasaan Orba (4)

Setelah diberhentikan sebagai pegawai negeri, Fatwa memasuki babak baru dalam kehidupannya. Bukannya lantas menjadi pengangguran, hari-harinya pun disibukkan dengan berbagai aktivitas sosial. Ia segera bergabung dengan Ali Sadikin yang merintis berdirinya Kelompok Kerja (Pokja) Petisi 50. Karena ia memiliki track record sebagai Sekretaris Bang Ali sewaktu menjadi Gubernur, ia pun ditunjuk sebagai Sekretaris Pokja tersebut.

Awal kelahiran Pokja Petisi 50 dan rapat-rapat persiapannya diadakan di Gedung Granadha, Kantor Sekretariat Forum Studi dan Komunikasi Angkatan Darat (Posko AD) yang sehari-hari dipimpin oleh Mayjen TNI (Purn) Ahmad Sukendro, dengan Sekjennya Letjen TNI (Purn) HR Dharsono. Tetapi, resminya Petisi 50 berpayung pada Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi, yang didirikan oleh Bung Hatta, Jend. AH Nasution, dan para tokoh nasional pejuang demokrasi pada tahun 1978.

Sebagai Sekretaris, tentu saja siang malam kesibukan Fatwa tergolong padat. Fatwa harus mempersiapkan segala keperluan, termasuk menjalin koordinasi dengan para anggota. Apalagi dalam perkembangan, Pokja ini mengambil jalan untuk senantiasa bersikap kritis terhadap berbagai kebijakan politik penguasa Orde Baru, seperti penerapan asas tunggal Pancasila, keberpihakan ABRI terhadap Golkar dalam Pemilu, serta berbagai kebijakan lainnya.

Petisi 50 pun dianggap “musuh utama” pemerintah Soeharto. Sebagai imbasnya, ruang gerak Pokja maupun para tokohnya pun menjalani hidup yang sulit. Setelah dilarang mengadakan rapat-rapat di Granadha (kini Balai Sarbini), maka Bang Ali menyediakan rumah kediamannya di Jalan Borobudur 2 Jakarta Pusat untuk kegiatan rapat Petisi 50, dan juga menyediakan suatu ruangan kantor di gedung Ratu Plaza lantai 30 Jalan Jend. Sudirman Jakarta, yang sehari-hari sekretariatnya dikelola oleh Fatwa bersama Chris Siner Key Timu.

Para aktivisnya, termasuk Fatwa, diawasai intel. Setiap hari, baik berangkat maupun pulang kerja, mobil Fatwa selalu dibuntuti dua motor Intel. Karena ia tak memedulikan hal tersebut, Intel beralih membuntuti mobil Bang Ali. Tentu saja Bang Ali jengkel lalu dibelokannya mobilnya ke halaman rumah Laksamana Sudomo. Hari berikutnya dua Intel yang membuntutinya dipanggil masuk ke rumahnya. Setelah disuguhi jamuan makan sampai puas, para intel tersebut dinasehati agar tidak lagi membuntutinya.

Kesibukan Pokja membuat lalu lintas penggunaan telepon yang sangat padat. Inilah yang memicu intelijen untuk menyadapnya. Maka pesawat telepon di rumah dimatikan oleh Telkom tanpa alasan yang jelas. Bang Ali mengirim surat kepada Dirut PT Telkom yang mengancam bahwa pemiliknya akan memperkarakan karena pesawat telepon ditutup tanpa alasan. Terpaksalah pihak Telkom secara berbisik menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa melakukan itu atas perintah Laksusda Jaya dengan alasan pesawat telepon tersebut selalu dipakai untuk pembicaraan politik.

Macam-macam saja ulah para intel ini. Tidak hanya Fatwa dan para aktivis Pokja, pegawai kantor Bang Ali sekaligus Sekretariat Petisi 50 di gedung Ratu Plaza, bernama Mansur juga “dikerjain” dengan cara mengikat kaki dan tangannya bersama meja serta mulutnya disumpal kain pada saat pagi-pagi dia membersihkan kantor. Pada hari lainnya Mansur diciduk saat meninggalkan kantor sore hari, kemudian dibuang di sawah dipinggiran kota. Demikian halnya pengawal pribadi Fatwa bernama Udin juga diculik untuk beberapa hari baru kemudian dilepaskan. Karena itu, Bang Ali menyediakan pengawal pribadi untuk Fatwa karena demikian gencarnya teror-teror yang saya hadapi sehingga sulit saya bekerja sebagai Sekretaris Petisi 50.

Pada Idul Fitri dan Idul Adha 1980, berturut-turut Fatwa ditahan dan disiksa oleh aparat intelijen Laksus Kopkamtibda Jaya hingga mengalami gegar otak. Bang Ali tampil membela dan menyembunyikan Fatwa di rumahnya. Bang Ali juga membawa Fatwa melapor ke rumah Pangkopkamtib Laksamana Sudomo karena Fatwa diancam akan diculik dari RS Islam, sehingga Dirut RS Islam dr Sugiat pada tengah malam membawa lari Fatwa keluar dari Rumah Sakit.

Bang Ali juga mengirim surat protes kepada Pangkopkamtib Laksamana Soedomo, sehingga Pangkopkamtib melakukan teguran tertulis kepada Pangdam Jaya Letjen Norman Sasono, dan melakukan mutasi dan tindakan administratif kepada beberapa pejabat bawahannya, termasuk Assintelnya, Danramil Setiabudi Letda Sukarman, Perwira Operasi Kodim Jakarta Selatan dan Kapten Thomas Perwira Satgas Intel Laksusda Jaya.

Karena Fatwa melakukan tuntutan perdata kepada Pangkopkamtib, dan Laksamana Soedomo tidak berhasil membujuknya melalui Pak Ali Sadikin dan Adnan Buyung Nasution, maka kembali lagi aparat Kopkamtib di lapangan melakukan percobaan pembunuhan terhadap Fatwa dengan berusaha membacok lehernya dengan clurit. Wajahnya pun coreng-moreng dengan luka berlumuran darah. Syukurlah, dengan operasi jahitan yang baik sehingga tidak merusak wajahnya.

Tak hanya sekali, Bang Ali Sadikin bersama Mayjen Aziz Saleh dan Letjen HR Dharsono kembali tampil sebagai membela Fatwa di Pengadilan setelah semua pengacara-pengacara senior dan profesional yaitu Lukman Wiradinata, Djamaluddin Dt. Singomangkuto, Sukardjo Adidjoyo dan Hotma Sitompul mengundurkan diri karena diteror aparat Kopkamtib dengan cara melempari batu rumahnya sambil mengancam.

Pak Hoegeng, mantan Kapolri yang meminta Kapolda menyelidiki siapa yang melakukan pembacokan tehadap Fatwa, akhirnya melaporkan bahwa sudah diketahui siapa pelakunya, tetapi polisi “tidak bisa” menangkapnya. Bang Ali sebagai senior ALRI pun meminta kepada Panglima Kodamar agar RSAL sebagai Instansi Militer dilakukan pengamanan khusus terhadap pasien yang mengalami ancaman. Intel ALRI yang menjaga Fatwa berhasil menangkap seorang Intel BAIS yang menyusup di kamar perawatannya. Intel yang tertangkap itu pun terpaksa dilepaskan.

Untuk menunjukkan solidaritas pembelaan, Bang Ali bersama Letjen HR Dharsono, sengaja berdua “mengambil alih” tugas perawat mendorong dipan pembaringan Fatwa keluar masuk kamar operasi. Demikian juga waktu keluar dari RSAL, sengaja Banng Ali sendiri yang menyetir mobil menjemput Fatwa, sehingga para Perwira dan Pengawal di RSAL terheran-heran.

Fatwa memang sengaja minta dirawat di RS AL, padahal ia dibacok di depan masjid Agung Al Azhar yang jarakanya lebih dekat dengan RS Pertamina. Hal ini dilakukan karena Kolonel dr Otto Maulana Kepala RS AL adalah senior Fatwa ketika sama-sama mahasiswa Ikatan Dinas ALRI dan Korps Pelajar Calon Perwira AL. Akibat yang lebih jauh pun menimpa Otto. Dia tidak pernah lagi naik pangkat hingga pensiun. Padahal rata-rata teman-temannya pensiun dengan bintang dua.

Ketika hal ini diceritakan Fatwa kepada Bang Ali, dia berkomentar “Apa boleh buat, itu risiko jabatannya. Dan berdasarkan sumpah dokter, musuh sekali pun harus dirawat, apalagi kamu bukan musuh”. Karena itu, Fatwa merasa sedih dan berutang budi karena demikian baiknya merawat dirinya, tetapi berakibat dia harus diinterogasi oleh Laksusda Jaya dan dianggap salah.

Tak hanya jadi bulan-bulanan aparat intelijen, Fatwa juga sempat dikecam para aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tampaknya para aktivis tersebut merasa terancam dengan Petisi itu karena sebagian besar di antara mereka banyak yang menjadi pejabat Orde Baru. Selain HMI, pengikut Masyumi juga mengecam Fatwa karena dianggap menyeret-nyeret Mohammad Natsir ke dalam Petisi 50.

Memang, di awal pembentukan Petisi 50, Fatwa bersama aktivis muda lainnya bergerilya mengumpulkan tanda tangan sejumlah tokoh, termasuk Natsir, untuk mendukung enak butir “Pernyataan Keprihatinan” atas isi pidato Soeharto tentang asas tunggal Pancasila yang menurutnya dirongrong oleh ideologi lain dan partai politik. Natsir pula yang didaulat untuk mewakili 50 penanda tangan guna menyampaikan maksud mereka ketika menyambangi Ketua DPR, Daryatmo.

Meski mendapat perlakuan buruk dari penguasa, anggota Petisi 50 tetap tak surut. Demikian pula Fatwa. Dikoordinasikan olehnya, para anggota Petisi 50 secara rutin bertemu di kediaman Ali Sadikin setiap Selasa sore. Mereka berdiskusi dan bertukar gagasan tentang kenegaraan, membahas situasi politik, serta mengecam kebijakan-kebijakan ekonomi-politik Orde Baru.(bersambung)

Sang Pemberani dari Bone (1)

Anak kecil itu tak seperti seorang bocah sebagaimana lazimnya. Aktif, enerjik, dan memiliki daya motorik yang kuat. Paduan antara kenakalan masa kecil dan kecerdasan di atas rata-rata teman sebaya menjadi karakteristik yang khas. Tak jarang, kenakalannya menyiratkan sebuah pemberontakan.

Watak seorang pemberani dan pejuang sejati bersemai dalam diri A.M. Fatwa, bocah itu. Dilahirkan di Dese Cege, Kecamatan Mare, Bone, Sulawesi Selatan, pada 12 Februari 1939, ia sejatinya merupakan seorang remaja yang cerdas, pemberani, dan berpendirian kuat. Anak bungsu pasangan Andi Mappeasse Petta Wawa dan Andi Mina Petta Pajja ini tumbuh dan dibesarkan di tengah keluarga petani dan pedagang kecil yang sederhana, meskipun memiliki garis keturunan keluarga Kerajaan Bone.

Kehidupan masyarakat Desa Cege, sekitar 250 km dari Ujung Pandang, masih memegang teguh adat dan tradisi nenek moyang yang kuat. Memang, di lingkungan tempat tinggalnya waktu itu berkembang tradisi warisan leluhur, seperti penghormatan terhadap arwah, persembahan sesajen, serta perilaku yang berbau takhayul, bid’ah, dan khurafat,

Aktivitas keagamaan masyarakat setempat ini mengusik nalarnya dan akal sehatnya. Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Fatwa mulai berkenalan dengan pola pikir maupun pandangan modern yang mencerahkan jiwanya. Ia pun menggemari buku-buku karya Hamka (Muhammadiyah) dan Isa Anshari (Persis). Di antaranya buku yang menjadi bacaannya waktu itu adalah Tasawuf Modern karya Hamka.

Dari sinilah mulai terjadi konflik dalam dirinya. Pemberontakannya terhadap tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam sebuah peristiwa, ia mengencingi dan merobohkan sebuah rumah kecil di perbukitan yang biasa digunapan penduduk setempat untuk memberi sesajen pada arwah leluhur. Tak pelak, perbuatannya yang dianggap “nakal” ini pun mengundang kemarahan warga sekampung.

Perlawanannya terhadap segala kekangan dan berbau irrasionalitas tak hanya ditampakkannya pada masyarakat sekitar, tapi juga kepada orang tuanya sendiri. Ia kerap berseberangan pendapat dalam hal pikiran keagamaan dengan orang tuanya yang rajin beribadah tapi dengan cara-cara tradisional. “Saya kira, dialog saya dengan orang tua lebih banyak pada perbedaan paham tradisionalisme dengan paham saya yang sudah banyak terbimbing melalui buku-buku modernisme,” tuturnya.

Suatu ketika, ia pernah menampakkan perlawanannya dengan “membakar” rumah-rumahan berkelambu yang biasa digunakan orang tuanya untuk menghormati arwah nenek moyang. “Kayunya saya ambil dan dicampur dengan kayu bakar untuk memasak sehari-hari,” kenangnya sembari tersenyum.

Sikap kritis, analitis, dan inovatif senantiasa dikembangkannya dalam mengarungi hidup. Hal inilah yang memicu lahirnya berbagai tantangan sekaligus menjadi proses pembelajaran. Ia mengakui perjalanan hidupnya penuh dengan tantangan. Saat menjadi seorang pelajar di kampung halaman, tantangan dan cobaan hidup terus menderanya. Fasilitas hidup yang enak dan pendidikan yang layak merupakan hal yang sulit didapat. “Justru hal itulah yang membuat saya terlatih menghadapi tantangan,” ujarnya.

Saat itu, Kecamatan Mare dikenal sebagai pabrik guru. Profesi seorang pendidik menjadi impian dan kebanggaan banyak orang. Namun, profesi ini tak menarik minat seorang Fatwa. “Saya tidak ingin jadi guru,” katanya tegas. Oleh sebab itu, dalam satu peristiwa, ia lari meninggalkan sekolah.

Terkait dengan pembaruan pemikiran, ia pun aktif di berbagai organisasi pemuda Islam, seperti Pandu Islam serta GPII. Ia pun mulai melanglang buana sambil mengasah kompetensi dirinya. Pria yang sudah aktif dalam kegiatan kampanye Partai Masyumi pada Pemilu 1955 ini pun bermimpi untuk mencari sekolah di lingkungan yang berbeda.

Ia pun meninggalkan kampung halamannya ketika pemberontakan DI/TII bergolak di sana. Ketika itu, keadaan kampung halamannya porak poranda. Akibat pemberontakan itu banyak orang-orang Bone merantau ke Sumatra, Kalimantan, hingga Malaysia.

Begitulah A.M. Fatwa. Sejak remaja, ia sudah menampakkan kegelisahannya terhadap berbagai praktik kehidupan yang menyimpang dari akal sehat. Kegelisahan ini pula yang menuntunnya untuk melakukan pengembaraan ke Makassar, Surabaya, Sumbawa, Lombok, hingga Jakarta. Selama bertualang, tak lupa menempa diri di berbagai pendidikan formal sembari aktif di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan maupun organisasi kepemudaan.

Sejak berkelana, ia menambahkan nama Fatwa di belakang namanya sebagai akronim dari gelar ayahnya, Petta Wawa. Fatwa dipilihnya karena memiliki kemasan yang bernuansa agama dan nasional sekaligus menetralisir nuansa kedaerahan yang terlalu kental. Sedangkan gelarnya secara adapt, Petta Lewa, hanya dipakai di lingkungan keluarga dan kampung halamannya. (Bersambung)

Sebastian Gunawan, Perancang Busana Multi Talenta

The real star of the Indonesian fashion world today” Begitu Harian The Jakarta Post memujinya. Busana rancangannya begitu berkelas, dari dekoratif yang simpel sampai busana yang begitu dramatis. Desainer yang terkenal dengan rancangannya yang glamour, feminim, dan elegan, ini seringkali membawa harum nama Indonesia di mata dunia.

Setumpuk kain sutera bisa tak berarti apa-apa di hadapan kita. Tetapi coba sodorkan kain tersebut pada Sebastian Gunawan, pasti disulapnya menjadi rancangan busana yang begitu menawan. Pria kelahiran Jakarta, 2 Juli 1967 ini memang dikenal sebagai perancang busana dengan beragam gaya dan tema. Karya-karya penuh inspirasi. Gaun malam rancangannya begitu popular.

Kreativitasnya dalam mendesain sebuah busana tak hanya dikenal di dalam negeri, melainkan juga telah diakui di mancanegara. Ia juga meraih berbagai penghargaan, baik dalam dan luar negeri. Karena itu, desainer yang sempat menimba ilmu Fashion Design di Institute of Mode, Susan Budiharjo, seringkali menjadi tolak ukur utama dalam perkembangan tren busana di Tanah Air.

Apa yang diperoleh Seba, begitu panggilan akrabnya, memang melalui perjalanan yang panjang. Kecintaannya pada kegiatan merancang busana dimulai saat ia duduk di bangku sekolah menengah. Sejak itu Sebastian terus mencari dan mengembangkan bakat yang dimilikinya. Hasil rancangannya seringkali dipakai oleh teman-teman sekelas maupun anggota keluarga, terutama pada acara-acara penting.

Petualangannnya di dunia fashion terus berlanjut. Pada 1993, Sebastian memperkenalkan hasil rancangan perdananya dengan karya-karya personal dan koleksi eksklusif dengan merek namanya sendiri, Sebastian A. Gunawan. Namanya pun mulai diakui di kalangan pekerja industri fashion di Indonesia.

Alumni The Fashion Institute of Design and Merchandising, Los Angeles, ini terus memacu kreativitasnya. Dua tahun berikutnya, bersama sang istri, Christina Panarese, ia meluncurkan koleksi busana siap pakai dengan nama “VOTUM”, yang artinya Vote of Confidence.

Dalam kurun waktu enam tahun, desainer yang seringkali menjadi juri dalam kompetisi fashion bergengsi di Indonesia ini kembali memperkenalkan koleksi terbarunya dengan merek “Sebastian’s” dan “Sebastian Sposa”. Merek terakhir ini merupakan koleksi busana pengantin yang dirancang khusus untuk kalangan menengah atas.

Kreativitas Sebastian ternyata tak hanya di dunia mode, tapi juga dalam hal merancang keramik. Garis rancangannya yang dikenal anggun dan glamour pernah ia pindahkan ke dalam aksesori kamar mandi dan piranti makan-minum berbahan keramik. Dengan memadukan konsep fashion dan function, keramik bermerek Seba Xeramik ini tetap terlihat anggun dan fungsional dengan nuansa Oriental dan Spanyol. Dalam pengerjaannya, Sebastian menemukan keasyikan tersendiri. "Keindahan busana akan terlihat begitu selesai pengerjaan. Sementara piranti ini keistimewaannya setelah di-setting dalam sebuah penataan," ungkapnya.

Selain produktif dalam merancang, lulusan Instituto Artistico Dell Abbigliamento Maragoni, Milano, Italia, ini juga secara rutin menggelar peragaan busana tunggal. Terakhir kali, peraih penghargaan Young Fashion Designers Contest pada 1993 ini menyelenggarakan pergelaran busana dengan tema “Rendezvouz”. Kali ini busana yang ditampilkan bernuansa lembut, muda, cerah, dengan ornamen kilau payet dan manik kristal, serta paduan antara hitam dan putih.

Mendapat pengukuhan di dalam negeri, Sebastian lantas memperlebar pangsa pasarnya ke mancanegara. Dia seringkali berpartisipasi dalam pagelaran maupun kompetisi fashion tingkat internasional. Pada 2004 lalu, misalnya, ia meraih penghargaan World Young Designer Award pada Konvensi sedunia International Apparel Federation (IAF) XX di Barcelona, Spanyol. Rancangannya berlabel “I Miss Bali” berhasil menyisihkan 17 pesaingnya dari negara lain.

Kiprahnya di dunia internasional terus berlanjut. Peraih penghargaan Best Designer dari Indonesia Tattler Society ini juga turut andil dalam Bangkok International Summer Fashion Week 2005 lalu. Dalam pekan mode yang digelar di Central Chidlon, salah satu departement store terkemuka di Thailand, ini ia diundang sebagai perancang bintang tamu.

Tampaknya peragaan kali ini cukup memuaskan Sebastian. "Saya rasa ini adalah salah satu yang terbaik dari peragaan saya di luar negeri,” ujarnya, berterus terang. Bukan saja karena baju-baju hasil rancangannya diminati pengunjung, tapi fasilitas dan kolaborasi mereka yang terlibat, seperti make up artist, koreografer, dan pihak penyelenggara begitu menyenangkan. Selain itu, ia tampaknya telah menemukan peluang yang terbuka untuk menembus pasar Thailand.

Kolaborasi Sebastian dan Christina dalam merancang busana mendapat apresiasi dari berbagai kalangan di Indonesia. Di samping merancang busana untuk dijual di pasaran atau permintaan pribadi, seringkali ia mendapat kehormatan untuk merancang gaun-gaun cantik dalam rangka perayaan khusus. Seperti dalam pemilihan Miss ASEAN 2005 lalu maupun untuk konser musik penyanyi Titie DJ, beberapa waktu lalu.

Peragaan busana yang diselenggarakan Sebastian pun tak semata berorientasi keuntungan. Seringkali pergelaran ia selenggarakan dalam rangka mengumpulkan dana amal. Dana yang berhasil dikumpulkan pun cukup besar. Dalam pergelaran yang dilaksanakan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) tahun lalu, misalnya, penjualan kursi pergelaran mencapai Rp378 juta. ”Saya pikir, daripada sekadar membuat pergelaran, mengapa tidak untuk amal saja. Toh, pelanggan saya tidak keberatan,” katanya, ringan.

Kreativitas dan inovasi Sebastian tampaknya akan terus berlanjut. Apalagi, ia mengakui, industri fashion di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk maju, mengingat jumlah populasi penduduk Indonesia yang besar. Peluang yang sama juga ia temukan untuk pasar luar negeri. “Kita juga memiliki potensi yang cukup bagus untuk dapat bersaing dan berkembang bila didukung dengan regulasi dan program-program promosi yang cukup menunjang dari pemerintah,” tutur Desainer Favorit 2005 versi Majalah Dewi ini.

Maka, kecintaannya pada dunia rancang busana maupun desain kreatif akan melanjutkan perannya dalam industri fashion tanah air. “Saya ingin memperkuat eksistensi bisnis fashion di Indonesia,” ujar pemilik Sebastian’s Boutique, ini dengan penuh semangat. Ia pun menapaki masa mendatang dengan rancangan yang menjanjikan optimisme.